Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
169


__ADS_3

Rezky dan Friska selepas sesi foto dengan pakaian adat untuk akad nikah. Setelah itu mereka masih mengganti pakaian lagi untuk pengambilan foto bersama dengan keluarga besar baik pihak perempuan maupun pihak laki-laki.


Barulah setelah pengambilan sesi foto yang kedua itu selesai di lanjutkan dengan resepsi nanti selepas Isya di gedung yang sama tempat Freya dan Alvino dulu mengadakan resepsi pernikahan.


"Kak Ris cantik banget sih dengan kebayanya itu." ujar Irma memuji Friska selepas pengambilan foto yang kedua.


Kenzo yang mendengar ucapan calon istrinya itu pun tersenyum, "Tentu saja harus cantik dong. Tenang saja kamu juga cantik kok nanti saat pernikahan kita. Selain itu juga kamu sudah cantik sekarang." ujar Kenzo memuji calon istrinya itu.


Irma pun tersenyum malu mendengar ucapan Kenzo itu. Lalu dia segera meninggalkan Kenzo sendiri dan ikut bergabung mengambil foto bersama Freya di sana.


"Lah, kok aku di tinggal." ujar Kenzo segera mengekori Irma. Tapi di tahan oleh Alvino dan kawan-kawan.


"Mau kemana?" tanya Alvino.


"Tentu saja mau menyusul calon istriku kakak ipar. Masa iya dia mengambil foto aku gak di ajak." Ujar Kenzo.


"Kamu gak lihat di sana hanya para wanita saja. Lihat kami di sini para pria. Tidak berani ikut dan mengganggu mereka karena tidak mau kena amukan amarah mereka nanti. Jadi demi keamananmu, lebih baik kau di sini bersama kami. Jangan ganggu mereka." ujar Alvino.


Kenzo pun menarik nafas panjang dan akhirnya dia menurut saja dari pada nanti dia kena amukan amarah, "Terima kasih kakak ipar sudah menyelamatkan aku dari amukan mereka." Ucap Kenzo. Lalu setelah itu mereka pun terkekeh dengan apa yang mereka lakukan.


***


Sementara di kamar Friska kini suasana canggung tercipta di sana di antara dua orang manusia yang kini saling diam-diaman dan saling mencari pandang satu sama lain itu. Sungguh ekspresi yang malu-malu khas pengantin baru.


Padahal sebelumnya mereka sudah dekat. Mereka bukan di jodohkan. Namun tetap saja kecanggungan itu tetap ada.


"Kak, apa kamu mau mandi dulu?" tanya Friska memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka itu.


Rezky pun yang melamun bercampur canggung hanya mengangguk saja perkataan Friska itu, "Hum, aku mandi dulu." ujar Rezky segera menuju kamar mandi dengan pakaian yang masih melekat di tubuhnya.


Friska yang melihat itu pun tersenyum karena ternyata bukan hanya dia saja yang canggung tapi mereka berdua sama-sama canggung satu sama lain, "Kak, apa kau akan memakai pakaian itu untuk mandi. Setidaknya lepas dulu lah tuxedo nya. Kakak pakai alas kan. Jika malu tenang saja aku tidak akan melihat dan janji juga tidak akan mengintip sama sekali. Jadi lepas saja dulu pakaianmu itu." ujar Friska.


Rezky yang mendengar ucapan istrinya itu pun tersenyum karena tidak menyangka dia bisa berada di level canggung dan gugup yang seperti ini. Hal ini dia tidak duga sama sekali bahwa dia akan mengalami hal ini.


Rezky pun segera melepas pakaiannya dan kini dia memakai celana alas pendek dan juga kaos. Rezky segera masuk menuju kamar mandi meninggalkan Friska yang membelakanginya karena memang sudah berjanji tidak akan melihatnya.


Di dalam kamar mandi Rezky mengutuk dirinya karena terlihat sangat bodoh di hadapan istrinya itu, "Ahh entah bagaimana harga diriku itu di hadapannya saat ini. Bukankah seharusnya yang malu itu pihak perempuan. Kenapa ini justru jadi aku. Ah menyebalkan." Ujar Rezky lirih lalu segera memulai ritual bersih-bersih nya.


Sementara Friska yang di di tinggalkan di kamarnya pun segera berbalik dan dia segera menghapus riasannya sebelum dia mandi. Dia juga cepat-cepat mengganti pakaian yang dia pakai itu dengan gamis biasa.


Sekitar 20 menit Rezky menyelesaikan mandinya tapi dia tidak keluar juga karena tidak sempat membawa handuk saking canggung nya tadi, "Kak, apakah kau belum selesai mandi?" tanya Friska dari luar.


"Kak, aku hanya mau mengantarkan handuk. Tolong buka pintunya jika memang kau butuh handuk." ujar Friska.


Rezky pun membuka pintunya sedikit dan Friska segera memberikan handuk kepada suaminya itu. Rezky menyentuh tangan istrinya dengan tangan basahnya hingga membuat Friska tersenyum malu dan segera menarik tangannya.


Tidak lama Rezky keluar dengan hanya memakai handuk saja dan bertelanjang dada. Air masih menetes di tubuhnya dan juga rambut basahnya itu. Sungguh, Rezky terlihat seperti seorang tokoh dalam novel romansa yang pernah Friska baca. Bahkan harus dia akui bahwa suaminya itu lebih segalanya dari tokoh khayalannya.


"Apa sudah puas melihatnya?" tanya Rezky dengan tersenyum menggoda. Akhirnya dia bisa mengendalikan kegugupan dan kecanggungan nya itu serta membalas godaan Friska.


Friska tersenyum saja lalu dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan segera mandi karena sebentar lagi mereka harus berangkat menuju tempat respesi pernikahan keduanya berada. Jadi mereka harus cepat bersiap mana di tambah lagi mereka belum makan. Jadi harus ekstra cepat-cepat. Dia mengabaikan godaan dari suaminya itu.


Rezky tersenyum melihat istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar itu. Lalu dia juga tersenyum bahagia melihat pakaiannya sudah tersedia dengan rapi di ranjang istrinya itu.

__ADS_1


Rezky segera memakai pakaian yang sudah di pilihkan oleh istrinya itu dan seketika dia tersenyum karena Friska tidak hanya menyediakan atasan dan bawahan saja tapi juga sampai pakaian dalam pun di siapkan. Rezky tersenyum antara senyum bahagia dan senyum malu. Entahlah hanya Rezky yang bisa merasakannya.


Setengah jam kemudian Friska keluar dari kamar mandi sudah dengan memakai gamisnya dan hijabnya.


Rezky tersenyum melihat istrinya itu, "Ada apa kak? Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu yang salah di wajahku?" tanya Friska heran.


Rezky menggeleng, "Gak ada kok. Gak ada yang salah. Hanya saja aku kecewa kok kamu sudah pakai pakaian lengkap aja." ujar Rezky.


Friska yang mendengar ucapan suaminya itu pun tersenyum dan mengabaikan ucapan suaminya, "Sayang!" panggil Rezky karena di abaikan.


"Sebentar ya kak. Aku merapikan hijabku dulu baru kita makan." ujar Friska.


"Ish bukan itu sayang. Aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh kau melihatku." ucap Rezky.


Friska pun tersenyum dan segera menatap suaminya itu, "Hum, ada apa?" tanya Friska.


"Terima kasih yaa sudah menyiapkan pakaian untukku." ucap Rezky.


Friska pun mengangguk, "Sama-sama. Itu sudah jadi tugas Riska kok. Kakak gak perlu berterima kasih." balas Friska.


"Tetap saja aku harus berterima kasih. Kamu sudah memilihnya dengan sangat baik." ujar Rezky tersenyum menggoda.


Friska yang menyadari maksud suaminya itu pun tersenyum, "Kak, aku sembarang aja tadi mengambilnya jangan merasa kepedean. Aku tidak memilihnya dengan baik. Hanya kebetulan aja sesuai dengan seleramu." ujar Friska berdiri dari lemari riasnya dan menuju pintu.


"Kak, ayo kita keluar. Kita makan dulu." ujar Friska mengajak suaminya itu untuk makan.


Rezky yang tengah berbaring mengulurkan tangannya, "Bantuin." pinta Rezky manja.


Friska pun tersenyum lalu segera mendekati suaminya itu dan membantunya bangun, "Dasar manja." ucap Friska lalu menggapai tangan suaminya itu tapi ternyata Rezky menarik istrinya itu hingga terjatuh di atas dadanya dan kini wajah mereka sangat dekat dan mata mereka saling menatap satu sama lain.


Friska pun segera berdiri dan memperbaiki pakaiannya, "Ayo!" ajak Rezky lalu segera menggenggam tangan istrinya itu keluar kamar.


Mereka segera makan sebelum nanti berangkat menuju tempat resepsi pernikahan keduanya berada.


***


Selepas makan keduanya segera bersiap menuju tempat resepsi.


"Sayang, mana barangmu yang akan di bawa?" tanya Rezky.


Friska kembali memeriksa koper kecilnya itu dan dia pun mengangguk, "Semua sudah siap." ujar Friska.


Rezky pun tersenyum menggoda Friska, "Yakin gak apa yang di lupakan?" tanya Rezky.


Friska pun mengangguk yakin, "Hum." ujat Friska.


"Pakaianku mana sayang. Gak ada loh pakaianku. Masa iya aku gak bawa pakaian." Ujar Rezky dengan wajah memelasnya.


Friska melirik suaminya itu dan seketika tersenyum, "Kan pakaian kakak sudah ada di dalam koper. Jadi untuk apa harus menyalinnya lagi. Banyak urusan nanti." Ujar Friska.


“Tapi tetap aja kan. Kamu ini. Ahh sudahlah. Kakak tidak ingin berdebat lagi.” Ucap Rezky pura-pura merajuk.


“Jangan merajuk deh kak. Masa iya di hari pertama kita menikah. Kakak sudah merajuk aja. Jika memang ingin menyalinnya di koperku. Salin saja kak. Gak ada yang melarangmu melakukan itu.” ujar Friska mendekati suaminya itu.

__ADS_1


Rezky pun tersenyum lalu mencuti kecupan di pipi istrinya itu, “Sudah, kita pergi aja. Gak usah di salin lagi. Bawa saja koper itu langsung.” Ujar Rezky lalu menarik kopernya dan juga koper Friska itu keluar kamar.


Friska yang melihat apa yang di lakukan suaminya itu pun tersenyum, “Sungguh sangat kekanakkan. Ahh tapi itu suamiku.” Ujar Friska lalu mengambil tas kecilnya dan segera keluar menyusul suaminya itu ke mobil.


Tidak lama setelah itu rombongan mereka pun berangkat beriringan dengan mobil menuju gedung resepsi pernikahan.


***


Singkat cerita, kini Friska sudah selesai di rias dan para tamu undangan pun sudah berdatangan sejak tadi. Gedung pernikahan itu sudah di penuhi oleh tamu undangan dari berbagai kalangan. Paling banyak sudah tentu orang dari kalangan atas baik relasi bisnis pihak Rezky dan maupun pihak mempelai perempuan yaitu tamu undangan Freya dan Alvino.


“Ahh kakak kau sangat cantik!” ucap Frisya yang sudah cantik juga dengan gaunnya.


“Kau juga sangat cantik dek. Aku yakin kak Fazar pasti tambah terpesona padamu.” Balas Friska.


Frisya pun tertawa, “Kakak, jangan bahas aku. Ini adalah hari pernikahanmu. Seharusnya kau yang harus jadi topic utama bukan aku.” Ujar Frisya.


Friska pun tersenyum lalu mengangguk, “Ahh adikku sangat cantik. Aku yakin Rezky bisa jatuh cinta padamu berkali-kali.” Ujar Freya yang datang dengan putri cantiknya.


“Mami sangat cantik.” Puji Azwa mendekati Friska itu.


“Kamu juga cantik sayang. Gaun ini sangat pass di tubuhmu. Siapa yang memilihnya?” tanya Friska.


“Itu bunda dan mami Wawa yang memilihnya. Cantik bukan. Kembar juga dengan kakak Anind.” Ujar Azwa dengan wajah cerianya.


Friska pun menjadi gemas sendiri dengan keponakannya itu, “Jangan mencubitmu pipiku mami. Nanti memerah dan juga sakit. Aku tidak akan bisa menerimanya nanti. Aku ini sudah cantik. Tidak mau lagi berantakan.” Ucap Azwa dengan wajah cerianya.


“Iya sayang. Mami sudah tahu kau sangat cantik sayang.” Ucap Friska gemas.


“Sayang, ayo kita bergabung dengan ayah dan yang lainnya. Biarkan mamimu ini pergi dengan papimu. Ayo sayang.” Ajak Freya kepada Azwa.


Azwa pun mengangguk lalu dia segera meraih jemari bundanya dan dia segera pergi dari sana bersama Frisya juga.


Tidak lama acara resepsi sudah di mulai dan kini di kamarnya Friska segera di jemput oleh Rezky yang sudah tampan dengan tuxedo-nya.


“Ayo ratuku!” ajak Rezky berlutut alaa pangeran lalu mengulurkan tangannya itu kepada sang istri.


Friska pun tersenyum lalu dia menerima uluran tangan suaminya dengan sedikit menunduk layaknya seorang princess dalam kartun yang dia tonton di masa kecilnya.


Setelah itu Friska dan Rezky saling memandang satu sama lain lau tersenyum dan mereka segera pergi bersama menuju aula resepsi pernikahan mereka di mana di sana para tamu undangan sudah tidak sabar menanti kedatangan raja dan ratu sehari itu. Pernikahan Rezky dan Friska ini di buat dengan semeriah dan semegah mungkin.


Friska tersenyum kepada semua tamu undangan yang hadir begitu juga Rezky yang tersenyum melihat para tamu undangan yang hadir itu.


“Pih, menantu kita sangat cantik.” Ucap mami Jasmin lagi-lagi terharu melihat menantunya itu dengan gaunnya.


“Iya papi tahu mih. Tapi mami harus menahan air mata mami itu agar tidak jatuh. Masa iya di resepsi pernikahan putra kita. Mami justru menangis. Bisa jadi berita yang trending topic nanti. Bisa-bisa para netizen yang super duper bijak di luaran sana itu akan berspekulasi dan menggiring opini yang tidak-tidak nanti tentang pernikahan putra kita ini.” Ucap papi Harry lirih yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua saja.


“Mami juga tahu itu pih. Tidak mungkin juga mami melakukan itu. Masa iya di pernikahan putra mami menangis.” Timpal mami Jasmin.


“Syukurlah jika memang mami paham. Ayo senyum!” ucap papi Harry lalu kedua orang tua itu segera tersenyum menyambut para tamu undangan yang sudah mulai memberikan selamat kepada mereka dan juga sudah mulai mengambil sesi foto bersama raja dan ratu pada malam ini.


“Boo, mereka sangat serasi bukan?” ucap Kiana sambil menikmati ice cream di tangannya.


Zean pun tersenyum lalu mengangguk, “Hum, mereka sangat serasi dan sangat cocok. Seperti kita sayang.” Balas Zean.

__ADS_1


Kiana pun tersenyum lalu mengusap perutnya, “Sayang, kamu dengar kan apa yang daddymu katakan. Dia itu sangat sweet sayang kepada mommy sayang. Jadi kamu harus menyayangi daddymu dengan baik yaa. Kamu juga harus bisa mencontoh daddymu yang sweet itu. Mommy mencintai daddymu.” Ujar Kiana menatap penuh cinta suaminya itu.


“Daddy juga sangat mencintai mommy nak. Kau juga sama harus mencintai mommymu.” Balas Zean ikut mengelus perut istrinya itu.


__ADS_2