
Semua orang pun menatap ke arah Disa. Seketika Disa terdiam melihat siapa yang duduk membelakangi pintu itu, “Kak El!” Ucap Disa lirih.
Frisya tersenyum menyadari kata yang keluar dari bibir temannya itu. Frisya segera berdiri dan mendekati Disa lalu memeluk Disa sambil cipiki cipika, “Jangan terlalu di perlihatkan kau kaget dengan keberadaan kak El. Bukankah kau tahu aku memang bekerja dengan kak El. Ubah ekspresimu ke normal. Jika tidak mulutmu yang menganga itu akan kemasukan lalat atau serangga yang lain.” Bisik Frisya di telinga Disa dengan akhir kalimatnya menggoda temannya itu.
Disa yang mendapat bisikkan dari Frisya pun hanya bisa menggeram dan menatap kesal kepada sahabatnya satu-satunya itu, “Sudah-sudah. Jangan kesal begitu. Nanti jelek.” Goda Frisya lalu segera menggandeng Disa menuju kursi di sampingnya.
“Ini Disa sahabatku yang paling cantik tadi katanya. Kalian sudah pada kenal kan.” Ucap Frisya.
Jery dan Dino pun mengangguk kompak mendengarkan ucapan Frisya itu, “Tentu saja kami kenal dong.” Ucap keduanya lagi-lagi kompak.
“Kalian seperti anak kembar saja. Kompak.” Ucap El lalu menyeruput kopinya yang baru saja datang itu.
Dino dan Jery pun yang mendengar apa yang di ucapkan oleh El pun hanya bisa menatap kesal, “Abang El kami itu ramah dalam menyambut seorang teman. Emang situ yang cuek bener.” Ucap Jery. El pun hanya mengangkat alisnya mengabaikan ucapan Jery itu.
Tidak lama pesanan mereka datang, “Disa, kau mau pesan apa? Jika makanan yang di pesan Jery dan Dino tidak sesuai seleramu. Kau pesanlah. Ini menunya.” Ucap Frisya sambil menyerahkan menu kepada sahabatnya itu.
Disa menggeleng, “Emm, ini adalah resto kak Reya. Jadi sudah pasti makanan di sini adalah makanan kesukaan kak Reya saja dan semua makanan kak Reya adalah makanan favoritku.” Ucap Disa mencoab bersikap normal walaupun dia gugup ketika matanya itu beradu dengan mata milik El. Disa itu sebelas dua belas dengan Frisya yang memiliki sisi ceria mereka yang bisa di katakan tidak menyukai kesunyian dan lebih suka kehebohan. Namun entah kenapa sikap hebohnya dan cerianya itu seolah tenggelam hanya dengan berada satu ruangan dengan El dan beradu pandang dengan pria itu. Disa yang tidak menyukai tipe pria dingin tapi entah kenapa begitu di hadapkan dengan El, gadis seumuran Frisya itu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
“Hehehhh, kau bisa aja dek. Restoran kak Freya selain menjual makanan kesukaan kak Reya sendiri sudah mulai menjual makanan kesukaan kak Vino.” timpal El tertawa lalu menyeruput kopi.
Disa pun hanya tersenyum tipis lalu menatap Frisya. Jujur saja dia salah tingkah karena ucapannya di tanggapi oleh El, “Ahh benar apa yang di katakan kak El. Resto ini memang sudah menyediakan menu kesukaan kakak dan kakak ipar kecuali resto kakak yang pertama itu masih menu kesukaan kakak semua.” Ucap Frisya mencoba menghilangkan kecanggunggan dalam diri sahabatnya itu. Dia tahu saat ini Disa sedang gugup.
“Sudah. Lebih baik kita makan saja. Jangan membuat makanan menunggu. Kasihan juga Jery dan Dino yang sudah tidak sabar makan.” Ucap Fazar di angguki oleh Jery dan Dino sebelum menyadari kalimat akhir Fazar.
__ADS_1
“Aish, bang kau mempermalukan kami.” Ucap Dino saat dia menyadari kalimat Fazar.
Frisya dan Disa pun tertawa melihat Dino dan Jery yang sedang menatap kesal kepada Fazar sementara Fazar mah bodoh amat. Dia bahkan sudah mulai mengambil makanannya, “Dek, ini untukmu.” Ucap Fazar memberikan makanan yang di sukai oleh Frisya.
Frisya pun menerimanya dengan tersenyum, “Terima kasih.” Ucap Frisya.
Dino dan Jery melihat makanan yang di berikan oleh Fazar untuk Frisya itu, “Emm, sepertinya kami gak memesan makanan itu deh. Kok bisa ada di sini?” ucap Jery lalu menatap Dino.
Dino pun menggeleng, “Aku juga gak memesannya. Terus siapa yang memesannya?” tanya Dino juga.
“Sudah kalian berdua itu makan saja. Kenapa masih bertanya siapa yang memesannya?” ucap El tajam.
Dino dan Jery pun menunduk saja, “Kami kan hanya ingin tahu.” Ucap Dino di angguki oleh Jery.
Frisya yang melihat itu tersenyum, “Jika kalian menyukainya. Pesan saja. Kak Fazar yang memesannya, dia tahu aku menyukai ini sama seperti kakak yang juga menyukai makanan ini.” ucap Frisya.
Frisya pun mengangguk lalu kedua gadis itu segera bertukar tempat duduk, “Disa, kau yakin tidak ingin memesan lagi?” tanya Frisya.
Disa mengangguk yakin. Frisya pun tersenyum lalu mereka segera menyantap makanan masing-masing, “Dek, bisa minta tolong ambilkan itu!” tunjuk El kepada tisu karena dia sudah selesai makan.
Disa pun mengangguk lalu segera mengambilkan tisu itu kepada El, “Terima kasih!” ucap El. Disa hanya tersenyum mengangguk.
Frisya hanya tersenyum melihat itu, “Apa temanmu itu menyukai El?” tanya Fazar berbisik di telinga Frisya. Frisya pun tersenyum lalu menatap Fazar seolah dia menjawab ya untuk pertanyaan Fazar itu.
__ADS_1
“Mereka cocok sama seperti kita.” Ujar Fazar lagi berbisik.
Frisya pun tersenyum, “Ehemm, apa yang kalian bisik-bisikkan. Makan yang serius bang, Risya.” Ucap Jery menyindir Frisya dan Fazar.
Frisya dan Fazar yang di sindir pun hanya tersenyum saja lalu keduanya kembali fokus makan. Tidak lama akhirnya mereka selesai makan.
“Risya!” panggil El. Frisya pun segera menatap El.
“Emm, kapan pernikahan kakak keduamu?” tanya El berusaha menyembunyikan kegugupannya karena dia sudah mengumpulkan keberaniannya itu untuk menanyakan hal itu tapi nyatanya Frisya masih menyadari ada nada bergetar dalam suara El itu.
“Pernikahan kak Ris dan kak Rezky sepertinya tidak akan lama lagi. Tapi untuk kepastiannya itu belum tahu karena mereka belum memastikan tanggalnya. Emang ada apa bang?” tanya Frisya.
El menggeleng, “Gak ada apa-apa hanya bertanya saja.” ujar El.
Disa yang melihat kesedihan di mata El itu hanya diam saja. Disa kaget begitu ada tangan yang menggenggam jemarinya yang ternyata itu adalah Frisya. Disa tersenyum menatap Frisya itu lalu sedikit menggeleng seolah mengatakan bahwa dia gak apa-apa.
“Ini bang kartumu.” Ucap Dino memberikan kartu kredit milik Fazar itu.
Fazar pun menganguk saja lalu segera menyimpan kartu kredit miliknya. Lalu setelah itu mereka segera berencana pulang, “Disa, kau yakin pulang sendiri. Kami anterin deh. Kami akan mengikutimu dari belakang.” Ucap Frisya khawatir.
Disa tersenyum, “Jangan khawatir begitu. Aku sudah dewasa. Aku bisa menjaga diriku. Kita kan sudah belajar ilmu beladiri.” Ucap Disa tersenyum.
“Aku tahu tapi tetap saja.” ucap Frisya.
__ADS_1
“Di mana alamatmu?” tanya El. Disa yang mendengar itu pun segera menatap pria yang hendak naik mobilnya itu lalu dia menatap Frisya. Disa pun segera menyebutkan alamat lengkapnya.
“Kebetulan kita searah. Kita bareng saja.” ucap El lagi.