Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
162


__ADS_3

Singkat cerita, tidak terasa sesi pra wedding yang ke empat orang itu lakukan akhirnya selesai tepat waktu ashar. Pra wedding itu berjalan lancar tanpa kendala sama sekali. Semuanya lancar dan jaya hingga bisa selesai dalam waktu kurang lebih tiga jam di dua tempat sekaligus dan tentu saja hasil fotonya sangat memuaskan.


“Sangat bagus!” ujar Friska meminta pendapat Irma melihat hasil foto mereka itu.


Irma pun mengangguk, “Benar kak. Bagus baget. Aku tidak menyangka hasilnya akan sangat sesuai dengan ekspetasi kita.” Ujar Irma.


“Apa kau menyukainya?” tanya Friska.


Irma yang mendengar pertanyaan Friska pun menatap Friska dalam, “Pertanyaan macam apa itu kak. Bukankah sikap antusias yang aku tunjukkan sudah membuktikan betapa aku menyukainya. Aku sangat menyukainya.” jawab Irma jujur.


Friska pun tersenyum lalu membawa Irma ke pelukannya dan melabuhkan kecupan di kening Irma, “Jadi apa masih ada impianmu yang belum terwujud?” tanya Friska berbisik.


Irma pun melepas pelukannya dan menatap Friska dalam, “Apa kak Kenzo mengatakannya?” tanya Irma balik.


Friska mengangguk, “Dia cerita bahwa ini adalah impianmu. Dia sangat berterima kasih karena kami menyetujuinya. Ingat Irma jangan merasa bersalah. Aku melakukan dan menyetujui ini karena idemu juga sangat baik dan lihatlah hasilnya sangat memuaskan. Aku menyayangimu. Kau adalah adikku juga. Jadi katakan apa masih ada impianmu yang belum terwujud. Kita akan mewujudkannya bersama-sama.” ucap Friska tersenyum tulus.


Irma yang mendengar itu terharu dan meneteskan air matanya. Dia kembali berhambur ke pelukan Friska dan menangis di sana. Friska pun membiarkannya, “Sudah tidak ada lagi impianku yang belum terwujud kak. Semua impian itu sudah Allah penuhi untukku. Semua list keinginanku sudah terwujud. Terima kasih sudah menganggapku sebagai saudarimu kak.” Ujar Irma dalam pelukan Friska.


Friska yang mendengarnya mengeratkan pelukannya, “Sudah jangan menangis lagi. Mulai sekarang kebahagiaan akan selalu menemaniku. Aku percaya pada Kenzo dia akan menjagamu dengan baik. Adik 15 hariku itu akan menjagamu. Yah walaupun dia suka mengajakku basa basi tapi tanpa dia hidupku juga akan terasa sunyi karena dia juga teman berdebatku. Kau juga sebentar lagi akan menjadi adik kami. Kak Reya dan kak Kia adalah kakak bagi kami. Itu berarti kakak juga bagiku. Jangan pernah merasa sungkan untuk meminta bantuan jika butuh. Hubungi saja kami. Jika kau masih sungkan dengan kak Reya dan kak Kia maka hubungi aku saat kau mau curhat atau pun butuh teman.” Ucap Friska lalu melepas pelukannya.


Irma pun menatap Friska lalu mengangguk, “Aku akan mengingat semua pesanmu itu kak. Jangan marah nanti aku akan menjadi adik yang nanti merepotkanmu.” Ucap Irma manja. Sungguh dia sangat merindukan bagaimana itu hidup memiliki saudara atau pun saudari.


Friska pun tersenyum, “Tidak masalah. Aku bersedia untuk kau repotkan.” Balas Friska lalu mereka kembali berpelukan. Irma berjanji dalam hatinya bahwa jika dia di izinkan untuk punya anak maka dia akan memiliki anak dua paling sedikit agar anaknya nanti tidak akan merasa kesepian dan punya teman bicara. Semoga saja Allah mendengar harapannya itu dan mengabulkannya juga.


Friska dan Irma yang saling berpelukan di lihat oleh Rezky dan Kenzo yang melihat keduanya dari jauh, “Kenzo, kira-kira apa yang mereka bahas hingga mereka harus saling berpelukan seperti itu?” tanya Rezky.


Kenzo pun tersenyum lalu menatap Friska dan Irma yang masih saja saling memeluk satu sama lain. Kenzo mengangkat bahunya, “Aku juga kurang tahu calon kakak ipar. Tapi ku tebak mereka sepertinya sedang dalam suasana yang mengharukan.” Ujar Kenzo.


“Kira-kira apa yang mereka bahas? Aku sangat penasaran.” Ucap Rezky.


Kenzo terkekeh mendengar pertanyaan Rezky itu, “Anda sudah mengatakan pertanyaan itu dua kali calon kakak ipar. Jika memang anda penasaran maka tanyakan kepada mereka. Tapi jangan bilang bahwa anda cemburu pada calon istriku yang berpelukan dengan kak Ris.” Ucap Kenzo di akhiri dengan tawa.


Rezky pun ikut tertawa, “Kau benar. Aku cemburu dengan calon istrimu itu. Tidak bisakah dia tidak memeluk calon istriku. Aku jadi menginginkannya tapi sayang masih beberapa hari lagi baru aku bisa memeluk calon istriku itu dengan sepuasnya.” Ucap Rezky.


“Ck, jangan pamer calon kakak ipar.” Ucap Kenzo mengerang.


Rezky pun tertawa, “Sabar, ini ujian untuk kita. Kita harus menjaga mereka. Bukankah kakak ipar Vino saja bisa menjaga kakak ipar Reya dalam diam selama dua tahun. Jadi dia pasti punya banyak kecemburuan apalagi dari yang aku dengar kakak ipar Reya punya sahabat sebelumnya. Tapi kok aku gak melihat sahabat kakak ipar Reya yaa di setiap acara? Apa kau tahu di mana mereka?” tanya Rezky penasaran.


Kenzo mengangkat bahunya, “Aku kurang tahu. Tapi dari yang ku dengar dan lihat. Mereka terakhir kali terlihat itu saat Anind masuk rumah sakit.” Ucap Kenzo.


“Anind? Apa anak ke dua kak Vino dan kak Reya?” tanya Rezky.


Kenzo kembali mengangguk, “Iya, Anind.” Jawab Kenzo.


“Tapi kenapa? Apa ada alasannya?” tanya Rezky.


Kenzo kembali mengangkat bahunya, “Aku juga gak tahu. Tapi aku yakin pasti ada alasan yang besar di balik ini yang sengaja kak Reya dan kakak ipar tutup dari semuanya terlebih dari Anind. Entahlah aku juga tidak mengerti.” Ucap Kenzo.

__ADS_1


“Kok, aku jadi penasaran yaa. Ahh sudahlah kenapa aku jadi memikirkan itu. Tapi tetap saja kisah cinta kak Reya dan kak Vino sangat hebat. Dari yang ku dengar saja sudah hebat apalagi jika aku mendengarnya langsung dari mereka.” ucap Rezky.


“Ya sudah tanyakan saja kepada kakak ipar. Aku yakin dia akan membagi tips kesabaran menunggu dan menjaga sampai halal. Kakak ipar dan kak Reya saja menikah mereka belum saling mencintai hanya kak Vino saja yang punya cinta itu sedangkan kak Reya belum. Mereka bahkan menunda malam pertama mereka. Itu sih dari yang ku dengar.” Ucap Kenzo.


“Are you sure? Kok bisa? Apa kak Reya membenci kak Vino?” tanya Rezky penasaran.


Kenzo pun tertawa melihat Rezky yang sangat antusias mendengar cerita tentang Freya dan Alvino, “Siapa yang membenci siapa?” tanya Friska yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka bersama Irma di sampingnya.


Friska menatap kedua laki-laki itu dengan seksama. Laki-laki yang mereka lihat sangat antusias bicara. Entah apa yang mereka bicarakan itu yang membuat penasaran, “Aku gak tahu kak. Tapi yang pasti calon suamimu ini sangat penasaran dengan kisah cinta kak Reya dan kakak ipar.” Ucap Kenzo.


Friska pun tersenyum, “Ouh begitu. Tidak hanya kau yang terkadang penasaran kak. Aku juga kadang penasaran dengan kisah cinta yang terjalin antara mereka. Hubungan mereka itu sangat manis.” Ucap Friska.


Rezky pun tersenyum, “Jadi apa kau tahu bagaimana kisah cinta mereka?” tanya Rezky.


Friska pun tertawa melihat calon suaminya itu yang sangat antusias, “Jadi benar kakak penasaran dengan kisah kakak dan kakak ipar? Ku pikir Kenzo hanya bercanda tadi.” Ucap Friska tertawa sementara Kenzo meringis karena seperti biasa Friska tidak mempercayai perkataannya.


“Kau ini kak, aku sudah mengatakan yang sebenarnya tapi kau justru meragukanku. Aku kecewa padamu. Ayo Irma kita pulang saja.” ucap Kenzo pura-pura merajuk dan segera menarik lengan Irma pergi mendekati mobil mereka.


“Kak, aku ingin mendengar juga kisah cinta kak Reya dan suaminya itu. aku juga penasaran.” Ucap Irma begitu mereka tiba di mobil.


Kenzo pun menoleh dan melihat calon istrinya itu yang sedang tersenyum padanya, “Wah, kau sungguh ingin tahu juga?” tanya Kenzo memastikan.


Irma segera mengangguk dengan cepat, “Aku dengar kisah mereka sangat manis. Aku ingin tahu juga.” Ucap Irma.


Kenzo pun menarik nafasnya dan kembali menarik lengan Irma untuk kembali, “Kenapa kembali lagi?” tanya Friska begitu Kenzo dan Irma sudah berada di dekat mereka kembali.


Friska pun tersenyum, “Aku tidak tahu banyak kisah cinta kak Reya. Jika kalian ingin tahu kita bisa menanyakannya kepada mereka langsung.” Ucap Friska.


“Sudah, ayo kita pulang saja dulu. Waktu ashar hampir habis.” Ujar Friska kemudian.


Mereka pun memutuskan untuk pulang dan nanti akan merencanakan kapan mereka akan datang ke rumah Freya dan Alvino untuk mendengarnya kisah cinta mereka dari orangnya langsung.


***


Seperti yang sudah mereka sepakati, pasangan Friska dan Rezky bersama pasangan Kenzo dan Irma. Malam ini mereka akan mengunjungi Freya dan Alvino. Memang terdengar aneh dan terlihat konyol memang tapi rasa penasaran tetap harus di tuntaskan bukan.


Kini pasangan itu tiba hampir bersamaan di kediaman Freya dan Alvino yang sedang makan malam. Ke empat orang itu pun segera masuk ke dalam gedung berlantai empat itu, “Kalian datang?” tanya Freya melihat pasangan itu.


“Ayo, ikut makan bersama kami. Bi, tolong ambilkan piring untuk mereka.” ujar Freya kemudian mengajak mereka ke meja makan.


“Ayo makan. Kak Reya paling tidak suka di tolak.” Ucap Friska dan Kenzo bersamaan hingga membuat keduanya saling memandang lalu tertawa karena tiba-tiba mereka jadi kompak.


Mereka pun segera ke meja makan dan di sana para anak-anak Freya dan Alvino telah selesai makan malam dan segera menuju lantai atas, “Mami, aunty kita bicara lagi nanti yaa. Mami dan aunty makan dulu.” Ucap Azwa memegang jemari Friska dan Irma lalu setelah itu dia menyusul ke empat kakaknya yang sudah di anak tangga. Azwa dan Azlan adalah anak Freya dan Alvino yang memiliki sifat hangat tapi Azwa dia lebih terbuka dengan keluarga di banding Azlan yang terkadang masih canggung untuk sekedar menyapa.


“Baiklah cantik!” ucap Friska dan Irma bersamaan.


“Kak, aku ingin putri seperti dirinya.” Ujar Irma tanpa sadar hingga mengundang senyum dari orang di sana. Seketika Irma pun tersadar dan dia menjadi malu.

__ADS_1


“Hahahahh, apa kau malu calon adik ipar. Gak usah malu karena aku dan suamiku pun ingin putri seperti dia. Sangat cantik dan manis.” Ucap Kiana yang segera melakukan video call dengan Zean di meja makan itu.


Irma yang masih malu menundukkan wajahnya. Friska segera mengajak Irma untuk duduk di meja makan itu, “Hey, dia itu putriku. Jika kalian ingin putri maka buat saja sendiri. Awas saja jika kalian membuat yang sama persis seperti putriku. Aku akan menuntut kalian plagiat anakku.” Ucap Alvino tidak terima.


“Apa-apaan kau ini by. Mereka hanya bercanda. Lagian putri kita juga hanya akan satu saja. Mereka bukan adonan hingga harus bisa di buat sangat mirip.” Ucap Freya.


“Aku tahu sayang. Tapi aku saja sudah berperang dengan Zean untuk masalah ini sekarang apa aku harus berperang dengan Irma juga karena menginginkan putri seperti Azwa. Aku tentu tidak terima.” Ucap Alvino.


Freya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, “Sudahlah, jangan pikirkan lagi ucapan kakak ipar kalian ini. Ayo makan!” ucap Freya lalu segera menyuapi suaminya itu yang hendak protes.


Mereka yang di meja makan melihat itu pun tersenyum apalagi Irma dan Rezky yang baru pertama kali ikut makan di sini, “Irma, ayo makan. Tenang saja aku hanya bercanda tadi. Tapi sedikit serius juga sih.” Ujar Alvino yang melihat Irma masih canggung dan diam saja.


“Adik ipar. Makanlah! Kakak ipar memang seperti itu. Dia tidak suka anaknya itu di ikuti tapi kan itu hanya harapan kita kan.” Bisik Kiana.


Irma pun tersenyum, “Adik ipar gak usah bisik-bisik. Aku bisa mendengar apa yang kalian bicarakan.” Ucap Alvino.


“By, sudah. Ayo makan.” Ucap Freya.


Alvino pun tersenyum lalu mengangguk menurut apa kata ratunya itu.


***


Akhirnya setelah drama makan malam itu selesai mereka kini berkumpul di ruang keluarga, “Apa tujuan kalian datang kemari? Aku yakin kalian tidak mungkin datang tanpa tujuan.” ucap Alvino.


“By, kau menakuti mereka.” desis Freya.


“Hahahahhh, maaf sayang.” ucap Alvino pun tertawa.


“Ayo katakan kalian ke sini untuk apa?” tanya Freya lembut.


“Kami kesini ingin mendengarkan kisah cintamu dan kakak ipar kak.” Jawab Friska.


Alvino dan Freya yang mendengar itu terkejut, “Kalian serius datang ke sini hanya ingin menanyakan ini?” tanya Freya masih terkejut.


“Benar kak. Kami penasaran.” Jawab Kenzo.


Freya pun tersenyum lalu menatap suaminya itu, “By, kau yang cerita saja. Kau kan yang tahu semuanya. Lagian kau juga kan yang lebih dulu mencintaiku.” Ucap Freya.


Alvino pun terkekeh, “Hehehehhe, baiklah my Queen. Aku mengakui aku yang memang lebih dulu mencintaimu. Jadi aku yang akan bercerita. Kalian ingin dengar yang bagian mana?” tanya Alvino menatap ke empat orang itu/


“Kami ingin mendengar semuanya kakak ipar.” Ujar Rezky.


“Wah, jika begitu maka akan butuh waktu yang banyak tapi aku akan mencobanya menceritakannya secara singkat.” Ucap Alvino.


“Kami bertemu secara tidak sengaja saat hari pertama aku masuk kantor. Dia membantuku. Singkatnya aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya lalu aku mencari tahu tentangnya dan mengikuti semua kegiataannya sebagai secret admirer-nya. Itu ku lakukan selama hampir dua tahun dan tepat setelah dia lulus profesi aku dan orang tuaku datang melamarnya dan kami pun menikah walau aku tahu dia belum mencintaiku. Kami menunda malam pertama kami karena aku tidak ingin memaksanya dan kami baru melakukannya saat berbulan madu di Belanda.” Ujar Alvino.


“Bagian malam pertamanya kenapa di ceritain juga by?” protes Freya.

__ADS_1


__ADS_2