Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
148


__ADS_3

Keesokan paginya, di apartemen Friska baru saja bangun dari tidurnya dan dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5.30. Dia sedang udzur sehingga tidak mengaktifkan alarmnya.


Friska pun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sekitar setengah jam dia sudah berganti pakaian biasa dan segera keluar kamar dan tersenyum melihat Frisya yang sedang menata makanan di meja makan.


“Pagi!” sapa Friska.


Frisya pun tersenyum menatap kakak keduanya itu yang baru bangun, “Pagi juga! Wah begini nih yang sudah mengajukan cuti dan sedang udzur. Bangun telat.” Ucap Frisya.


Friska pun menanggapinya dengan tersenyum lalu segera duduk di meja makan dan memulai menikmati sarapan yang di buat oleh adiknya itu. Frisya pun segera ikut sarapan. Kedua kakak beradik itu segera menghabiskan sarapan mereka.


“Dek, kamu siap-siap saja. Biar kakak yang membereskan ini.” ucap Friska setelah mereka selesai sarapan.


Frisya pun mengangguk, “Okay. Terima kasih ya kak Ris. Aku siap-siap dulu.” Ucap Frisya lalu dia segera menuju kamarnya untuk bersiap menuju tempat praktik profesinya yang akan berakhir dalam dua bulan lagi. Friska pun segera membereskan bekas sarapan mereka itu dan melap meja makan.


Setelah itu dia segera menuju ruang keluarga dan menyalahkan tv melihat berita artis pagi hari. Lima belas menit kemudian telepon rumah berdering. Friska pun segera melihat telepon rumah yang tiba-tiba berdering, “Siapa yang menelpon ke telepon rumah di jaman begini yaa.” Ucap Friska lalu segera berdiri mendekati telepon rumah itu dan menjawabnya.


“Halo, Assalamu’alaikum. Dengan siapa ini?” tanya Friska.


“Halo, ini aku sayang. Wassalamu’alaikum.” Ucap Rezky dari seberang.


“Kak Rezky? Kenapa menelpon pakai telepon rumah coba?” tanya Friska kaget.


“Huh, aku sudah menghubungi nomormu sayang tapi tidak di jawab. Jadi aku menghubungi telepon rumah. Untung saja aku menyimpan nomor telepon rumah apartemenmu.” Jelas Rezky.


Friska pun tersenyum mendengar penjelasan calon suaminya itu, “Hehehh, maaf kak. Ponselku ada di kamar sedangkan aku berada di ruang keluarga sedang menonton. Tunggu yaa aku ambil ponselku dulu. Hubungi di sana saja. Aku tutup! Wassalamu’alaikum!” ucap Friska lalu segera menutup sambungan telepon rumah itu begitu Rezky membalas salamnya.


Friska segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya yang sudah berdering dan siapa lagi yang menelponnya itu jika bukan calon suaminya itu.


“Halo!” ucap Friska menjawab panggilan.

__ADS_1


“Halo sayang. Emm, aku ingin mengatakan bahwa aku akan berangkat pukul 09.00 ke Negara J. Aku akan menggunakan pesawat pribadi.” Ucap Rezky to the point begitu sambungan telepon terhubung. Keduanya tidak lagi saling mengucapkan salam karena memang ini hanya sambungan dari pembicaraan mereka saja.


Friska pun mengangguk, “Ya sudah biar Riska yang akan mengantar kakak ke bandara. Kakak tunggu di rumah saja. Riska akan segera kesana.” Ucap Friska.


“Kamu mau kesini?” tanya Rezky dari seberang.


Lagi-lagi Friska refleks mengangguk, “Ah iya. Gak usah di jemput. Riska akan menggunakan mobil Riska. Hari ini biar Riska yang akan mengantar kakak.” Ucap Friska.


Rezky di seberang sana mendengar ucapan Friska itu tersipu. Dia senang, “Baiklah jika begitu. Kakak akan menunggumu. Kamu hati-hati!” ucap Rezky.


“Okay. Riska siap-siap dulu yaa.” Ucap Friska. Lalu tidak lama setelah itu sambungan telepon pun segera terputus.


Friska segera ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka saja karena dia memang sudah mandi. Setelah itu dia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian biasanya saat dia pergi. Dia mengambil gamis berwarna peace lalu dia padukan dengan hijab pashmina berwarna senada juga. Dia tersenyum melihat penampilannya yang terlihat fresh itu dengan warna terang itu. Kini dia terlihat cewe kue banget.


Tok tok tok


“Masuk dek.” ucap Friska yang sudah bisa menduga itu Frisya yang hendak pamit.


Friska pun tersenyum, “Harus dong. Kakak sudah cantik kan? Mau ngantar calon suami soalnya.” Ujar Friska.


Frisya yang mendengar itu pun terkekeh, “Wah, kakak sudah menjadi cewe kue banget. Cantik! Aku yakin calon kakak ipar langsung mengenali kakak bahkan dari jauh.” Ucap Frisya.


“Kau ini berlebihan sekali. Sudah ahh sana kau pergilah. Kakak mau siap-siap dulu.” Ucap Friska.


“Ya ini juga mau pergi. Ini mau pamit tapi justru melihat seseorang yang sedang rapi-rapi dan cantik-cantik untuk bertemu dengan calon suami.” Ucap Frisya. Friska pun hanya tersenyum lalu dia memoleskan lipstip tipis di bibirnya itu.


Frisya pun segera menyalami kakak keduanya itu untuk berpamitan, “Sudah cantik kak. Fresh banget! Aku pamit. Assalamu’alaikum!” ucap Frisya.


“Wa’alaikumsalam. Kamu hati-hati di jalan dek.” pesan Friska.

__ADS_1


Frisya mengangguk, “Kakak juga hati-hati.” Balas Frisya lalu segera keluar dari kamar kakak keduanya itu dan segera meluncur ke bawah.


Sekitar lima belas menit kemudian, Friska juga menyusul turun ke bawah. Dia segera mengunci apartemen dan segera turun.


Friska segera mengambil mobil miliknya dan mengeluarkannya dari parkiran. Tidak lama Friska segera melajukan mobilnya meninggalkan apartemennya itu menuju kediaman calon mertuanya.


Kurang lebih 20 menit dia tiba di kediaman calon mertuanya itu yang langsung di bukakan gerbang oleh penjaga kediaman itu yang langsung di kenali sebagai mobil calon menantu majikannya itu, “Terima kasih!” ucap Friska kepada penjaga itu.


Friska segera memarkirkan mobilnya di samping mobil milik Rezky. Rezky yang mengetahui mobil Friska tiba dari lantai dua rumahnya segera turun menyambut calon istrinya itu.


Friska tersenyum melihat calon suaminya yang sudah keluar menyambutnya. Friska segera menuju bagasi mobilnya dan mengambil beberapa buah yang dia beli tadi di supermarket.


Rezky segera mengambil alih membawakan buah itu, “Kenapa repot-repot bawa ini? Kamu bisa datang kapan aja kesini tanpa harus membawa buah tangan.” Ucap Rezky.


“Aku tahu. Tapi aku ingin melakukannya.” Ucap Friska.


“Ya sudah masuk! Mami dan papi sudah menunggumu. Mereka sangat senang mendengarmu ke sini saat aku mengatakan kau akan datang. Mami sampai membuatkan sesuatu untukmu. Mami ada di dapur.” Ucap Rezky.


“Hum, jadi merepotkan deh.” Ujar Friska segera mengikuti calon suaminya itu masuk ke kediamannya.


“Gak repot kok sayang. Mami sendiri yang ingin.” Ucap Rezky segera meletakkan buah yang di bawa Friska itu di meja makan.


“Sayang, kamu sudah tiba!” sapa mami Jasmin dari dapur mendekati calon menantu cantiknya itu.


Friska pun tersenyum lalu segera menyalami mami Jasmin, “Cantik banget sih dengan warna ini.” ucap mami Jasmin.


“Ah mami!” ujar Friska tersipu.


Papi Harry mendekati calon menantunya itu. Friska pun segera menyalami calon ayah mertuanya itu, “Mih, pantas saja putra kita ini ingin mempercepat pernikahannya. Calon menantu kita ini sangat cantik.” Ujar papi Harry.

__ADS_1


“Ah papi bisa aja. Riska jadi malu kan.” Ucap Friska tersenyum.


__ADS_2