Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
155


__ADS_3

Sementara di kamar kini Friska yang mengistirahatkan tubuhnya di ranjangnya segera mengambil ponselnya yang berbunyi tanda ada pesan yang masuk.


Friska pun segera membuka dan seketika dia langsung bangun dan duduk melihat apa yang di kirimkan oleh nomor yang tidak di kenalnya itu, “Ini gak mungkin. Apa iya kak Rezky tega melakukan ini padaku. Apa iya dia tega membohongiku.” Ucap Friska mencoba menyangkal apa yang dia lihat.


“Gak, jangan mudah percaya Riska. Kau harus menanyakan ini dari kak Rezky secara langsung. Kak Rezky itu adalah calon suamimu dan kau pasti percaya padanya. Ini pasti hanya orang yang iri denganmu. Jangan berpikiran buruk dulu Riska.” Gumam Riska masih berusaha untuk tidak mempercayai foto yang di kirimkan oleh orang tidak di kenal itu.


Friska mencoba menenangkan dirinya dengan beristiqfar tapi sayang dia masih terganggu, “Aku harus menghubungi asisten kak Rezky untuk menanyakannya.” Friska segera meraih ponselnya dan segera menghubungi nomor ponsel Robi.


Tuut tuut tuut


“Halo, Assalamu’alaikum nona Friska. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Robi begitu sambungan telepon terhubung.


“Wa’alaikumsalam asisten Robi. Maaf menganggumu malam begini. Tapi saya tidak bisa menunggu. Jadi saya ingin bertanya. Apa kak Rezky akan segera pulang?” tanya Friska.


“Benar nona. Pesawat milik keluarga tuan sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin empat jam lagi akan segera tiba. Pekerjaan tuan sudah selesai. Jadi dia memutuskan untuk pulang. Ada apa nona? Apa ada masalah?” tanya Robi.


Friska menggeleng, “Gak ada. Terima kasih!” ucap Friska lalu setelahnya sambungan telepon pun segera berakhir setelah Friska mengucap salam.


Robi di seberang sana tahu bahwa ada masalah yang terjadi karena tidak mungkin calon istri tuan mudanya itu menghubungi malam-malam begini hanya untuk menanyakan hal itu. Pasti ada yang terjadi. Robi pun segera meminta seseorang untuk menyelidikinya.


***


Sementara di dalam pesawat yang membawa Rezky, kini Rezky tersenyum memandangi ponselnya yang menampilkan foto cantik Rayya saat di ulang tahun mamanya, “Apa dia pacar anda?” tanya orang yang duduk di sampingnya.


Rezky mengangguk, “Lebih tepatnya calon istri. Kami akan menikah dua minggu lagi.” Jawab Rezky dengan raut wajah bahagia di wajahnya.


“Wah, selamat untuk anda.” Ucap laki-laki itu.


“Terima kasih.” Ucap Rezky.


“Dia sepertinya gadis yang baik dan anda sangat mencintainya.” Ucap laki-laki itu lagi.


Rezky kembali mengangguk, “Ya dia sangat baik. Tidak hanya baik tapi juga cantik dan manis yang tidak membuat bosan. Saya sangat mencintainya dan hanya dia saja yang saya inginkan untuk jadi istri saya. Begitu juga di kehidupan selanjutnya saya akan tetap mencarinya dan menjadikannya istri. Mungkin banyak di luaran sana gadis baik dan melebihi dirinya tapi hanya dia gadis yang ingin saya jadikan istri.”


“Apa saya terlihat sangat bucin dan memalukan?” tanya Rezky tertawa.


Pria itu menggeleng, “Gak kok. Semua itu wajar terjadi kepada semua pria yang telah menemukan tambatan hatinya. Saya mengerti itu begitu banyak cinta anda untuknya.” Ujar pria itu.


Rezky mengangguk, “Anda benar. Saya sangat mencintainya. Dia gadis yang sangat pengertian.” Ucap Rezky.


“Ohiya, apa anda juga punya kekasih?” tanya Rezky kemudian.


“Seminggu lalu punya tapi dia sudah kembali ke pangkuan ilahi.” Jawab pria itu.


Rezky pun terdiam, “Maaf. Saya gak tahu. Saya tidak berniat mengingatkan anda pada kesedihan anda.” Ujar Rezky merasa bersalah.


Pria itu tersenyum lalu menggeleng, “Gak masalah. Saya mengerti kok.” ujar pria itu sebut saja dia Jemi.


“Jika saya tahu apa dia sakit?” tanya Rezky.


Jemi menggeleng, “Dia kecelakaan dan dia meninggal dengan kekasihnya.” Ujar Jemi tersenyum.

__ADS_1


“Kekasih? Maksud anda?” tanya Rezky.


“Dia istri saya. Kami menikah lima bulan lalu. Kami di jodohkan. Dia memiliki kekasih tapi demi permintaan keluarganya dia menerima pernikahan dengan saya. Pernikahan kami tidak berjalan semestinya. Kami menjalani pernikahan kami dengan penuh sandiwara. Dia tidak pernah menganggap saya sebagai suaminya dan dia secara terang-terangan mengatakan memiliki kekasih dan pernikahan kami tidak akan menghalanginya untuk tetap menjalani hubungan dengan kekasihnya. Saya pun awalnya mencoba memahaminya dan mengerti dirinya karena memang kami di jodohkan. Saya menerima semuanya dengan lapang dada. Namun seminggu lalu sepertinya kesabaran saya sudah habis dan di ambang batas. Kami bertengkar hebat hingga membuatnya lari dari rumah bersama kekasihnya. Namun sayang kejadian naas menimpa mereka dan mereka meninggal di tempat.” Ucap Jemi meneteskan air matanya.


Rezky pun hanya diam lalu memberikan tisu kepada Jemi. Jemi pun menerimanya dan tersenyum, “Maaf kamu jadi mendengar kisah sedih saya. Maaf sudah curhat padamu.” Ujar Jemi lalu menghapus air mata di pipinya.


Rezky menggeleng, “Apa anda mencintainya?” tanya Rezky.


Jemi tersenyum, “Pantang bagi saya menikahi wanita yang tidak saya cintai. Saya pikir tidak masalah jika dia tidak mencintai saya yang terpenting saya mencintainya maka saya optimis bahwa pernikahan kami akan tetap berlanjut. Saya akan mencurahkan cinta saya dan membuatnya mencintai saya dan melupakan mantan kekasihnya dan perlahan-lahan akan mencintai saya. Tapi ternyata saya terlalu naïf hingga membuatnya memutuskan hal nekat. Saya egois memaksanya pada hubungan yang di awali dengan keterpaksaan ini. Saya tidak menyalahkannya atas apa yang dia lakukan karena memang pada awalnya saya sudah sadar bahwa hubungan kami akan sulit di jalankan. Namun sekali lagi saya ingin berjuang mengambilnya dari orang yang dia cintai. Walau kalah sudah bisa saya baca pada awalnya namun saya tetap nekat melakukannya. Saya memang egois sehingga tuhan mengambilnya dari saya. Saya tidak pernah menyalahkannya kekasihnya yang menjadi orang ketiga dalam hubungan kami karena pada kenyataannya saya orang ketiga itu yang datang pada hubungan mereka. Satu pesan saya kepadamu, nikahilah wanita yang kau cintai dan juga mencintaimu. Jangan pernah sia-siakan hal itu. Cinta memang bukan segalanya namun kita tidak bisa hidup hanya dengan cinta sepihak. Sungguh berjuang sendiri itu sulit. Apalagi berjuang melawan orang dia cintai. Kita seperti memberikan pelangi kepada seseorang yang menyukai senja. Sebanyak apapun warna yang kita berikan tidak akan dia sukai karena dia hanya menyukai senja.” Ujar Jemi menutup ceritanya dan menepuk bahu Rezky.


Rezky mengangguk mengerti, “Saya paham maksud anda.” Ucap Rezky.


“Saya yakin anda pasti akan menemukan gadis yang mencintai anda dan juga anda cintai nanti.” Lanjut Rezky. Jemi pun hanya mengangguk.


***


Di sisi lain, Friska yang tidak bisa tidur melihat ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 21.30. Itu artinya tinggal kurang lebih satu setengah jam lagi Rezky akan tiba. Friska tidak bisa tidur. Dua hal berputar-putar dalam otaknya. Siapa gadis itu? Hal ini yang lebih utama ingin dia tanyakan dan dia tidak bisa tidur karena hal itu. Dia ingin segera pagi dan pergi ke kediaman Rezky untuk menanyakannya nanti.


Friska menghela nafas kasar dan bangun dari ranjangnya lalu segera memakai gamis dan hijabnya dan menyambar jaket dan juga tasnya, “Aku tidak bisa menunggu!”


Dia segera menyimpan ponselnya di tas lalu meraih kunci mobil. Dia segera keluar dari kamarnya dan menuju pintu keluar.


Saat dia hendak membuka pintu keluar. Frisya berlari ke arahnya, “Kak Ris kau mau kemana malam-malam begini?” tanya Frisya khawatir.


“Ke bandara.” Ujar Friska singkat lalu segera keluar.


Frisya yang mendengar itu kaget tapi tidak mungkin dia menyusul mengingat dia hanya memakai piyama tidurnya, “Ahh kak Ris, kau mau ke bandara malam-malam begini mau ngapain coba. Apa kak Rezky akan pulang hari ini. Aku harus mencari tahu. Kak Reya. Yah, aku harus menghubungi kak Reya.” Frisya segera berlari menuju kamarnya dan meraih ponselnya dan segera menghubungi Freya.


Tuut tuut


“Wa’alaikumsalam kak, maaf menghubungimu malam-malam begini. Tapi ini penting. Kak Ris pergi ke bandara.” Ujar Frisya.


“Apa? Bandara? Mau ngapain dia di sana malam-malam begini?” teriak Freya kaget dan langsung bangun.


“Iya kak. Dia ke bandara. Makanya dari itu aku khawatir. Apa kak Rezky sudah dalam perjalanan pulang?” tanya Frisya.


“Huh, bisa jadi. Begini saja dek. Kakak akan meminta Fazar ke sana untuk menjemputmu dan segera kalian susul Friska ke bandara. Pastikan dia baik-baik saja. Kakak akan mencari tahu apa yang terjadi.” Ucap Freya.


Frisya pun setuju lalu tidak lama sambungan telepon segera terputus. Frisya segera siap-siap mengganti pakaiannya.


Sementara di kediaman Freya, Alvino segera menghubungi Robi dan mendapat informasi bahwa Rezky memang dalam perjalanan pulang tapi dia tidak ikut dalam pesawat pribadinya.


“Kita harus ke bandara By. Aku tidak ingin adikku kenapa-kenapa.” Ujar Freya setelah menghubungi Fazar untuk menjemput Frisya dan setelah mendengar penjelasan suaminya.


Alvino pun mengangguk, “Ya sudah ayo kita ke bandara.” Ucap Alvino. Freya dan Alvino pun segera mengganti pakaian mereka dan tidak lama mereka segera turun dan melaju menuju bandara.


***


Sementara di sisi Friska dia kini sudah tiba di bandara dan segera melihat jadwal pesawat yang akan segera mendarat dan dia tersenyum melihat jadwal pesawat milik keluarga Rezky yang akan mendarat kurang dari satu jam.


Friska segera menuju ruang tunggu lalu tidak lama Robi tiba dengan nafas terengah-engah, “Nona!” ucapnya begitu menemukan Friska.

__ADS_1


“Asisten Robi? Anda di sini?” tanya Friska.


Robi mengangguk, “Saya kesini karena mengetahui anda ada di sini.” Ucap Robi.


“Kenapa tidak menunggu saja di apartemen dan menemui tuan muda besok nona dan justru nekat menjemput ke bandara sendiri begini. Jika anda kenapa-kenapa tuan pasti akan marah.” Ucap Robi.


“Tenang saja kak. Aku baik-baik saja kan. Aku tidak bisa menunggu sampai besok. Ada yang harus aku tanyakan kepadanya. Ini penting.” ucap Friska.


Robi pun menghela nafas dalam dan lebih memilih untuk duduk di samping Friska saja menjaga gadis itu, “Aku tahu yang mengganggumu nona. Tapi aku yakin tuan pasti tidak sengaja bertemu dengannya. Aku yakin itu. Tuan itu hanya mencintaimu. Dia hanya mencintaimu saja.” batin Robi memandang Friska yang gelisah.


Robi yang ingin mengatakan bahwa Rezky tidak ikut dalam pesawat keluarganya dan justru naik pesawat komersiil menjadi tidak tega mengatakannya melihat kegelisahan di wajah Friska itu.


Tidak lama Freya, Alvino, Frisya dan Fazar tiba bersamaan, “Dasar anak nakal. Kenapa pergi ke bandara sendiri malam-malam begini?” ucap Freya dingin menatap adiknya itu.


Friska hanya menunduk tidak berani menatap kakaknya, “Sayang, kamu menakutinya. Sudah!” ucap Alvino.


Freya pun menenangkan dirinya lalu tiba-tiba dia kaget dengan Friska yang berdiri dan memeluknya dan mulai terdengar tangisan di telinganya, “Hiks,, hiks,, maaf kak sudah membuat kalian khawatir. Tapi aku tidak bisa menunggu sampai besok. Aku harus menanyakannya.” Ucap Friska menangis di bahu Freya.


Freya pun mengusap belakang adiknya itu untuk menenangkannya, “Sudah. Jangan menangis lagi. Kakak memaafkanmu. Tapi jangan lakukan lagi. Kamu tahu kan kakak sangat mengkhawatirkan keselamatan kalian. Kalian itu tanggung jawab kakak. Ayo duduk dan ceritakan ada masalah apa?” ucap Freya mengajak Friska duduk lalu menghapus air mata di pipi adiknya itu.


Friska mengambil ponselnya dan memberikannya kepada Freya. Freya pun menerimanya dan melihat gambar itu, “Jadi apa ini yang membuatmu nekat malam-malam ke bandara? Hanya untuk ini? Apa kau tidak percaya padanya?” tanya Freya setelah melihat gambar itu dan mengerti apa yang terjadi pada adiknya ini.


“Aku percaya kak. Sangat percaya. Tapi aku juga wanita yang memiliki perasaan cemburu. Aku cemburu. Kenapa dia harus membohongiku jika memang ingin menemui gadis lain di sana. Aku tahu aku mungkin berlebihan tapi aku tidak bisa menahannya. Aku harus menanyakannya secara langsung.” Ucap Friska kembali menangis. Freya pun menarik nafas lalu kembali memeluk adiknya itu.


“Sudah. Jangan menangis. Baiklah kita tunggu dia tiba dan kau bisa menanyakannya langsung. Sekarang berhentilah menangis. Apa kau ingin menemuinya dengan wajah bekas menangis begini? Yang ada dia jadi ilfil karena kamu jelek dan dia bisa saja memilih gadis itu.” ucap Freya menggoda adiknya.


“Kaakkk!” Ujar Friska.


Freya pun tertawa, “Ya sudah makanya berhentilah menangis jika kau tidak ingin itu terjadi.”ujar Freya.


***


Singkat cerita, kini pesawat milik keluarga Rezky itu pun mendarat dan seperti yang Robi, Freya dan Alvino tahu bahwa Rezky tidak ada di sana melainkan di pesawat lain yang akan mendarat 20 menit lagi.


Friska segera berlari menuju tempat kedatangan dan hanya ada Hiro dan beberapa kru pesawat yang keluar dari sana. Friska terus melihat namun tidak ada lagi yang keluar. Friska segera menatap Hiro, “Di mana kak Rezky?” tanya Friska.


“Dia tidak ikut dengan kami. Dia meminta kami untuk berangkat lebih dulu. Dia naik pesawat yang akan mendarat nanti.” Jawab Robi.


Friska yang mendengar itu hampir terjatuh jika saja Freya tidak menahannya dari belakang, “Dia akan mendarat 20 menit lagi. Tenanglah.” Ucap Freya.


“Kaaakk, apa dia memang pergi menemui gadis itu?” tanya Friska.


“Jangan berpikiran buruk.” Ucap Freya.


“Kenapa kau tidak menunggunya Hiro?” tanya Alvino.


“Dia yang memaksa kami untuk tidak menunggunya. Itu pun kami berangkat setelah memastikan bahwa dia akan pulang. Jika kami meninggalkannya maka mungkin kami sudah tiba dua jam lalu. Tapi kami masih memutuskan menunggunya dulu dan baru berangkat setelah dia memesan tiket.” Jelas Hiro.


Alvino hendak bertanya kembali tapi mereka terdiam begitu mendengar pemberitahuan bahwa pesawat yang akan mendarat selanjutnya mengalami kendala untuk melakukan pendaratan.


“Kak Rezky!”

__ADS_1


__ADS_2