Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
37


__ADS_3

Ibu Yulia yang mendengar itu hanya tersenyum, “Alasannya sangat pintar yaa, apa kamu pikir kamu bisa membohongi ibu. Ibu tahu dia gadis itu kan?”


“Ibu jangan membongkar rahasiaku. Dia gak tahu aku menyukainya. Aku juga tidak bermaksud mengungkapkan perasaanku karena aku sadar siapa diriku. Biarkan saja cinta ini menjadi cinta dalam diamku.” Ucap Fazar.


Ibu Yulia hanya bisa mengangguk saja karena dia juga sadar kondisi mereka, mana mungkin orang yang seperti mereka rela bersanding dengan pria yang berasal dari keluarga yang ayahnya saja sakit-sakitan, “Tapi bisakah ibu berharap dia jadi menantu ibu nak? Dia sangat cantik dan terlihat sangat tulus. Ibu menyukainya hanya dengan sekali melihat saj pantas saja kau bisa mencintainya dengan mudah.” Balas ibu Yulia.


“Kau benar bu. Aku juga berharap begitu tapi aku tahu itu gak mungkin.” Timpal Fazar.


“Sudahlah, ayo sana kau antarkan teh untuknya. Jangan dulu di antar pulang, ibu akan membuat sesuatu untuknya. Ibu akan berdoa semoga kalian berjodoh. Ibu tahu ini terdengar memaksa dan egois tapi setidaknya ibu sudah berusaha untuk memiliki menantu seperti dia.” Ucap ibu Yulia.


“Aamiin. Makasih doanya bu. Aku juga berharap begitu.” Ucap Fazar lalu dia segera membawa teh dengan camilan seadanya menuju ruang tamu.


Ibu Yulia yang melihat itu tersenyum, “Ya Allah yang maha Rahim tolong jadikan dia menantuku. Kau yang menghadirkan rasa suka ini dalam diriku kepadanya maka aku mohon wujudkan dia menjadi menantuku. Aku percaya akan takdirmu bisa mengubah segalanya.” Batin ibu Yulia berdoa.


Fazar segera menghidangkannya, “Di minum dek! Maaf seadanya.” ucap Fazar kepada Frisya.


Frisya pun mengangguk, “Terima kasih kak.” Balas Frisya sambil melihat sekeliling yang di mana di sana hanya ada foto Fazar saja.


“Kak, apa kau anak tunggal?” tanya Frisya hati-hati karena tidak ingin di anggap kepo oleh Fazar.


Fazar mengangguk, “Sebenarnya aku memiliki adik perempuan hanya saja dia meninggal saat usianya dua tahun.” Jawab Fazar.


“Ouh maaf kak, aku gak tahu kau memiliki adik. Maaf sudah mengingatkanmu.” Ucap Frisya merasa bersalah.


Fazar tersenyum, “Gak apa-apa kok dek.” Balas Fazar.

__ADS_1


Setelah itu suasana menjadi hening hingga ada yang keluar dari kamar, Fazar segera berdiri mendekati ayahnya, “Nak, kau sudah pulang?” tanya sang ayah.


Fazar mengangguk dan membawa ayahnya itu ke sofa di mana Frisya duduk. Ayah Yahya melihat ada seorang gadis cantik di hadapannya, “Siapa ini nak?” tanya ayah Yahya penasaran pasalnya sang putra baru kali ini membawa seorang gadis ke rumah.


Frisya segera mendekat dan menyalami ayah Fazar itu, “Frisya ayah, teman kak Fazar.” Ucap Frisya memperkenalkan dirinya.


Ayah Yahya yang menerima salam dari seorang gadis seketika menatap putranya bertanya, “Benar ayah dia teman Fazar. Dia juga adik dari istri bos Fazar.” Jawab Fazar menjelaskan.


Ayah Yahya mengangguk lalu tersenyum melihat Frisya, “Kau sangat cantik nak.” puji ayah Yahya jujur.


Frisya tersenyum malu, “Terima kasih ayah!” balas Frisya.


Ibu Yulia datang dari dapur, “Ayah, dia cantik kan? Doakan saja jadi calon menantu.” Celetuk ibu Yulia membuat Fazar malu sementara Frisya hanya tertawa.


“Ibu bisa juga leluconnya.” Timpal Frisya tersenyum.


Fazar menatap ibunya, “Bu!” panggil Fazar.


Ibu Yulia pun diam lalu tersenyum, “Nak, jangan dulu pulang yaa. Ibu mau membuatkan sesuatu untukmu. Semoga saja kau menyukainya.” Ucap ibu Yulia menatap Frisya.


Frisya seketika kaget akan hal itu, “Eehh bu gak usah. Risya pulang aja.” Ucap Frisya merasa tidak enak.


“He’eehh gak boleh menolak rezeki nak. Pokoknya kau tunggu yaa sedikit lagi. Jika tidak maka ibu gak akan membiarkan Fazar mengantarmu dan akibatnya kamu gak bisa pulang nanti.” Ucap ibu Yulia.


“Risya bisa pulang sendiri kok, Risya akan memanggil taxi.” Jawab Frisya bercanda.

__ADS_1


“Hahahh, ternyata sulit berdebat dengan anak cerdas yah. Ibu mengaku kalah nak tapi tetap saja kau gak boleh pulang dulu.” Ucap ibu Yulia.


“Tinggallah sebentar saja nak.” ucap ayah Yahya mendukung permintaan istrinya.


Frisya pun mengangguk, “Baiklah jika ibu dan ayah memaksa, Risya tidak akan menolaknya. Kasihan rezeki di tolak.” Jawab Frisya tersenyum.


Ayah Yahya dan Ibu Yulia pun tersenyum mendengar jawaban Frisya, mereka tidak tersinggung sama sekali dan justru sangat suka akan hal itu. Kedua orang tua Fazar itu seketika merasa akrab dengan Frisya, gadis yang baru saja mereka temui. Gadis dengan jiwa humble dan cerianya hingga membuat siapa saja mudah akrab dengannya. Frisya juga hanya menganggap semua perkataan terkait memanggilnya menantu adalah candaan. Frisya hanya menganggap semua itu adalah bagian keseruan.


Ibu Yulia kembali ke dapur meninggalkan tiga orang di depan yang sedang bicara lebih tepatnya hanya Frisya dan ayah Yahya yang bicara karena Fazar hanya diam saja, dia takut Frisya tersinggung akan semua perkataan ayah dan ibunya, “Ayah, bisa Risya tahu ayah sakit apa?” tanya Frisya hati-hati.


“Ayah di diagnosis ginjal nak tapi untunglah tidak sampai cuci darah karena cepat tertolong dengan adanya Fazar yang bekerja di perusahaan kakak iparmu.” Jelas ayah Yahya.


Frisya yang mendengar itu menatap Fazar sekilas, dia terharu akan hal itu, “Ayah hebat memiliki putra sebaik kak Fazar yang sangat menyayangi kalian.” Ucap Frisya.


“Kau benar nak, kami sangat beruntung memiliki dia sebagai anak kami tapi kami akan lebih beruntung lagi jika memiliki menantu sepertimu.” Ucap ayah Yahya tertawa. Entah kenapa dia dan sang istri langsung menyukai gadis yang di bawa putranya itu. Bukan suka karena dia adalah adik ipar dari seorang konglomerat tapi suka karena kepribadian gadis itu yang langsung terlihat sangatlah tulus dan baik.


Frisya yang mendengar itu tertawa, “Ahh ayah bisa aja memujinya membuat saya di atas angin loh.” Timpal Frisya.


“Benar nak. Kami gak bercanda. Jadi maukah kau menjadi menantu kami?” tanya ayah Yahya dengan nada bercanda tapi tersirat keseriusan di sana untuk menjadikan Frisya menantu.


“Hahahh,, ayah bisa aja. Lalu saya harus menikah dengan siapa agar bisa jadi menantu kalian? Putra ayah saja diam layak batu.” Ucap Frisya tentu saja bercanda karena menurutnya ini adalah candaan.


Fazar yang mendengar itu tersentak, apa ini sebuah kode untuknya tapi sepertinya tidak. Dia tahu Frisya adalah orang yang suka bercanda, “Fazar, kau dengan kan apa katanya?” kode ayah Yahya menatap sang putra.


Sebelum Fazar menjawab tiba-tiba datang ibu Yulia dengan kue di tangannya, ibu Yulia memang sedang membuat kue saat Frisya dan Fazar datang, “Taraa, silahkan makan calon menantu.” Ucap ibu Yulia menghidangkan kue hasil buatannya.

__ADS_1


“Terima kasih calon ibu mertua.” Balas Frisya bercanda tentu saja.


__ADS_2