Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
181


__ADS_3

Kini di kediaman Kia dan Zean sepulang dari ngunduh mantu Rezky dan Friska, mereka sedang sibuk untuk persiapan pernikahan Kenzo yang akan di lakukan dua hari lagi.


“Boo apa kau sudah memikirkan setelah pernikahan Kenzo nanti kita akan pulang atau tidak?” tanya Kiana sambil bersandar di dada suaminya itu.


“Bukankah masih akan ada lamaran dan pernikahan adikmu yang lain.” Ucap Zean.


“Lalu bagaimana? Apa kita akan tinggal terpisah lagi?” tanya Kiana. Yah, suaminya itu baru pulang kemarin. Mereka melakukan LDR selama seminggu karena Zean memang harus mengurus perusahaannya.


Zean pun menatap istrinya itu, “Sayang, ini adalah yang terbaik. Kandunganmu belum cukup umur untuk kita bolak balik Negara ini dan Negara S. Jujur saja aku juga tidak ingin LDR denganmu dan calon anak kita ini tapi mau bagaimana lagi. Aku harus mengurus perusahaan lalu kau juga belum bisa ikut bersamaku. Kita LDR hanya sampai pernikahan adikmu itu lagi. Setelah kandunganmu aman untuk pergi dengan pesawat maka aku pasti akan mengajakmu.” Ucap Zean memberi pengertian pada istrinya itu.


Kiana pun mengangguk, “Ternyata ini sulitnya banyak memiliki saudara dan saudari yaa boo. Tapi tidak apa sih dengan begitu nanti anak kita akan banyak mendapat hadiah dari para aunty dan unclenya ketika lahir. Ehh jangan tersinggung dengan perkataanku itu ya boo. Aku bukan mengataimu tidak sanggup membelikan barang untuk anak kita hanya saja jika ada yang gratis kenapa nggak. Iya kan? Siapa juga yang tidak menyukai hadiah coba. Aku sangat menyukainya.” ucap Kiana.


Zean yang mendengar perkataan istrinya itu pun tersenyum. Kiana menurutnya adalah istri yang selalu membuatnya betah dengan perkataan konyolnya itu. Dia sangat mencintai istrinya itu. Istri yang dia nikahi hanya dalam waktu beberapa jam bertemu. Sungguh takdir mereka sungguh unik mempersatukan dua insan yang sudah di takdirkan berjodoh.


“Aku tidak tersinggung sama sekali dengan perkataanmu itu sayang. Kau memang benar bahwa jika ada yang gratis kenapa harus beli.” Ucap Zean. Seketika sepasang suami istri itu pun tertawa.


“Aku menyayangimu boo.” Ucap Kiana.


Zean pun tersenyum lalu memeluk erat istrinya itu sambil mengelus perut istrinya yang sudah mulai muncul baby pump-nya.


***


Singkat cerita, langsung melompat dua hari kemudian. Kini di kediaman papi Baskara dan mami Calista semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Irma di kamarnya selepas subuh tadi sudah mulai di rias oleh tim MUA pilihan maminya karena memang konsep pernikahan Irma dan Kenzo ini di percayakan oleh Kenzo dan Irma kepada pilihan papi Baskara dan mami Calista seperti perjanjian sebelumnya saat lamaran.


Irma yang sedang di rias saat ini perasaannya campur aduk ada rasa senang karena hari ini dia akan menikah dengan pria pilihannya sendiri. Ada rasa gugup pastinya yang tidak pernah luput dari setiap orang yang akan menikah.


Drt … drt … drt …


Tiba-tiba ponsel Irma berdering dan dia pun menjawabnya yang ternyata itu panggilan video dari Freya.


“Halo, Assalamu’alaikum kak.” Salam Irma.


“Wa’alaikumsalam dek. Kamu sangat cantik dek.” puji Freya dari seberang yang memang bisa melihat Irma yang sedang di rias.


Irma pun hanya tersenyum mendengar perkataan Freya itu, “Dek, kakak sudah dalam perjalanan ke rumahmu. Kakak akan mendampingimu. Kakak akan jadi pihak mempelai wanita.” Ucap Freya.


Irma yang mendengar ucapan Freya pun tersenyum, “Kakak akan kesini? Sudah di jalan kah?” tanya Irma.


Freya mengangguk, “Hum, ini kakak sedang dalam perjalanan ke rumahmu.” Ujar Freya.


Irma pun tersenyum, “Terima kasih kak. Aku menunggumu.” Ucap Irma senang karena ternyata Freya mengerti perasaannya yang butuh teman. Freya di seberang telepon pun mengangguk saja lalu tidak lama setelah itu sambungan di antara mereka itu pun terputus.


Sekitar 15 menit kemudian Freya sudah tiba di kediaman orang tua Irma itu yang langsung di sambut oleh mami Calista, “Nak, kau datang? Ada apa?” tanya mami Calista.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum.” Salam Freya menyalami mami Calista itu penuh hormat.


“Tidak ada masalah apapun nyonya hanya saja saya kesini ingin mendampingi adik saya saat dia menikah nanti. Saya datang bukan sebagai kakak Kenzo tapi sebagai kakak Irma. Untuk pernikahan hari ini saya menjadi pendamping pihak perempuan. Apa boleh nyonya?” tanya Freya kemudian.


Mami Calista yang mendengar permintaan Freya itu pun terharu, “Nak, kau ingin menemaninya. Saya sangat terharu. Terima kasih nak. Naiklah kamarnya ada di lantai dua. Dia sedang di rias di kamarnya.” Ucap mami Calista mempersilahkan Freya untuk ke kamar putrinya itu.


Freya pun mengangguk dan segera menuju lantai dua dan menuju salah satu ruangan di sana yang dia duga itu adalah kamar Irma.


Benar saja dugaannya itu tidak pernah salah. Dia masuk ke ruangan yang benar. Freya pun mengucapkan salam dan Irma yang mendengar itu tersenyum menyambut kedatangan Freya.


“Kak, kau sudah tiba. Ayo duduklah.” Ucap Irma.


Freya pun mengangguk dan melihat Irma yang sudah selesai di rias kini hanya tinggal di pakaikan hijab. Freya tersenyum melihat Irma itu yang juga tersenyum melihatnya. Jujur saja kegugupan di hatinya sedikit menghilang saat kedatangan Freya itu. Freya di kamar Irma itu pun menemani Irma untuk menunggu akadnya yang akan di lakukan pukul sembilan nanti.


***


Singkat cerita, kini Kenzo di dampingi dengan mama Najwa dan papa Khabir di kedua sisinya sudah tiba di kediaman mami Calista dan papi Baskara. Kenzo segera di sambut oleh kedua orang tua Irma itu lalu segera di bawah ke tempat akad yang sudah di sediakan. Sementara papa Khabir dan mama Najwa mereka pun segera duduk di tempat yang sudah di sediakan. Seluruh keluarga pihak Kenzo pun sudah ada. Mereka datang bersamaan tadi.


Para tamu undangan yang di undang untuk hadir di akad itu sudah hadir. Akad akan segera di mulai karena memang jam sudah menunjukkan waktu pukul sembilan. Tinggal menunggu pihak KUA dan penghulu yang sekitar sepuluh menit kemudian saja sudah tiba dan segera di arahkan ke meja akad.


Di meja akad sudah ada dua orang saksi, penghulu dan papi Baskara pastinya yang bertindak sebagai wali nikah. Kenzo melihat itu perasaannya menjadi gugup walaupun dia sudah mencoba untuk menghafal kalimat ijab itu sejak semalam. Semoga saja dia tidak akan salah nanti karena kegugupan yang melandanya.


“Dia sedang gugup boo. Adikku itu sedang gugup.” Ucap Kiana berbisik pada suaminya sambil menunjuk Kenzo.


Kiana pun tersenyum dan mengangguk-nganggukan kepalanya, “Ouh jadi begitu yaa. Aku baru tahu. Ternyata kalian bisa bersandiwara juga ya.” Ucap Kiana.


Zean yang mendengar ucapan istrinya itu terkekeh, “Sandiwara itu di perlukan untuk mengendalikan sesuatu yang tidak terprediksi terjadi sayang.” ucap Zean. Kiana pun hanya mengangguk saja dan tersenyum.


Kembali fokus ke depan sana di saat penghulu menanyakan kesiapan papi Baskara dan Kenzo untuk memulai proses akad nikah nanti. Semua orang mulai berfokus ke meja akad karena acara inti akan segera di laksanakan.


Penghulu segera meminta papi Baskara dan Kenzo untuk bersalaman karena akad akan segera di mulai. Papi Baskara dan Kenzo pun segera melakukannya dan begitu papi Baskara berjabatan tangan, dia merasakan bahwa tangan calon menantunya itu. Papi Baskara tersenyum lalu mengeratkan tangannya untuk menggenggam tangan calon menantunya itu. Kenzo tersenyum karena apa yang di lakukan papi Baskara itu membuatnya sedikit relaks.


“Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Kenzo Rarendra bin Alvian Rarendra dengan putri kandung perempuan saya yang bernama Irma Widya Putry Aditama binti Baskara Aditama dengan mas kawin uang tunai sebesar 100.000 US dollar dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Irma Widya Putry Aditama binti Baskara Aditama dengan mas kawin tunai uang sebesar 100.000 US dollar dan 1 set perhiasan berlian di bayar tunai.” Ucap Kenzo dalam satu tarikan nafasnya.


“Gimana para saksi sah?” tanya penghulu dan langsung mendapat jawaban sah dari kedua saksi pernikahan itu dan semua tamu yang hadir dalam proses akad. Penghulu pun segera mendoakan pernikahan Kenzo dan Irma itu.


Kenzo yang setelah mengucap ijab qabul itu dia meneteskan air matanya, “Pah, mah aku sudah menikahi seorang gadis yang ku cintai dan ku pilih sendiri. Aku harap kalian melihat apa yang terjadi saat ini. Aku harap kalian datang ke pesta pernikahanku ini menyaksikanku dari jauh.” Batin Kenzo.


Di dalam kamarnya, Freya memeluk Irma begitu mendengar Kenzo selesai melakukan ijabnya lalu kata sah terdengar bagai music paling indah yang pernah terdengar.


“Selamat dek. Sekarang kau sudah jadi adikku.” Ucap Freya.


“Hey, jangan menangis. Hanya boleh tersenyum saja. Tidak boleh merusak make up yang sudah cantik ini.” ucap Freya saat melihat mata Irma yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Irma pun tersenyum lalu menahan rasa bahagia yang membuncah di hatinya karena kini statusnya sudah menjadi seorang istri dari laki-laki yang dia cintai dan laki-laki yang juga mencintainya. Menerima apapun kekurangannya. Kini dia menjadi bagian dari keluarga yang memiliki ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat rukun. Dia yang kesepian sejak kecil kini akan memiliki keluarga yang banyak. Dia tidak akan kesepian lagi.


“Ayo dek. Kita temui suamimu itu.” ucap Freya merapikan hijab Irma.


Freya sebagai pendamping Irma mereka segera turun untuk menuju tempat akad di mana Kenzo dan para tamu sudah menunggu mempelai wanita.


Kenzo yang melihat kedatangan Irma yang di dampingi oleh Freya tersenyum. Freya bagai malaikat tak bersayap untuk mereka. Dia selalu mengerti perasaan adik-adiknya itu bahkan sebelum mereka memintanya.


“Dek, ayo angkat kepalamu dan lihatlah suamimu itu yang menatapmu dengan penuh cinta.” Bisik Freya saat mereka berjalan menuju meja akad.


Irma yang mendengar bisikan Freya tersipu malu dan tidak lama setelah mereka melangkah akhirnya tiba juga di meja akad.


Kenzo segera mengulurkan tangannya itu dengan sedikit membungkuk layaknya pangeran yang menyambut tuan putrinya. Freya tersenyum lalu mengambil tangan Irma dan meletakkannya di tangan Kenzo, “Jaga adik kakak dengan baik Kenzo.” ucap Freya.


“Tentu kak. Tanpa kau minta pun aku akan menjaganya. Aku akan mencintainya seumur hidupku.” Ucap Kenzo. Freya pun hanya tersenyum lalu menepuk bahu adiknya itu bangga lalu dia segera berlalu dari sana menuju kursi di samping suaminya berada.


Irma segera menyalami suaminya itu dan Kenzo segera melabuhkan kecupan di kening Irma dengan lembut. Setelah itu keduanya segera bertukar cincin nikah dan menandatangani semua berkas nikah mereka dan kini pasangan suami istri yang telah sah itu berfoto sambil memegang buku nikah di tangan mereka.


“Sayang, aku kesepian tanpa kamu tadi.” Bisik Alvino di telinga istrinya begitu Freya duduk di sampingnya.


Freya pun tersenyum, “Kan ada anak-anak yang menemanimu by.” Ucap Freya.


“Gak sama sayang. Berbeda.” Bisik Alvino kembali.


“Ayah itu hanya mau bunda saja.” timpal Anand yang duduk di samping Alvino itu.


Alvino dan Freya yang mendengar ucapan putra mereka itu pun hanya tersenyum lalu saling memandang satu sama lain.


“Boy, itu tandanya ayah itu sangat mencintai bunda kalian. Ayah itu tidak bisa hidup tanpa bunda kalian. Bunda kalian itu bagai oksigen untuk ayah. Jadi bukankah ayah harus dekat dengan oksigennya.” Ucap Alvino.


“Aku tidak mengerti apa yang ayah katakan dan aku pun tidak ingin mengerti.” Ujar Anand datar.


Alvino yang mendapat respon seperti itu dari putranya itu pun hanya bisa menghela nafas, “Kau tidak perlu mengerti untuk saat ini boy. Kau pasti akan mengerti itu nanti jika kau menemukan gadis yang bisa membuatmu tidak bisa hidup tanpanya.” Ucap Alvino pada putranya itu.


“Kami masih kecil ayah. Jangan katakan kami tentang itu. Bukankah kalian tidak ingin kami dewasa sebelum waktunya.” Timpal Azlen.


Alvino yang mendengar itu dari putra gunung esnya itu pun tergelak lalu menatap Freya yang hanya tersenyum saja tidak berniat sama sekali membantunya.


“Sayang, mereka menistakan aku.” Ucap Alvino.


“Salah sendiri mengajari mereka hal yang seperti itu di saat umur mereka masih begini.” Balas Freya. Alvino pun hanya bisa menghela nafasnya saja karena jika putranya yang bicara maka pasti istrinya itu akan berpihak pada putranya. Hanya kedua putrinya saja yang mengerti dirinya tapi sayang hari ini kedua putrinya itu hanya diam saja.


Sementara di sisi Kiana dia tersenyum melihat adiknya yang tersenyum bahagia di sana di pelaminan mengambil foto bersama istrinya, “Boo, aku sangat bahagia. Adikku sudah menikah. Kini akan ada yang menjaganya. Aku tidak perluh khawatir lagi. Aku yakin papa dan mama pasti datang melihat pernikahan ini.” ujar Kiana. Zean pun hanya mengangguk dan tersenyum lalu menggenggam erat tangan istrinya seolah memberi kekuatan bahwa istrinya itu tidak perlu bersedih lagi.


Setelah itu acara akad nikah itu pun di lanjutkan dengan foto bersama dengan para tamu undangan dan keluarga besar baik pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Untuk resepsi pernikahan mereka nanti akan di laksanakan malam nanti di gedung yang sama dengan gedung yang di pakai oleh Friska dan Rezky.

__ADS_1


__ADS_2