
Kini Friska dan Frisya sudah berpisah menuju tempat mereka bekerja tiap weekend. Frisya sudah kembali di izinkan oleh Freya untuk mengendarai sepeda motornya tapi dengan catatan harus lebih hati-hati lagi dalam mengendara. Jadi Friska dan Frisya mereka berpisah dari apartemen karena memang mereka menggunakan kenderaan sendiri.
Sekitar 20 menit kemudian Frisya tiba di restoran kakaknya yang mulai di padati oleh muda mudi. Pelayan yang melayani saja sudah mulai sibuk. Frisya segera masuk ke dalam restoran dan kali ini bukan dirinya yang datang paling akhir karena Fazar belum tiba. Frisya segera menyapa El, Jery dan Dino, “Baru kalian bertiga?” tanya Frisya.
Ketiga orang itu mengangguk, “Emm, kau kali ini menang dari kak Fazar karena dia terlambat datang darimu.” Ucap Jery.
Frisya pun tersenyum lalu dia segera mengecek mica pa dia berfungsi dengan benar atau tidak. Setelah memastikan micnya berfungsi dengan baik dia segera memilih lagu apa yang harus di bawakan. Sekitar sepuluh menit kemudian Fazar tiba sambil berlari. Dia segera mendekati Frisya yang sibuk dengan album lagu, “Dek, kenapa gak nunggu saya jemput?” tanya Fazar menatap gadis di hadapannya itu yang tadi dia susul ke apartemennya tapi kata satpam apartemen sudah keluar dengan sepeda motornya hingga membuatnya khawatir dan melajukan mobil di atas kecepatan rata-rata kesini. Gadis yang sudah membuatnya khawatir itu kini justru sedang duduk sambil memilah memilih lagu.
Frisya yang mendengar suara Fazar segera menatap laki-laki itu, “Kak, kau sudah tiba. Ohiya aku gak tahu kakak akan datang menjemputku. Lagian aku juga sudah di izinkan oleh kak Reya mengendarai sepeda motorku sendiri. Jadi kak Fazar gak perlu repot menjemputku atau mengantarku lagi. Aku bisa sendiri. Terima kasih sudah mau aku repotkan akhir-akhir ini.” ucap Frisya lalu kembali fokus memilih lagu.
Fazar yang mendengar itu hanya diam saja dan segera mengambil gitar dan duduk di samping Frisya tanpa bicara sama sekali hanya wajahnya saja yang terlihat tidak bersahabat hingga membuat ketiga orang yang lain takut sambil bertanya apa kedua vokalis band mereka itu sedang ada masalah. Yah, Fazar dan Frisya memang vokalis band itu tapi Fazar selain vokalis dia juga gitaris bersama El.
__ADS_1
Frisya tetap memilih lagu dan tidak menyadari apa yang dia lakukan telah membuat seseorang uring-uringan. Sementara Fazar hanya bisa mengulang menarik nafas lalu menghembuskannya begitu berulang kali sambil menenangkan emosinya yang entah kenapa terluka dengan perkataan Frisya itu padahal jika di pikir tidak ada yang harus membuatnya marah di antara apa yang di ucapkan Frisya namun entah kenapa karena gadis itu yang mengatakan untuk tidak lagi menjemput atau mengantarnya membuatnya terluka dan kecewa, “Fazar, sadar kalian tidak memiliki hubungan apapun selain sebagai teman band. Kau tidak berhak kecewa atau mengatur hidupnya.” Batin Fazar menatap sekilas ke arah Frisya yang masih saja fokus memilih lagu. Tidak lama setelah itu mereka mulai melakukan tugas mereka untuk menghibur pengunjung restoran milik Freya itu.
***
Sementara di sisi lain, Friska juga yang baru saja tiba seperti biasa selalu lewat jalan yang biasa dia gunakan menuju tempat siarannya. Tidak lama setelah itu siarannya segera di mulai dan seperti biasa para penggemarnya selalu menyambutnya dengan antusias apalagi di tambah minggu kemarin program yang di bawakan oleh Friska itu di tiadakan hingga para penggemar antusias weekend kali ini dan membuat program itu kembali mendapatkan rating tertinggi.
Di sisi lain seseorang yang mengikuti Friska dari apartemen sampai di studio ini segera turun dan menuju ruangan manajernya, “Tuan ada ke sini? Kenapa tidak memberi kabar lebih dulu jika anda ingin kesini hingga kami bisa bersiap untuk menyambut anda.” Ucap manajer itu yang kaget akan kedatangan direkturnya.
Manajer itu yang bernama Bima pun hanya mengangguk dan segera membawa Rezky menuju tempat pengawasan. Rezky segera duduk dan pandangannya segera mengarah kepada gadis yang memakai topi yang saat ini sedang bicara dengan penggemarnya, “Aku ingin bertemu dengan penyiar itu hari ini. Setelah dia selesai melakukan siaran segera minta ke ruanganku.” Ucap Rezky menunjuk Friska yang saat ini memang serius dengan siaran. Selain itu juga Friska tidak tahu bahwa saat ini dia sedang di awasi.
“Tuan, bukannya kami tidak mau mempertemukan anda dengan 3F hanya saja dia adalah penyiar misterius. Itu adalah julukannya dan itu juga sudah menjadi kesepakatan antara kami saat penandatanganan kontrak bahwa tidak boleh ada yang tahu identitasnya.” Ucap Bima hati-hati karena bagaimanapun saat ini dia sedang bicara dengan direktur stasiun radio ini.
__ADS_1
Rezky yang mendengarnya tersenyum karena mengagumi kecerdasan yang di miliki oleh gadis yang di cintainya itu yang juga mantan mahasiswanya. Sepertinya Friska masih saja cerdas hingga mengajukan syarat seperti itu tapi dia juga tidak akan menyerah untuk mengejar gadis itu. Mami dan papinya sudah menyetujuinya dan merestui bahwa gadis itu menjadi menantu mereka. Jadi dia akan mewujudkannya, “Aku tidak peduli Bimo. Pokoknya yang aku tahu dia menemuiku di ruanganku. Aku tidak membuat perjanjian itu dengannya tapi kau yang melakukannya. Jadi aku tidak terikat dengan kontrak itu.” ucap Rezky segera keluar dari ruang pengawasan dan menuju ruangannya. Bima pun hanya bisa menghela nafas dan memikirkan bagaimana Friska agar setuju menemui direkturnya.
Program yang di bawakan oleh Freya akhirnya sudah satu jam dan kini sudah selesai tinggal lagu sebagai penutup saja yang masih terputar. Friska pun segera melepas alat siaran yang terpasang di tubuhnya dan kini dia mulai merapikan tasnya lalu tiba-tiba Bima masuk, “Nona Fri apa kita bisa bicara sebentar.” Ucap Bimo.
Friska pun mengangguk, “Iya ada apa tuan Bima? Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Friska mendekati Bima yang memang dia tahu sebagai manajer stasiun radio itu.
“Eehh itu nona maaf sebelumnya saya tahu ini telah melanggar perjanjian yang kita lakukan sebelumnya hanya saja saya mohon anda bisa membantu saya.” ucap Bima dengan nada memohon karena dia tidak tahu harus melakukan apa.
Friska yang melihat itu pun menjadi kasihan, “Katakan saja tuan Bima butuh bantuan apa?” tanya Friska.
“Bisakah nona Friska menemui pak direktur. Dia ingin menemui anda di ruangannya. Kami gak tahu kenapa dia ingin bertemu anda hanya saja dia meminta agar anda menemuinya. Jadi bisakah membantu saya?” mohon Bima.
__ADS_1
Friska berpikir sejenak keputusan apa yang harus dia ambil di satu sisi dia tidak ingin ada yang tahu identitas aslinya namun dia juga penasaran siapa direktur stasiun ini yang di percayai kakak iparnya lalu dia juga kasihan dengan Bima yang memohon, “Baiklah. Saya mau menemui pak direktur.” Ucap Friska akhirnya.