Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
48


__ADS_3

Di sisi Rezky, kini dia juga baru saja tiba di perusahaanya, “Robi, apa jadwalku hari ini?” tanya Rezky begitu dia duduk.


Robi pun segera membacakan jadwal Rezky, “Baiklah. Aku ingin setelah makan siang aku mau pergi ke Freya Klinik.” Ucap Rezky tanpa menatap asistennya itu.


Robi yang mendengar itu kaget, dia bahkan sampai melototkan matanya, “Untuk apa tuan kesana?” tanya Robi.


“Aku ingin melakukan pemeriksaan kesehatan tentunya. Emang menurutmu jika pergi ke fasilitas kesehatan untuk apa?” tanya Rezky balik.


Robi yang mendengar itu semakin bingung dan heran, “Apa tuan sakit?” tanya Robi.


Rezky pun segera menatap asistennya tajam, “Apa menurutmu harus sakit untuk pergi ke klinik? Kau ini. Sudahlah sana kau pergilah ke ruanganmu. Jangan ganggu aku.” ucap Rezky mengusir asistennya itu.


Robi pun hanya menuruti perintah atasannya itu untuk kembali ke ruangannya tapi sambil berpikir apa alasan tuannya itu pergi ke klinik jika memang sedang sehat. Selain itu juga jika hanya untuk memeriksakan kesehatan setahunya mereka sudah punya dokter pribadi yang setiap tiga bulan sekali memeriksakan kesehatan, jadi kenapa tiba-tiba harus ke klinik, “Ini aneh dan mencurigakan. Aku yakin ada sesuatu yang telah terjadi tanpa aku ketahui. Aku harus mencari tahu.” Ucap Robi menelpon seseorang yang memang biasa di mintai tolong oleh bosnya itu bisa di katakana asisten keduanya.


Di dalam ruangan Rezky sibuk menelpon satu bodyguardnya untuk mengawasi seseorang yang dia minta, “Aku harus melakukan ini. Aku akan memperjuangkanmu. Jika dulu aku bodoh yang tidak menyadari perasaanku. Kini aku sudah tahu apa yang aku inginkan dan itu adalah kau. Aku akan mengubah bencimu untukmu menjadi cinta. Benci di hatimu yang aku ciptakan akan aku hilangkan dan ganti dengan cinta.” Gumam Rezky setelah selesai menelpon.


Rezky sudah bulat untuk memperjuangkan apa yang dia rasakan dan inginkan. Mulai hari ini dia punya semangat baru untuk menjalani hari-harinya setelah mengetahui semua rahasia yang tersimpan. Rezky menatap berkas yang berisi identitas yang kemarin malam dia minta, “Aku tidak menyangka bahwa penyiar favoritku adalah dirimu. Ternyata selama ini kita hanya tidak pernah bertemu secara fisik saja tapi aku selalu mendengar suaramu.” Gumam Deren. Setelah itu dia menutup dokumen itu dan beralih ke tumpukan dokumen yang memintanya untuk segera di selesaikan.


***


Di Klinik, kini Friska sedang sibuk memeriksa beberapa ibu hamil yang ingin konsultasi bersama dengan dokter Fiona tentunya. Setelah selesai dia segera keluar dan karena itu memang belum waktu makan siang dia pergi ke ruangan Kiana karena dia baru tahu bahwa kakak sepupunya itu sudah kembali bekerja.


Tok tok tok

__ADS_1


“Masuk!” ucap Kiana dari dalam.


Friska pun segera masuk begitu mendapat izin dari dalam. Kiana yang melihat ternyata adiknya yang masuk tersenyum, “Duduk dek!” ucap Kiana lembut.


Friska pun mengangguk, “Kak, apa paman baik-baik aja?” tanya Friska.


Kiana mengangguk, “Tetap seperti biasa dek, dia sudah membaik. Buktinya dia sudah bisa mengusir kakak untuk bekerja.” Jawab Kiana tersenyum.


“Paman sepertinya hanya tidak ingin kau bosan kak di rumah terus.” Timpal Friska.


“Hahah, bosan? Mana mungkin seorang anak merawat papanya sendiri bosan tapi yaa kakak juga paham apa yang dia inginkan dengan meminta kakak bekerja tapi kau tahu sendiri kan kakak itu sangat mengkhawatirkannnya. Hanya tinggal papa yang kakak miliki.” Ucap Kiana.


Friska pun mengangguk mengerti, “Aku paham yang kau pikirkan kak. Kakak hebat!” ucap Friska.


***


Di perusahaan Alvino, dia baru saja melakukan rapat yang memakan waktu sekitar tiga jam baru selesai, “Fazar, apa jadwalku setelah ini?” tanya Alvino kepada sang asisten yang memang mengikutinya dari belakang.


“Tuan, sudah gak punya kegiatan di luar lagi setelah ini. Tuan tinggal harus memeriksa dokumen dan hasil laporan rapat tadi.” Jelas Alvino.


Alvino pun mengangguk mengerti dan masuk ke ruangannya. Fazar tetap ikut dari belakang, “Fazar, kapan klien kita dari Negara S tiba?” tanya Alvino begitu dia duduk di kursi kerjanya.


“Rapatnya nanti besok tuan dan sepertinya mereka akan tiba sore hari nanti karena kami sudah menerima laporan bahwa mereka sudah menuju kesini.” Jawab Fazar.

__ADS_1


“Huh, syukurlah begitu. Kita harus jadi tuan rumah yang baik untuknya. Aku tidak ingin ada kesalahan.” Ujar Alvino.


Fazar pun mengangguk mengerti lalu dia segera pamit keluar menuju ruangannya karena dia juga masih harus bekerja.


***


Keesokan harinya, tidak terasa hari sudah berganti dengan cepat. Hari senin yang menurut kebanyakan orang adalah hari yang melelahkan kini tidak terasa sudah terlewati juga dan berganti hari. Semua orang tetap sibuk dengan urusannya masing-masing.


Kiana yang hari ini sedang menyuapi papanya entah kenapa merasa sangat berat untuk pergi bekerja, “Nak, cepatlah kau siap-siap bekerja.” Ucap papa Vian mengakhiri sarapannya.


“Pah, bisa gak hari ini Kia izin dulu. Entah kenapa perasaan Kiana gak tenang untuk ninggalin papa sendirian di sini.” Ucap Kiana.


Papa Vian tersenyum, “Nak, papa baik-baik aja. Tenanglah tidak akan ada yang terjadi kepadaku selama kasih sayangmu ada di sini. Kasih sayangmu kepada papa akan menjagaku. Lagian papa juga sudah janji kan padamu tidak akan pergi sebelum melihatmu menikah. Jadi jangan khawatir. Jangan memikirkan yang tidak-tidak.” Ucap papa Vian mengecup kening putrinya itu.


“Sudah sana siap-siaplah agar tidak terlambat walaupun papa tahu kakakmu Reya akan memaklumi keterlambatanmu. Tapi tetap saja kita harus menjadi contoh yang baik kan.” Ucap papa Vian.


“Papa kenapa sih selalu saja punya banyak perkataan untuk mengusirku bekerja. Aku selalu saja kalah dengan papa jika berdebat soal ini.” Ucap Kiana mencebikkan bibirnya menatap sang papa yang entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang akan hilang.


Dengan berat hati, Kiana menuju kamarnya untuk bersiap bekerja tapi dia yang biasanya cepat mengganti pakaian karena tidak ingin terlambat. Hari ini dia memperlambat semua itu karena ingin papanya merubah keputusannya untuk tidak menyuruhnya bekerja hari ini karena dia sungguh merasa tidak tenang.


Setelah jam menunjukkan pukul 08.07, Kiana baru menyelesaikan mengganti pakaian dan sudah siap bekerja. Dia menatap jam di ponselnya dan sudah di pastikan dia terlambat tapi dia tidak peduli akan hal itu.


Kiana segera menuju kamar papanya untuk berpamitan tapi dalam hatinya berharap papanya itu berubah pikiran, “Hey, nak kenapa belum berangkat? Itu kan sudah pukul delapan lewat?” ucap papa Vian.

__ADS_1


Kiana segera berhambur ke pelukan papanya, “Kiana tidak ingin pergi bekerja hari ini pah. Perasaan Kia tidak tenang.” Ucap Kiana.


__ADS_2