Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
82


__ADS_3

Friska yang mendengar ucapan Rezky kaget tidak percaya. Jangan katakan ini sudah rencana kakaknya. Apa kini dia sudah kalah?


Ting


Pesan masuk ke ponsel Friska itu. Dia pun segera membukanya yang ternyata pesan dari kakaknya, “Maaf dek. Mungkin kau merasa kakak tipu lagi namun ini kakak lakukan untuk kebaikanmu. Kakak tahu kau memiliki perasaan padanya. Dia pun sama dek. Dia datang kepada kakak kemarin dengan memohon agar bisa di izinkan bertemu denganmu untuk menjelaskan segala kesalahpahaman yang sudah terjadi antara kalian. Kakak kasihan padanya dek makanya kakak memberikan kesempatan ini padanya. Maafkan dia jika memang kau sudah bisa menerima semuanya. Bukankah kau sudah tahu semuanya? Kakak harap kau bisa mengambil keputusan yang bijak untuk kebahagiaanmu di masa depan. Satu pesan kakak jangan menyia-nyiakan seseorang yang mencintaimu dengan tulus karena hati bisa saja berubah jika selalu di sakiti. Okey, selamat makan siang dan selamat berbahagia. Doa kakak selalu ada untuk kalian. Kakak tunggu kabar baiknya yaa.” Begitulah izin chat dari Freya itu.


Friska yang sudah membaca pesan kakaknya pun hanya menghela nafasnya kasar dan menatap laki-laki di hadapannya yang sudah makan siang lebih dulu tanpa rasa bersalah, “Kapan anda menemui kakak?” tanya Friska sambil mendekatkan piring makanannya ke hadapannya.


Rezky menatap Friska lalu tersenyum, “Kemarin. Saya datang menemuinya saat pulang kerja. Maaf jika saya langcang melakukannya namun hanya itu yang bisa saya lakukan. Mungkin terlihat pengecut tapi tidak masalah selama bisa mendapatkan kesempatan darimu dan izin dari kakakmu menemui adiknya ini. Tidak masalah jika harus jadi pengecut.“ ujar Rezky. Yah, Rezky memang datang menemui Freya kemarin sore untuk meminta izin menjelaskan semua kesalahpaham yang terjadi antara dia dan Friska.


Friska yang mendengar itu tersenyum tipis, “Tapi setidaknya jangan mengandalkan bantuan orang lain. Anda sudah banyak melakukan kecurangan. Anda sudah di bantu oleh papi William dan mami Sinta lalu kini kakak dan sepertinya kakak ipar juga. Setidaknya jangan terlalu terlihat pengecut.” Ucap Friska.


Rezky tertawa mendengar itu karena dia senang sepertinya gadis di hadapannya ini mulai menerima kehadirannya, “Gak masalah dengan sebutan itu. Gak masalah jika saya harus di juluki dengan sebutan pengecut. Bukankah semua adil dalam perang dan cinta?” ujar Rezky tersenyum.


Friska yang mendengar itu pun tersenyum sambil mengangguk-ngangguk lalu dia minum minumannya. Rezky yang melihat senyuman di wajah gadis di hadapannya pun tersenyum bahagia karena akhirnya dia bisa melihat senyum cantik itu, “Saya suka melihatmu tersenyum seperti itu.” ujar Rezky.


Friska pun segera menghentikan senyumnya begitu Rezky mengatakannya pujiannya, “Dasar gombal. Saya belum memaafkan anda. Ingat itu baik-baik.” ucap Friska tajam lalu kembali fokus makan.


Rezky pun mengangguk, “Saya tahu dan saya akan berusaha untuk mendapatkan maaf itu. Setelah kau memaafkan saya maka saya pastikan keesokkan paginya saya akan datang untuk melamarmu ke keluargamu.” Ucap Rezky percaya diri.

__ADS_1


“Jangan kepedean. Siapa juga yang akan menerima anda nanti. Saya akan menolaknya nanti.” Ucap Friska sinis. Rezky hanya tersenyum mendengar hal itu lalu mereka kembali melanjutkan makan siang itu bersama dengan penuh hikmat dan di liputi kebahagiaan walaupun Rezky belum mendapatkan maaf.


***


Setelah selesai makan siang hendak membayar, “Biar saya yang bayar hitung-hitung belajar menjadi suami yang baik.” ucap Rezky segera melakukan pembayaran. Walaupun sebenarnya Friska dan Freya tidak masalah jika tidak membayar karena itu memang bagian dari klinik Freya. Namun bagi Freya walaupun itu usaha milik mereka tetap harus membayar.


Friska pun hanya mengangkat alisnya dan segera berbalik meninggalkan Rezky kembali menuju ruangannya, “Bisa kamu ikut dulu dengan saya hari ini. saya akan menjelaskan semua kesalahpahaman di antara kita. Tenang saja saya--”


“Apa sudah minta izin kepada kakak lagi? Apa dia juga mengizinkannya lagi?” potong Friska tanpa menatap Rezky yang berlari mengikutinya.


“I-itu karena--” ucap Rezky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena pusing harus menjawab apa.


Rezky pun segera berhenti lalu mencoba mencerna ucapan Friska, “Apa itu artinya dia masuk ikut dengan saya? Ahh sepertinya memang begitu. Kalau begitu saya sholat juga lebih dulu.” Ujar Rezky segera menuju mushola.


Singkat cerita, kini Rezky sudah kembali dari mushola dan dia pun sudah berada di pintu ruangan milik Friska, “Ketuk tidak? Ahh ketuk saja--” ucap Rezky setelah dilanda dilema besar apa harus mengetuk pintu di hadapannya itu atau tidak.


Tok tok tok


Akhirnya Rezky memberanikan diri mengetuk pintu ruangan bertuliskan nama Bd. Friska Nur Sakila Abraham S.Keb. Tidak lama dia mengetuk pintu akhirnya pintu itu terbuka bersamaan dengan seorang gadis yang juga keluar lengkap dengan tas di pundaknya, “Ayo!” ucap Friska lalu segera jalan duluan.

__ADS_1


Rezky yang melihat itu pun tersenyum lalu segera menyusul Friska yang sudah jalan lebih dulu dan menyamakan langkah dengan gadis di sampingnya itu. Rezky tersenyum karena dia tidak salah mengira dan mengartikan perkataan Friska. Sepertinya sedikit demi sedikit dia sudah mulai bisa memahami kamus wanita yang sangat jauh berbeda dengan kamus bahasa Indonesia pada umumnya.


“Kita mau kemana?” tanya Friska saat mereka sudah tiba di parkiran dan berdiri di antara dua mobil yang berdekatan yang juga tidak lain adalah mobil milik mereka masing-masing.


“Kau ikut saja naik mobil saya.” ujar Rezky.


Friska menggeleng, “Katakan saja alamatnya saya akan mengikuti dari belakang dengan menggunakan mobil saya sendiri.” Ucap Friska.


Rezky pun menggeleng mendengar ucapan Friska itu, “Saya tidak setuju. Jika kita naik mobil masing-masing maka tidak baik dan tidak romantis sama sekali. Saya tidak mau hal itu terjadi. Seperti pasangan yang saling marahan saja.” Ucap Rezky menggeleng lagi.


Friska yang mendengar itu pun hanya bisa menghela nafas kasar, “Ternyata anda sangat keras kepala yaa.” Ucap Friska lalu segera membuka pintu mobil Rezky di samping kemudi.


“Ohiya, perlu di ingat kita bukan pasangan dan saya belum memaafkan anda jadi jangan berharap anda romantis-romantisnya.” Ucap Friska lalu segera masuk ke mobil.


“Iya untuk sekarang tapi tidak lama lagi kau akan jadi istri saya dan kita akan jadi pasangan romantis.” Gumam Rezky.


“Saya mendengarnya. Jangan terlalu berharap tinggi. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ohiya apa anda mau terus di luar saja? Katakan saja jika kita tidak jadi pergi, saya akan segera turun dan akan kembali masuk ke ruangan saya.” ucap Friska sambil tangannya hendak membuka pintu.


“Jangan keluar. Kita segera berangkat.” Ucap Rezky segera masuk ke mobilnya itu dan memakai sabuk pengaman. Begitu pun dengan Friska dia segera memakai sabuk pengamannya. Tidak lama mobil itu pun mulai meninggalkan parkiran Freya Klinik menuju satu tempat.

__ADS_1


__ADS_2