Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
120


__ADS_3

Frisya yang mendengar ucapan ibu Yulia pun terharu dan matanya pun berkaca-kaca, “Ibu, jangan pernah mengatakan sesuatu seperti itu. Kita sama bu. Gak ada yang di atas dan di bawah. Kita sama di mata Allah. Tidak ada yang tinggi maupun rendan. Semuanya sama. Frisya bukanlah orang kaya begitu juga dengan keluarga Risya. Hanya saja keluarga kami beruntung karena kakak berjodoh dengan kakak ipar yang memiliki perusahaan sehingga kami pun akhirnya di pandang hormat. Padahal kita sama bu. Risya tidak suka mendengar ibu merendahkan diri lagi seperti itu. Risya justru bersyukur bisa mendapatkan suami seperti kak Fazar yang selalu menjaga dan melindungi Risya selama ini. Terima kasih sudah melahirkan putra sebaik dan setampan kak Fazar bu.” Ucap Frisya.


Ibu Yulia pun tersenyum mendengar kata terakhir yang di ucapkan oleh gadis di hadapannya ini, “Tampan? Apa putra ibu ini memang tampan nak?” tanya Ibu Yulia.


Frisya melirik Fazar sekilas lalu kemudian mengangguk dengan yakin, “Jika tidak tampan aku sudah menolaknya bu. Bukankah kita harus memperbaiki keturunan kita bu. Aku ingin keturunanku lebih cantik atau pun tampan dari kami. Jadi aku harus memiliki suami tampan kan bu.” Ucap Frisya tersenyum.


Ibu Yulia dan ayah Yahya yang mendengar itu pun tertawa, “Wah nak kau ini ada-ada saja. Tapi memang benar sih apa yang kamu katakan. Ayah saja yang tidak tampan-tampan amat tapi karena menikahi gadis cantik seperti ibu akhirnya memiliki putra setampan Fazar ini. Kami setuju dengan yang kamu katakan itu nak.” ucap Ayah Yahya masih tertawa.


Sementara Fazar yang menjadi bahan pembicaraan mereka hanya bisa menghela nafas tidak percaya bahwa hari ini dia akan menjadi topic pembahasan antara orang tuanya dan gadis yang dia cintai. Tapi Fazar senang Frisya bisa dengan mudah akrab dengan kedua orang tuanya dan kegugupan yang di tampilkan gadis itu tadi sudah tidak terlihat lagi. Memang Frisya itu gadis yang ajaib yang bisa menghidupkan suasana.


“Ibu, Ayah masa iya aku di jadiin pembahasan.” Protes Fazar.


“Maaf ya nak. Kamu harus bersabar dulu. Itu memang sudah jalannya. Hari ini kamu jadi bahan pembahasan kami dengan calon menantu kami ini.” ucap ibu Yulia.


“Emang ayah dan ibu sudah merestui aku menikahinya?” tanya Fazar.

__ADS_1


Ayah Yahya yang mendengar pertanyaan sang putra pun hanya bisa geleng-geleng kepala sementara ibu Yulia menatap tajam sang putra, “Pertanyaan macam apa itu nak. Mana mungkin kami tidak merestui gadis yang kau cintai ini untuk kau nikahi dan jadikan istri. Apalagi itu adalah Frisya gadis yang memang ibu dan ayah inginkan untuk jadi menantu. Kami tentu saja merestuinya nak. Kamu jangan aneh-aneh deh.” Ucap Ibu Yulia.


Fazar pun tertawa, “Aku hanya ingin memastikan saja bu.” Ucap Fazar. Frisya pun tersenyum melihat pembicaraan antara Fazar dan ibunya itu yang menurutnya sangat sweet. Pantas saja seorang ibu yang memiliki putra yang akan menikah akan merasa kehilangan putra mereka karena memang seorang ibu dan putranya itu memiliki kedekatan yang erat. Dia bisa melihat itu dari anak-anak kakaknya. Anand, Azlan dan Azlen sangat dekat dan manja kepada Freya sementara Anind dan Azwa sangat dekat dan manja kepada Alvino.


“Sudah ahh pokoknya ibu merestuimu nak menjadi menantu. Kami menerimamu dengan tangan terbuka. Kami akan datang melamarmu nanti.” Ujar ibu Yulia tersenyum.


Frisya pun tersenyum, ”Terima kasih bu. Tapi Risya masih kuliah bu.” Ujar Frisya.


“Gak apa-apa. Lamaran aja dulu walau baru dengan kedua orang tuamu dan keluargamu. Untuk menikahnya semua tergantung padamu. Jika kau ingin menikah saat ini atau nanti jika setelah lulus pun tidak masalah. Yang terpenting kau dan Fazar sudah memiliki ikatan.” Ucap ibu Yulia.


“Jangan mengucapkan terima kasih nak. Kami yang sangat beruntung karena bisa memiliki menantu cantik, baik, sholahah dan secerdas dirimu nak.” ucap ibu Yulia.


Frisya pun tersenyum begitu juga Fazar. Setelah itu ibu Yulia pamit ke dapur untuk membuatkan makan siang untuk calon menantunya itu, “Ibu mau masak dulu sebentar ya nak. Kau di sini dulu bareng Fazar dan ayahnya.” Ujar ibu Yulia.


“Ibu, Risya ikut. Risya ikut ibu ke dapur jika di izinkan. Risya ingin belajar.” Pinta Frisya.

__ADS_1


“Kamu yakin mau ikut nak?” tanya Ibu Yulia memastikan. Frisya mengangguk dengan yakin. Ibu Yulia yang melihat itu pun tersenyum lalu segera mengajak Frisya untuk ke dapur bersama. Kedua wanita berbeda generasi itu segera meninggalkan ruang keluarga menuju dapur.


Fazar dan ayah Yahya yang melihat itu tersenyum, “Dia unik kan Yah?” tanya Fazar tersenyum.


Ayah Yahya pun mengangguk, “Kau benar nak. Dia memang unik. Dia bisa menghidupkan suasana yang canggung. Kami tadi sudah merasa bersalah karena tidak melakukan persiapan untuk menyambutnya tapi ternyata dia tidak mempermasalahkan hal itu. Namun lain kali jangan lakukan itu lagi nak. Kami tidak ingin di anggap tidak menghormati tamu apalagi yang datang adalah calon menantu. Kau ini kenapa tidak bilang-bilang mau mengajaknya.” Ucap ayah Yahya.


“Maaf Yah. Ini juga dadakan. Dia baru semalam memutuskan hal ini dan menyetujui untuk ku lamar. Tapi dengan syarat aku harus membawanya dan mengenalkan dia terlebih dahulu kepada kalian. Jadi makaya aku tidak sempat mengatakan apa pun kepada kalian tadi.” Ucap Fazar.


“Huh, sudahlah. Untung saja dia adalah gadis yang baik. Kami memang sudah mendengar tentang reputasi baik dari keluarga istri bosmu itu. Kami sudah mendengar bahwa istri bosmu itu sangat sopan. Ternyata itu memang benar. Adiknya saja sangat sopan begitu. Pantas saja dia di pilih oleh tuan William dan nyonya Sinta untuk jadi menantu mereka.” ujar ayah Yahya.


“Bukan hanya sopan yah. Tapi nyonya Freya memang memenuhi semua kualifikasi dari seorang istri pengusaha. Dia saja yang belum menikah dengan tuan Alvino sudah memiliki usaha sendiri di samping dia yang kuliah sebagai perawat. Nyonya Freya itu memiliki aura tersendiri yang membuatnya sangat cocok bersanding dengan Tuan Alvino. Mereka benar-benar pasangan yang cocok satu sama lain Yah. Aku saja mengagumi rumah tangga mereka yang setiap masalah yang datang selalu di atasi dengan baik. Aku sangat jarang bahkan tidak pernah melihat nyonya Freya dan tuan Alvino terlibat pertengkaran. Tingkat kepercayaan dan cinta mereka untuk satu sama lain sudah ada di level tertinggi sehingga semua masalah yang datang menimpa keduanya bisa dengan mudah di atasi.” Ucap Fazar.


“Kau benar nak. Kecerdasan istri bosmu itu bisa terlihat juga dari adiknya. Walau kami belum melihat langsung bagaimana istri bosmu itu tapi kami yakin dia adalah gadis hebat.” Ucap Ayah Yahya.


Fazar pun mengangguk membenarkan, “Tapi calon istriku lebih unik yah. Aku memilihnya untuk jadi istriku dan hanya dia saja yang aku inginkan.” Ucap Fazar. Ayah Yahya pun tersenyum menyetujui ucapan sang putra.

__ADS_1


__ADS_2