Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
163


__ADS_3

“Bagian malam pertamanya kenapa di ceritain juga by?” protes Freya.


Alvino segera menutup mulutnya begitu mendengar sang istri melakukan protesnya. Alvino segera merangkul istrinya itu, “Maaf sayang. Aku keceplosan. Lagian tidak masalah juga kan. Mereka sudah dewasa yang pastinya sudah tahu hal itu apalagi mereka sebentar lagi juga akan menikah yang pastinya akan mengalami hal itu.” ucap Alvino.


“Hm, semakin ngelantur yaa pembahasannya by. Mereka memang sudah dewasa tapi jangan meracuni otak mereka itu.” ucap Freya tajam.


Alvino pun tersenyum, “Maaf sayang. Aku selalu saja keceplosan. Kalian jangan dengarkan apa yang aku katakan itu terkait malam pertama.” Ucap Alvino yang langsung mendapat tatapan tajam dari Freya.


“Ahh salah lagi. Ya sudah aku tidak akan bicara lagi sayang. Kamu saja yang cerita. Aku takut salah lagi. Padahal setelah ku pikir-pikir aku tidak salah menjawab. Aku kan hanya mengatakan malam pertama saja tidak detailnya bagaimana.” Ucap Alvino lirih di akhir kalimatnya.


Kiana dan dua pasangan yang mendengar dan melihat apa yang terjadi antara Freya dan Alvino pun hanya bisa tersenyum. Freya dan Alvino memang sangat berbeda ketika di rumah dan di luar rumah.


“Kak, coba ceritakan versi dirimu. Bukankah kau tidak mencintai kakak ipar saat pertama kali.” ucap Kiana.


Freya pun tersenyum lalu menatap kelima orang di hadapannya itu, “Apa kalian sangat penasaran dengan kisah cinta kami?” tanya Freya yang langsung di angguki oleh kelimanya kompak.


Freya pun terkekeh melihat hal itu, “Baiklah. Aku akan menceritakan versiku tapi sepertinya jika cerita versiku kakak ipar kalian ini akan terlihat mengenaskan karena aku memang tidak mencintainya saat itu.” ucap Freya tersenyum melirik suaminya yang cemberut.


Alvino merangkul Freya, “Hum, saat itu aku memang tidak di cintai olehmu tapi kini kau sangat mencintaiku kan?” tanya Alvino.


Freya pun tertawa, “Percaya diri sekali yaa kau suamiku.” balas Freya.


“Tentu saja percaya diri. Orang aku sudah punya lima anak darimu yang sangat tampan dan cantik.” Ujar Alvino.


Freya pun tertawa begitu juga dengan kelima orang di hadapan mereka itu, “Sudah jangan dengarkan perkataan kakak ipar kalian. Dia memang suka ngelantur orangnya.” Ucap Freya.


“Aku akan menceritakan versi diriku. Seperti yang di katakan oleh suamiku ini kami memang bertemu pertama kali di jalan saat aku mau mengajukan judul proposalku. Aku membantunya tapi aku tidak mengingatnya sama sekali. Kurang lebih dua tahun dia menungguku, mengawasiku, dan menjagaku dari jauh. Dia yang memberikan beasiswa untukku saat aku ikut profesi. Dia yang meminta asisten sekaligus sahabatnya untuk jadi temanku hanya untuk mengawasiku dan akhirnya asistennya itu berjodoh dengan sahabatku.”


“Lalu setelah aku menyelesaikan laporan akhir profesiku dia datang ke rumah bersama mami Sinta dan papi William melamarku. Tapi mama dan papa tidak menerima maupun menolak lamaran mereka. Orang tuaku menyerahkan keputusannya padaku. Aku begitu pulang dari kampus langsung kaget mendengar apa yang di katakan orang tuaku. Mereka meninggalkan identitasnya di rumah untuk aku baca layaknya pengajuan proposal kerja tapi ini adalah lamaran.”


“Aku yang saat itu pernah berjanji pada seseorang aku tidak langsung menjawab lamarannya. Aku menemuinya dan mami serta papi untuk meminta waktu tiga hari agar aku bisa menepati janjiku pada seseorang. Dia mengizinkannya walaupun dalam tiga hari itu dia sangat frustasi dan khawatir bahwa aku akan menerima orang itu. Dia sampai mendatangi sahabatku yang saat itu sudah jadi istri asistennya untuk mencari tahu siapa laki-laki itu. Laki-laki yang aku beri waktu tiga hari.”


“Singkat cerita, laki-laki itu mengalah aku pun menerima lamaran suamiku ini. Pernikahan kami di lakukan setelah aku wisuda profesi. Pernikahan kami berlangsung cepat dan dekat. Aku menikah dengannya bermodalkan rasa nyaman dan kepasrahan diriku kepada yang maha kuasa bahwa apa yang sudah di takdirkan untukku pasti lah yang terbaik untukku. Kami menikah. Dia sangat baik. Dia tidak menuntutku untuk melakukan kewajibanku. Dia menunggu sampai aku siap.”


“Kami berbulan madu ke Belanda. Ke Negara di mana bunga kesukaanku berasal dan saat itu juga bertepatan dengan bunga tulip bermekaran di Negara itu. Saat di Belanda kami menghabiskan waktu kami dengan jalan-jalan melihat festival tulip dan jalan-jalan ke tempat wisata lain. Di sana ada kejadian yang membuatku sadar bahwa aku menikah dengannya karena memang aku mencintainya. Rasa nyaman yang aku pikir saat menikah itu ternyata itu adalah cinta. Dia menghilang hanya untuk membelikanku buket bunga tulip dengan berbagai warna dan tulip warna hitam sulit di cari. Dia tetap mencarinya sehingga aku yang di tinggalkan di mobil pun khawatir dan mencarinya. Akhirnya kami jadi saling mencari dan tidak saling menemukan di Negara itu.” tutur Freya menatap suaminya dalam.


“Lalu apa yang kakak ipar lakukan?” tanya Friska. Dia belum mendengar hal ini dari kakaknya itu.


Alvino tersenyum, “Aku mencarinya. Aku mengerahkan semua anak buah untuk mencarinya tapi ternyata dia justru sedang berjongkok di tengah orang-orang dan mengatakan bahwa dia mencintaiku. Dia ingin aku kembali dan akan mengatakan perasaannya itu untukku. Aku yang saat itu sedang mengkhawatirkannya justru merasa sangat senang dan bahagia atas apa yang aku dengar. Gadis yang ku cintai. Istri yang ku nikahi mencintaiku. Apa yang tidak lebih membahagiakan dari itu.” lanjut Alvino menatap Freya penuh cinta.


“Irma kenapa kau menangis?” tanya Kiana yang melihat Irma meneteskan air matanya itu. Semua orang pun segera menatap ke arah Irma.


“Aku terharu. Kisah cinta kak Reya dan Kak Vino sangat cantik.” Ucap Irma menghapus sisa air mata di pipinya.


Freya pun tersenyum, “Yah, aku sangat beruntung memiliki suami yang sangat mencintaiku. Dia lelaki hebatku setelah ayahku.” Ucap Freya


“Aku yang beruntung memilikimu sayang.” balas Alvino memeluk istrinya itu erat.


“Hmm, begitulah kisahnya. Itu awal mulanya aku mencintai suamiku. Apa kalian masih ingin menanyakan sesuatu lagi?” tanya Freya.

__ADS_1


Mereka menggeleng, “Kami tidak ingin mendengarnya lagi. Hanya membuat kami iri saja.” ucap Kiana.


Freya pun tersenyum, “Jika kau iri sana hubungi suamimu itu.” ujar Freya.


Kiana pun tersenyum, “Baiklah, aku akan menghubungi suamiku. Aku ke kamar dulu.” Ucap Kiana dan mulai mencari nomor telepon suaminya itu tapi saat dia hendak menelpon Zean yang lebih dulu menghubunginya.


“Lihatlah sepertinya suamiku tahu bahwa aku merindukannya. Bye, aku mau melepaskan rindu dulu dengan suamiku. Ohiya kalian jangan coba-coba. Belum halal.” Ucap Kiana segera berdiri dan meninggalkan ruang keluarga itu menuju kamar.


“Kalian apa akan pulang?” tanya Freya.


Mereka pun mengangguk, “Yah, kami akan pulang. Kami memang datang hanya untuk mengetahui itu. Ingin mendengarnya dari kalian langsung.” Ucap Kenzo.


Setelah itu dua pasangan itu pun segera pamit pulang dan kini tinggallah Freya dan Alvino di sana. Mereka pun segera menuju lantai dua dengan menaiki tangga.


Lalu tiba-tiba ponsel Freya berdering dan dia tersenyum terharu melihat siapa yang menghubunginya itu, “Assalamu’alaikum Han? Kenapa baru menghubungiku? Kenapa tidak menjawab teleponku? Apa kau sudah dapat sahabat lain di sana sehingga lupa bahwa punya sahabat di sini yang merindukanmu.” Ujar Freya panjang lebar begitu sambungan telepon tersambung.


Terdengar Hanna yang tertawa di sana, “Maaf Rereku sayang. Aku bukan tidak ingin menjawab telepon dariku tapi memang aku tidak memegang ponselku. Aku sangat sibuk mengurus Danish dan Danisha. Maaf yaa rereku sayang baru bisa menghubungiku sekarang ini. Aku janji akan sering menghubungimu.” Ucap Hanna dari seberang.


Freya pun mengubah panggilan itu menjadi panggilan video dan kini terlihatlah wajah sahabatnya itu. Keduanya saling bertatapan lama seolah menyisyaratkan bahwa mereka saling merindukan satu sama lain. Mereka sedang mencoba untuk mencurahkan rasa rindu mereka itu lewat tatapan keduanya, “Re, aku sangat rindu padamu.” Ucap Hanna akhirnya tidak bisa menahan rasa rindunya itu.


“Aku juga merindukanmu Han. Ayolah kita bertemu. Kau yang pulang ke sini atau aku yang akan datang ke sana. Aku rindu Danish dan Danisha juga.” Ucap Freya duduk di sofa yang ada di ruang keluarga di lantai dua itu. Sementara Alvino dia segera ke kamar begitu tahu bahwa yang menghubungi istrinya itu adalah sahabatnya. Alvino memberikan waktu untuk dua sahabat itu untuk saling mengungkapkan rindu mereka atau mungkin Alvino belum siap untuk menghadapi satu kenyataan yang hingga kini belum dia bisa terima.


“Aku juga ingin kesana Re. Tapi kau tahu aku mungkin tidak akan mendapat izin dari suamiku dan jika pun kau yang datang sama juga kan suamimu juga tidak akan mengizinkannya.” ucap Hanna.


Freya pun menarik nafas panjang, “Kau benar. Kenapa itu harus terjadi pada kita. Apa Kak Lio masih marah?” tanya Freya.


Hanna menggeleng, “Dia tidak lagi marah tapi dia sedang menyesal. Dia kadang ingin menelpon kak Vino tapi tak tahu deh kenapa gak jadi.” Ucap Hanna.


“Yah, begitulah. Re apa dia baik-baik saja?” tanya Hanna hati-hati.


Freya pun tersenyum, “Dia baik-baik saja. Apa kau ingin melihatnya?” tanya Freya yang langsung di angguki oleh Hanna.


Freya pun segera menuju kamar putrinya dan membukanya lalu mengubah kamera ponselnya itu dan mengarahkannya kepada putrinya, “Dia baik-baik saja kan?” tanya Freya begitu dia menutup pintu kamar putrinya yang mereka sedang serius belajar di dalam sana.


“Yah, dia baik-baik saja. Dia sangat cantik Re. Menantuku!” ucap Hanna meneteskan air matanya.


Freya pun tersenyum, “Tenang saja dia baik-baik saja Han. Langkah yang kita ambil menyelamatkannya.” Ujar Freya.


“Syukurlah jika begitu. Aku menjadi sedikit tidak bersalah melihatnya tumbuh besar walaupun aku tahu putraku terus mengingatnya. Putraku menjadi sangat dingin dan tertutup padaku Re. Dia hanya bicara seadanya saja sejak kami pindah kesini. Kak Lio juga begitu dia menjadi sangat tertutup. Aku tahu dia pun tidak ingin pergi dari Negara N tapi demi kebaikan dan kehormatan putra kami dia rela mengambil langkah itu.” ucap Hanna.


“Aku tahu Han. Kita terjebak karena egois membela anak-anak kita. Aku selalu berdoa dan berdoa untuk masalah ini bisa segera berakhir dan kita bisa seperti dulu lagi. Kau kembali ke Negara N.” ucap Freya.


“Aamiin. Aku juga berharap hal yang sama. Ohiya Re, sudah dulu yaa anak-anak sepertinya baru saja pulang.” Ucap Hanna. Yah di sana masih siang.


“Mama sedang bicara dengan siapa?” tanya seseorang yang sangat Freya hafal suaranya.


“Han, aku ingin bicara dengan Danish.” Pinta Freya memohon.


Hanna pun mengangguk lalu memberikan ponselnya kepada putranya itu yang di terima oleh Danish dengan wajah bingung, “Danish!” panggil Freya.

__ADS_1


Danish yang mendengar suara Freya pun segera mengangkat ponsel itu, “Bunda!” panggil Danish penuh kerinduan. Dia meneteskan air matanya.


“Hey, jangan menangis boy. Bunda tidak suka melihatmu menangis.” Ucap Freya menahan air matanya untuk tidak jatuh.


“Bunda, aku merindukanmu dan juga merindukannya.” Ucap Danish menahan tangisnya.


“Bunda juga merindukanmu boy. Tenang saja dia baik-baik saja. Walaupun dia tidak ingat dirimu tapi bunda yakin dia juga bisa merasakan bahwa kau merindukannya.” Ucap Freya.


“Bunda apa aku bisa bicara dengannya?” izinnya.


“Gak boleh. Dia bisa sakit.” Ucap Hanna melarang.


“Han, kau terlalu keras padanya. Boy tenang saja walaupun kamu tidak bisa bicara padanya. Bunda akan mengirimkan foto dirinya kepadamu. Kamu sehat-sehat ya boy. Jaga diri dengan baik dan jangan menjadi orang yang tertutup. Bunda suka kau yang ceria.” Ucap Freya lembut yang di angguki oleh Danish.


Tiba-tiba, “Bunda, kak Anind bun mengejarku.” Ucap Azwa yang berlari dari kamar dengan Anind yang mengejarnya.


“Sayang, jangan lari-lari.” Ucap Freya.


“Bunda, tolong lindungi aku dari kakak.” Ucap Azwa bersembunyi di tubuh Freya.


“Bunda, jangan lindungi dia. Kami sedang bermain dan dia kalah tapi dia tidak mau menerima hukumannya padahal kami sudah sepakat tadi yang kalah harus di hukum.” Ucap Anind menatap Freya. Semua itu di dengar oleh Danish di sana.


“Sudah. Jangan bertengkar lagi. Azwa juga tidak boleh begitu. Jika sudah berjanji dengan kakak harus menepatinya. Ayo sana ke kamar.” Ucap Freya meminta kedua putrinya itu kembali ke kamar yang langsung di turuti keduanya.


“Bundaa!” suara ponsel. Freya pun melihat Danish lalu tersenyum.


“Sayang, tunggu sebentar. Bisa kalian menyapa kakak ini dulu. Ini anak sahabat bunda.” Ucap Freya mendekatkan ponselnya itu kepada putrinya.


“Hai kakak!” ucap Azwa dan Anind kompak.


“Senang melihatmu.” Ucap Anind lalu dia segera pergi bersama Azwa ke kamar.


“Apa cukup?” tanya Freya.


Danish mengangguk, “Terima kasih bunda. Dia sangat cantik.” Ucap Danish.


“Putri bunda memang cantik boy. Apalagi dia di matamu selalu saja cantik.” Ucap Freya.


Danish tersenyum, “Bunda, terima kasih sekali lagi. Aku menantikan kiriman fotonya.” Ucap Danish tersenyum bahagia.


Freya pun tersenyum lalu mengangguk, “Bunda akan mengirimkannya.” Jawab Freya.


Tidak lama sambungan itu pun terputus setelah Danish mengembalikan ponsel kepada Hanna dan dua sahabat itu saling mengucap salam.


Freya segera menuju kamarnya dan tersenyum kepada sang suami yang sedang berbaring di ranjang.


“Apa dia tampan?”


*

__ADS_1


*


Untuk Episode ini kisah Freya dan Alvino dulu yaa.


__ADS_2