
Singkat cerita, kini Kiana dan Zean sudah dalam perjalanan pulang dari bandara setelah mengantar mommy Viana dan daddy Rafael. Suasana dalam mobil itu hening karena mereka saling canggng satu sama lain.
Hening
Hening
“Dek!” panggil Zean karena sudah tidak tahan dengan suasana hening akhirnya dia memulai pembicaraan.
Kiana yang di panggil menatap suaminya canggung karena teringat kejadian tadi di kamar, “Emm, dek saya berencana untuk kita tinggal di rumah yang sudah saya sewa tapi jika kau tidak setuju maka semua keputusan ada padamu.” Ucap Zean mengatakan rencananya karena dia memang sudah meminta Erlan untuk mencari tempat tinggal di sini. Dia juga sudah meminta izin kepada Alvino dan Freya untuk melakukan ini karena dia tahu Freya itu sangat menyayangi adiknya.
Kiana yang mendengar ucapan suaminya segera menatap suaminya, “Emang kakak sudah punya rumah di sini?” tanya Kiana karena dia tahu suaminya itu hanya datang kesini untuk kerja sama dengan kakak iparnya Alvino tapi justru menikahinya.
Zean mengangguk, “Saya sudah meminta asisten saya untuk mencarikannya. Kamu mau melihatnya dengan saya?” tanya Zean karena dia memang belum membelinya baru mengecek dan dia akan membeli rumah di sini jika sang istri menyukainya. Dia ingin membeli rumah sesuai selera istrinya itu.
Kiana mengangguk tersenyum, “Apa aku bisa melihatnya?” tanya Kiana lagi.
Zean tersenyum, “Tentu saja bisa dek. Kenapa bertanya lagi.” Ucap Zean.
Kiana pun mengangguk. Zean yang melihat sang istri mengangguk segera melajukan mobilnya menuju alamat yang di kirimkan oleh Erlan.
__ADS_1
“Dek, maaf ya untuk kejadian tadi.” Ucap Zean meminta maaf.
Kiana yang mendengar ucapan suaminya bingung, “Kejadian tadi?” tanya Kiana.
Zean mengangguk, “Iya tadi saya tidak sengaja melihatmu--” ucap Zean perlahan
Kiana yang mendengar ucapan suaminya secara perlahan seketika wajahnya memerah malu dan mengerti apa maksud suaminya. Kiana segera menutup wajahnya malu, “Stop, jangan di lanjutkan kak. Aku malu.” Ucap Kiana masih menutup wajahnya.
Zean yang melihat itu tersenyum gemas, ingin rasanya dia mengecup pipi yang memerah itu, “Maaf yaa!” ucap Zean.
“Kakak, jangan dilanjutkan.” Ucap Kiana.
Zean pun terkekeh melihat itu, “Baik saya tidak akan melanjutkannya.” Ucap Zean lalu tidak lama mereka tiba di tempat melihat rumah yang akan mereka beli.
Zean dan Kiana membalas dengan mengangguk, “Ayo ikut saya tuan mereka sudah menunggu.” Ucap Erlan.
Zean dan Kiana pun segera mengikuti Erlan. Tiba-tiba Zean menggenggam tangan istrinya, Kiana yang tangannya di genggam oleh suaminya menatap suaminya itu dengan tersenyum dan membiarkannya saja tangannya itu di genggam oleh suaminya karena entah kenapa dia merasa nyaman di genggam oleh suaminya itu. Zean tersenyum begitu genggaman tangannya tidak di tolak istrinya itu padahal dia sudah membayangkan bahwa istrinya itu akan melepaskannya.
Zean dan Erlan segera mengecek rumah itu satu persatu dan saat rumah yang ketiga Kiana tersenyum karena dia menyukai rumah dua lantai itu. Dia menatap suaminya tersenyum. Zean yang melihat tatapan istrinya itu tersenyum, “Kamu suka ini?” tanya Zean.
__ADS_1
Kiana mengangguk, “Baiklah kita ambil yang ini. Erlan kami mau ambil yang ini saja.” ucap Zean kepada asistennya itu. Erlan pun mengangguk lalu dia segera melakukan transaksi atas rumah itu.
Setelah semua sudah selesai bahkan dokumen rumah itu sudah ada di tangan, keduanya segera pergi meninggalkan rumah itu dan kembali ke mobil, “Dek, kita akan membeli perabotan dulu atau bagaimana?” tanya Zean saat mereka sudah di mobil.
Kiana yang mendengar itu tampak berpikir, “Kak, apa kakak gak merasa rugi membeli rumah itu karena mungkin kita tidak akan tinggal di sini lama dan akan pindah ke Negara kakak. Jadi apa tidak rugi membeli rumah itu?” tanya Kiana karena entah kenapa dia merasa ragu begitu melihat harga rumah itu.
Zean yang mendengar itu tersenyum, “Saya tidak merasa rugi sama sekali. Kita memang akan tinggal di Negara saya jika kau ingin tapi di sini juga keluargamu jadi jika nanti kita kesini kita memiliki rumah. Sudah jangan pikirkan apapun. Rumah itu saya beli untukmu sebagai tanggung jawab saya sebagai suamimu. Jadi jangan khawatir. Kau itu istri saya.” ucap Zean.
Kiana yang mendengar itu pun terdiam dan mengangguk lalu dia memikirkan apa yang menjadi kewajibannya mendengar ucapan suaminya. Yah, dia sebagai istri selama seminggu ini hanya sedih hingga lupa tanggung jawab dan kewajibannya sebagai istri bahkan suaminya itu belum mendapatkan haknya. Dia merasa bersalah akan hal itu, “Jangan terlalu memikirkan apa yang harus tidak di pikirkan. Saya mengerti perasaanmu dan saya bukan suami yang jahat yang akan meminta itu atas nama hak saya sebagai suami. Saya bisa menunggu sampai kau siap. Jadi jangan memikirkan apapun.” Ucap Zean menggenggam tangan istrinya itu. Dia seolah paham apa yang di pikirkan istrinya itu.
Kiana yang mendengar itu menatap suaminya lekat dan dia terharu suaminya itu mengerti akan keadaannya, “Terima kasih kak sudah mengerti aku. Terima kasih sudah menjadi suamiku dan memenuhi permintaan papa. Kia--” ucap Kiana terhenti karena bibirnya di tutup oleh tangan sang suami.
“Sstt, aku melakukan ini karena menyukaimu bukan karena memenuhi permintaan siapapun. Walau tanpa permintaan papamu saya juga mungkin tetap akan menikahimu. Jadi jangan pernah mengatakan bahwa saya menikahimu karena permintaan seseorang.” Ucap Zean.
Kiana yang mendengar itu pun mengangguk dan dalam pikirannya dia akan mencintai suaminya itu mungkin juga cinta untuk suaminya itu sudah tumbuh di hatinya karena tidak sulit untuk mencintai laki-laki seperti suaminya.
Zean mengemudikan mobilnya untuk ke tempat perabotan karena memang rumah yang mereka beli itu masih kosong belum ada furniture sama sekali. Begitu tiba di tempat furniture Zean segera turun dan membukakan pintu untuk istrinya. Mereka masuk ke dalam tempat furniture itu dengan Zean menggandeng istrinya. Kiana juga tidak menolaknya.
***
__ADS_1
Di sisi lain, di rumah Freya dan Alvino kini pasangan suami istri itu duduk di ruang keluarga yang ada di lantai dua dengan Freya bersandar di bahu suaminya itu dengan manja untung saja kelima anak mereka sedang ada di sekolah jadi Freya bisa bermanja dengan suaminya itu karena Freya itu adalah tipe wanita yang tidak akan mengumbar kemesraan di hadapan orang lain, “Hubby, apa yang aku lakukan sudah benar dengan menyetujui pernikahan antara Kiana dan Zean?” tanya Freya.
Alvino tersenyum mendengar pertanyaan istrinya lalu dia mengelus kepala istrinya itu sambil mengecupnya, “Jangan khawatirkan mereka sayang. Aku yakin mereka akan saling mencintai nanti. Kau sudah melakukan yang benar.” ucap Alvino. Freya pun mengangguk tenang karena entah kenapa jika dia resah maka keresahannya itu akan hilang sudah bicara dengan suaminya.