Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
183


__ADS_3

Keesokkan paginya selepas subuh keduanya tidur kembali mungkin efek lelah dengan aktivitas yang mereka lakukan dini hari tadi. Kenzo dan Irma baru bangun saat jam menunjukkan pukul sebelas siang dan itu pun terbangun karena suara telepon.


“Halo, Assalamu’alaikum kak!” ucap Kenzo menjawab panggilan dari Freya itu.


“Ouh God. Apa kalian masih tidur. Hey itu sudah siang loh dek. Kenapa masih tidur. Jangan bilang kalian tidak melakukan sholat subuh.” ucap Freya dari seberang.


“Kak, kau kenapa langsung marah-marah begitu bahkan kau tidak menjawab salamku. Kami ini tidak lalai. Kami baru tidur tadi selepas sholat subuh tadi.” Ucap Kenzo menjelaskan sambil bersandar di ranjang.


“Ahh baiklah. Wa’alaikumsalam. Salah sendiri juga sudah siang begitu masih tidur. Kalian tidak lupa kan bahwa malam ini akan ada acara ngunduh mantu sederhana di kediaman kakakmu. Apa kau melupakannya?” tanya Freya.


“Aku ingat kak. Aku mana mungkin melupakan ritual yang penting untuk kami itu.” ucap Kenzo.


“Baiklah jika begitu. Kalian datanglah sebelum ashar ke kediaman kakakmu. Ahh bukan kalian di sana saja. Biar MUA akan kami kirim ke sana.” Ucap Freya.


“Hum, baiklah terserah pada kalian saja kak. Aku masih mengantuk mau tidur lagi.” Ucap Kenzo.


“Baiklah. Awas saja jika kalian lupa. Aku akan datang ke sana dan mendobrak kamar hotel kalian itu.” ucap Freya.


Tidak lama setelah itu sambungan telepon di antara mereka. Kenzo melihat Irma yang sepertinya terganggu dengan pembicaraannya dengan Freya itu.


“Tidurlah, masih sejam lagi kok waktu sholat atau kamu mau kita makan dulu? Kita sudah melewatkan waktu sarapan.” Ucap Kenzo menyentuh hidung istrinya itu yang perlahan membuka matanya.


Irma masih menyesuaikan matanya dengan cahaya yang masuk ke matanya. Lalu dia menatap ke arah Kenzo dan tersenyum malu karena mengingat apa yang sudah mereka lakukan dini hari tadi. Mereka sudah jadi suami istri dalam artian sesungguhnya.


“Masih mau tidur atau makan nih?” tanya Kenzo ulang.


Irma yang mendengar pertanyaan suaminya itu pun tersenyum, “Malas jalan kak.” Ucap Irma.


“Terus gak lapar?” tanya Kenzo.


“Lapar.” Jawab Irma.


Kenzo yang mendapat jawaban dari istrinya itu pun tersenyum lalu mencium kening istrinya lembut, “Kita makan di sini. Aku akan memesankan makanan untuk kita. Aku tidak mungkin membuat istriku kelaparan sementara kita masih harus melakukan ngunduh mantu hari ini.” ucap Kenzo.


Irma yang mendengar ucapan suaminya seketika kaget, “Kak, kita harus pulang.” Ucap Irma heboh.


Kenzo yang melihat respon dari istrinya itu pun tersenyum, “Hey, tenang sayang. Kak Reya sudah menelpon akan meminta MUA untuk ke sini. Jadi kita langsung ke kediaman kak Kia.” Ucap Kenzo.


Irma yang mendengar itu pun tersenyum lalu mengangguk mengerti. Sepertinya para kakak iparnya itu sangat mengerti mereka.


Setelah itu Kenzo segera menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan makanan untuk mereka sebab keduanya belum makan sejak pagi. Terakhir mereka makan sepertinya saat sebelum keduanya di rias untuk acara resepsi. Pantas saja perut mereka sudah berbunyi meminta untuk segera di isi.


Setelah memesan Kenzo melihat Irma yang mencoba turun dari ranjang dan mencoba menahan rasa perih yang tersisa di bagian bawah tubuhnya sisa-sisa percintaan keduanya semalam.


“Sayang, sini biar aku bantuin. Kamu mau kemana?” tanya Kenzo segera mendekati istrinya itu.


“Aku mau buang air kak.” Jawab Irma malu sebenarnya.


Kenzo pun tersenyum lalu segera menggendong istrinya itu ke kamar mandi, “Gak usah malu. Aku sudah melihat semuanya begitu juga denganmu. Kita sudah saling memiliki satu sama lain dan kau begini juga karena aku.” Ucap Kenzo lalu segera menurunkan istrinya itu di kamar mandi.


“Kak, sana keluar dulu. Irma masih malu. Walaupun kita sudah melakukannya.” Ucap Irma.


Kenzo pun mengangguk. Dia tidak ingin membantu istrinya itu semakin malu. Kenzo pun segera keluar dari kamar mandi membiarkan Irma menyelesaikan hajatnya itu.


***


Singkat cerita, kini selepas ashar sudah tiba MUA di kamar hotel di samping kamar hotel yang di tempati oleh Kenzo dan Irma. Mereka datang untuk membantu Irma bersiap untuk acara ngunduh mantu malam ini di kediaman Kiana dan Zean. Kiana memang ingin adiknya itu di bawah kesana. Dia ingin jadi bagian dari kebahagiaan adiknya. Freya dan mama Najwa pun menyetujuinya saja karena mereka tahu Kiana lebih berhak atas Kenzo dari pada mereka.

__ADS_1


Irma segera di rias. Sekitaran dua jaman dia di rias lalu setelah di rias dan sudah siap dengan pakaian adatnya bersama Kenzo mereka segera menuju mobil yang juga sudah di kirimkan oleh kakaknya untuk menyemput mereka.


Sekitar 20 menitan saja di perjalanan akhirnya mereka tiba di kawasan kediaman Kiana dan Zean berada. Kiana dan mama Najwa segera melakukan ritual penyambutan untuk Irma itu.


“Emm, Irma sangat cantik.” Ucap Frisya melihat Kenzo dan Irma yang sudah duduk di pelaminan.


“Kamu juga akan cantik bahkan lebih cantik dari itu nanti.” Timpal Fazar yang berada di sisi Frisya.


Frisya yang mendengar ucapan Fazar pun tersenyum, “Kakak ada-ada saja.” ucap Frisya.


“Setelah ini lamaran kita.” Ucap Fazar.


Frisya pun melihat ke arah lain saat Fazar membicarakan lamaran mereka yang akan di lakukan tiga hari lagi karena besok Frisya masih harus pergi menghadiri pernikahan Disa dan El.


Frisya segera menuju tempat minuman dan berpapasan dengan Jemi, “Sekretaris Jemi!” sapa Frisya tersenyum.


Jemi yang di senyumin oleh Frisya pun tersipu sendiri. Bagaimana tidak tersipu jika di senyumin oleh wanita yang kita cintai.


“Tuan Jemi jangan menatap calon istri saya seperti itu.” ucap Fazar mendekati Jemi saat Frisya bergabung dengan para kakaknya.


Jemi tersenyum, “Tenang saja asisten Fazar, saya akui memang saya memiliki perasaan kepada nona Frisya tapi saya sadar bahwa status saya adalah seorang duda. Selain itu juga dia adalah seorang gadis yang sebentar lagi akan anda lamar. Laki-laki yang dia cintai dan juga mencintainya. Saya tahu dan saya tidak ingin bersaing merebutnya dari anda. Saya hanya meminta izin untuk menatapnya saja dari jauh. Tapi jika nanti anda melukainya maka mungkin kerelaan saya hari ini akan saya khianati dan saya mungkin akan merebutnya dari anda.” Ucap Jemi lalu mengambil minuman dan pergi meninggalkan Fazar.


“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” Ucap Fazar kesal. Egonya sebagai lelaki terluka dengan perkataan Jemi itu.


Acara ngunduh mantu Kenzo dan Irma itu pun berjalan lancar tanpa kendala sedikit pun. Semua para tamu undangan sudah pada pulang.


Kini di dalam kediaman Kiana dan Zean hanya tinggal keluarga besar saja baik pihak Kenzo maupun Irma. Mereka sedang menikmati makanan.


“Sepertinya setelah ini kita akan menghadiri pesta pernikahan Risya dan kak Fazar.” Ucap Friska menggoda Frisya.


“Nyonya anda meledek saya. Bukankah anda tahu kapan waktunya.” Ucap Fazar.


“Mah, apa mama sama papa sudah merestui Fazar jadi suami putri kecil mama dan papa?” ucap Freya menatap mamanya.


“Mama sama papa setuju nak. Putri kecil kami itu hanya bisa di tangani oleh Fazar saja. Dia pria baik. Kami pasti menerimanya jadi menantu. Selain itu dia mencintai putri kami.” ucap papa Khabir.


“Papa, perkataan macam apa itu. Aku seperti pembangkang saja. Aku ini penurut.” Protes Frisya yang membuat semua orang tertawa.


“Makanya kak jangan suka meledek dan menggoda orang lain. Kini giliranmu tiba kau tidak menyukainya juga kan.” Ucap Mark.


“Ck, adik kecil kamu jangan ikut-ikutan. Kamu itu masih kecil. Fokus saja lulus kuliah.” Ucap Frisya.


“Aku akan cepat lulus dan menikah juga nanti.” Ucap Mark yang langsung di sambut heboh oleh keluarga.


“Cie … kak Reya adik kecil kita sepertinya sudah punya rencana sendiri juga.” Ucap Kiana.


“Paman kecil emang sudah punya usaha untuk membiayai hidup kak Wina?” ucap Azlen to the point menatap Mark dan Wina bersamaan.


“Ouh astaga Azlen mulutmu itu suka benar. Biar mami berikan uang untukmu.” Ucap Frisya menatap keponakan dinginnya itu.


“Aku gak butuh mih. Aku punya uang. Ayah juga punya banyak. Bunda juga.” Ucap Azlen menolak pemberian Frisya.


“Ck, kak anakmu ini memang menyebalkan.” Ucap Frisya menatap Freya.


“Dia tidak menyebalkan adik ipar tapi memang yang dia katakan itu benar semua.” Timpal Rezky.


“Sudah, jangan bicarakan itu lagi. Fazar kami menunggu kedatanganmu dan keluargamu di kediaman mama Najwa dan papa Khabir tiga hari lagi.” Ucap Alvino.

__ADS_1


“Tentu tuan.” Balas Fazar.


“Kenzo, Irma kapan kalian akan pergi bulan madu?” tanya Freya kepada sepasang pengantin yang diam saja menikmati makanan mereka.


“Kami akan pergi bulan madu nanti kak setelah Risya dan kak Fazar lamaran. Kami ingin hadir juga dalam lamaran mereka.” jawab Kenzo. Freya pun mengangguk mengerti atas jawaban yang di berikan oleh adiknya itu.


Acara makan malam keluarga itu berlangsung dengan sangat heboh dan candaan sana sini.


***


Singkat cerita, tiga hari kemudian. Kini di kediaman mama Najwa dan papa Khabir sudah banyak tamu yang berdatangan untuk menghadiri lamaran Frisya dan Fazar.


Frisya di kamarnya sedang di rias dan dia memakai kebaya pilihan Freya. Kebaya berwarna pink itu sangat cantik di tubuhnya.


“Ahh, kakak tidak menyangka adik kecil kakak ini sudah akan melakukan lamaran hari ini. Bagaimana perasaanmu dek?” tanya Freya.


“Aku gugup kak.” Jawab Frisya.


“Kakak pikir kau tidak bisa gugup. Bukankah biasanya kau itu sangat heboh dan tidak mengenal yang katanya gugup.” Goda Freya.


“Ck, kakak aku ini manusia biasa yang bisa saja gugup. Ini adalah lamaranku. Momen penting dalam hidupku.” Ucap Frisya.


Freya pun tersenyum lalu menggenggam tangan adiknya itu yang memang sudah selesai di rias, “Apa kau senang? Apa kau sudah yakin memilih Fazar jadi suamimu?” tanya Freya.


“Kaakk! Kenapa mengajukan pertanyaan ini di saat aku sudah mau lamaran dalam beberapa menit lagi?” ujar Frisya.


“Hey, kakak bisa membatalkan lamaran ini jika memang kau tidak menyukainya. Kakak bisa melakukannya untukmu dek.” ucap Freya.


Frisya tersenyum mendengar ucapan kakaknya itu yang dia tahu pasti mengkhawatirkan dirinya, “Kaak, jangan mengkhawatirkan aku. Aku yang memilihnya. Aku sudah siap untuk jadi istrinya. Seperti yang kalian katakan sebelumnya bahwa hanya dia yang bisa menerima semua sikapmu maka itu memang benar. Aku merasa sangat cocok dengannya. Dia adalah calon suami terbaik untukku.” Ujar Frisya.


“Apa kau mencintainya?” tanya Freya lagi.


Frisya tersenyum lalu mengangguk malu, “Hum, awalnya aku mengira itu hanyalah rasa kagum saja kak. Aku yang setiap kali tanpa sengaja bertemu dengannya di rumahmu atau di kantor kakak ipar saat kau mengajakku membuatku mengagumi kepribadiannya yang pekerja keras. Apalagi setelah aku tahu bahwa dia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Dia adalah tulang punggung keluarganya. Aku semakin mengaguminya. Namun ternyata tanpa sadar rasa kagum itu berubah menjadi perasaan lebih. Hatiku bergetar ketika melihatnya. Aku senang ketika melihatnya ada di dekatku dan saat aku butuh dia selalu ada untukku.” Jawab Frisya.


Freya yang mendengar penuturan adiknya itu pun tersenyum, “Syukurlah jika memang begitu. Kini kakak yakin bahwa kau memang menyukainya. Kau memang memiliki perasaan padanya.” ucap Freya.


“Ohiya ada yang ingin kakak katakan padamu. Dia memasang GPS di ponselmu. Untuk itulah dia selalu tahu keberadaanmu di mana pun itu. Dia sangat menyayangimu. Dia menjagamu. Dia mengagumimu dari awal ketemu denganmu. Dia mencintaimu dalam diam dek. Perjuangannya hampir mirip dengan perjuangan kakak iparmu untuk kakak.” Ucap Freya.


Frisya yang mendengar penjelasan kakaknya itu tersenyum, “Jadi dia yang menjagaku selama ini?” tanya Frisya dan Freya mengangguk tersenyum.


“Aku tidak menyangka hal itu kak. Dia tidak pernah cerita hal itu.” ucap Frisya.


“Untuk apa dia menceritakan hal itu kepadamu dek. Dia itu adalah laki-laki tulus yang menyayangi dan mencintaimu. Maka dari itu kau harus menghargainya. Dia sangat menyayangimu.” Ucap Freya.


“Aku tahu maksudmu kak. Aku juga menyayanginya.” Ucap Frisya.


“Itu berarti kau sudah siap kau untuk berbagi hidup dengannya? Kau yang memilihnya untuk jadi suaminya. Kau pun tahu apa pekerjaannya. Kami harap kau sudah memikirkan hal ini untuk kedepannya agar tidak ada penyesalan untukmu.” Ujar Freya realistis.


“Aku mengerti apa maksudmu kak. Dia memang hanya seorang asisten dan kemungkinan besar akan ada cerita yang membedakan suami kita nanti. Tapi aku katakan sekali lagi aku sudah memilihnya dan aku sudah bersiap untuk masalah ke depannya nanti. Aku yakin bisa menjalani semuanya dengan baik.” ucap Frisya.


Freya pun tersenyum lalu memeluk adiknya itu yang sudah dewasa dalam memikirkan semuanya. Sepertinya dia tidak perlu mengkhawatirkan adiknya itu. Adiknya itu sudah siap untuk membina rumah tangganya.


“Kakak bangga padamu dek. Kau sudah dewasa. Kakak pikir adik kecil kakak ini belum dewasa sehingga kakak sempat khawatir.” Ujar Freya.


“Kak, perkataan macam itu kak.” Ucap Frisya.


“Hey, kenapa kalian berpelukan tidak mengajakku.” Ujar Friska yang tiba-tiba masuk dan bergabung. Mereka bertiga pun segera berpelukan bersama-sama. Tiga bersaudara yang memiliki takdir mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2