
Kini di gedung yang sama dengan pernikahan Friska dan Rezky sedang ada resepsi pernikahan Kenzo dan Irma yang sama megahnya dengan pernikahan Friska dan Rezky. Banyak tamu undangan yang hadir. Acara resepsi itu berjalan lancar tanpa kendala sedikit pun kecuali rasa lelah yang mendera kedua mempelai karena harus menyalami dan tersenyum kepada tamu yang datang.
“Kak, sepertinya aku tidak lagi harus senyum untuk tiga bulan ke depan.” Bisik Irma kepada Kenzo saat mereka sudah selesai dari acara resepsi itu dan berjalan menuju ruangan di mana mereka berganti pakaian karena jujur saja gaun yang di pakai oleh Irma itu sedikit membuatnya pusing.
Kenzo yang mendengar ucapan istrinya itu pun tersenyum, “Kau benar sayang. Kita memang sepertinya tidak perlu senyum untuk beberapa waktu ke depan.” Ucap Kenzo.
Begitu tiba di ruangan untuk bertukar pakaian. Irma segera mengambil pakaiannya dan berlari masuk menuju kamar mandi, “Astaga, kenapa dia berlari begitu. Apa dia malu padaku.” Ucap Kenzo tertawa melihat tingkah istrinya itu.
Kenzo pun segera mengambil pakaiannya dan segera bertukar pakaian. Dia melepas tuxedo-nya dan menggantinya dengan kaos dan juga celana jeans pendek sehingga penampilannya itu terkesan lebih kasual.
Sementara di dalam kamar mandi Irma kesusahan sendiri karena ternyata dia tidak bisa menggapai resleting gaunnya yang berada di balik punggungnya, “Ck, kenapa tidak bisa sih. Masa iya aku keluar lagi dan meminta bantuan kak Kenzo. Gak itu memalukan. Yah, walaupun sekarang kami pasangan suami istri tetap saja aku malu jika meminta bantuannya untuk melepas resleting. Tapi jika hal itu tidak ku lakukan maka apa aku harus tidur di sini malam ini. Ahh menyebalkan. Aku tidak suka situasi ini. Situasi yang membuatku tidak perdaya begini.” Ucap Irma menghela nafas dalam.
Irma masih mencoba untuk meraih resleting gaunnya itu tapi tetap saja tidak bisa, “Ck, minta bantuan saja sama kak Kenzo. Kenapa harus malu coba. Dia itu suamiku yang sudah sah melihat apapun yang ada dalam diriku. Lagi pula kau tidak mau jika harus tidur di sini atau tidur dengan memakai gaun berat ini. Pasti tidak nyaman.” Ucap Irma membuat keputusannya sendiri.
Dia pun membuka pintu kamar mandi dan mengintip apa yang di lakukan oleh suaminya itu yang ternyata Kenzo sedang duduk bersandar di ranjang yang ada di sana, “Kak!” panggil Irma mengeluarkan kepalanya di balik pintu kamar mandi itu.
Kenzo yang mendengar suara istrinya itu pun segera memandang ke arah Irma, “Ada apa? Apa kamu butuh bantuan?” tanya Kenzo.
Irma pun mengangguk perlahan, “Bantuin Irma lepasin resleting gaunnya. Irma tidak bisa menggapainya.” Jujur Irma.
Kenzo yang mendengar ucapan istrinya yang dia tahu pasti sedang menekan malunya itu pun tersenyum. Lalu dia berdiri dari ranjang dan mendekati istrinya. Kenzo segera membuka pintu kamar itu itu dengan lebar dan segera memutar tubuh istrinya agar membelakanginya.
Kenzo segera melepas resleting istrinya itu dengan cepat karena dia tahu pasti istrinya itu tidak nyaman jika harus memakai gaun itu untuk tidur.
“Sudah!” ucap Kenzo.
Irma pun menahan gaunnya itu agar tidak jatuh, “Terima kasih kak. Kau boleh keluar.” Usir Irma.
“E’eeh kok itu.” ucap Kenzo mencoba menolak untuk keluar dari kamar mandi itu.
Kenzo hanya bisa melihat pintu kamar mandi yang sudah di tutup dan terdengar bunyi tanda pintu kamar mandi itu di kunci dari dalam, “Astaga, dia masih malu padaku. Bukankah dia sudah meminta bantuanku untuk melepas gaunnya itu. Ku pikir dia--” ucap Kenzo.
“Ahh sudahlah. Begitu lah wanita pasti malu jika di lihat tubuhnya padahal kan dia tadi memakai alasan di dalam gaun itu.” lanjut Kenzo bergumam sendiri. Dia pun kembali ke ranjang menunggu istrinya itu keluar.
Kembali ke sisi Irma, “Ck, kenapa aku lupa aku memakai manset di balik gaun ini. Ahh aku sudah terlanjut menunjukkan wajah gugupku itu di hadapannya. Dasar Irma kenapa tidak ingat memakai alas di dalam.” Ucap Irma pada dirinya sendiri.
Setelah itu Irma pun segera memutuskan untuk mengganti pakaiannya itu dan dia juga segera menghapus make up di wajahnya.
“Kenapa lama sih sayang di dalam? Emang gak dingin main air malam-malam begini?” tanya Kenzo begitu Irma keluar.
Irma pun hanya diam saja tidak menjawab suaminya itu dan justru menuju koper miliknya untuk mengambil skin care miliknya.
Kenzo yang di abaikan oleh istrinya itu pun segera bangkit dari ranjang lalu mendekati Irma dan menggendongnya, “Sayang, jangan mengabaikan aku begitu. Ingat tidak boleh mengabaikan ucapan suami.” Ucap Kenzo.
Irma yang sudah berada di pangkuan suaminya pun tersenyum bersalah, “Maaf! Bukan maksud Irma tadi tidak mau mau menjawab hanya saja menurut Irma itu pertanyaan yang tidak seharusnya di jawab kak. Irma tentu saja lama di kamar mandi. Irma kan masih harus membersihkan make up. Jadi Irma tahu bahwa kakak pasti sudah tahu apa yang menyebabkan Irma lama di dalam tadi.” Jelas Irma lembut.
Kenzo pun tersenyum lalu segera melabuhkan satu kecupan di bibir istrinya itu. Kecupan yang singkat tapi membuat tubuh Irma seketika menegang.
“Kaakk! Apa yang kau lakukan.” Ucap Irma segera turun dari pangkuan suaminya itu sambil menutup bibirnya.
Kenzo yang melihat respon istrinya itu pun hanya mengangkat bahunya, “Kakak juga gak tahu.” Jawab Kenzo enteng. Irma pun hanya mengerucutkan bibirnya itu dan kembali ke aktivitasnya yang tadi yaitu mengambil skin care miliknya.
Tok tok tok
__ADS_1
“Biar kakak yang bukain.” Ucap Kenzo saat Irma hendak berdiri.
Kenzo pun segera membukakan pintu untuk tamu yang mengetuk itu yang ternyata adalah kakaknya dan kakak iparnya.
“Masuk kak!” ucap Kenzo mempersilahkan Kiana dan Zean itu untuk masuk.
“Hum, gak usah dek. Kami di sini saja. Kami tidak ingin mengganggu kalian. Ini kakak hanya ingin memberikan ini. Sudah ada di bawah yang menunggu kalian untuk mengantar ke hotel. Selamat bersenang-senang adikku.” Ucap Kiana memberikan kartu hotel.
“Ingat adik ipar ini nasihat untukmu. Jangan suka menunda-nunda karena saat kau ingin maka akan ada takdir yang melarangmu melakukannya.” Ujar Zean.
Kiana dan Kenzo yang mendengar ucapan Zean itu pun tersenyum, “Dengarkan kata kakak iparmu ini dek. Dia sudah pengalaman soalnya.” Ucap Kiana cengesan. Zean yang mendengar ucapan istrinya itu segara merangkul Kiana erat.
Kenzo tersenyum melihat kakak dan kakak iparnya yang saling mencintai itu, “Tenang saja kakak ipar aku akan ingat pesanmu itu. Aku tidak akan menundanya terlalu lama seperti dirimu.” Ucap Kenzo.
Zean pun tersenyum lalu menepuk bahu adik iparnya itu, “Semoga berhasil!” ucap Zean.
“Dek, kami pamit pulang yaa.” Ucap Kiana.
“Gak mau menemui Irma dulu kak?” tanya Kenzo.
Kiana menggeleng, “Gak usah dek. Sampaikan salam kakak untuknya. Kami pamit. Kami juga mau melakukan malam kami sendiri.” Ucap Kiana menatap suaminya itu.
“Kami pamit Kenzo. Assalamu’alaikum.” Ucap Zean lalu keduanya segera berbalik dan meninggalkan ruangan Kenzo itu.
“Wa’alaikumsalam.” Jawab Kenzo lalu dia segera masuk juga ke kamar kembali begitu Kiana dan Zean pergi.
“Siapa kak?” tanya Irma.
“Itu kak Kia dan kakak ipar mengantarkan kunci hotel untuk kita.” Ujar Kenzo.
“Menurutmu untuk apa sayang?” tanya Kenzo balik.
Irma yang menatap cermin di hadapannya kini berbalik dan menatap suaminya itu yang sedang tersenyum, “Ini adalah malam pertama kita. Kira-kira apa yang akan kita lakukan di malam pertama.” Ucap Kenzo.
Irma yang mendengar itu pun seketika wajahnya memerah malu, “Apakah harus malam ini?” tanya Irma.
“Apanya yang harus malam ini?” tanya Kenzo balik untuk menggoda istrinya itu.
“Ck, kakak jangan pura-pura bodoh deh. Aku yakin kau pasti tahu apa yang ku maksud.” Ucap Irma mendesis.
Kenzo yang melihat ekspresi istrinya itu pun tertawa, “Sudah, jangan terlalu berpikiran jauh. Kita hanya kesana untuk menghargai hadiah yang di berikan kakak saja. Selain itu pastinya kita tidur. Aku lelah. Pengen tidur. Mengantuk sayang. Ayo kita segera ke sana.” Ucap Kenzo.
Irma yang juga sudah selesai dengan ritual perawatannya, dia pun segera mengangguk. Lalu sepasang pengantin baru itu pun segera menyiapkan semua barang mereka tidak ada yang tertinggal sama sekali.
“Gak lagi yang ketinggalan bukan?” tanya Kenzo menarik kopernya dan koper milik istrinya itu.
Irma melihat sekeliling ruangan itu sekali lagi untuk memastikan bahwa semuanya tidak ada lagi yang tertinggal, “Sudah, gak ada lagi kak.” Jawab Irma.
Kenzo pun mengangguk lalu keduanya segera keluar dari ruangan itu dan turun ke lantai bawah menuju parkiran di mana sopir yang akan membawa mereka ke hotel sudah menunggu. Mereka segera masuk ke mobil dan sekitar lima menit saja dalam perjalanan mereka sudah tiba di hotel yang sama di mana Friska dan Rezky juga menghabiskan malam pertama mereka.
Kenzo dan Irma segera masuk ke dalam hotel dan langsung di arahkan oleh pegawai hotel menuju kamar khusus honeymoon yang sudah di siapkan untuk keduanya. Kamar yang bersampingan dengan kamar yang di tempati oleh Friska dan Rezky sebelumnya.
Kenzo dan Irma segera masuk ke kamar dan seperti dugaan mereka kamar itu di hiasi dengan aneka lilin dan juga mawar merah yang pastinya tidak pernah ketinggalan untuk kejutan malam pertama begini.
__ADS_1
“Kak, bagus banget! Siapa yang menyiapkan ini?” tanya Irma mengagumi kamar itu.
“Sepertinya kak Kia dan kakak ipar yang melakukan ini.” ucap Kenzo.
“Kak, jangan acak dulu yaa. Irma mau mengambil foto dulu.” Ujar Irma lalu segera mengambil ponselnya dan memotret sudut kamar itu. Kenzo pun hanya diam saja memperhatikan apa yang di lakukan istrinya. Dia lebih memilih ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
“Kak, tunggu dulu. Sebelum kau mengajaknya aku mau mengambil foto dulu.” Tahan Irma lalu dia segera masuk ke kamar mandi itu dan memotret kamar mandi yang juga di hiasi dengan mawar merah di bathupnya.
“Okay, silahkan kak.” Ucap Irma setelah selesai memotret kamar mandi.
Kenzo pun segera masuk ke kamar mandi dan menuju westafel membersihkan wajahnya. Sementara Irma dia kembali memotret kamar itu.
“Kak, ayo fotoin Irma.” Pinta Irma begitu Kenzo keluar dari kamar mandi.
Kenzo pun tersenyum mendapat permintaan istrinya itu dan segera mengambil alih memotret istrinya yang sudah berpose cantik, imut dan menggemaskan di matanya itu.
“Sini kak. Mau lihat hasilnya.” Pinta Irma.
Kenzo pun menyerahkan ponsel istrinya itu, “Wah, cantik banget aku kak. Kakak hebat deh motretnya. Mirip fotografer handal. Untung saja hanya Irma yang memilikinya.” Ucap Irma.
Kenzo pun terkekeh mendengar ucapan istrinya itu dan segera mengacak hijab istrinya, “Kau ini ada-ada saja istriku.” Ujar Kenzo gemas.
“Kak, jangan mengacak hijabku.” Protes Irma. Tapi Kenzo hanya tersenyum tidak memedulikan protes istrinya itu.
“Kak, ayo foto berdua.” ucap Irma kemudian.
Kenzo pun mengangguk dan segera merangkul istrinya lalu mereka pun mengambil foto bersama dengan latar belakang kamar pengantin keduanya itu.
“Sudah-sudah. Cukup.” Ucap Irma setelah puas mengambil foto.
Irma segera berdiri dari ranjang bermaksud meletakkan ponselnya di tasnya tapi di tahan oleh Kenzo dan justru langsung di dorong oleh Kenzo ke ranjang dan menindih tubuh istrinya itu, “Kaak! Mau ngapain?” tanya Irma gugup bercampur tegang.
Kenzo tersenyum menyadari ekspresi tegang di wajah istrinya itu, “Tenang saja sayang. Kakak gak akan ngapa-ngapain kok. Hanya mau tidur saja.” ucap Kenzo lalu segera merebahkan tubuhnya di samping sang istri dan membawa Irma ke pelukannya itu.
“Tidur sayang. Itu sudah larut malam. Kita harus istirahat.” Ucap Kenzo berbisik di telinga istrinya itu yang membuat tubuh Irma semakin menegang karena itu bagian dari tubuhnya yang sensitif.
“Kaak, jika mau tidur ayo perbaiki dulu posisi tidurnya.” Ujar Irma.
Kenzo pun mengangguk lalu keduanya segera memperbaiki posisi tidur mereka. Kenzo dan Irma saling berhadapan satu sama lain. Lalu tiba-tiba Kenzo segera membawa kembali tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Dia tenggelamkan wajah istrinya itu di dalam dadanya. Dia mendekap istrinya itu dengan erat. Kenzo segera membaca doa tidur lalu tidak lama setelah itu keduanya pun tertidur. Mungkin efek lelah pesta hari ini membuat mereka cepat tertidur.
Tepat pukul setengah tiga, Kenzo terbangun dan dia menatap istrinya itu yang tertidur dalam pelukannya, “Dia sangat menggemaskan.” Ucap Kenzo lalu mengecup bibir istrinya itu.
Irma terbangun begitu Kenzo mengecup bibirnya dan seketika dia memundurkan wajahnya tapi sayang Kenzo menahan tengkuknya dan Kenzo pun memperdalam kecupannya itu menjadi ciuman dan semakin dalam hingga menjadi *******.
Irma pun mencoba mengikuti nalurinya dan membalas ciuman suaminya itu dengan kerelaan hati dan penuh kesadaran. Ini ada kissing pertama selain kecupan singkat yang di berikan Kenzo beberapa jam lalu.
Mereka baru melepaskan tautan bibir mereka itu setelah hampir kehabisan nafas. Kenzo menatap Irma dengan sayu. Hasratnya sudah naik.
“Sayang, aku tidak tahan.” Ucap Kenzo parau.
Irma menatap suaminya itu dan tersenyum, “Tapi itu sudah jam--” ucap Irma.
Kenzo segera melihat jam, “Cukup kok.” ujar Kenzo yang sepertinya sudah tidak bisa menahan hasratnya itu.
__ADS_1
Irma pun akhirnya mengangguk menyetujui ajakan suaminya itu. Dia sudah siap menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang berstatus suaminya itu. Akhirnya pasangan pengantin baru itu pun menyelesaikan ritual mereka dengan sangat baik di waktu kurang lebih dua jam sebelum waktu subuh di mulai. Mereka sudah jadi pasangan suami istri sesungguhnya.