
Keesokkan harinya, seperti biasa setiap pagi pasti terjadi aktivitas yang sama di kediaman Alvino dan Freya itu. Para anak-anak yang bersiap untuk ke sekolah mereka serta para orang dewasa yang bersiap menuju tempat kerja masing-masing.
Lepas sarapan bersama, anak-anak segera berangkat bersama Alvino menuju sekolah mereka dan Alvino menuju kantornya tapi dia menyempatkan untuk mengantar anak-anaknya itu ke sekolah mereka sebelum dia berangkat kerja.
Kini tinggalah tiga bersaudara itu yang masih di rumah dengan para art Freya, “Dek, gak usah ke klinik hari ini.” ucap Freya menatap Friska yang sudah siap berangkat.
Friska pun menatap kakaknya seolah bertanya kenapa, “Keluarga Rezky akan datang ke rumah papa dan mama hari ini untuk datang melamarmu. Jadi lebih baik kau segeralah pulang ke sana.” Ucap Freya.
Friska yang mendengar ucapan kakaknya tidak percaya, “Masa sih kak? Kok aku gak tahu. Kak Rezky juga gak bilang apapun.” Ucap Friska yang memang tidak tahu menahu lamarannya.
“Bagaiamana kalian bisa saling menghubungi jika kalian gak bertukar nomor ponsel? Dia sudah menghubungi kami semalam. Mami Jasmin dan Papi Harry juga sudah menghubungi mama dan papa untuk lamaran ini. Papa dan mama sekarang sedang sibuk, jadi kau lebih baik segera pulang kesana. Kakak akan menyusul nanti karena masih harus membeli apa yang di pesan oleh mama.” Jelas Freya.
“Tapi kak, aku lebih baik pulang bersamamu saja.” tolak Friska.
Freya segera menggeleng, “Gak boleh. Kamu harus sudah di sana sebelum mereka datang. Sudah gak usah menolak dan mencari alasan.” Ucap Freya.
Frisya yang dari tadi hanya mendengarkan pembicaraan yang terjadi antara kedua kakaknya itu pun akhirnya ikut bicara, “Sudahlah kak Ris turuti saja keputusan kak Reya.” Ucap Frisya tersenyum menggoda kakak keduanya itu. Friska pun hanya bisa menatap adiknya itu dengan kesal dan wajah cemberut.
“Sudah jangan ribut. Ohiya kau juga Risya perjelas hubunganmu dengan Fazar. Jika tidak menyukainya dan tidak tertarik sama sekali padanya maka katakan langsung padanya. Jangan menggantungnya seolah kau memberinya harapan padahal kau tidak menyukainya.” ucap Freya menatap adik bungsunya itu.
__ADS_1
Frisya pun hanya mengangguk tanpa membalas ucapan kakaknya itu, “Kak!” panggil Friska memecahkan keheningan yang tercipta setelah Freya menegur Frisya.
Freya pun kembali menatap adik keduanya itu, “Ada apa?” tanya Freya sambil mengangkat alis.
“Kak, kau tahu alasanku menjauhi kak Fazar. Itu semua ku lakukan karena perkataanmu beberapa hari lalu. Aku--” ucap Frisya mengutarakan perasaannya.
“Jika kau memang menyukainya maka katakan tapi ingat jangan merendahkan diri.” Ujar Freya.
Frisya yang mendengar ucapan Freya tersenyum lalu mendekati Freya dan memeluknya, “Terima kasih kak.” Ucap Frisya.
“Kakak tahu apa perasaanmu tapi kakak ingin kau memastikannya sendiri. Jangan memendamnya hanya karena kakak. Fazar sudah mendapat restu dari kakak tapi adikku ini sangat berharga. Masa iya perjuangan Fazar untuk meraih cintamu hanya segitu maka semua keputusan ada padamu dek. Kakak serahkan semuanya padamu. Sudah sana kau siap-siap pergi praktik dulu. Kakak juga mau siap-siap dan kau Riska siap-siap pulang jangan ke klinik lagi.” Ucap Freya lalu segera meninggalkan kedua adiknya itu.
Frisya tersenyum mendengar ucapan kakak keduanya itu, “Aku juga merestui kak Rezky untuk jadi kakak iparku. Selamat untukmu kak sebentar kau akan mengadakan lamaran walau ini belum lamaran secara resmi tapi aku tetap akan mengucap selamat untukmu.” Balas Frisya.
Friska pun mengangguk lalu akhirnya kedua gadis itu pun sambil bergandengan tangan keluar kediaman Freya untuk pergi ke tujuan mereka masing-masing. Freya yang melihat interaksi antara kedua adiknya itu tersenyum, “Aku harap kalian selalu bahagia dek. Kalian adalah adikku. Aku masih memiliki tugas untuk menyatukan adikku yang satunya lagi.” Ucap Freya tersenyum mengingat foto yang di berikan oleh putranya. Setelah itu Freya segera menuju kamarnya untuk siap-siap.
***
Di sisi lain, Kenzo baru saja tiba di kantor dan segera menuju ruangannya begitu keluar dari lift. Dia melihat ke arah tempat duduk sekretarisnya yang masih kosong dan hanya ada sekretarisnya di sana, “Di mana dia?” tanya Kenzo bertanya pada Grey.
__ADS_1
“Dia? Ouh Irma dia hari ini izin datang terlambat tuan karena harus pergi ke suatu tempat sebelum kesini.” Jawab Grey.
Kenzo pun mengangguk lalu dia segera masuk ke ruangannya. Dia segera duduk di kursi kerjanya dan tidak lama Grey pun masuk untuk membacakan jadwalnya hari ini. Grey segera menyelesaikannya tugasnya itu dengan cepat dan hendak keluar, “Jika mahasiswi magang itu sudah tiba segera minta dia untuk menyiramkan kopi untuk saya.” ucap Kenzo.
Grey yang mendengar itu pun berbalik, “Apa saya saja yang akan membuatkan kopi untuk anda tuan?” tawar Grey.
Kenzo menggeleng, “Gak usah. Kamu kerjakan saja tugasmu. Biarkan saja itu menjadi tugasnya.” Tolak Kenzo.
Grey pun mengangguk saja lalu dia segera keluar dari sana sambil bertanya-tanya apa sebenarnya yang sudah terjadi antara Kenzo dan Irma itu kemarin saat dia pergi melakukan fitting. Apa ada yang tidak dia ketahui yang sudah terjadi di antara mereka, “Ahh terserahlah. Kenapa aku pusing dengan itu. Biarkan saja jika mereka memiliki hubungan. Lagian pak dirut dan Irma juga cocok. Mereka mirip.” Gumam Grey lalu segera duduk di kursinya dan mulai bekerja.
Tidak lama setelah itu Irma datang sambil berlari, “Selamat pagi kak. Maaf aku terlambat.” Ucap Irma sambil terengah-engah.
Grey tersenyum menatap Irma lalu menggeleng, “Gak apa-apa kok. Tapi kamu di cari-in tuh sama pak Dirut.” Ucap Grey tersenyum.
Irma pun menatap Grey dengan bertanya lalu seketika dia sadar, “Ahh apa pak dirut meminta kopi?” tebak Irma tepat.
Grey pun mengangguk dengan perlahan sambil menatap Irma dalam, “Ada apa denganmu dengan pak dirut? Apa aku melewatkan sesuatu? Apa sudah terjadi sesuatu di antara kalian yang tidak aku ketahui?” tanya Grey penasaran.
Irma yang mendengar pertanyaan dari Grey pun tersenyum, “Kau terlalu banyak berpikir kak. Kami gak memiliki hubungan apapun selain sebagai atasan dan bawahan. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh.” Ucap Irma lalu segera menuju tempat pembuatan kopi untuk membuatkan kopi kepada Kenzo.
__ADS_1
Grey yang mendengar jawaban Irma hanya bisa diam mengolah informasi yang dia terima itu, “Aku yakin ada sesuatu di sini? Aku sangat hafal pak Dirut. Dia tidak akan mengizinkan siapapun dekat dengannya jika dia tidak nyaman.” Gumam Grey.