
Alvino yang di tatap oleh Zean pun tersenyum, “Kenapa kau memandangi saya seperti Zean? Apa ada sesuatu yang salah dengan wajah saya hingga kau harus menatap saya seperti itu.” ucap Alvino.
Zean pun mengalihkan pandangannya dan kini menatap orang tuanya kembali, “Kenapa kau menatap kami nak?” tanya daddy Rafael.
“Cepat katakan kenapa kalian bisa di sini dan tahu aku akan menikah sedangkan aku saja menghubungi kalian tidak tersambung sama sekali lalu bagaimana mungkin kalian bisa ada di sini.” Ucap Zean yang memang sudah tidak bisa menyembunyikan hal itu untuk dia tanyakan walau kemungkinan besarnya sudah dia bisa tebak bahwa ini pasti ada campur tangannya Alvino.
“Tentu saja kami harus di sini nak. Bukankah kami harus menghadiri pesta pernikahan putra kami. Kenapa kau masih harus bertanya alasan kami datang. Ohiya jika kau penasaran kami tahu dari mana sudah pasti kau bisa menebaknya sendiri karena kami yakin kau sudah bisa menebak siapa yang menghubungi kami dan mommy katakan apa yang ada dalam pikiranku atau tebakanmu saat ini itulah yang terjadi untung saja tuan Vino menelpon kami segera jika tidak maka kami tidak akan mungkin bisa ada di sini tepat waktu dan kemungkinan besarnya kami tidak bisa menghadiri pernikahan putra kami satu-satunya. Kau ini kenapa gak bilang bahwa perjalanan bisnismu itu sekalian untuk mencarikan kami menantu.” Ucap mommy Vania panjang lebar yang di akhir kalimat di akhiri dengan cubitan kecil di lengan sang putra karena kesal tentunya.
__ADS_1
Zean yang mendengar penjelasan mommy-nya itu pun kini mengerti dan percaya dengan tebakannya tapi kemudian dia berpikir kapan Alvino menelpon maminya. Setelah dia pikir-pikir sepertinya saat dia bicara dengan Kiana di taman karena setelah itu nomor ponsel orang tuanya langsung tidak aktif dan baru aktif beberapa menit yang lalu dan hal itu semakin membuat tebakannya benar karena dilihat dengan waktu yang di tempuh oleh orang tuanya bisa tiba di sini jam segini.
Zean segera menatap kembali Alvino dan Freya, “Kenapa kalian gak mengatakan apapun kepada saya tadi padahal kalian tahu saya berusaha menghubungi orang tua saya.” ucap Zean.
“Kami bukan tidak ingin memberitahumu hanya saja kami ingin melihat bagaimana usahamu menelpon orang tuamu agar pernikahan kalian bisa di restui. Aku tahu adikku bukan berasal dari keluarga berada namun aku tidak akan membiarkan adikku tidak di hargai oleh keluarga barunya.” Ucap Freya cepat saat sang suami ingin menjawab. Yah, Alvino memang segera menghubungi tuan Rafael dan nyonya Vania saat Zean dan Kiana bicara di taman. Alvino segera mengatakan semuanya walau dengan singkat bahkan daddy Rafael dan mommy Vania bicara langsung dengan papa Vian. Mommy Vania dan Daddy Rafael yang mendengar putra mereka menikah langsung setuju tanpa peduli dengan latar belakang apa gadis yang akan di nikahi putra mereka berasal dari keluarga kaya atau tidak karena yang terpenting putra mereka segera menikah dan mereka memiliki menantu. Jika soal harta mereka bisa memberikannya dan tidak akan habis hanya karena membiayai menantu dan juga keluarganya. Selain itu juga baru kali ini putra mereka itu ingin menikahi seorang gadis, hal itu membuktikan bahwa gadis itu bukan orang sembarangan karena bisa meluluhkan tembok yang di pasang putra mereka. Mereka yakin pilihan putra mereka tidak akan pernah salah dan untuk itulah kini mommy Vania dan daddy Rafael kini berada di sini karena mereka ingin hadir secara langsung di pernikahan putra mereka. Jadi begitu mengetahui putra mereka menikah mommy Vania dan daddy Rafael langsung menuju bandara dan meminta dokumen putra mereka di urus dan di permudah.
Freya yang mendengar itu tersenyum, “Terima kasih tante sudah menerima adikku. Kalian tidak perlu mengadakan pesta untuknya yang lebih penting perlakukan dia dengan baik. Terimalah segala kelebihan dan kekurangan adikku. Jika dia melakukan kesalahan mohon maafkan dia dan jika suatu saat nanti kalian sudah tidak sanggup menerima perbuatannya maka kembalikan dia kepada kami dengan baik-baik kami akan menerimya kembali tapi jangan sakiti fisiknya apalagi mentalnya dan maafkan saya sudah bicara tidak sopan seperti tadi. Maaf!” ucap Freya menatap mommy Vania dan daddy Rafael dengan tatapan bersalah.
__ADS_1
Daddy Rafael yang melihat Freya mengatupkan tangannya meminta maaf segera menggenggam tangan Freya, “Jangan meminta maaf nak. Kami tahu dan sangat paham dengan perasaanmu. Kau adalah seorang kakak yang ingin memastikan bahwa adiknya akan hidup bahagia. Kami bangga nak bisa menjadi bagian dari keluarga seperti kalian yang sangat menjunjung tinggi kekeluargaan. Kami janji akan memperlakukannya dengan baik. Kami janji tidak akan menyakiti fisik dan mentalnya.” Ucap daddy Rafael.
Freya pun tersenyum lalu mengucap terima kasih, “Apa bisa kami melihat dan berkenalan dengan calon menantu kami nak?” tanya daddy Rafael kemudian.
Freya pun mengangguk lalu mereka segera menuju ruangan di mana Kiana berada. Mama Najwa dan papa Khabir mereka kembali ke kamar papa Vian terlebih dahulu untuk menjemputnya agar bisa bertemu dan berkenalan langsung dengan calon besan, “Pah, putri sulung kita hebat yaa.” Ucap mama Najwa yang dari tadi menahan rasa harunya melihat apa yang dilakukan putri sulungnya itu.
Papa Khabir mengangguk tersenyum, “Kau benar mah. Dia menyayangi semua adiknya dengan baik dan sama rata. Dia selalu memastikan kebahagiaan adiknya. Entah kebaikan apa yang kita lakukan di masalalu hingga bisa memiliki putri sebaik dan sepenyayang dia yah walaupun dia kadang-kadang menyembunyikan kasih sayangnya itu di balik ketegasannya.” Ucap papa Khabir yang bangga tentunya pada sang putri.
__ADS_1
Mama Najwa pun tersenyum mendengar perkataan sang suami karena memang benar Freya itu orangnya penyayang namun di sembunyikan di balik ketegasannya hingga seolah-olah terlihat dia tidak menyayangi orang lain, “Putri kita itu memang tsundere pah.” Ucap mama Najwa. Papa Khabir pun mengangguk membenarkan apa yang di katakan istri.