
Keesokkan paginya semuanya sibuk karena hari ini mereka harus berangkat menuju Negara S untuk menghadiri pesta pernikahan Kiana dan Zean yang di adakan di Negara S. Mereka akan menggunakan pesawat milik Aryawiguna Group dan juga milik Salwa. Semua keluarga pergi.
Singkat cerita, kini mereka sudah ada di bandara dengan koper masing-masing di tangan. Kenzo membantu Irma membawakan kopernya. Fazar juga begitu membantu Frisya membawakan kopernya walaupun Frisya menolaknya. Friska dan Rezky jangan tanya lagi mereka kini sedang berjalan beriringan masuk ke dalam bandara sambil tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat keduanya itu tertawa.
Freya dan Alvino yang saling bergandengan tangan saling menatap satu sama lain, “Aku bahagia melihat pemandangan ini.” ucap Freya menatap seluruh keluarga di hadapannya di mana para anak-anak mereka berkumpul menjadi satu entah membahas apa.
“Jika kau bahagia, aku lebih bahagia sayang.” ucap Alvino.
“Wah, mentang-mentang kelima anak mereka gak mengganggu, mereka romantis-romantisan.” Sindir Salwa yang juga bergandengan tangan dengan Devano.
Freya hanya tersenyum sementara Alvino menatap adik sepupunya itu dengan sinis, “Devano adikku itu sedang cemburu.” Ujar Alvino kepada adik iparnya.
“Hahahahh, kau benar kakak ipar. Sudah sayang, jika kamu mau romantis-romantisan sini sama aku.” Ucap Devano langsung memeluk pinggang istrinya itu.
“Ehem, wahai para suami istri, tolong jangan menebar suasana seperti itu di sini.” Sindir Mark yang berjalan beriringan dengan Clemira dan Wina melewati mereka dengan koper di tangan masing-masing.
Freya, Alvino, Salwa dan Devano pun hanya bisa tertawa. Mereka tidak menyangka bahwa hidup ini berjalan dengan cepat. Bahkan kini anak-anak mereka sudah pada besar sambil menjaga satu sama lain.
“Hubby, akan lebih bagus lagi jika ada Hanna dan kak Adelio ikut.” Ucap Freya berbisik.
“Mereka kan sibuk sayang. Kita sudah menghubungi mereka kan.” Ucap Alvino. Freya pun mencoba mengangguk saja.
***
Singkat cerita, kini setelah mengudara selama kurang lebih empat jam akhirnya mereka tiba di bandara Negara S dengan selamat.
Zean sudah meminta orang-orangnya untuk menjemput keluarga istrinya itu. Walaupun Zean sudah menyiapkan orang-orangnya untuk menjemput mereka tapi Alvino tetap menyediakan sendiri orang-orang untuk menjemputnya menuju hotel yang memang sudah mereka sewa untuk tiga hari ke depan. Hotel yang mereka pilih tentu saja hotel yang berdekatan dengan kediaman keluarga Zean yang ternyata milik Alvino dan Salwa.
__ADS_1
Begitu tiba di hotel semua orang langsung menerima kunci kamar mereka masing-masing dan segera beristirahat di sana sebelum nanti malam akan ke kediaman orang tua Zean.
***
Kini setelah ba’da isya mobil pun beriringan menuju kediaman orang tua Zean untuk makan malam bersama. Sekitar 7 menit saja naik mobil mereka tiba di sebuah kediaman mewah tiga lantai. Mereka turun dari mobil yang langsung di sambut oleh mommy Vania dan daddy Rafael juga Zean dan Kiana.
“Kak!” ucap Kiana memeluk Freya erat.
Freya membalas pelukan adiknya itu lalu tersenyum memindai seluruh tubuh adiknya, “Apa belum?” tanya Freya berbisik.
Kiana yang mendapat pertanyaan seperti itu dari Freya tersenyum malu lalu menggeleng, “Kenapa?” tanya Freya lagi.
“Dia menundanya kak dan saat dia ingin tamuku datang.” jawab Kiana berbisik.
Freya pun seketika tertawa walaupun kecil, “Sudah ahh kak aku malu membahas yang begini. Ayo masuk!” ajak Kiana menggandeng Freya masuk.
“Ahh kau benar kak. Di mana calon suaminya Friska?” tanya Kiana sambil melihat sekeliling lalu matanya terhenti begitu melihat seorang gadis yang berdiri di samping adiknya. Kiana langsung menatap Freya yang tersenyum.
Kenzo segera mendekati Kiana dengan Irma yang ikut di belakangnya, “Apa kabarmu kak?” tanya Kenzo memeluk kakaknya itu.
Kiana mengangguk saja, “Kakak baik dek. Emm siapa gadis cantik ini dek?” tanya Kiana menatap Irma.
Kenzo pun tersenyum lalu menatap Irma sekilas, “Dia Irma kak.” Jawab Kenzo lalu kembali memeluk kakaknya itu, “Aku menyukainya. Tolong restui aku.” Bisik Kenzo yang hanya bisa di dengar oleh Freya dan Kiana.
Kiana tersenyum mendengar bisikkan adiknya itu lalu melepas pelukan Kenzo dan menatap Irma tersenyum, “Ayo dek. Kita ke meja makan.” Ajak Kiana langsung menggandeng Irma menuju meja makan. Freya dan Kenzo yang melihat itu hanya tersenyum lalu segera mengikuti Kiana menuju meja makan.
Tenyata makan malam itu di adakan di halaman belakang rumah dengan tiga meja. Meja pertama untuk para orang tua, meja kedua orang para orang dewasa seperti Freya dan Alvino dan meja terakhir untuk anak-anak yang memang di desain untuk tidak setinggi meja para orang dewasa.
__ADS_1
Freya segera duduk di samping Alvino begitu juga Salwa dan Kiana yang duduk di samping suami mereka masing-masing. Sementara Frisya, Frisya dan Irma juga ikut di meja itu namun mereka duduk bersampingan dengan para lelaki di hadapan mereka.
Sementara Mark, Clemira dan Wina mereka ikut bergabung di meja makan bersama anak-anak. Bisa di katakan mereka yang menjaga anak-anak itu walaupun tanpa di jaga pun para anak-anak itu tidak akan membuat keributan.
Sekitar kurang lebih satu jam makan malam itu berlangsung dengan lancar dengan canda tawa bersama. Makan malam keluarga besar yang duduk saling berhadapan satu sama lain dan saling berbagi pendapat sudah tentu menjadi sebuah pengalaman dan kenangan yang tidak akan di lupakan.
***
Setelah sesi makan malam bersama dan berdiskusi terkait pesta pernikahan Zean dan Kiana yang akan di adakan besok pukul 10.00 pagi di hotel milik keluarga Zean yang tidak berjauhan dengan hotel milik Alvino dan Salwa. Freya dan keluarganya segera kembali ke hotel mereka untuk segera beristirahat nanti sebelum pesta besok.
“Irma!” panggil Friska.
Irma yang di panggil pun menatap Friska, “Ada apa kak?” tanya Irma.
“Emm gak, aku hanya ingin bertanya saja, sejak kapan kau dekat dengan Kenzo?” tanya Friska.
“Sebenarnya kami gak dekat kak sebelumnya. Irma hanyalah mahasiswi magang yang belajar sebagai sekretaris kepada kak Grey. Irma juga jarang sebenarnya bicara dengan kak Kenzo.” ujar Irma.
“Kok gitu? Lalu kenapa kau bisa ikut di ajak ke lamaran kak Ris?” tanya Frisya dari ranjangnya. Yah, ketiga gadis itu memang sekamar dengan tiga bed di dalamnya karena memang mereka memintanya begitu kepada Alvino.
“Irma juga gak tahu.” Jawab Irma tertawa.
“Wah, sepertinya kak Kenzo belum mengungkapkan perasaannya kepadamu.” Ucap Frisya tersenyum. Sekedar pemberitahuan Frisya dan Irma seumuran walaupun Frisya tua sebulan dari Irma.
“Perasaan? Irma gak yakin kak Kenzo memiliki perasaan kepadaku.” Ucap Irma.
Friska dan Frisya tertawa mendengar ucapan Irma, “Dengar Irma, aku dan Kenzo itu seumuran walaupun aku tua 15 belas hari darinya. Aku memang tidak tumbuh dengannya hanya saja aku tahu bahwa dia memiliki perasaan kepadamu.” Ucap Friska yang diangguki oleh Frisya. Irma pun hanya tersenyum mendengar hal itu.
__ADS_1