Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
84


__ADS_3

“Sayang, kenapa pakaiannya sudah di pakai?” tanya Zean memeluk istrinya itu.


“Suamiku jika aku tidak memakai pakaian maka aku akan kedinginan. Maaf yaa suamiku aku tidak bisa melayanimu saat ini karena masih ada palang merah yang menghalangi. Salah sendiri menundanya?” ucap Kiana tersenyum lalu mengecup pipi suaminya itu dan dia segera duduk di depan lemari rias.


Zean yang mendengar ucapan istrinya langsung melemah, “Sungguh kau tidak bohong kan sayang? Kau hanya menggodaku saja kan?” tanya Zean berulang.


Kiana bukan menjawab dia justru tersenyum, “Aku berdosa jika harus membohongimu suamiku. Sungguh, maaf yaa! Aku juga gak tahu kenapa dia datang hari ini dengan cepat. Ini bukan jadwalnya tapi entah kenapa bulan ini dia datang lebih cepat.” Ucap Kiana membujuk suaminya itu.


Zean pun hanya bisa menatap sendu istrinya. Ini bukan salah istrinya tapi salahnya sendiri yang menundanya. Zean pun menatap istrinya itu, “Apa itu berarti saat malam pesta pernikahan kita nanti. Kita gak bisa--” ucap Zean tidak kuat melanjutkan perkataannya. Itu adalah hari yang dia tunggu tapi sepertinya tamu istrinya itu tidak menginginkannya datang.


Kiana yang mendengar ucapan suaminya segera mendekati suaminya lalu duduk di pangkuan suaminya itu, “Aku akan minum pelancar haid agar bisa lebih cepat selesainya. Semoga saja sudah selesai. Maaf yaa suamiku. Aku jadi merasa--” ucapan Kiana terhenti karena langsung di bungkam oleh bibir suaminya itu.


“Kau gak salah sayang. Aku yang salah karena menundanya. Lagian kau juga gak tahu kan para tamumu itu akan datang secepat ini. Sudah, gak masalah jika kita gak bisa melakukannya setelah malam resepsi itu lagian masih ada malam-malam yang lain.” Ucap Zean.


Kiana pun tersenyum lalu melabuhkan kecupan di kening suaminya itu, “Kalau begitu ayo kita makan siang dulu. Kasihan mommy dan daddy nanti menunggu.” Ucap Kiana hendak turun dari pangkuan suaminya tapi di tahan oleh Zean. Zean kembali mengecup bibir istrinya dan kali ini bukan sekedar kecupan saja tapi ciuman yang lembut dan dalam seolah Zean melampiaskan semua gairahnya yang di tunda itu dalam ciumannya. Kiana pun membalas ciuman suaminya dengan lembut.


Setelah sekitar lima menit keduanya larut dalam ciuman yang penuh perasaan itu akhirnya Zean melepaskan ciumannya lalu menggunakan jarinya untuk membersihkan sisa saliva mereka di bibir istrinya, “Ayo!” ucap Zean.


Kiana pun mengangguk dan tersenyum lalu keduanya segera kelua dari kamar mereka dan turun menuju lantai bawah tepatnya meja makan di mana di sana sudah ada dua orang menunggu.


“Hmm,, kenapa lama nak? Apa terjadi sesuatu?” tanya mommy Vania tersenyum menggoda menyambut kedatangan putra dan menantunya itu yang saling bergandengan tangan mesra.

__ADS_1


“Gak usah menggodaku deh mom. Aku lagi sensitif saat ini.” timpal Zean.


“Sensitif kenapa? Apa ada sesuatu yang menghalangi keinginanmu? Makanya jangan suka menunda.” Ujar mommy Vania menebak dengan tepat sasaran.


Kiana yang mendengar ucapan ibu mertuanya malu lalu dia tersenyum karena membenarkan ucapan ibu mertuanya itu, “Sudah, lebih baik ayo kita makan siang. Daddy sudah gak tahan mencicipi masakan buatan menantu daddy ini.” ujar daddy Rafael tersenyum menatap menantunya.


Zean yang mendengar bahwa sang istri memasak segera menatap istrinya, “Kamu benar yang memasak sayang?” tanya Zean sambil memeriksa seluruh tangan istrinya itu memastikan apa istrinya itu terluka atau tidak.


“Aku gak apa-apa kak. Aku memasak bareng mommy tadi. Mommy mengajariku makanan kesukaan kakak.” Ujar Kiana.


“Tenanglah nak. Gak usah terlalu posesif begitu. Dasar bucin. Perlu kau tahu mommy juga bukan mertua jahat yang akan membuat menantu mommy terluka.” Ucap mommy Vania menggoda putra dinginnya.


“Aku hanya khawatir mom.” Jawab Zean membela diri.


“Heheheh, ayo kita mulai makan saja. Maaf yaa dad. Ini semua karena putramu yang banyak drama jadi makan siang tertunda deh.” Ucap mommy Vania tidak mau di salahkan dan mulai mengambilkan makanan untuk suaminya itu.


Zean yang mendengar ucapan mommynya itu itu merasa tidak terima di salahkan namun Kiana menggeleng dan segera menggenggam tangan suaminya. Kiana segera mengambilkan makanan untuk suaminya itu, “Dad, lihat ekspresi putra kita. Mommy yakin dia sebenarnya ingin protes terhadap apa yang mommy katakan tapi sepertinya pawangnya melarang makanya dia diam begitu.” Bisik mommy Vania di telinga sang suami.


Daddy Rafael pun hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu. Dia senang melihat putranya itu bahagia. Untunglah mereka tidak memaksa putranya itu menikahi pilihan mereka karena jika itu terjadi maka mungkin mereka tidak akan melihat sifat manja Zean itu. Sungguh Kiana telah mengembalikan sifat manja putra mereka. Kiana adalah berkat untuk keluarga mereka. pada akhirnya makan siang itu pun berjalan dengan hikmat.


***

__ADS_1


Kita kembali ke pasangan yang masih sedang dalam tahap di comblangkan itu, pada pasangan yang sebenarnya saling mencintai satu sama lain tapi saling mendiami dalam kurun waktu yang lama karena sebuah kesalahpahaman.


Hari ini sang pria akan membuktikan itu semua kepada sang wanita bahwa semuanya hanya salah paham. Rezky segera menghentikan mobil itu di sebuah taman lalu dia segera turun dan membukakan pintu untuk Friska, “Terima kasih!” ucap Friska segera turun dan menatap taman di hadapannya.


“Kenapa kita kemari?” tanya Friska.


“Kita masuk ke dalam dulu. Aku akan menjelaskan semua kesalahpaham kita setelah duduk di bangku itu.” tunjuk Rezky pada bangku yang ada di taman itu.


Friska pun mengangguk lalu segera menuju bangku di bawah pohon yang rindang. Bangku yang selalu dia duduki di pagi hari jika dia datang ke taman ini sebelum ke klinik, “Apa kau tidak merasa asing dengan tempat ini?” tanya Rezk membuka pembicaraan.


Friska yang menikmati udara siang hari taman itu pun segera menatap Rezky, “Aku sering kesini sebelum ke klinik jika masih memiliki banyak waktu.” jawab Friska.


“Itu berarti aku tidak salah lihat dan salah mengenali. Itu memang kau.” Ujar Rezky.


Friska yang mendengar ucapan Rezky pun menatap pria itu dengan bingung, “Maksudnya?” tanya Friska.


Rezky tersenyum lalu menggeleng, “Gak. Bukan apa-apa.” Ujar Rezky tersenyum penuh misteri.


Friska pun hanya mengangguk saja. Dia tidak ingin memaksa Rezky bercerita walaupun dia penasaran. Selain itu juga dia ingin menjaga gengsinya, biasalah perempuan gengsinya itu tinggi makanya Friska tidak ingin terlihat antusias walaupun ingin. Friska kembali menatap bunga yang di hadapan mereka yang bergoyang karena di tiup angin.


Rezky segera membuka ponselnya karena memang rekaman CCTV itu sudah dia salin di ponselnya, “Aku ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi di antara kita. Kau bisa melihat rekaman ini dulu dan jika tidak mengerti maka kau bisa mengajukan pertanyaan.” Ujar Rezky sambil menyerahkan ponselnya kepada Friska.

__ADS_1


Friska hanya melihat sekilas ke ponsel Rezky itu lalu kembali menatap bunga di hadapannya, “Aku sudah tahu!” ucap Friska tersenyum.


__ADS_2