
Friska kini sudah pulang ke apartemen tepat waktu sholat isya. Dia masuk ke apartemen dengan wajah cemberut. Frisya yang memang sedang duduk di sofa menikmati drama korea yang dia tonton menatap kakaknya yang baru masuk, “Sudah pulang kak?” tanya Frisya basa-basi karena melihat muka kakaknya yang tidak bersahabat.
Friska segera duduk di sofa itu lalu menutup matanya, Frisya yang melihat itu pun hanya membiarkannya saja karena dia juga tidak ingin memaksa kakak keduanya itu bercerita tapi sedikit banyaknya dia bisa menduga penyebab kakaknya cemberut sekarang pasti terkait ulang tahun itu, “Dek, kakak ke kamar dulu.” Ucap Friska segera berdiri dan berlalu menuju kamarnya.
Frisya pun hanya mengangguk saja lalu dia juga segera mematikan tv dan masuk ke kamarnya karena memang sudah waktu sholat.
Di dalam kamar, Friska yang sudah masuk bukannya langsung bersiap sholat tapi dia justru merebahkan tubuhnya d ranjang sambil menatap langit kamarnya sambil mengingat pembicaraannya tadi, “Kenapa sakit yaa Allah!” gumam Friska meneteskan air matanya sambil menekan dadanya kuat-kuat.
Flash back on
“Apa kita bisa bicara sebentar!” ucap seseorang tiba-tiba sudah ada di depannya.
Friska yang sedang minum jus di kursi menatap siapa yang bicara dengannya, “Iya bisa pak.” Jawab Friska.
Rezky yang mendengar panggilan pak keluar dari bibir gadis cantik yang entah kenapa mengganggu tidurnya akhir-akhir ini hanya tersenyum miris, “Bisa bicara di taman belakang saja? Di sini--” ucap Rezky sambil menatap sekeliling.
Friska segera mengangguk saja dan mengikuti Rezky yang berjalan ke taman belakang. Saat keduanya berlalu ke taman belakang ada seseorang yang melihatnya dan dia tersenyum.
Begitu sampai di taman belakang kedua orang itu hanya diam tidak ada yang berniat memulai pembicaran. Setelah sekitar lima menit keheningan terjadi akhirnya Rezky berdehem.
__ADS_1
“Riska, saya hanya ingin meminta maaf atas apa yang saya lakukan saat itu.” ucap Rezky.
Friska yang mendengarnya hanya menutup mata sambil menetralkan nafasnya karena tidak ingin Rezky mengetahui bahwa dia tidak baik-baik saja mendengar perkataan itu seolah apa yang terjadi padanya saat itu terputar di hadapannya bagai sebuah film, “Saya sudah maafin bapak kok. Saya mengerti bapak saat itu hanya iseng saja.” jawab Friska.
Rezky yang mendengarnya hanya bisa tersenyum pahit karena jelas perkataan mantan mahasiswanya itu adalah sebuah sindirin pedas untuknya, “Maaf Riska!” ucap Rezky karena tidak tahu harus mengatakan apa.
Friska tertawa tapi tawanya justru terdengar sedih dan sumbang, “Sudahlah pak, saya sudah melupakan masalah itu, saya juga sudah memaafkan bapak. Lagian saya juga yang bodoh tidak bisa menyelesaikan tugas yang bapak berikan dengan baik. Jika hanya itu yang ingin bapak katakan, saya pamit undur diri karena takut menimbulkan fitnah.” Ucap Friska lembut tapi menyakiti Rezky yang mendengarnya.
Rezky yang melihat Friska berbalik secara refleks menahan lengan gadis itu, “Emm maaf Riska. Kamu gak bodoh Riska, kamu sangat pintar dan cerdas hanya saja saya yang bodoh saat itu entah kenapa mempersulitmu.” Ucap Rezky merasa bersalah.
Friska tersenyum, “Sudahlah pak, semua juga tinggal masalalu.” Ujar Friska lalu berlalu dari sana.
Friska yang mendengar itu seketika air matanya menetes tapi segera di hapusnya, “Ada apa dengan Friska? Kenapa kau menangis? Apa kau tidak terima rencana mereka gagal? Yaa Allah tolonglah hambamu yang lemah ini.” batin Friska.
Sementara Rezky yang memandangi punggung Friska yang menghilang di balik tembok hanya bisa menunduk sambil menekan dadanya kuat-kuat, “Maaf Riska, aku hanya tidak ingin kau merasa tersiksa lagi dengan kedekatan yang di ciptakan mami untuk kita. Walau di sisi lain aku sangat berharap bahwa semua ini bisa berjalan dengan baik. Aku sakit Riska mendengarmu memanggilku seperti itu.” batin Rezky bergemuruh karena mencoba menahan tangis.
Flash back off
Friska segera membuka matanya dan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan bersiap sholat. Sekitar tiga puluh menit Friska mengadu kepada tuhannya.
__ADS_1
“Kak, ayo makan malam.” Teriak Frisya dari luar.
Friska pun segera melepas mukenahnya dan keluar hanya dengan memakai daster di bawah lutut dengan lengan satu per tiga di bawah siku. Dia keluar tanpa hijab karena mereka hanya berdua dan sama-sama perempuan.
“Silahkan makan kak. Ini makanan kiriman kak Reya.” Ucap Frisya mulai menghidangkan makanannya.
Friska yang mendengar nama kakaknya di sebut seketika teringat akan gaun, dia akan menanyakannya langsung dari kakaknya itu alasan kenapa dia memberikan gaun itu kepadanya, “Kak, ayo makan!” ucap Frisya menghentikan lamunan Friska.
Friska pun segera mengangguk lalu berdoa dan kedua kakak beradik itu makan bersama dalam keheningan. Sebenarnya Frisya tidak tahan situasi seperti ini, dia itu adalah orang yang suka keramaian dan keceriaan jadi dia paling benci situasi hening seperti ini tapi berhubung dia mengerti bahwa kakak keduanya itu sedang sedih, mau tak mau dia pun menerima kondisi ini, “Ahh menyebalkan! Entah apa yang membuat kak Ris jadi sangat pendiam begitu. Pasti karena dosen menyebalkan itu.”batin Frisya menyumpahi Rezky karena menatap Friska yang sedih begitu.
“Kak, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Frisya yang sudah tidak tahan melihat diamnya kakak keduanya.
Friska tersenyum, “Gak, kakak hanya lelah saja. Kakak istirahat dulu yaa. Maaf tidak bisa membantumu membereskan ini.” jawab Friska.
“Sudahlah, gak apa-apa kak. Kau seperti siapa saja. istirahatlah, Serahkan ini kepada adik cantikmu ini.” ucap Frisya tersenyum lebar mencoba bercanda dengan kakaknya itu.
Friska yang melihat itu tersenyum lalu segera berlalu meninggalkan adiknya ke kamar. Frisya yang melihat kepergian kakak keduanya hanya bisa menghela nafas, “Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu kak, aku tahu ada sesuatu yang terjadi di sana hanya saja kau tidak ingin membaginya denganku. Ahh aku hanya berharap kau baik-baik saja.” gumam Frisya lalu segera membereskan bekas makanan mereka.
“Maaf dek, aku belum siap cerita. Aku lagi kecewa dengan kakak. Entah kenapa dia membohongiku.” Batin Friska begitu masuk kamar. Setelah itu Friska segera merebahkan tubuhnya di ranjang dan tidak lama dia tertidur. Mungkin kelelahan karena beberapa hari ini tidurnya tidak terjaga maka malam ini dia tertidur nyenyak padahal sedang pusing memikirkan masalah yang terjadi.
__ADS_1
Sementara di sisi lain tepatnya di sebuah kamar ada seseorang yang masih terjaga sambil menatap gugusan bintang di sana, “Aku minta maaf! Tolong maafkan apa yang telah aku lakukan. Aku menyayangimu. Entah kenapa aku melakukan itu padahal pada kenyataannya yang kau lakukan itu sudah benar dari awal hanya saja aku sengaja mempersulitmu. Maafkan aku!” gumamnya menatap langit malam di balkon kamarnya.