Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
126


__ADS_3

Kenzo, mami Calista dan papi Baskara hanya tersenyum melihat Irma itu yang sudah di kamarnya, “Dia malu padamu nak.” ucap papi Baskara.


Kenzo pun tersenyum lalu mengangguk, “Itu wajar untuk setiap gadis pih.” Ujar mami Calista.


Sekitar kurang lebih setengah jam saja, Irma turun dari lantai dua dengan pakain berbeda dan tas kesayangannya di bahunya.


Kenzo yang bercerita dengan papi Baskara dan mami Calista tersenyum melihat hal itu, “Wah cantiknya putri papi dan mami.” ucap papi Baskara.


Irma pun tersenyum malu mendengar ucapan papinya itu. Tidak lama setelah itu Kenzo dan Irma pun pamit pergi.


Kini Kenzo dan Irma sudah berada di mobil dalam perjalanan entah kemana, “Em, kak kita akan jalan-jalan kemana?” tanya Irma.


Kenzo tersenyum, “Kau akan tahu nanti.” Ucap Kenzo.


Irma pun hanya mengangguk saja karena dia tidak ingin bertanya lagi jika memang Kenzo hanya akan menjawabnya seperti itu, “Ini bukan ke rumahnya kakak Reya?” gumam Irma.


“Kita memang akan ke sana.” Jawab Kenzo yang mendengar gumamam Irma itu.


Tidak lama Kenzo dan Irma pun sudah tiba di rumah Freya dan Alvino tapi Kenzo tidak mengajak Irma masuk ke dalam dan justru langsung menuju halaman belakang. Kini Irma paham kemana Kenzo akan mengajaknya itu, “Jadi kakak ingin mengajakku bertemu dengan papamu?” tanya Irma.


Kenzo tersenyum lalu mengangguk, “Seperti aku yang sudah bertemu dengan orang tuamu maka aku pun harus mengenalkan orang tuaku padamu. Ini adalah kuburan papaku.” Ucap Kenzo menatap kuburan yang baru itu.


“Aku tahu kak. Aku datang waktu kematian papamu.” Ucap Irma.


Kenzo pun mengangguk, “Pah, lihat siapa yang aku bawa untukmu. Dia adalah gadis yang aku cintai pah. Mama Najwa, papa Khabir dan kak Reya akan datang melamarnya menjadi istri untukku. Aku harap papa merestuiku menikahinya.” Ucap Kenzo di hadapana makam papanya itu.


“Assalamu’alaikum om. Ini Irma seperti apa yang di katakan oleh putra om Irma adalah calon istri dari putra om. Semoga om merestui kami. Irma janji om akan menjaga putra om dengan baik. Irma akan mencintainya. Maaf ya om Irma datang terlambat sehingga kita tidak sempat bertemu. Tapi Irma kenal om kok. Irma datang saat itu.” ucap Irma.


Kenzo pun tersenyum, “Pah, jangan sedih lagi. Pergilah dengan tenang. Aku dan kak Kia sudah mengikhlaskanmu. Temuilah mama di sana ya pah. Jangan khawatirkan apapun lagi. Kak Kia sudah bahagia dengan kakak ipar. Kakak ipar dan mertuanya sangat menyayanginya. Mungkin sebentar lagi papa akan mendengar kabar gembira darinya. Kak Kia dan kakak ipar sudah saling mencintai pah. Mereka sudah bahagia.” Ucap Kenzo.


Setelah itu keduanya pun memanjatkan doa di makam papa Vian itu. Setelah dari sana Kenzo baru mengajak Irma masuk ke rumah Freya.


“Ayo masuk dek!” ajak Kenzo.

__ADS_1


“Bi, kakak dan kakak ipar di mana?” tanya Kenzo kepada ART kakaknya itu.


“Kakak di sini. Dasar nakal. Kakak sudah menghubungi mama dan papa. Kita akan datang melamar Irma lusa.” Ucap Freya lalu mendekati Irma calon adik iparnya itu.


“Ayo dek.“ ajak Freya menuju ruang keluarga.


Irma pun menurut dan dia yang memang baru pertama kali masuk ke rumah Freya ini pun mengagumi rumah itu karena sangat mewah. Bahkan lebih mewah dari rumah orang tuanya, “Kenzo, jangan lupa menghubungi kakakmu. Dia belum tahu tentang ini kan.” Ujar Freya.


“Aku akan menghubunginya kak.” Ucap Kenzo ikut duduk di sofa yang ada di ruang keluarga itu.


“Bun--!” panggil Anind terhenti begitu melihat Freya duduk dengan pamannya dan juga gadis yang dia ketahui sebagai pasangan pamannya itu.


Freya pun menatap putri sulungnya itu, “Ada apa sayang? Kamu butuh apa?” tanya Freya.


Anind pun segera mendekati sang bunda dan berbisik, “Bunda, Anind mau minta uang buat beli ice cream.” Bisik Anind.


“Kenapa gak minta sama ayah?” tanya Freya.


“Ayah sedang tidur bun.” Ucap Anind.


“Sama abang bun.” Jawab Anind.


“Ya sudah bilang sama abang. Bunda pinjam duit abang dulu buat beli ice cream.” Ucap Freya.


“Abang juga gak punya duit bun.” Ucap Anand yang juga turun dan masih di tangga.


“Ouh, maaf. Ohiya bunda baru ingat kalian belum bunda kasih duit yaa. Yaa sudah ambilkan dompet bunda di lemari.” Ucap Freya.


“Ini bun.” Ucap Azlan dan Azlen yang sudah membawakan kedua dompetnya.


Freya pun tersenyum melihat tingkah anak-anaknya itu, “Ya sudah sini bawa kesini.” Ucap Freya.


Azlan dan Azlen pun segera mendekati Freya dan memberikan kedua dompet Freya itu, “Tumben putra cool bunda ini juga ikut-ikutan.” Ucap Freya mengusap kepala Azlen.

__ADS_1


“Aku di paksa bun.” Ujar Azlen lalu segera duduk di samping Freya dan bersandar di lengan bundanya itu.


Freya, Kenzo dan Irma pun tersenyum melihat hal itu, “Gak ada yang memaksanya bun. Jujur saja ini idenya. Dia itu sutradaranya.” Ucap Azlan.


“Iss apaan sih abang beda lima menit.” Sangkal Azlen.


“Bunda, Azwa juga pengen beli coklat.” Ucap Azwa yang turun dari tangga.


“Awas jatuh nak. Hati-hati!” ucap Alvino yang ternyata ikut turun dan sudah bangun itu.


Freya pun tersenyum menyambut putri kecilnya itu, “Kan, coklatnya masih ada.” Ucap Freya.


“Udah habis bun. Abang-abang tadi minta.” Ucap Azwa menatap ketiga abangnya yang hanya cengesan.


Freya pun hanya bisa tersenyum sementara Alvino segera duduk di samping Kenzo, “Ya sudah, berapa nih yang di butuhkan untuk beli ice cream?” tanya Freya.


“Ini bun catatannya.” Ucap Azwa memberikan kertas.


Freya pun menerimanya dan membaca catatan itu dengan seksama. Setelah selesai membacanya Freya menghela nafas dan menatap kelima anak-anaknya itu, “Jadi kalian sudah mengatur hal ini? Kok semuanya sudah di siapkan?” tanya Freya.


“Kan sudah di bilangin bun bahwa ini rencana Azlen. Bunda kan tahu jika Azlen yang merencanakan maka semua teratur dengan sangat baik.” ucap Azlan duduk di samping Kenzo.


Freya pun menatap Azlen yang berada di lengannya, “Iya bun. Azlen yang merencanakannya tapi mereka semua setuju bun melakukannya. Ayah juga setuju.” Ujar Azlen.


Kini Freya menatap suaminya, “Aku hanya menyetujui permintaan putramu sayang.” elak Alvino menelan ludahnya kasar karena di tatap oleh Freya. Irma dan Kenzo yang melihat itu pun hanya bisa tersenyum.


“Pantas saja dompet bunda pun kalian tahu tempatnya.” Ucap Freya.


“Maaf sayang. Aku bukan tidak ingin memberikan uang kepada mereka tapi memang di dompetku gak ada uang cash sama sekali.” Ucap Alvino.


Freya pun hanya bisa mengangguk saja lalu segera memberikan uang tiga ratusan kepada putri sulungnya, “Terima kasih bun. Ayo bang kita pergi.” ajak Anind. Anand pun mengangguk lalu keduanya segera berpamitan dan menuju dapur mengajak Anton yang memang biasa mengantar mereka ke sekolah.


“Maaf yaa Irma kau harus melihat drama ini.” ucap Freya.

__ADS_1


Irma menggeleng, “Gak apa-apa kak. Aku senang kok melihatnya. Mereka lucu.” Ucap Irma menatap Azwa dan putra kembar Freya dan Alvino itu.


__ADS_2