Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
56


__ADS_3

Sementara di sisi lain, kini Friska baru saja menyelesaikan tugasnya memeriksa para ibu hamil membantu dokter Fiona. Friska kini kembali ke ruangannya dan dia membaca sedikit dokumen di hadapannya lalu dia menutup matanya sekilas lalu dia bangun, “Aku harus siap-siap menuju rumah sakit. Aku harus tahu siapa laki-laki yang bersedia menikah kak Kiana.” Ucap Friska sambil membaca grup keluarga yang memang sudah di beritahukan bahwa Kiana akan menikah hari ini dan dilakukan di rumah sakit karena keadaan papa Vian memburuk. Seluruh kerabat pun sudah ada yang mulai memberitahukan di grup sedang dalam perjalanan, “Ahh ternyata takdir seperti ini. Kak Kiana yang tidak pernah memiliki kekasih kini di saat yang genting Allah mengirimkan jodoh untuknya.” Ucap Friska lalu kembali membaca dokumen di hadapannya hingga saat masuk waktu istirahat siang.


Friska segera menutup dokumen di hadapannya dan dia meregangkan ototnya yang mulai terasa kaku karena duduk. Friska segera melakukan sholat dulu, untuk makan siang dia akan makan siang di apartemen saja karena sebelum ke rumah sakit dia harus ke apartemen dulu harus siap-siap untuk akad Kiana.


Setelah melakukan sholat, Friska segera keluar menuju parkiran. Begitu tiba di parkiran dia bertemu dengan seseorang yang turun dari mobilnya, “Riska!” panggil orang itu yang tidak lain tidak bukan adalah Rezky. Yah Rezky datang ke klinik itu dengan alasan ingin memeriksakan kesehatannya padahal dia hanya ingin melihat gadis yang kini dihadapannya itu. Sebenarnya Rezky ingin datang kemarin namun tertunda dengan rapat penting yang tiba-tiba di adakan. Rezky pun harus bersabar hingga baru bisa datang sekarang tapi saat dia datang justru melihat gadis yang ingin dia kunjungi ingin pergi keluar.


“Tuan Rezky!” balas Friska menunduk hormat.


Rezky segera mendekati Friska, “Kamu mau kemana?” tanya Rezky.


“Apa saya harus menjawabnya?” tanya Friska balik.


Rezky menghela nafasnya kasar, “Riska, tolong jawab saja.” ucap Rezky dengan nada putus asa karena dia tahu gadis itu sedang mengingatkannya dengan apa yang dia lakukan dulu.


Friska pun tersenyum sinis mendengar itu, “Anda ternyata masih sama. Sudah hampir dua tahun tidak bertemu tapi ternyata anda masih sama masih suka memaksa. Baiklah karena saya adalah orang baik dan juga tidak ingin membuat anda penasaran maka saya akan menjawabnya. Saya akan ke rumah sakit menghadiri pesta pernikahan kak Kiana. Sudah saya jawab kan? Apa sekarang saya sudah boleh pergi atau jawaban saya kurang memuaskan? Apa saya perlu mengulanginya lagi atau mungkin saya harus menuliskannya?” tanya Friska.


Rezky hanya bisa tersenyum kecut mendengar perkataan itu tapi dia tidak akan marah mendengarnya. Dia tahu gadis itu hanya sedang melampiaskan kemarahannya saja dan dia akan menerima kemarahan itu. Dia sudah bertekad akan mengubah kebencian gadisnya itu yah gadisnya dia sudah melabeli gadis di hadapannya itu sebagai miliknya. Dia akan mengubah kebencian itu menjadi cinta.

__ADS_1


“Riska, saya tahu saya salah dan tolong maafkan kesalahan itu jika memang kau bisa. Jika kau tidak bisa maka jangan memaksanya. Saya akan menerima semua kebencianmu itu. Tapi izinkan saya ikut ke rumah sakit. Saya juga ingin menghadiri pesta pernikahan kakakmu itu.” ucap Rezky.


Friska mengangkat alisnya bingung sambil bertanya-tanya kenapa pria di hadapannya itu ingin ikut. Friska mencoba membaca arti dari itu semua tapi dia tidak bisa menemukan jawaban yang tepat, “Maaf saya menolaknya. Anda bukan keluarga yang bisa menghadiri pernikahan itu. Maaf anda gak bisa lagian juga papa kak Kia itu sedang sakit jadi gak bisa terlalu banyak orang. Maaf!” ucap Friska segera menuju mobilnya dan membukanya lalu masuk tapi sayang dia kurang cepat dengan Rezky yang mencabut kunci mobilnya begitu dia ingin menghidupkan mobilnya.


“Tuan Rezky yang terhormat tolong kembalikan kunci mobil saya.” pinta Frisya dengan suara menahan kekesalan.


“Saya akan memberikannya jika saya di izinkan ikut.” Timpal Rezky.


“Gak akan. Saya gak akan mengizinkannya.” Ucap Friska.


“Turun!” ucap Rezky.


Rezky malas berdebat dia segera membuka mobil Friska dan menarik Friska turun lalu membawanya ke pintu sebelah dan menyuruhnya masuk, “Masuk! Sebelum saya menggendongmu dan memaksamu masuk.” Ucap Rezky.


Friska pun mau tak mau masuk ke bangku di samping kemudi. Rezky setelah memastikan Friska masuk dan duduk dengan aman dia segera menutup pintu mobil lalu dia berlari ke pintu sebelahnya dan masuk lalu duduk di depan kemudi. Dia segera menghidupkan mobil Friska lalu perlahan keluar dari klinik itu, “Langsung ke rumah sakit atau--” tanya Rezky kemudian.


“Apartemen.” Jawab Friska singkat. Pasalnya dia kesal dengan laki-laki di sampingnya itu yang suka memaksa dia membencinya.

__ADS_1


Rezky yang mendengar jawaban itu pun segera melajukan mobil itu menuju apartemen. Jangan tanya kenapa dia tidak bertanya alamat apartemen karena dia sudah menyelidiki dengan detail tempat tinggal gadis itu. Sekitar 20 menit kemudian kini mereka tiba di apartemen Friska dan Frisya. Friska segera turun dan menutup pintu mobilnya itu. Rezky juga ikut turun, “Tunggu saja di sini! Jangan ikut masuk.” Ucap Friska tanpa menengok ke belakang.


“Kenapa saya gak bisa ikut masuk?” tanya Rezky pura-pura tidak tahu alasannya padahal dia sudah tahu.


Friska pun berbalik dan menatap laki-laki itu yang entah kenapa muncul dan justru membuatnya kesal merusak moodnya saja, “Apa anda bodoh? Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram tidak boleh ada dalam satu ruangan yang sama.” Jawab Friska kesal.


“Tenang saja saya tahu kok dan kita tidak akan berdua di ruangan itu karena mereka sudah tiba--” tunjuk Rezky kepada mobil yang baru saja sampai dan keluarlah dari mobil itu Frisya dan Fazar. Yah, Fazar menjemput Frisya dari tempat praktiknya, Alvino memberikan tugas itu kepadanya.


Friska pun memandangi adiknya yang kini berjalan mendekatinya, “Kak! Eeh tuan Rezky juga di sini?” sapa Frisya. Rezky pun hanya mengangguk saja.


“Sudahlah dek, ayo masuk. Kita harus cepat datang kesana. Aku tidak mau terlambat datang ke pernikahan kak Kia.” Ucap Friska segera menggandeng tangan adiknya pergi.


Frisya pun hanya bisa menurut, “Kak, lalu mereka bagaimana?” tanya Frisya berbisik.


“Sudah biarkan saja mereka di sana. Aku lagi gak mood meladeni mereka.” ucap Friska.


Frisya pun tersenyum, “Apa moodmu sudah di rusak oleh dosen itu kak? Ahh kau sangat lucu.” Ucap Frisya mulai tertawa.

__ADS_1


“Diam dek jika kau tidak ingin menjadi pelampiasan kekesalanku.” Ucap Friska dengan nada mengancam. Frisya pun segera mengatupkan mulutnya tanda dia tidak berani berbuat. Friska menatap ke belakang seolah memberi isyarat untuk Fazar dan Rezky masuk.


__ADS_2