
Kita kembali ke Negara S, Kini Zean baru saja menyelesaikan rapatnya dan segera menuju ruangannya bersama asistenya di belakangnya, “Aku hari ini akan ke Negara N bersama istriku. Untuk laporan hasil rapat hari ini kalian antarkan kepada daddy. Selama aku tidak ada kalian akan bekerja di bawah daddy kembali. Ohiya Erlan apa kau sudah menyiapkan jet untukku dan istriku?” tanya Zean sambil terus berjalan dan membaca hasil rapat tadi sekilas di tab yang dia pegang.
Jefry sang asisten mengangguk, “Sudah tuan. Jet pribadi sudah siap.” Jawab Erlan.
“Baiklah. Terima kasih Erlan. Aku percayakan perusahaan ini kepadamu. Kau bisa menghubungiku jika daddy banyak urusan untuk membicarakan pekerjaan. Kau juga bisa mengirimiku berkas dan dokumen yang harus periksa melalui email.” Ujar Zean.
Erlan pun mengangguk, “Baik tuan.” Jawab Erlan.
Kini Zean dan Erlan sudah berada di depan ruangan Zean tapi Zean tidak segera membuka pintu dan justru berbalik menatap asistennya itu, “Kau jangan terlalu fokus bekerja Erlan. Carilah pasanganmu juga. Aku sudah menemukan pasanganku maka kau juga carilah dan segera milikilah seorang anak. Aku ingin jika putramu nanti tetap menjadi asisten dari putraku.” Ujar Zean tersenyum.
Erlan yang mendengar itu juga ikut tersenyum, “Terima kasih tuan atas perhatian anda hanya saja saat ini saya belum memikirkan hal itu. Semoga saja dalam waktu dekat saya akan menemukan seseorang yang tepat dan cocok dengan saya tapi untuk sekarang belum dulu. Dan untuk tawaran pekerjaan untuk putra saya di masa depan saya terima dengan senang hati tuan. Saya akan mengajari putra saya itu dengan baik agar bisa menjadi asisten putra anda dan nyonya dengan baik.” ujar Erlan.
Zean pun mengangguk tersenyum, “Itu baru asistenku. Aku doakan semoga kau segera bertemu dengan jodohmu.” Ucap Zean tulus. Erlan hanya tersenyum menanggapi hal itu.
Zean setelah mengatakan itu segera masuk dan dia tersenyum melihat siapa yang menunggunya di ruangannya, “Sayang, kau di sini? Sudah berapa lama menunggu?” tanya Zean langsung mendekati Kiana dan mengecup kening istrinya itu di hadapan Erlan yang menringis melihat itu. Sejujurnya dia juga menginginkan hal itu hanya saja dia belum menemukan gadis yang dia tepat yang bisa dia cintai dengan tulus.
“Baru saja tiba kok. Mungkin sekitar 20 menit yang lalu.” Jawab Kiana lalu menyalami tangan suaminya itu.
__ADS_1
“Lalu kenapa tidak meminta sekretarisku untuk menyampaikan kepadaku sayang. Jika tahu kau di sini aku sudah mempercepat rapat yang membosankan itu.” ucap Zean manja hingga Erlan yang mendengar hal itu hanya bisa mengelus dadanya saja. Yah, dia memang tahu bosnya itu sudah berubah jadi bos bucin yang sangat mencintai istrinya.
Kiana pun tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, “Justru karena hal itu aku tidak menyuruh sekretarismu menyampaikan. Dia sudah menawarkannya tapi Kia menolak karena tahu akan seperti itu. Lagian menunggu 20 menit juga tidak lama tidak membosankan sama sekali.” Ujar Kiana.
Zean pun tersenyum gemas lalu mengelus kepala sang istri lembut, “Ehm, tuan muda dan nyonya muda mohon nih mengganggu. Tolong jika ingin bermesraan itu pikirlah saya yang saat ini sedang jomblo ini. Jiwa kejombloan saya ini meronta-ronta.” Ujar Erlan dengan wajah sedihnya.
Zean dan Kiana hanya saling menatap satu sama lain lalu tertawa, “Hahahh, asisten Erlan makanya carilah istri agar tidak jomblo. Jangan cari kekasih karena tetap tidak bisa bermanja belum mahram. Jika istri maka bisa apa saja bebas.” Ucap Kiana.
“Tuh dengerin apa kata istriku Erlan. Dia sudah memberimu nasihat yang lumayan membantu. Aku akan mencarikanmu seorang gadis jika memang tidak bisa menemukan seseorang yang kau cintai.” Ucap Zean.
“Kita membantunya kan kak. Tapi kenapa dia justru mengatakan itu. Hmm, dasar aneh asistenmu itu kak.” Ucap Kiana tertawa.
Zean pun ikut tertawa, “Aku sudah memberinya izin untuk mencari kekasih tapi sepertinya dia memang masih nyaman sendiri. Sudahlah lebih baik sekarang kita pikirkan jam berapa kita akan berangkat ke Negara N?” tanya Zean segera memangku sang istri dalam pangkuannya.
“Haruskah bicara seperti ini? Ini tidak nyaman suamiku.” Ucap Kiana.
Zean tersenyum lalu melihat ke arah jam dinding di ruangannya yang menunjukkan pukul 11.03, “Katakan sayang jam berapa kita berangkat?” tanya Zean sambil menciumi bagian depan tubuh istrinya itu.
__ADS_1
“Kak, jangan kaya gini deh.” Ujar Kiana geli. Kiana hendak berdiri karena jika di biarkan dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Zean menahan istrinya itu untuk berdiri dari pangkuannya dan tetap dia tahan dalam pangkuannya, “Sayang, sekali saja. Aku gak tahan.” Ucap Zean menatap mata istrinya dengan tatapan bergairah.
Kiana pun menatap suaminya itu yang bisa dia lihat ada gairah di sana, “Tapi mas sebentar lagi zuhur loh dan makan siang.” Ucap Kiana mencoba bernegosiasi dengan suaminya itu walaupun dia tahu itu percuma karena suaminya itu sudah bergairah. Tapi apa salahnya di coba iya kan siapa tahu aja dewi fortuna masih sedang memihaknya.
“Masih satu jam lagi sayang. Please!” ucap Zean.
Kiana pun yang melihat itu tersenyum lalu memeluk suaminya, “Lakukan saja suamiku. Aku milikmu siang ini. Tapi ingat jangan lama. Kamu belum makan siang.” Bisik Kiana di telinga sang suami.
Zean tersenyum lalu segera menggendong istrinya itu menuju ruang istirahat pribadinya di ruangan itu, “Aku masih kuat sayang walaupun belum makan siang. Aku akan menikmati makan siangku ini sebelum makan siang sebenarnya.” Goda Zean segera meletakkan Kiana di ranjang besarnya itu. Zean memang benar-benar tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sedikit itu.
Kiana tersenyum mendengar ucapan suaminya itu, “Dasar mesum.” Ucap Kiana.
“Mesum sama istri sendiri tidak ada salahnya sayang.” ucap Zean lalu segera mengecup bibir sang istri dengan lembut. Mulai dari kecupan lembut lalu berubah menjadi sebuah ciuman yang lembut dan naik lagi menjadi ciuman yang menuntut dan panas. Pada akhirnya terjadilah apa yang harus terjadi pada pasangan yang masih terbilang baru itu. Keduanya saling berbagi peluh di siang hari yang panas. Cuaca panas di luar tidka mempengaruhi keduanya dan justru seolah-olah mereka ingin menandingi cuaca panas di luar.
Kiana dan Zean memang sudah saling memiliki satu sama lain. Kiana tepat setelah selesai masa menstruasi saat pesta pernikahan mereka menepati janjinya untuk memberikan hak suaminya itu. Zean memperlakukan Kiana dengan lembut saat itu. Kiana mengingat dengan jelas suaminya itu memperlakukannya dengan sangat lembut. Zean bahkan menyiapkan kamar hotel yang cantik untuk malam pertama keduanya itu.
__ADS_1