
Kini Friska sedang ada di klinik saat jam makan siang setelah memastikan semua pekerjaannya sudah selesai dia periksa dia menuju ruangan kakaknya.
Tok tok tok
“Masuk!” ucap Freya dari dalam.
Freya segera melihat siapa yang datang dan langsung tersenyum begitu menyadari yang datang adalah adiknya, “Duduk dek. Ada apa datang ke sini? Apa kau belum makan siang?” tanya Freya menatap sang adik walau sedikit tidaknya dia bisa menduga apa tujuan adiknya datang.
Friska segera duduk, “Eeehh aku sudah makan siang kak. Aku kesini mau izin pulang cepat karena harus pergi ke suatu tempat.” Ucap Friska yang memang tidak ingin mengatakan kemana dia pergi.
Freya pun mengangguk, “Emm, apa kakak gak bisa tahu kemana kau pergi?” tanya Freya.
Friska pun menghela nafasnya, “Aku akan menghadiri pesta ulang tahun kak. Jangan bertanya pesta ulang tahun siapa karena aku tidak ingin menjawab untuk itu.” balas Friska.
Freya pun mengangguk mengerti setidaknya adiknya itu sudah mengatakan akan ke pesta ulang tahun yang sudah pasti ulang tahun mami Jasmin tanpa harus di jawab oleh Friska, “Baiklah jika begitu kakak izinkan.” Ucap Freya.
“Baik, terima kasih kak. Semua dokumen yang harus aku periksa sudah selesai dan ada di ruanganku kak. Jika nanti ada keadaan darurat hubungi saja aku kak.” Ujar Friska masih merasa tidak enak untuk izin pulang sebelum pulang kerja.
Freya tersenyum mendengar ucapan adiknya itu, “Kau ini. Pergilah dengan tenang dan nikmati pesta itu dengan bahagia. Kau sangat jarang ke pesta jadi nikmati waktumu jangan khawatirkan di sini ada banyak bidan lain kok. Selain itu ada dokter Fiona juga kan, jadi jangan terlalu khawatir.” Ucap Freya.
Friska pun mengangguk lalu dia segera pamit keluar dan pulang kepada kakaknya itu. Setelah Friska keluar Freya menghela nafasnya sambil berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja ke depan.
__ADS_1
***
Kini Friska sedang dalam perjalanan menuju apartemen tapi dia berpikir ke salon sebentar, dia melihat jam tangannya dan berpikir waktu masih cukup untuk ke salon. Friska segera memutar balik mobilnya menuju salon terdekat yang memang menjadi andalannya dan sang kakak karena para pegawai yang melayani mereka adalah perempuan.
Kini Friska sudah tiba di salon itu yang memang milik Salwa, usaha yang baru dia dirikan saat melahirkan sang putri. Friska segera turun dan pegawai salon itu sudah mengenal Friska mereka segera melayani Friska, “Eehh,, Riska kau di sini?” sapa Salwa yang ternyata sedang ada di tempat.
“Iya kak, aku mampir.” Balas Friska tersenyum.
“Ya sudah sana pergilah.” Ucap Salwa. Friska pun hanya mengangguk dan segera masuk untuk melakukan perawatan ringan saja karena memang keburu waktu.
Kurang lebih dua jam Friska melakukan perawatannya kini dia keluar dari tempat setelah melakukan pembayaran. Dia segera menuju apartemen untuk mengganti pakaian karena tadi dia sudah melakukan spa juga.
Singkat cerita kini Friska sudah siap dengan gaun wardah yang di berikan kakaknya dan hijab pashmina senada yang memang di buat menutup dada itu sangat cocok dengan Friska yang memiliki kulit sawo matang. Friska sudah melakukan sholat ashar tadi hingga kini dia sudah siap untuk pergi ke pesta ulang tahun mami Jasmin itu sendiri.
***
Sementara di sisi lain, “Jas, selamat bertambah umur dalam hitungan kita dan berkurang dalam hitungan-Nya.” Ucap mami Sinta yang memang datang menghadiri pesta temannya itu.
Mami Jasmin pun tersenyum dan kedua ibu sosialita itu berpelukan ria sambil bercipika-cipiki. Sementara papi William yang memang ikut menemani sang istri lebih memilih bicara dengan papi Harry meninggalkan istrinya dengan temannya itu.
“Dimana dia? Apa dia akan datang?” tanya mami Jasmin menatap mami Sinta.
__ADS_1
Mami Sinta tersenyum, “Kita tunggu saja. Semoga saja dia datang karena kakaknya sudah di pihak kita.” Balas mami Sinta.
Mami Jasmin yang mendengar itu segera menatap temannya, “Maksudmu menantumu sudah mengetahui rencana kita?” tanya mami Jasmin takut.
Mami Sinta lagi-lagi tersenyum membaca ketakutan di mata temannya itu, “Tenang saja semua baik-baik saja. Menantuku itu walau dia tidak mengatakan akan membantu kita tapi jika itu untuk adiknya dia tidak akan menghalanginya. Jadi semua tergantung pada putramu bagaimana nantinya. Ingat putramu harus bisa mendapatkan restu menantuku dulu sebelum mendapatkan restu dari calon besan.” Ucap mami Sinta.
“Kenapa begitu?” tanya mami Sinta heran.
“Karena kedua adik menantuku itu sangatlah menghormati kakaknya. Apapun permintaan Freya akan selalu mereka turuti. Apa kau pikir mudah bagiku memberikan gaun pemberianmu itu padanya. Itu adalah hal yang sangat sulit karena sepertinya sama dengan menantumu yang bisa membaca sesuatu karena gerak gerik dia juga sama. Dia sepertinya tahu apa rencana kita hingga saat aku memberikan gaun itu dia langsung menolaknya.” Ujar mami Sinta.
Mami Jasmin yang mendengar itu membelalakkan matanya kaget, “Terus? Apa gaun itu tidak sampai padanya?” tanya mami Jasmin.
Mami Sinta menggeleng, “Tentu saja sampai padanya. Aku ini sangat cerdas. Aku meminta bantuan menantuku walau dengan sangat terpaksa harus menceritakan apa yang kita rencanakan karena jika tidak menantuku itu tidak akan menyetujuinya.” Jelas mami Sinta.
“Terus menantumu mau membantu?” tanya mami Jasmin lagi.
Mami Sinta mengangguk, “Iya dia membantu kita memberikan gaun itu tapi tentu saja dengan tidak mengatakan bahwa gaun itu adalah gaun yang di tolaknya dariku. Freya saja agar jangan sampai di curigai harus memesan tiga gaun lagi untuk tiga adik perempuannya yang lain agar Friska tidak tahu dia membantu kita. Selain itu juga menantuku hanya akan membantu kita untuk ini saja karena lain kali dia akan menyerahkan semuanya kepada adiknya. Jadi semoga saja dia akan datang.” Ucap mami Sinta.
Mami Jasmin pun hanya mengangguk saja sambil berpikir, apa sebegitu kritisnya mereka hingga memiliki sifat yang hampir saja. Dia sudah mendengar bahwa tiga bersaudara itu saling menyayangi satu sama lain dan kedua adik Freya sangat hormat padanya tapi dia tidak berpikir bahwa mereka memiliki kecerdasan yang sama, sangatlah beruntung orang tua mereka karena memiliki tiga putri yang hebat.
Mami Sinta dan mami Jasmin segera duduk dan hampir semua tamu undangan sudah hadir tinggal sekitar tiga orang saja yang belum termasuk Friska di tiga orang itu sedang untuk dua orang lainnya memang sudah menkonfirmasi tidak bisa hadir karena tiba-tiba ada urusan mendesak yang tidak bisa di tinggalkan, “Apa dia tidak akan datang.” Gumam mami Jasmin terus menatap pintu gerbang karena memang pesta ulang tahunnya di buat di halaman depan kediaman itu.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seseorang yang masuk dengan gaun wardahnya lengkap dengan hijabnya yang cantik. Mami Jasmin yang melihat itu terharu sambil menatap mami Sinta yang hanya menganggukkan kepalanya.