
Kenzo terdiam mendengar ucapan calon istrinya itu dan setelah lama berpikir dia merasa bahwa ide Irma itu tidak buruk. Mereka akan melakukan double date pra wedding. Bukankah itu bagus dan sepertinya itu juga jarang di lakukan.
“Hum, sepertinya idemu itu tidak buruk sayang. Setelah ku pikir-pikir itu seru. Selama ini kita hanya biasa melakukan pra wedding dua orang saja tapi ini akan jadi double date pra wedding. Belum ada kan yang melakukan dauble date pra wedding. Kita akan bicara kan dulu dengan kak Ris dan tuan Rezky apa mereka setuju atau tidak.” Ujar Kenzo tersenyum.
Irma yang mendengar ucapan Kenzo pun ikut tersenyum. Dia sudah membayangkan itu akan jadi pra wedding yang seru. Akan anti max tream. Selama ini hanya ada double date saja pergi menonton bioskop atau sekedar makan malam bersama. Sepertinya belum ada yang melakukan double date pra wedding walaupun itu sahabat sekalipun. Biasanya hanya mengambil foto biasa saja di studio itu sudah pasti ada tapi pra wedding kayaknya belum ada. Jika ada pun pasti hanya sedikit bisa di hitung dengan jari berapa orang pasangan yang melakukannya.
“Kalau begitu ayo kak segera hubungi kak Ris. Tanyakan apa mereka setuju atau tidak. Tapi aku yakin mereka setuju.”ujar Irma tersenyum.
Kenzo pun terkekeh, “Yah tunggu sebentar kita hubungi mereka dulu.” Ucap Kenzo segera meraih ponselnya.
“Eits, tunggu sebentar.” Ujar Kenzo.
“Apalagi? Ayo hubungi saja.” tanya Irma dengan ekspresi tidak sabaran.
“Kita tebak. Apa mereka akan setuju atau tidak dengan usulan kita. Yang kalah akan memenuhi permintaan menang. Bagaimana? Maksudnya yang tebakannya benar.” ujar Kenzo.
Irma pun mengangguk, “Kalau begitu Irma tebak kak Ris dan tuan Kenzo mereka akan setuju dengan usulan ini. Ayo kakak harus menebak yang lainnya kan.” Ujar Irma tersenyum menggoda Kenzo.
Kenzo pun tersenyum, “Baiklah siapa takut. Aku akan menebak mereka akan menolak dengan alasan tertentu. Tapi aku harap mereka menang. Setidaknya walaupun aku kalah kita tetap akan melakukan pra wedding bersama. Kan seru tuh.” Kenzo mengucapkan hal itu dengan tersenyum. Irma yang mendengarnya pun ikut terkekeh karena calon suaminya itu sudah pesimis duluan.
“Aku akan meminta yang sulit loh jika aku menang.” Ujar Irma.
“Gak masalah. Selama aku masih mampu aku akan mewujudkan apapun yang kau minta. Aku tahu calon istriku tidak akan meminta sesuatu yang membahayakanku. Jadi selama itu tidak berbahaya maka pasti bisa ku lakukan.” Ucap Kenzo.
“Wah, percaya diri benar anda saya tidak akan begitu. Bagaimana jika saya berubah pikiran. Hum, kasihan anda nanti.” Ujar Irma.
“Gak masalah. Tapi aku percaya padamu.” Ucap Kenzo tersenyum.
“Ahh sudahlah. Telpon saja kak Ris. Hentikan pembicaraan ini dan segera pastikan apa mereka setuju atau bagaimana agar kita bisa segera tahu siapa yang menang ataupun kalah.” Ujar Irma.
Kenzo pun mengangguk lalu segera menelpon nomor Friska.
Tuut … tuut … tuut …
Tidak lama segera di jawab, “Halo, Assalamu’alaikum Kenzo!” ujar Friska dari seberang.
“Halo, Wa’alaikumsalam kak. Kau ada di mana?” tanya Kenzo sedikit basa basi.
“Katakan saja kau perlu apa dan apa tujuanmu menelponku. Tidak perlu basa basi. Aku sibuk.” Ucap Friska dari seberang.
__ADS_1
Kenzo yang mendengar itu mendesis, “Ck, kau ini kak Ris sungguh tidak bisa di ajak bercanda. Aku kan hanya sedang mencoba membangun pembicaraan yang baik denganmu kau justru begitu. Sungguh, menyebalkan.” Ucap Kenzo. Sementara Irma yang ikut mendengar percakapan telepon itu karena memang Kenzo menyalahkan loudspeaker ponselnya menahan tawanya melihat calon suaminya itu di marahi oleh Friska.
“Aku sibuk Kenzo. Sungguh beneran sibuk. Jika kau menghubungiku hanya untuk mengajakku ribut begini aku matikan saja. Aku masih belum mood untuk berdebat dan bertengkar denganmu. Jadi cepat katakan saja apa tujuanmu menghubungiku sebelum aku benar-benar kehabisan kesabaran denganmu.” Ucap Friska tegas.
Kenzo pun menarik nafasnya lemah, “Huh, baiklah. Aku tidak akan bercanda lagi. Aku akan serius. Jangan marah marah kakak 15 hariku. Kau akan segera menikah sebentar lagi. Jangan sampai kerutan di pipimu itu bertambah karena kau suka marah padaku. Jadi tersenyum lah dan dengarkan apa yang aku ucapkan. Tenang saja tujuanku menghubungimu ini adalah baik. Aku memiliki ide yang semoga saja kau dan kakak ipar Rezky itu setuju dengan kami. Aku berharap sih begitu walaupun aku melakukan taruhan sebaliknya.” Ucap Kenzo.
“Ck, Kenzo katakan saja. Kenapa masih saja berbasi-basi. Apa kau tidak bekerja sehingga punya banyak waktu untuk mengajakku berbasa basi begini. Jika aku tahu kau suka begini aku akan meminta kakak ipar Vino untuk memecatmu dari pekerjaanmu itu. Jangan sampai kan kau melakukan basa basi begini dengan klienmu.” Ujar Friska menahan kesal serta tawa dalam otaknya. Rezky yang melihat calon istrinya itu tersenyum hanya bisa ikut tersenyum juga. Ternyata begini lah penampakan calon istrinya itu ketika berdebat dengan adik 15 harinya.
“Hehehhh, jika kakak ipar Vino memecatku maka aku akan menumpang pada istriku dan mertuaku. Aku akan meminta kepada mereka pekerjaan karena menantu mereka ini sudah tidak punya pekerjaan. Sudah di pecat hanya gara-gara kak Ris yang melaporkan aku kepada kak Vino karena mengajaknya bercanda.” Balas Kenzo menatap Irma penuh cinta dan senyuman manis di bibirnya yang selalu saja bisa menggetarkan hati gadis muda itu.
Di seberang sana Friska pun akhirnya tertawa karena tidak lagi bisa menahan tawanya akan ucapan Kenzo, “Jika aku jadi Irma maka aku akan membatalkan pernikahan kalian. Masa iya suamiku menumpang.” Ujar Friska sambil menatap Rezky.
“Tenang saja sayang. Aku akan mengusahakan yang terbaik agar aku tidak akan menumpang padamu dan jika pun itu terjadi aku akan tetap pastikan semua kebutuhanmu tercukupi. Tenang saja calon suamimu ini pekerja keras.” Timpal Rezky tersenyum tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan calon istrinya itu yang dia tahu hanya bercanda.
Kenzo yang mendengar itu mendesis sementara Irma tersenyum, “Dasar bucin kalian kak.” Ledek Kenzo.
“Kau juga bucin calon adik ipar.” Balas Rezky dari seberang.
“Ahh kau benar. Aku juga bucin kepada calon istriku. Tapi kenapa rasanya geli yaa mendengar kebucinan itu jika bukan kita yang mengucapkannya. Apa yang mendengarkan kebucinanku juga begitu. Ahh kok aku jadi geli sendiri.” Ucap Kenzo sambil mengingat momen dia bucin.
Friska dan Rezky yang mendengarnya tertawa, “Hahahah, kau baru menyadarinya sekarang. Lihatlah kenapa setiap orang di dekat kita pasti akan mengatakan hal itu jika kita melakukan kebucinan di dekat mereka. Jadi jika ingin melakukan kebucinan carilah tempan aman dan tersembunyi agar tidak ada yang mendengar hanya kita saja serta kita tidak mengganggu pendengaran anak orang. Kasihan kan.” Ucap Rezky.
“Kau masih bertanya. Ini semua berawal karena kau yang suka basa basi. Jadi sekarang katakan saja apa tujuanmu menelponku? Ahh bukan, lebih baik aku bicara dengan Irma saja. Dia ada bersamamu kan. Serahkan saja ponselnya padanya. Aku bicara dengannya saja. Jika bicara denganmu pasti hanya banyak becanda dan basa basinya. Bisa-bisa waktuku habis bicara dengan semua basa basimu itu dan apa yang harus di katakan tidak tersampaikan. Cepat serahkan saja ponselmu kepada calon adik iparku itu. Biarkan dia yang mengatakannya untukku.” Pinta Friska.
Kenzo pun segera memberikan ponselnya kepada Irma, “Irma, apa ini kau?” tanya Friska setelah dia merasakan bahwa Kenzo telah memberikan ponselnya itu.
Irma mengangguk, “Ehh iya kak.” Jawab Irma.
“Ck, masih saja gugup bicara denganku. Sudah jangan tegang Irma. Aku ini akan menjadi keluargamu. Jadi jangan kaku bicara denganku. Kau bisa curhat denganku terkait apapun itu. Terkait Kenzo juga tidak masalah. Aku akan membantumu jika dia nakal padamu. Ahh sudah cukup. Aku jadi suka basa basi juga. Aku jadi ketularan Kenzo kan. Irma ayo katakan apa yang ingin di katakan Kenzo padaku. Apa tujuannya menelponku?” ucap Friska.
Irma menarik nafas lalu menatap Kenzo sebentar dan Kenzo mengangguk seolah memberi dorongan untuk mengatakan apa yang ingin mereka katakan, “Itu kak. Apa kak Ris dan tuan Kenzo sudah melakukan pra wedding?” tanya Irma.
“Pra wedding? Belum dek. Kami ini baru saja pulang dari bicara dengan fotografernya dan juga baru saja membicarakan tema pra weddingnya. Kami baru saja mengajukan cuti jadi baru bisa membicarakan pra weddingnya belum melakukan prawedding dan sepertinya lusa kami baru pra wedding. Besok kami masih harus memastikan tema pra wedding kami. Emang ada apa dek? Apa kalian juga akan melakukan pra wedding?” Ujar Friska sambil di akhir bertanya.
“Eehh itu kak. Kami juga ingin ikut melakukan pra wedding bersama. Bisa di katakan double pra wedding. Jadi kita bisa mengambil foto pra wedding berempat begitu. Bisa juga tetap berdua bersama pasangan kita. Tapi kita melakukannya bersama-sama. Jadi apa kak Ris dan tuan Rezky setuju?” tanya Irma was-was.
Friska dan Rezky yang mendengar ucapan Irma itu pun saling memandang lalu tersenyum mengangguk, “Sepertinya itu seru. Ya sudah ayo kita lakukan.” Ucap Rezky.
“Iya selama ini belum ada double date pra wedding. Aku juga setuju. Ayo kita lakukan. Tapi kita akan melakukannya di mana?” tanya Friska.
__ADS_1
“Terserah di mana yang akan jadi kesepakatan kita.” Jawab Irma.
“Jadi kakak setuju ya?” tanya Kenzo mendekati Irma.
“Tentu saja aku setuju. Kita bisa melakukan pra wedding bersama. Besok kita bertemu dan membicarakan ini secara langsung. Kita juga akan membicarakannya dengan fotografer. Sekalian juga kita akan mengambil tema apa untuk double date pra wedding kita.” Ucap Friska.
“Okay, begitu saja dulu. Kami setuju. Kita akan bertemu besok jika begitu kak Ris.” Balas Kenzo.
“Ya sampai jumpa.” Ujar Friska.
“Terima kasih kak sudah setuju.” Ucap Irma.
“Terima kasih kembali Irma. Idemu sangat bagus kok. Aku menyukainya.” Balas Friska.
“Ya sudah. Begitu dulu kak Ris. Nanti kita ketemu untuk membicarakan semuanya. Yang terpenting kita sudah setuju untuk melakukannya bersama.” Ucap Kenzo.
Tidak lama sambungan telepon pun terputus di antara mereka setelah saling mengucapkan salam. Dua pasangan yang sama-sama bucin pada pasangan mereka masing-masing.
“Yeayy, aku menang loh kak. Jadi kau harus menuruti apa permintaanku.” Ujar Irma senang setelah sambungan telepon itu terputus. Irma tersenyum senang sambil menatap calon suaminya itu.
“Ya sudah kamu mau minta apa. Biar aku siapkan.” Ucap Kenzo.
“Umm, aku masih harus memikirkan baik-baik karena ini akan jadi hadiah kemenanganku. Jika aku sudah menemukannya maka aku akan mengatakannya. Sekarang biarkan aku merayakan kemenanganku dulu dan merayakan karena kita akan mengambil foto pra wedding bersama. Salah satu impianku sejak kecil.” Ucap Irma keceplosan. Begitu dia sadar telah keceplosan dia segera menutup mulutnya.
“Impian sejak kecil? Maksudnya?” tanya Kenzo menatap lekat kepada calon istrinya itu.
“Ishh kak. Itu tidak benar kok. Aku hanya sembarangan bicara saja. Mana mungkin itu jadi impian masa kecilku. Orang aku saja gak ingat apapun masa kecilku karena waktuku di habiskan berobat dan berobat saja.” ucap Irma mencoba mengelak.
Kenzo segera menahan kedua lengan calon istrinya itu, “Tatap aku dan katakan bahwa itu tidak benar.” ucap Kenzo tegas.
Irma pun diam dan menatap Kenzo lalu mengangguk, “Yah aku akui itu benar. Aku akui bahwa itu memang jadi impian masa kecilku.” Ucap Irma akhirnya mengalah.
“Yah, walaupun aku kecil sudah di diagnosa penyakit dan merupakan anak tunggal tapi aku menginginkan hal itu. Aku tak tahu kenapa juga aku sampai memiliki impian seperti itu di saat usiaku yang masih kecil. Aku menginginkan saat aku menikah nanti bahwa aku akan melakukan foto bersama pasangan lain entah itu sahabatku atau tidak. Aku tidak tahu kenapa aku memiliki impian seperti itu. Tapi memang itulah yang terjadi, aku menuliskan impianku itu di kertas kecil dan menempelkannya di buku harianku.”
“Aku yang sakit-sakitan tetap optimis bahwa harapan itu akan terkabul suatu saat nanti. Harapan kecil yang aneh. Tapi itu lah keinginanku. Aku senang bisa mewujudkannya. Jujur saja kak bertemu denganmu adalah berkat untukku. Bertemu dengan keluargamu adalah berkat untukku. Banyak impianku yang tercapai setelah mengenalmu dan mengenal keluargamu. Banyak keinginan yang hanya bisa ku tulis dalam buku harian milikku menjadi kenyataan setelah bertemu denganmu. Aku yang menginginkan punya kakak dan adik yang menyayangiku tanpa melihat aku sakit terwujud setelah bertemu dengan keluargamu. Kak Reya dan kak Kia memperlakukan aku dengan baik begitu juga Mark dan Clemira.”
“Aku yang menginginkan sahabat juga terwujud dengan hadirnya kak Riska dan kak Risya di sampingku. Yaa walaupun usia mereka sedikit di atasku tapi mereka seperti sahabat bagiku. Aku yang menginginkan pasangan yang menerimaku kau datang padaku mewujudkan mimpi itu. Dan kini impian melakukan pra wedding bersama pun terwujud. Aku sangat bahagia bertemu denganmu kak. Aku bahagia.” Ujar Irma mengakhiri ceritanya.
Kenzo yang mendengar itu pun ingin rasanya dia membawa Irma ke pelukannya. Dia terharu akan kisah hidup calon istrinya itu. Memang benar Irma hidup bergelimang harta tanpa kekurangan sedikit pun tapi dia tetap bersedih. Kenzo berjanji akan selalu membahagiakan calon istrinya itu. Tidak akan menyakitinya sama sekali.
__ADS_1