Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
25


__ADS_3

Setelah lelah bermain di pantai sampai sore hari ke enam orang itu pulang. Mereka mengantar Disa terlebih dahulu lalu segera mengantar Freya ke apartemen dan ternyata kepulangan mereka bersamaan dengan kepulangan Friska ke apartemen juga.


Frisya segera turun begitu melihat kakaknya tiba, “Kak, kau juga baru pulang?” tanya Frisya.


Friska segera turun juga dari mobilnya dan tersenyum menatap adiknya, “Menurutmu? Jika aku sudah di sini apa sudah pulang atau belum?” tanya Friska balik.


Frisya segera tertawa mendengar ucapan kakaknya itu, kenapa juga yaa dia menanyakan pertanyaan bodoh itu padahal dia melihat kakak keduanya itu baru juga pulang, “Iss aku basa basi doang kak.” Jawab Frisya.


Friska juga tersenyum akan hal itu, “Kakak tahu. Em, kakak memang baru pulang karena tadi setelah pulang dari mall bersama mami kakak ke rumah kak Reya dulu bermain dengan keponakan kakak.” Jawab Friska.


“Memang mereka mau bermain dengan kakak? Bukankah teman mereka itu hanya komputer saja. Aku tidak menyangka ada anak seperti mereka yang tidak tertarik dengan dunia luar dan dingin. Kelima anak kakak memang benar-benar duplikat dirinya dengan kakak ipar.” Ujar Frisya mengingat kelima keponakannya itu yang sangatlah dingin dan gila teknologi serta belajar. Dia yakin kelima keponakannya itu tidak memiliki teman dekat.


Friska hanya mengangguk saja, “Kita kan memang sudah hafal sifat mereka itu malahan akan aneh jika mereka berubah jadi ceria sementara kakak dan kakak ipar itu sama-sama dingin.” Timpal Friska tertawa hingga tanpa dia sadari tawanya itu membuat seseorang yang dari tadi menatap mereka tersenyum.


“Eehh, astaga aku melupakan kalian. Terima kasih sudah mengajak aku jalan-jalan hari ini. Terima kasih kak El, kak Fazar, Jery, Dino.” Ucap Frisya menyadari bahwa masih ada empat laki-laki datang bersamanya yang menjadi pendengar cerita mereka.


Keempat laki-laki itu mendekat ke arah mereka, “Kami pamit pulang yaa nanti kapan-kapan lagi kita jalan.” Ucap Jery.

__ADS_1


Frisya hanya mengangguk saja, “Kami pamit!” ucap Fazar dan El bersamaan.


Friska dan Frisya hanya mengangguk lalu setelah memastikan teman bandnya pulang. Kedua kakak beradik itu segera masuk ke dalam dan menuju lantai di mana apartemen mereka berada.


“Kalian hanya pergi berlima?” tanya Friska begitu masuk ke dalam apartemen.


Frisya menatap kakaknya itu lalu menggeleng, “Gak kok, aku juga mengajak Disa.” Jawab Frisya.


Friska pun akhirnya hanya mengangguk saja mengerti karena dia pikir hanya Frisya dengan ke empat laki-laki itu yang pergi ternyata adiknya itu juga tahu batasan hingga mengajak sahabatnya, “Tenang saja kak Ris aku masih tahu menjaga diriku dan batasan yang ada.” Ujar Frisya yang paham akan kekhawatiran kakak keduanya itu. Setelah itu keduanya segera berlalu ke kamar maisng-masing untuk membersihkan tubuh mereka dari keringat.


***


Papa Khabir dan Mama Najwa ada di sana membantu keponakannya itu untuk mengeluarkan papa mereka walaupun Mama Najwa dan Papa Khabir tahu bahwa Kiana pasti bisa melakukannya sendiri tapi mereka tidak ingin keponakannya itu merasa sendiri dan tidak memiliki keluarga lagi.


“Terima kasih ma.” Ucap Kiana memeluk mama Najwa. Dia memang memanggil mama Najwa dengan sebutan mama seperti Freya dan kedua adiknya begitu juga dengan papa Khabir dia memanggilnya dengan papa. Kenzo juga melakukan itu kepada mama Najwa dan Papa Khabir.


“Gak usah berterima kasih nak. Kamu itu juga putri kami. Jadi memastikan kau baik-baik saja adalah tanggung jawab kami.” Balas mama Najwa sambil memeluk keponakannya itu erat. Dia paham apa yang di rasakan keponakannya itu.

__ADS_1


Setelah semua administrasi selesai mereka segera pulang ke rumah peninggalan ibu papa Vian. Mereka memang tinggal di sana bertiga. Kenzo, Kiana dan papa Vian, jadi saat Kiana dan Kenzo bekerja papa Vian hanya sendiri dan hanya di temani oleh tetangganya yang setiap satu jam datang melihatnya. Ingin rasanya Kiana berhenti bekerja dan merawat papanya saja tapi papanya itu selalu menolak hal itu.


Papa Vian tidak ingin merepotkan anaknya lagi sudah cukup penderitaan yang dia berikan untuk kedua anaknya karena kesalahannya di masalalu membuat kedua anaknya itu kehilangan kasih sayang ibu mereka sejak kecil. Dia tidak ingin membuat kedua anaknya yang baru bisa menerimanya harus repot karena penyakitnya, dia juga tahu untuk membiayai sakitnya butuh uang begitu juga untuk makan jika kedua anaknya tidak bekerja siapa yang akan membiayai itu walau dia tahu Freya anak Mama Najwa dan Papa Khabir tidak akan membiarkan mereka kelaparan tapi tetap saja dia merasa sungkan akan kebaikan dari keluarga mendiang istrinya itu. Sudah lebih dari cukup keluarga mendiang istrinya itu memaafkan kesalahannya dan menyayangi Kiana dan Kenzo dengan baik. Selain itu juga papa Vian tahu bahwa penyakitnya itu akan membuatnya meninggal cepat atau lambat. Jadi untuk apa merugikan uang hanya untuk menyembuhnya penyakitnya yang bisa kapan saja kambuh kembali. Pemikiran yang sempit memang tapi dia hanya tidak ingin membebani kedua anaknya lagi.


***


Weekend berlalu dengan sangat cepat tidak terasa sudah weekday lagi, Kenzo yang ada di perusahaannya segera turun karena harus mengadakan rapat tapi begitu dia sampai melihat sesuatu yang paling dia benci, “Apa yang kalian lakukan?” tanya Kenzo menatap tiga wanita itu tajam yang saling menjambak.


Jeny dan Lena yang mendengar suara Kenzo langsung merubah ekspresi mereka seperti seorang yang tertindas padahal di sini merekalah yang menindas, “Apa yang kalian lakukan, hah? Apa kalian pikir tempat ini ajang untuk berkelahi? Jika kalian ingin mengadu kekuatan jangan di sini.” Ucap Kenzo dingin.


“Maafkan kami tuan. Dia duluan yang mulai. Kami tadi hanya ingin meminta sedikit bekalnya tapi dia sangatlah pelit hingga tidak membaginya dengan kami dan justru mendorong kami.” Ucap Jeny bersilat lidah.


Irma yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jeny itu hanya menghela nafasnya. Dia hanya diam saja tanpa mengatakan apapun. Dia tidak ingin membela dirinya karena untuk apa dia melakukan itu jika dia memang tidak melakukan apa yang di katakan Jeny karena sebenarnya justru dialah yang di dorong dan karena dia yang sudah malas menjadi orang lemah akhirnya melawan yang tidak tahunya justru ketahuan oleh atasannya itu. Dia hanya berharap bahwa dia tidak di pecat untuk magang di sini karena di perusahaan ini dia merasa nyaman apalagi bekerja dan belajar dengan sekretaris Grey, sudah pasti semuanya nyaman selain menghadapi dua temannya itu yang memang suka mencari masalah.


Irma dari dulu malas membela dirinya karena menurutnya percuma dia melakukan itu jika tidak akan di dengar karena Jeny selalu menggunakan kekuasaanya yang pada akhirnya hanya orang yang dia bully yang akan kena hukuman.


Kenzo menatap Irma yang dari tadi diam saja tidak mengatakan apapun untuk membela dirinya, “Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Kenzo menatap Irma.

__ADS_1


__ADS_2