
Frisya pun mengangguk saja lalu seketika dia ingat apa tujuannya datang kesini, "Ouh astagfirullah aku lupa. Kak apa kak Reya ada di dalam?" Tanya Frisya.
"Nyonya Freya ada di dalam kok sedang bersama tuan di ruangannya." jawab Fazar.
"Ohiya, terima kasih kak dan maaf sudah menabrakmu tadi. Aku masuk dulu yaa karena jika tidak kakak kan mengamuk nanti karena aku terlambat." ujarnya lalu segera berlalu meninggalkan Fazar segera masuk ke dalam klinik menuju ruangan kakaknya berada.
Sementara Fazar yang melihat Frisya berjalan cepat hanya tersenyum karena selalu saja begitu jika gadis itu terlambat maka dia akan terburu-buru padahal tidak mungkin juga Freya memarahinya karena Freya adalah kakaknya. Tapi satu hal yang dia tahu bahwa Frisya itu tidak menyukai keterlambatan di saat menyangkut sesuatu yang penting.
"Kau sangat lucu." gumam Fazar melihat punggung Frisya yang menghilang di balik pintu sebelum dia berjalan menuju mobil untuk mengambil berkas yang tertinggal karena Alvino tidak ingin kembali lagi ke perusahaan dan akan mengerjakan dokumen-dokumen itu di ruang kerja istrinya. Sepertinya lama-kelamaan bosnya itu akan memindahkan kantornya ke klinik ini agar bisa terus berdekatan dengan istrinya.
***
Sementara Frisya kini sudah tiba di depan ruangan kakaknya. Dia berdiri di sana dulu untuk menormalkan detak jantungnya yang berdekat cepat bukan karena jatuh cinta tapi karena berlari dari pintu klinik sampai di ruangan kakaknya. Entah kenapa dia selalu memiliki kebiasaan seperti itu saat sesuatu yang mendesak. Dia selalu berlari walau dia tahu kakaknya tidak mungkin memarahinya.
Setelah detak jantungnya normal dia mengetuk pintu kakaknya karena tahu bukan hanya kakaknya yang ada di dalam tapi ada kakak iparnya. Selain itu juga untuk menjaga matanya dari adegan yang mungkin saja terjadi antara sepasang suami istri itu. Dia masih waras untuk menjaga matanya dari pemandangan yang membuat jiwa irinya kambuh hingga membuatnya ingin menikah saja. Tapi hal itu tidak mungkin dia lakukan karena cita-citanya belum ada yang terwujud minimal bisa membeli mobil sendiri seperti kakak keduanya. Walau kedua orang tua mereka tidak pernah menuntutnya agar harus sama dengan kedua kakaknya tapi tetap saja dia memiliki keinginan untuk bisa sama dengan kakaknya.
Tok tok tok
"Masuk!" ucap Freya dari dalam.
Frisya bernafas lega sepertinya dugaannya yang mungkin kakaknya itu sedang beradegan mesra dengan kakak iparnya salah karena buktinya kakaknya itu langsung saja mempersilahkan dia masuk begitu dia selesai mengetuk.
__ADS_1
Frisya yang di persilahkan masuk pun segera membuka pintu perlahan dan memasukkan kepalanya untuk melihat kedalam. Freya yang melihat itu hanya tersenyum karena adik kecilnya itu masih saja bertingkah kanak-kanak padahal usianya sudah dewasa, "Masuklah dek, gak usah menongolkan kepalamu begitu." Ujar Freya.
Frisya pun hanya cengesan saja lalu dia segera masuk dan mendekati kakaknya sambil matanya menatap kakak iparnya yang fokus dengan laptop di hadapannya yang sepertinya kakak iparnya itu sedang melakukan meeting secara online. Pantas saja apa yang dia bayangkan tidak terjadi karena kakak iparnya itu sedang sibuk.
"Kak, kenapa kakak ipar bisa di sini?" bisik Frisya.
Freya hanya mengangkat bahunya, "Aku yakin kakak ipar itu pasti sudah merindukanmu hingga dia kesini." ujar Frisya.
"Kenapa tidak memindahkan kantornya kesini saja agar dia akan selalu bertemu denganmu kak." lanjut Frisya dengan suara yang lumayan agak keras hingga bisa di dengar oleh Alvino tapi dia mengabaikan adik iparnya itu karena masih meeting.
Freya hanya tersenyum mendengar perkataan adiknya itu, "Sudah biarkan saja. Ohiya kamu sudah makan kan? Karena kamu harus segera mengambil persediaan obat." ucap Freya menatap sang adik.
"Aku sudah makan kok kak. Emm,, maaf yaa aku terlambat karena tadi masih ada yang harus Risya kerjakan." ucap Frisya kembali ke mode serius.
Frisya pun mengangguk saja lalu segera mengambil dokumen yang di berikan kakaknya dan membacanya. Begitu telah memastikan tidak ada yang kurang atau tertinggal dia segera menyimpan dokumen itu.
"Kalau begitu aku akan segera kesana yaa kak." pamit Frisya.
Freya pun hanya mengangguk, Frisya segera berbalik hendak keluar tapi begitu dia akan membuka pintu Alvino bersuara, "Adik ipar sepertinya idemu tadi lumayan baik. Kakak akan memikirkannya dengan baik." ujar Alvino sambil menutup laptopnya.
Frisya yang mendengarnya berbalik dan menatap Alvino bingung, "Ide? Ouhh itu terserah padamu saja kakak ipar tapi sepertinya kamu tidak bisa memindahkannya kesini karena aku yakin istrimu itu tidak akan menyetujuinya." ujar Frisya sambil menatap kakaknya.
__ADS_1
"Gak usah aneh-aneh deh by." Ucap Freya segera menatap suaminya.
Alvino pun hanya menelan ludahnya kasar menyadari tatapan tajam singa betinanya, "Aku hanya mengatakan ide adikmu itu bagus sayang. Aku tidak mungkin melakukannya." Ujar Alvino lalu menatap Frisya kesal.
Sementara Frisya hanya tertawa melihat ekspresi di wajah kakak iparnya itu hingga tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan Frisya yang sedang berada dekat pintu segera membukanya, "Kak Fazar. Masuk kak!" ucap Frisya mempersilakan asisten kakak iparnya itu masuk.
Fazar pun segera masuk dan mendekati tuannya lalu segera menyerahkan dokumen yang di bawanya, "I-ini tuan dokumennya." ujarya sambil meletakkan di atas meja.
Alvino pun hanya mengangguk, "Fazar setelah ini sudah tidak ada yang kamu kerjakan kan?" Tanya Alvino.
"Ada tuan saya harus memeriksa beberapa laporan tapi dokumennya tertinggal di kantor." jawab Fazar.
"Ahh biarkan saja dulu laporan itu karena aku ingin memberimu tugas untuk menemani Frisya mengerjakan tugas yang di berikan kakaknya." ucap Alvino hingga membuat ketiga orang di dalam ruangan itu menatapnya.
"Apa maksudmu kakak ipar. Tidak tidak aku bisa pergi sendiri. Lagian aku akan pergi dengan yang lain kok." tolak Frisya yang tidak ingin merepotkan asisten kakak iparnya itu.
"Gak ada penolakan adik ipar karena ini sudah jadi keputusannya. Fazar ikut denganmu asal ada yang menjagamu nanti. Bisa kan sayang Fazar menemani adikmu?" Tanya Alvino meminta persetujuan dari istrinya.
"Terserah tapi jika memang Fazar bersedia untuk menemani Frisya." jawab Freya kembali membaca dokumen di hadapannya.
Alvino pun tersenyum mendengar jawaban sang istri itu, "Dia pasti mau. Iya kan Fazar?" percayalah itu bukan pertanyaan tapi pernyataan yang mengharuskan Fazar menerimanya.
__ADS_1
Fazar mengangguk saja, "Iya tuan." jawabnya.
Alvino lagi-lagi tersenyum mendengar jawaban asistennya itu. Sementara Frisya kesal menatap kakak iparnya yang seenaknya saja memutuskan. Setelah itu Fazar dan Frisya segera pergi dari sana setelah berpamitan kepada Alvino dan Freya.