
Keesokkan paginya, Friska sangat bangun terlambat. Jika saja teleponnya tidak berdering dia tidak terbangun.
Drt … drt … drt …
Tanpa melihat siapa yang menelponnya Friska langsung saja menekan ikon hijau di ponselnya karena dia masih dalam keadaan setengah sadar. Nyawanya belum terkumpul semuanya.
“Halo, Assalamu’alaikum sayang!” ujar Rezky dari seberang.
“Wa’alaikumsalam. Hum, ada apa menelponku pagi buta begini. Riska masih mau tidur kak. Riska mengantuk.” Ujar Friska dengan suara khas bangun tidur hingga Rezky di sana yang mendengarnya tersenyum.
“Sayang, lihatlah jam dinding sekarang.” Pinta Rezky.
“Untuk apa coba melihat jam dinding. Itu masih pa--” Friska perlahan membuka matanya dan melihat jam di mejanya yang sudah menunjukkan pukul 10.11.
Friska segera bangun dari tidurnya dengan cepat, “Apa? Kok sudah jam 10 lewat? Ahh ini gak mungkin.” Ujar Friska terkejut bahkan sampai melempar ponselnya tapi untuk saja ponselnya itu terjatuh di kasur empuk sehingga tidak ada cedera yang akan terjadi pada ponsel kesayangannya itu. Hum dramatis. Untuk memastikan kembali bahwa jam nya tidak bermasalah dia melihat kembali jam itu dengan seksama lalu dia memeriksa ponselnya yang menunjukkan angka yang sama.
“Ahh menyebalkan! Kenapa Risya gak membangunkan aku. Aku bangun sangat telat.” Ujar Friska jengkel. Tapi tidak tahu harus jengkel kepada siapa. Dia tidak bisa menyalahkan adiknya itu karena memang Frisya pasti tidak tega membangunkannya.
Rezky yang di seberang mendengar semua ucapan calon istrinya itu tersenyum. Dia sudah bisa menduga bagaimana ekspresi yang di tunjukan oleh calon istrinya itu. Hanya dengan mendengar suara dia sudah bisa menduganya.
“Sayang!” akhirnya Rezky bersuara.
Friska yang mendengar ada yang memanggilnya baru menyadari bahwa sambungan telepon dengan calon suaminya itu masih tersambung. Friska pun mengambil ponselnya dan kembali mendekatkan ke telinganya, “Apa kakak mendengar semuanya?” tanya Friska.
“Iya sayang. Sudahlah. Gak apa-apa kok. Lagian kamu kan gak salah. Kamu gak melanggar aturan apapun. Kamu sedang cuti saat ini dan sedang udzur juga. Jadi gak apa-apa bangun telat. Santai saja.” ujar Rezky menenangkan calon istrinya itu. Dia tidak ingin Friska memulai harinya itu dengan kekesalan. Apalagi calon istrinya itu sedang menstruasi. Nah jika sudah dari awal dia kesal maka mungkin semuanya akan berakhir dengan kekesalan. Dia tidak ingin hal itu terjadi.
Friska yang mendengar ucapan Rezky yang santai itu pun menghela nafas, “Huh, tetap saja. Aku bangun sangat telat ini. Ouh God! Aku pusing. Eehh … tunggu kok kakak bisa tahu aku sedang udzur? Tahu dari siapa?” tanya Friska.
Rezky yang di seberang sana bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan dia harus menjawab bahwa dia mengetahui jadwal kedatangan tamunya itu. Bisa malu dia. Tidak mungkin juga dia menjawab bahwa Frisya yang mengatakannya tadi saat menghubunginya. Bisa terjadi perang nanti antara dua saudara itu. Walaupun itu ungkapannya terlalu dramatis karena tidak mungkin dua saudara yang saling menyayangi itu akan terlibat perang. Mereka slaing menyayangi satu sama lain. Namun untuk menjaga kedamaian tetap saja hal itu tidak bisa dia jadikan alasan. Bisa saja calon adik iparnya itu akan marah kepadanya dan tidak merestuinya. Itu tidak boleh terjadi. Pernikahannya harus berjalan lancar. Sudah cukup drama yang terjadi. Jangan sampai ada masalah lagi.
“Ahh itu gak penting sayang. Aku tahu dari siapa. Lebih baik sekarang kau mandi dan bersihkan dirimu. Kita akan memilih gaun hari ini. Aku menunggumu di depan.” Ucap Rezky mencoba mengalihkan topik.
“Kakak sudah di depan?” tanya Friska kaget.
Rezky yang mendengar respon yang di berikan oleh calon istrinya itu tersenyum karena pengalihan topic yang di lakukannya berhasil, “Iya sayang. Aku ini sudah ada di pintu apartemenmu.” Ujar Rezky dengan nada sedih agar Friska membukakan pintu untuknya. Itu lah harapannya. Semoga saja calon istrinya itu peka.
__ADS_1
“Baiklah. Jika memang begitu. Ya sudah aku mau mandi dulu. Kakak tunggu saja di sana atau di mana. Aku akan menghubungi kakak dan menyusul ke sana nanti.” Ujar Friska sungguh di luar ekspetasi Rezky. Calon istrinya itu tidak peka.
“Jangan mengatai aku tidak peka kak. Aku tidak mungkin keluar membukakan pintu untukmu dengan wajah bangun tidur begini. Awut-awutan. Selain itu juga kita hanya berdua nanti. Aku tidak ingin timbul fitnah.” Ucap Friska kemudian hingga membuat Rezky di sana terkejut karena calon istrinya itu seperti bisa membaca kata hatinya.
“Ouh ayolah sayang. Please bukakan pintu untukku. Tenang saja aku pria baik. Aku hanya akan masuk dan duduk dengan sopan di ruang tamu. Tidak mungkin bagiku untuk turun lagi ke bawah dan mencari tempat lain untuk menunggumu. Ayolah please sayang.” mohon Rezky.
Lama tidak ada jawaban sepertinya Friska sedang berpikir, “Tapi aku tidak mungkin membukakan pintu untukmu kak. Kau pergilah ke bawah. Kau tidak akan lelah kan menggunakan lift. Sudah jangan banyak alasan. Aku tidak akan mendengarnya.” Ujar Friska.
“Sayang, ahh sudah lah aku menunggumu di sini saja. Padahal kau bisa mengatakan password apartemenmu dan aku sendiri akan masuk. Aku janji akan jadi anak baik. Sungguh, sayang! Aku hanya akan menunggu di dalam saja. Aku janji!” Rezky masih berusaha untuk membujuk calon istrinya itu.
Friska yang mendengar itu menarik nafas kasar, “Huh, baiklah. Passwordnya tanggal pernikahan kakak. Cari sendiri dan jika sudah menemukannya, masuk dan duduk di ruang tamu. Tunggu di sana. Ingat janji. Pria baik. Wassalamu’alaikum!” ujar Friska segera memutus sambungan telepon bahkan belum terdengar jawaban salam dari Rezky.
Friska segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia langsung ke kamar mandi bahkan tempat tidurnya masih dia tingga berantakan.
“Wa’alaikumsalam!” Rezky menatap ponselnya itu yang sambungan teleponnya sudah terputus. Tapi itu tidak perlu dia masalahkan. Dia mengerti bahwa Friska masih sedang buruk moodnya pagi ini di tambah dia sedang kedatangan tamu. Jadi komplit deh.
Sekarang yang harus dia pikirkan yaitu apa password apartemen di hadapannya ini, “Tanggal pernikahan kakak. Apa itu pernikahan kak Vino dan kak Reya. Ahh iya sudah pasti itu. Calon istriku hanya memiliki kakak Freya saja yang sudah menikah. Di tambah lagi ini kan memang apartemen kak Vino dan kak Rezky sebelumnya. Hum, apa yaa?” gumam Rezky sambil memikirkan tanggal pernikahan Freya dan Alvino.
Lama dia berpikir tapi dia belum juga mengingat tanggal pernikahan Alvino dan Freya hingga tiba-tiba dia mengingat ponselnya. Rezky segera mengetikan sesuatu di kotak pencarian lalu langsung saja terlihat beberapa deretan angka yang menjadi tanggal pernikahan Freya dan Alvino, “Ahh kenapa tidak kepikiran dari tadi sih. Dasar goblok!” ujar Rezky menepuk keningnya sendiri. Dia menepuk keningnya karena tidak langsung melakukan hal itu tadi. Dia justru bersusah-susah memikirkan kapan Freya dan Alvino menikah padahal dia bisa menggunakan mesin pencarian untuk menemukannya. Freya dan Alvino itu pasangan fenomenal yang pastinya tanggal pernikahan mereka tercatat dalam mesin pencarian seluruh umat itu.
Dia melihat sekeliling apartemen yang seperti biasa. Rapi dan cantik. Itu lah kesan untuk apartemen itu yang memang di huni oleh kedua gadis yang pastinya harus rapi dan cantik. Akan aneh malah jika tidak rapi dan cantik.
Rezky pun menepati janjinya dan segera menuju ruang tamu dan duduk di sofa yang ada di sana. Setelah itu Rezky mengeluarkan ponselnya untuk memantau perusahaan dari jauh. Dia memang sudah mengajukan cuti seperti janjinya yang setelah kembali dari penyelesaian proyek akan segera mengajukan cuti. Dia sebelum datang ke sini sudah mengajukan cutinya dan mencari tahu apa yang terjadi kemarin kepada calon istrinya dari maminya langsung. Dia juga memastikan bahwa artikel buruk terkait calon istrinya itu memang sudah tidak ada. Sepertinya kelima anak calon kakak iparnya itu sudah menyelesaikan semuanya. Sungguh hebat.
***
Di sisi lain, di kediaman Kiana dan Zean kini Zean sedang siap-siap untuk berangkat ke Negara S karena ada beberapa masalah di perusahaan yang harus dia kerjakan di kantor. Tidak boleh hanya lewat jauh saja sehingga membuat Zean memutuskan untuk pulang. Dia sebenarnya tidak tega meninggalkan istrinya sendiri di sini walaupun di tengah keluarganya dan dia tidak sanggup jika harus LDR dengan sang istri. Tapi masalah perusahaan juga tidak bisa dia abaikan sebagai presdirnya. Walaupun daddy Rafael mengatakan akan dia atasi tapi tetap saja dia merasa memiliki tanggung jawab untuk itu.
Dia juga tidak mungkin mengajak sang istri untuk ikut bersamanya lalu kembali lagi kesini jika sudah dekat pernikahan. Memang benar menggunakan pesawat milik pribadi yang pastinya sangat terjaga kenyamananya. Namun tetap saja hal itu melelahkan walau hanya kurang lebih 5 jam saja dalam perjalanan. Jadi dengan berat hati dia dan Kiana memilih untuk LDR satu sama lain.
“Sayang, aku gak tega meninggalkanmu sendiri.” Ujar Zean.
“Boo, kita sudah membicarakan ini sebelumnya kan dan kita sudah sepakat untuk itu. Aku tahu ini berat untukmu. Jujur saja tidak hanya untukmu. Ini juga berat untukku. Tapi kita tetap harus melakukannya karena perusahaan membutuhkanmu. Daddy mungkin bisa mengatasinya tapi daddy juga tidak boleh terlalu lelah bekerja kan. Jadi pergilah. Tenang saja aku akan menjaga diriku dengan baik di sini. Ada kak Reya dan Kenzo juga yang akan menjagaku. Aku di kelilingi keluargaku yang pasti akan menjagaku. Kita akan saling menghubungi satu sama lain. Aku juga tidak rela jika harus LDR denganmu tapi kita pasti bisa.” Ujar Kiana.
“Apa kau ikut saja sayang.” ucap Zean.
__ADS_1
Kiana yang mendengar ucapan suaminya itu tersenyum lalu mengecup bibir suaminya sekilas, “Kita sudah membicarakannya. Aku bukan tidak ingin ikut tapi aku juga ingin membantu adikku bersiap.” Ucap Kiana memberi pengertian kepada suaminya itu.
Zean pun memeluk istrinya itu dengan erat dan lama. Dia ingin menghirup aroma istrinya itu dan menyimpannya untuk dirinya agar bisa menjalani hidup terpisah dengan istrinya dalam beberapa hari ke depan. Kiana pun membiarkan suaminya itu memeluknya. Dia juga melakukan hal yang sama untuk dirinya. Dia juga menghirup aroma suaminya yang selalu bisa menjadi heroin untuknya. Dia bisa tertidur dengan pulas hanya dengan menghirup aroma suaminya itu.
Setelah itu Zean melepas pelukan di antara mereka setelah saling memeluk satu sama lain sekitar kurang lebih 10 menit berpelukan. Zean mengecup kening, pipi, hidung dan terakhir bibir istrinya yang pastinya itu bukan hanya kecupan biasa saja tapi sudah ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi panas.
“Kita harus saling menghubungi. Kau harus mengirimkan fotomu dan melapor aktivitasmu setiap hari padaku. Aku juga akan melakukan hal yang sama.” ujar Zean begitu mereka selesai berciuman.
Kiana pun mengangguk lalu mereka segera menuju teras. Keduanya segera mengunci kediaman mereka itu. Lalu setelah itu segera meluncur ke bandara.
Kurang lebih setengah jam saja dalam perjalanan mereka segera tiba di bandara. Keduanya pun saling berpelukan kembali sebelum Zean berangkat. Setelah memastikan pesawat lepas landas barulah Kiana pulang dengan mengendarai mobil suaminya itu. Ahh bukan ini mobilnya pemberian suaminya saat mereka menikah.
Kiana sebelum melajukan mobilnya meninggalkan bandara dia berdoa terlebih dahulu untuk keselamatan suaminya itu. Barulah setelah itu dia segera menghidupkan mobilnya dan segera meninggalkan bandara menuju klinik Freya. Yah, dia ingin kesana. Menemui kakaknya.
***
Kini Kiana sudah tiba di Freya’s Klinik tempat dulu dia bekerja sebelum menikah. Dia segera turun dan masuk ke dalam klinik kakaknya itu. Dia tersenyum melihat klinik yang masih seperti biasa saat dia pergi. Hanya ada beberapa perubahan penataan saja. Kiana tersenyum dan bahkan banyak perawat dan orang-orang yang bekerja di sana yang mengenal Kiana menyapanya dengan ramah.
“Apa suster Kiana ingin menemui ibu Freya?” tanya salah satu office girl.
Kiana pun mengangguk, “Ibu Freya sudah mengatakan jika suster Kiana tiba di minta segera ke ruangannya saja. Silahkan suster.” Ujar office girl itu.
Kiana pun kembali mengangguk dan segera menuju ruangan Freya.
Dia segera mengetuk pintu ruangan kakaknya dan begitu di izinkan masuk dia pun segera masuk dan Freya langsung menyambutnya dengan senyuman di pipinya.
“Apa dia sudah berangkat?” tanya Freya basa basi.
Kiana pun mengangguk, “Sudah. Aku baru saja mengantarnya.” Ucap Kiana. Ada nada kerinduan di sana. Freya bisa menyadarinya.
“Apa kau merindukannya?” tanya Freya segera mendekati adiknya itu yang sudah duduk di sofa di ruangannya.
Kiana kembali mengangguk, “Iya, aku merindukannya. Padahal kami baru berpisah beberapa menit lalu.” Ujar Kiana.
Freya tersenyum mendengar ucapan adiknya itu, “Itu normal terjadi pada pasangan yang baru pertama kali LDR. Aku juga dulu merasakannya. Tapi tenanglah semua pasti akan terlewati dengan baik selama keduanya saling menjaga komunikasi satu sama lain. Zaman sudah canggih kita bisa bicara sambil bertatapan muka walaupun jauh.” Ujar Freya.
__ADS_1
Kiana kembali mengangguk. Kiana menghabiskan harinya di sana bersama Freya. Freya juga memang tidak mengizinkan adiknya itu pulang dan justru memintanya untuk tinggal di kediamannya.