
Singkat cerita, tidak terasa lamaran itu sudah selesai. Semua tamu undangan yang hadir sudah pada pulang begitu juga dengan Rezky serta keluarganya. Mereka juga sudah pulang hingga di kediaman itu tinggal meninggalkan keluarga saja yang saat ini sedang berkumpul di ruang keluarga.
“Kenzo, tidak ada kah keinginanmu memperkenalkan kepada kami siapa gadis yang bersamamu?” tanya Nenek Ayesha menatap cucunya itu.
Kenzo yang mendapat pertanyaan itu pun menatap seluruh keluarga yang sepertinya memang menunggu jawaban darinya di lihat dari semua pandangan mengarah kepadanya dan Irma. Irma hanya bisa menelan ludah kasar berada di antara kumpulan para keluarga itu, “Emm, Nenek ini ada Irma. Salah satu mahasiswa magang yang saat ini sedang magang di perusahaan yang Kenzo pegang sebagai sekretaris di sana.” Ucap Kenzo mendekati Nenek Ayesha lalu berbisik di telinga neneknya itu, “Doakan yaa Nek agar bisa menjadi jodoh Kenzo.” bisiknya.
Nenek Ayesha yang mendengar bisikkan sang cucu tersenyum, “Nak, ayo sini duduk dekat nenek.” Ajak nenek Ayesha meminta Irma duduk di sampingnya. Freya yang memang berada di dekat neneknya itu pun bergeser memberikan tempat untuk Irma.
Irma pun dengan langkah perlahan duduk di dekat nenek Ayesha itu, “Cantik!” puji nenek Ayesha setelah mengamati wajah Irma dekat.
Irma hanya bisa tersipu mendengar pujian yang di berikan nenek Ayesha itu, “Tentu saja cantik nek. Jika tidak cantik maka gak mungkin Kenzo mengaguminya.” Ujar Friska sambil makan itu.
“Kak Ris terhormat yang hanya beda beberapa hari denganku. Aku mohon kamu diam aja gak usah ikut campur. Lebih baik kau ke kamarmu dan hubungi calon suamimu yang tidak sabaran itu hingga mengadakan lamaran dadakan seperti ini. Bahkan gak menunggu kak Kia selesai mengadakan pesta pernikahan.” Balas Kenzo.
Friska pun hanya bisa cemberut dan menatap sini ke arah sepupunya itu yang memang hanya beda beberapa hari aja dengannya sekitar 15 hari saja sehingga kadang-kadang hal itu menjadi keributan di antara mereka, “Yah, lebih baik aku memang menghubungi calon suamiku saja. Tapi ingat kenalkan baik-baik dia kepada seluruh keluarga.” ujar Friska lalu dia segera beranjak menuju dapur dengan piring di tangannya.
“Nak, kami akan datang ke rumahmu nanti untuk menemui orang tuamu. Apa kamu mengizinkan?” tanya mama Najwa to the point sehingga membuat semua orang menatap mama Najwa itu.
“Ada apa kalian menatap mama seperti itu? Mama hanya meminta izin saja untuk bertamu. Emang ada yang salah dengan perkataan mama?” tanya mama Najwa setelah menyadari tatapan semua orang mengarah padanya.
__ADS_1
“Kakak memang tidak salah bicara hanya saja terlalu frontal. Kita bahkan belum tahu perasaan Kenzo kepada gadis itu. Tapi kakak sudah mengatakan ingin mendatangi rumahnya? Emang gak aneh apa, kakak mau ngapain datang ke rumah mereka? Mau ngelamar gak mungkin karena Kenzo dan gadis itu mungkin saja belum memiliki hubungan khusus atau mungkin memiliki perasaan satu sama lain.” Ujar Zein.
Mama Najwa pun menatap adik bungsunya itu yang bisa di panggil oleh anak-anaknya sebagai paman kecil, “Emm, sepertinya gak salah kok. Aku mau datang ke rumah mereka untuk meminta izin kepada kedua orang tuanya agar dia di izinkan ikut bersama kita ke Negara S untuk menghadiri pesta Kiana dan Zean lusa.” Ucap mama Najwa tidak mau di salahkan.
Freya dan Frisya yang mendengar ucapan mamanya itu saling menatap satu sama lain lalu tersenyum, “Ya sudah sekarang kita tanyakan kepada Irma dia mau ikut atau tidak. Bagaimana nak Irma apa kamu mau ikut bersama kami nak?” tanya nenek Ayesha menatap calon cucu mantunya itu. Dia yakin bahwa gadis itu akan menjadi cucu mantunya nanti.
Irma yang dari tadi diam memberanikan diri menatap para keluarga Kenzo itu, “Emang Irma bisa ikut? Bukankah Irma bukan ke--”
“Kamu bisa ikut dek. Jika kau mau, maka untuk itu kami menawarimu.” Potong Freya.
Irma menatap Freya lalu tersenyum, “Kamu mau kan ikut kami?” tanya Freya menatap calon adik iparnya itu.
“Halo, tuan Baskara dan nyonya Calista. Ini saya Freya Nur Nabila mau meminta izin agar Irma di izinkan pergi bersama kami besok ke Negara S untuk menghadiri pesta pernikahan adik saya. Apa tuan dan nyonya mengizinkan?” tanya Freya.
Mami Calista dan Papi Baskara yang ada dalam layar ponsel Alvino pun tersenyum, “Jika dia mau ikut tentu saja kami akan izinkan nak. Kami percaya kalian bisa menjaganya.” Jawab papi Baskara tersenyum.
“Terima kasih atas izin yang anda berikan tuan. Kami akan menjaganya dengan baik.” ucap Freya lalu tidak lama sambungan video call itu terputus setelah kedua orang tua Irma bertegur sapa dengan mama Najwa dan papa Khabir.
Irma dan Kenzo hanya bisa menatap Freya dan Alvino dengan ekspresi kaget mereka, “Wah, kak kalian hebat. Kapan kalian menghubungi tuan Baskara dan nyonya Calista?” tanya Kenzo.
__ADS_1
Freya dan Alvino saling menatap satu sama lain lalu tersenyum, “Tepat saat kau mengenalkan dia kepada nenek. Kami sudah menghubungi mereka.” ucap Alvino.
“Wah, kakak ipar kau hebat yaa. Kalian memang benar-benar pasangan suami istri yang tidak bisa di tebak.” Ucap Kenzo.
“Sudahlah jangan heran dengan apa yang kami lakukan. Bukankah kau juga melakukan hal yang sama untuk meminta izin kepada mereka agar mengizinkan Irma menemanimu ke sini. Kami hanya mengikuti apa yang kau lakukan dek.” ujar Freya tersenyum.
“Sudahlah kak Kenzo kau tidak akan pernah menang melawan kakak. Apalagi jika kakak ipar sudah bersatu membantunya kita tidak lagi memiliki harapan.” Timpal Frisya yang kemudian semua keluarga ikut tertawa.
“Sudah-sudah. Ini sudah larut. Kita lebih baik istirahat saja. Irma kamu menginap di sini dulu. Kamu bisa tidur bareng Frisya.” Ucap papi Khabir.
“Baik om.” Jawab Irma mengangguk.
Frisya pun segera berdiri, “Emm, baiklah ayo kakak ipar Irma kita ke kamarku.” Ajak Frisya. Irma pun setelah meminta izin dari semuanya segera ikut dengan Frisya.
Para wanita yang lain juga sudah pada ke kamar mereka masing-masing. Freya sebelum ke kamarnya mengantar nenek Ayesha lebih dulu ke kamarnya dan memastikan neneknya itu beristirahat dengan baik.
Di ruangan tengah kini tinggalah para lelaki yang berdiskusi dengan di temani oleh kopi buatan mama Najwa di meja, “Kenzo, kau mungkin bisa dengan mudah mendapat restu dari orang tuanya hanya saja kita sebagai laki-laki sudah tentu harus memiliki harga diri di hadapan keluarga istri.” Ucap papa Khabir.
Kenzo mengangguk, “Kenzo mengerti maksud paman.” Ucap Kenzo. Setelah itu mereka membahas usaha mereka.
__ADS_1