Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
106


__ADS_3

“Wah, kok bisa?”


Alvino mengangguk, “Seperti yang sudah aku katakan bahwa mereka bukan lah gadis yang menilai seseorang dari hartanya atau dari mobilnya. Aku di lupakan dan kami bertemu saat dia meminta izin tiga hari dariku untuk memberi kesempatan kepada seseorang menepati janjinya. Aku hampir saja tidak menjadi jodohnya jika laki-laki itu menepati janjinya melamar Freya. Tapi sepertinya takdir memang berpihak kepadaku. Jika di ceritakan maka semuanya terasa indah Fazar. Aku menikmati semua perjuangan yang ku lakukan untuk bisa menikahi istriku. Dia gadis yang ku cintai pada pandangan pertama. Ahh sudahlah jangan mengikuti apa yang ku lakukan. Aku bersembunyi di balik tirai untuk menjaganya. Aku bahkan meminta asistenku Adelio berpura-pura menjadi mahasiswa dan berteman dengannya hanya agar aku bisa mendapatkan info akurat. Aku memang aneh kan, aku akui cinta bisa membuat seseorang kehilangan kecerdasannya. Sama seperti yang kau rasakan saat ini.” ucap Alvino.


Fazar pun mengangguk mengerti. Sepertinya kisah cinta bos dan nyonya bosnya itu sangat menarik. Pantas saja bosnya itu sangat mencintai dan menyayangi istrinya karena bosnya itu berjuang untuk bisa mendapatkan hati nyonya bosnya. Jadi sepertinya dia harus memperjuangkan cintanya. Perjuangannya sepertinya tidak seberapa perjuangan yang di lalui oleh bosnya.


“Fazar, aku sudah menganggapmu adikku makanya untuk mewujudkan agar kau bisa menjadi adikku, aku menjodohkanmu dengan Frisya. Aku hanya iseng saja tapi sepertinya apa yang aku lakukan tepat sasaran karena kau mencintainya juga. Jadi Fazar semua keputusan ada padamu. Aku dan istriku sudah memberikan jalan untukmu. Aku harap kau sudah tahu apa yang ingin kau lakukan.” Ucap Alvino tersenyum. Fazar kembali mengangguk mengerti.


***


Sementara di kamar Frisya, kini Friska dan Irma masuk ke kamar itu, “Dek, kapan kau pulang? Kenapa juga cepat meninggalkan pesta?” tanya Friska sambil meletakkan tasnya dan melepas sepatu higheels nya.


“Aku pulang ke sini tadi bareng kak Reya.” Ucap Frisya tanpa menatap kakak keduanya itu.


Friska tersenyum lalu mendekati Frisya. Dia tahu adiknya itu pasti sedang ada masalah karena jika adiknya itu sudah bicara tanpa melihat mata itu tandanya ada yang dia sembunyikan, “Lihat aku dek. Kau menyembunyikan sesuatu. Ayo katakan ada apa. Ini juga ada bekas air mata. Kau menangis? Siapa yang membuatmu menangis?” tanya Friska.


“Ish kak Ris. Siapa yang menangis coba. Aku baik-baik aja. Kak Ris aja yang sok tahu.” Ucap Frisya.


“Apa kau pikir bisa menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tahu kau sedang ada masalah? Apa asisten Fazar yang membuatmu menangis?” tanya Friska.

__ADS_1


Frisya pun menatap kakaknya itu, “Jangan menyebutnya asisten kak. Aku gak suka. Aku tahu dia adalah seorang asisten tapi aku tidak menyukai jika ada yang memanggilnya begitu.” Ucap Frisya lalu menangis. Entah kenapa hari ini hatinya sangat sensitif.


Friska pun kini menghela nafas. Sepertinya dia salah bicara ahh bukan situasinya yang salah karena biasanya adiknya ini gak marah jika dia memanggil Fazar seperti itu, “Maaf dek. Maaf. Kakak gak akan memanggilnya begitu lagi. Maaf jika hal itu sudah melukai hatimu.” Ucap Friska lalu memeluk adiknya itu.


Frisya menggeleng lalu menangis di dalam pelukan Friska, “Kakak gak salah. Aku saja yang sensitif. Maafkan aku kak. Aku melampiaskannya kepadamu. Entah ada apa denganku hari ini, aku sensitif dengan hal itu padahal biasanya kau juga sering memanggilnya begitu dan aku tidak keberatan. Maafkan aku kak sudah memarahimu.” Ucap Frisya menangis.


Friska tersenyum sambil mengusap kepala adiknya itu yang di tutupi hijab, “Jangan menangis dek. Kakak gak marah kok. Kakak mengerti kau tidak bermaksud begitu. Sudah jangan menangis. Kau jelek nanti. Ayo jangan menangis. Lebih baik ayo cerita kepada kami apa yang terjadi. Tenang saja kami tidak akan membocorkan apapun kepada orang lain. Iya kan Irma?” ucap Friska menatap Irma yang dari tadi diam saja.


“Ahh iya kak.” Jawab Irma mengangguk. Dia kaget tiba-tiba Friska mengajukan pertanyaan itu kepadanya. Jujur saja Irma terharu melihat persaudaraan di antara mereka. Dia yang hidup sebagai anak tunggal dan tidak dekat dengan sepupunya merasa iri dengan persaudaraan mereka itu.


“Irma, aku akan memanggimu begitu dan baru mengubahnya jika kau sudah resmi menjadi istri kak Kenzo. Kau kan adikku. Ayo sini gabung sama kami. Aku ingin memeluk kalian.” ucap Frisya mengajak Irma yang masih berdiri.


Setelah itu ketiga gadis itu pun berbagi cerita terkait masalah mereka masing-masing. Irma merasa memiliki keluarga dan saudara begitu bersama dengan Friska dan Frisya. Dia merasa menjadi manusia bebas yang bisa mengekspresikan apa yang dia rasakan tanpa harus menyembunyikannya. Sepertinya keinginannya untuk menjadi istri Kenzo akan dia kabulkan tapi apakah Kenzo akan menerima gadis seperti dia. Dia sudah nyaman bersama keluarga ini, dia merasa memiliki keluarga yang nyaman. Memang orang tuanya sangat menyayanginya dan sangat menjaganya namun keinginan untuk bergaul dengan orang lain juga sangat dia inginkan dan hal itu dia dapatkan ketika bersama keluarga ini.


***


Keesokan paginya, seluruh keluarga sebelum memutuskan pulang ke Negara N sore nanti. Mereka lebih dulu pergi ke mall untuk membeli oleh-oleh. Hanya para anak muda saja yang pergi para orang tua mereka menunggu saja di hotel dengan beristirahat dan bermain dengan para cucu yang memang tidak ikut.


Freya, Alvino, Salwa dan Devano sudah tentu saja mereka satu grup di tambah dengan Kiana dan Zean yang juga ingin ikut bergabung belanja di mall. Sehingga ketiga pasangan suami istri itu pergi bersama. Para istri sudah tentu berjalan di depan dengan para suami berjalan di belakang, “Apa sudah?” tanya Freya dan Salwa bersamaan.

__ADS_1


Kiana yang mendapat pertanyaan itu seketika tersenyum malu, “Belum kak. Aku kan sudah mengatakan bahwa aku--”


“Ahh iya kakak lupa. Aduh kasihan Zean. Pantas saja wajahnya kusut begitu.” Ucap Freya sedikit tertawa.


“Gak apa-apa yang penting sebelumnya sudah kan?” ucap Salwa.


Kiana dan Freya tersenyum, “Belum kak Salwa. Adikku ini masih perawan padahal sudah lama menikah.” Ucap Freya.


Salwa yang mendengarnya seketika tertawa, “Beneran dek?” tanya Salwa.


Kiana pun hanya mengangguk, “Kok Zean bisa tahan yaa?” ucap Salwa.


“Sebenarnya dia sudah gak tahan kak hanya saja saat dia ingin keburu tamu Kiana datang. Jadi dia menundanya.” Ucap Kiana jujur.


“Tapi kok bisa dia menunda?” tanya Salwa penasaran.


“Sebelumnya sudah di izinkan tapi dia sendiri yang ingin menunda sampai nanti pesta pernikahan ini di laksanakan agar tetap malam pertama katanya tapi ternyata gagal. Kiana bahkan sudah minum pelancar haid karena kasihan tapi yaa tetap saja masih.” Ucap Kiana.


“Kasihan dia.” Ucap Salwa dan Freya barengan. Kiana pun tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2