
“Apa dia adik anda nona Freya?”
“Ya dia mirip dengan menantu anda jeng Sinta. Apa dia adik anda nona Freya?” tanya ibu sosialita tadi yang bertanya pada mami Jasmin.
Freya tersenyum, “Benar nyonya. Dia adik saya.” jawab Freya.
Ibu sosialita itu dan menantunya pun mengangguk lalu tersenyum, “Pantas mirip.” Ujarnya.
“Sudahlah. Kita kan di sini mau memperkenalkan menantu kita kepada sesama kita.” Ucap mami Sinta.
Akhirnya arisan itu di mulai dan semua orang saling berkenalan satu sama lain.
“Apa gugup?” tanya Salwa berbisik kepada Friska.
Friska yang mendengar bisikan itu pun tersenyum lalu mengangguk, “Sedikit. Ini pertama kalinya ikut. Jadi yaa lumayan gerogi. Walaupun mereka semua lumayan asyik.” Ucap Friska berbisik.
“Sudah. Abaikan mereka. Angkat kepalamu. Jangan menunduk atau mereka akan merasa lebih tinggi darimu. Lihatlah kakakmu. Bersikaplah sepertinya. Kau itu calon menantu mami Jasmin. Jadi kita itu sama di sini.” Bisik Salwa kembali.
Friska pun mengangguk lalu tersenyum. Dia menatap Freya yang ada di hadapannya dan kakaknya itu tersenyum padanya.
Sekitar kurang lebih satu jam arisan itu di laksanakan. Mulai dari perkenalan lalu di lanjutkan dengan makan bersama dan di akhiri dengan rencana arisan berikutnya.
Setelah rangkaian proses yang lumayan menguras emosi karena ada salah satu ibu sosialita yang kurang srek dan sedikit menyebalkan akhirnya arisan itu pun berakhir. Kini semua orang segera keluar dari ballroom hotel.
Freya, Friska dan Salwa mereka keluar bersamaan sambil bergandengan satu sama lain dengan Friska yang di apit oleh Salwa dan Freya. Sementara mami Sinta, mami Jasmin dan mami Santi, mereka juga berjalan bersama dari belakang.
“Bagaimana pengalaman pertama ikut arisan beginian dek?” tanya Freya kepada Friska.
“I-itu--”
“Nona Freya, apakah anda masih punya adik lagi?” tanya ibu sosialita yang tadi suka mencari gara-gara dan menyebalkan. Itu lah definisi yang bisa di berikan oleh Salwa dan Freya terhadap pasangan mertua dan menantu di hadapan mereka itu. Sombongnya minta ampun.
Freya tersenyum menatap ibu sosialita itu sebut saja dia Deya dan menantunya Gita, “Apa maksud anda bertanya begitu nyonya?” bukan Freya yang bicara tapi Salwa.
“Begini loh. Jika nona Freya masih punya adik lagi. Kami berencana akan menjodohkannya dengan adik iparku. Tenang saja dia ganteng dan soal materi jangan tanya pasti tercukupi tidak akan kekurangan.” Ucap Gita tersenyum mengejek.
__ADS_1
“Nak, kau terlalu kasar. Jadi bagaimana nona Freya apa anda masih punya adik lagi? Kita bisa menjodohkannya dengan anak saya yang saat ini masih menempu pendidikan S2-nya di Jepang.” Ujar Deya tersenyum sombong.
Freya tersenyum, “Terima kasih atas niat baik nyonya dan nona tapi maaf adik saya sepertinya tidak pantas bersanding dengan putra anda yang seorang S2.” Ucap Freya lembut namun menusuk.
Deya tersenyum, “Wah, nona Freya anda salah paham dengan ucapan menantu saya. Dia memang begitu suka ceplas ceplos. Tapi sungguh jika anda masih punya adik kita bisa menjodohkannya.” Ucap Deya.
“Terima saja nona Freya agar kalian bersaudara bisa datang di acara sosialita begini secara bersamaan. Akan tidak adil rasanya jika hanya anda dan adik kedua anda yang bergabung dengan sosialita kelas atas sedangkan adik anda yang lain tidak. Bukankah anda selalu bersikap adil kepada semua orang. Jadi setidaknya perlakukanlah dengan adil juga kedua adik anda. Anda sudah menjodohkan adik kedua anda dengan putra tunggalnya nyonya Jasmin hanya karena nyonya Sinta berteman dengan nyonya Jasmin. Lalu kenapa anda tidak melakukan hal yang sama kepada adik anda yang lain.” Ujar Gita masih dengan sombongnya.
Mami Jasmin, mami Sinta dan mami Santi yang baru keluar dari ballroom hotel mendengar itu pun geram terlebih mami Jasmin yang mendengar Friska di rendahkan begitu. Mami Jasmin segera mempercepat langkahnya tapi di tahan oleh mami Sinta, “Kenapa Sin? Jangan menahanku? Aku tidak rela jika calon menantuku di rendahkan begitu. Kurang ajar sekali Deya dan menantunya itu. Ingin ku robek saja mulutnya itu.” ucap mami Jasmin kesal.
“Tenang Jas. Aku tahu apa yang kau rasakan karena di sana bukan hanya calon menantumu tapi juga menantuku sedang di permalukan. Aku juga sama geramnya denganmu. Tapi aku percaya pada menantuku. Dia tidak akan diam saja. Dia memang lembut tapi tidak akan pernah menerima ketiga harga dirinya di injak. Jadi kita jadi penonton saja dulu. Barulah jika mereka tidak bisa menyelesaikannya kita kesana.” Ujar mami Sinta menahan kekesalan.
“Benar apa yang di katakan kakakku Jas. Kita menunggu saja waktu yang tepat.” Ucap mami Santi.
Mami Jasmin pun menghela nafasnya, “Baiklah. Aku ikuti kalian tapi tidak jika aku masih memiliki stok sabar yang banyak.” Ujar mami Jasmin.
Freya yang mendengar ucapan Gita kembali tersenyum sehingga membuat Gita yang ingin membuat Freya marah semakin kesal. Dia memiliki dendam tersendiri kepada Freya karena kejadian di restoran yang membuatnya malu beberapa minggu lalu, “Sebenarnya apa alasan nyonya Deya dan nona Gita mencari masalah kepada kami di sini? Apa saya dan adik-adik saya pernah berbuat salah kepada nona ataupun nyonya. Jika iya maka saya minta maaf. Hanya saja saya tidak suka keributan. Lihatlah kita menjadi bahan tontonan. Bukankah juga kita baru saja selesai melakukan arisan yang bertujuan untuk menjalin kekerabatan antara kita. Jadi sebenarnya kita ini memiliki masalah apa?” ucap Freya lembut tanpa senyum. Sejujurnya emosi Freya juga sudah menggebu ingin menghancurkan kesombongan dua wanita di hadapannya itu. Namun Freya masih memiliki rasa hormat kepada nyonya Deya.
“Nona Freya, maafkan menantu saya yang sudah bicara banyak. Sesungguhnya dia tidak bermaksud. Kami hanya ingin bicara baik-baik saja dan ingin menjalin hubungan kekeluargaan dengan anda. Kami bisa menjadikan saudara anda jadi kami menawarkan perjodohan dengan anda. Tapi sepertinya niat baik kami anda salah artikan.” Ucap Deya.
“Kak Salwa hentikan. Ini masalahku dengan nona Gita. Aku mengerti kenapa dia mengatakan beberapa kata menyakitkan dan ingin mempermalukan aku hari ini karena beberapa minggu lalu kami pernah bertemu di restoran dan terjadi satu kesalahpahaman di sana. Mungkin karena itu lah hari ini dia sangat ingin mempermalukanku. Apa itu benar nona Gita? Apa tebakan saya benar?” tanya Freya sinis. Dia sudah cukup menerima penghinaan ini. Mereka tidak tahu dan tidak berhak atas kehidupannya dan kehidupan adiknya.
“Sejujurnya nona Gita masalah kita di restoran itu sudah selesai dan kita sudah saling memaafkan disana. Suami saya dan suami anda pun berteman baik. Namun sepertinya anda belum bisa melupakan kejadian itu sehingga anda membuat keributan di sini dan ingin melampiaskan dendam anda kepada adik saya. Jika memang anda ingin mencari masalah maka hadapi saya. Jangan kaitkan adik saya dengan masalah kita.” Ucap Freya dingin dan menusuk.
“Apa maksud anda nona Freya? Saya tidak mengerti.” Ujar Gita mulai was-was.
Freya tersenyum sinis, “Baiklah. Jika memang anda tidak mengerti nona Gita. Saya akan menjelaskan kepada anda dengan baik. Silahkan buka ponsel kalian sekarang. Semua orang bisa menilai sendiri.” Ujar Freya sinis.
Semua orang di sana pun segera membuka ponsel mereka dan menonton video serta artikel yang beredar dan menjadi trending topic hanya dalam hitungan beberapa menit saja. Semua orang mulai membicarakan Gita, “Gita, apa yang di maksud oleh Freya?” tanya Deya.
“Wah, sepertinya mertua anda gak tahu apa yang anda lakukan selama ini nona. Tapi saya akan berbaik hati tidak akan mengatakan apa-apa kepada mertua anda. Silahkan anda jelaskan sendiri nanti.” Ucap Freya.
“Ohiya nyonya Deya. Saya memang memiliki adik lagi dan kini dia sedang menempuh pendidikan profesi. Walaupun dia tidak kuliah S2 di luar negeri seperti putra anda. Namun adik saya sangat berharga bagi saya jika harus membiarkannya bergabung dan menjadi bagian dari keluarga anda. Adik saya terlalu berharga untuk putra anda. Satu lagi apa yang terjadi pada adik saya tidak ada hubungannya dengan anda. Saya bukanlah gadis yang suka menjual adiknya ataupun saudaranya hanya untuk sebuah gelar ataupun kekayaan dan kekuasaan seperti yang ada dalam keluarga anda. Sejujurnya saya tidak suka menilai seseorang berdasarkan kekayaan dan kekuasaan yang di miliki. Namun yang anda dan menantu anda katakan hari ini cukup melukai harga diri saya. Jadi atas nama harga diri saya mohon maaf jika tidak sopan kepada anda. Anda bisa melihat artikel yang baru saja dirilis. Tenang saja jika anda ingin salinan file aslinya datang saja ke Freya’s Klinik. Saya akan melayani ada dengan baik dan penuh hormat. Ayo Friska, kak Salwa kita pulang.” Ucap Freya menyelesaikan ucapannya lalu segera menggandeng Friska dan Salwa.
Salwa tersenyum melihat Freya, “Wah, kakak ipar. Kau sangat mengagumkan. Aku mengidolakanmu.” Ujar Salwa sambil melihat ponselnya dan membaca artikel di sana terkait keluarga nyonya Deya dan juga artikel Gita.
__ADS_1
“Sekarang kau percaya kan Jas? Menantuku bukanlah gadis biasa yang bisa di rendahkan begitu saja. Dia adalah partner terbaik yang di miliki putraku. Dia terlihat lembut di luar dan yang kita dengar dari cerita dia sangat baik. Tapi tidak ada yang tahu di balik sikap lembut dan anggunnya itu tersimpan sebuah karakter yang kuat tidak menerima penindasan.” Ucap mami Sinta bangga.
Mami Jasmin pun tersenyum lalu mengangguk, “Kau benar Jasmin. Aku baru kali ini melihatnya seperti itu. Dia mampu membungkam kesombongan Deya dan menantunya itu hanya dengan satu kali tepuk tangan.” Ucap mami Jasmin.
“Ya sudah. Ayo kita kesana. Kita lihat lebih dekat wajah sombong Deya dan menantunya itu yang kini terdiam menunduk.” Ujar mami Santi.
Mereka pun turun dan berhenti di depan nyonya Deya dan Gita, “Bagaimana hadiah yang di berikan menantuku Deya? Apa belum cukup? Ingat Deya jika bukan saja memikirkan suamimu yang memiliki hubungan baik dengan suamiku. Maka aku sudah dari dulu menghancurkan wajah sombongmu itu. Aku pikir kau akan berubah setelah waktu yang ku berikan padamu untuk berubah. Namun ternyata kau semakin sombong dan tidak tahu diri. Tapi tidak masalah kini menantuku sudah membalas semua kekesalanku padaku. Sepertinya ketidakakraban di antara kita turun temurun ya. Dulu kau suka mencari masalah denganku kini menantumu pun suka mencari masalah dengan menantuku. Jujur saja aku sangat prihatin pada kalian hari ini karena lawan kalian salah memilih lawan.” Ucap mami Sinta sinis.
“Ohiya menantuku benar. Dia sangat berharga di banding menantu jadi-jadianmu ini. Menantuku dan adik-adiknya sangat berharga untuk keluarga kalian.” lanjut mami Sinta lalu langsung melenggang pergi yang langsung di susul oleh mami Jasmin dan mami Santi yang tersenyum mengejek ke arah Deya dan menantunya itu. Deya dan Gita yang melihat itu menggenggam tangan mereka erat.
“Tunggu saja pembalasanku Sinta. Aku pastikan kau dan menantumu itu akan hancur. Apa yang kau lakukan padaku hari ini akan aku balas nanti. Tunggu saja!” teriak Deya.
“Aku menantinya.” Ujar mami Sinta tanpa menoleh.
“Mih, jangan suka mencari masalah.” Ucap Alvino yang tiba-tiba datang dan turun dari mobilnya.
“Tuan Zio saya harap kejadian hari ini tidak akan mempengaruhi kerja sama di antara kita.” Ujar Alvino melihat Zio putra nyonya Deya dan suami Gita itu turun dari mobilnya dengan terburu-buru.
“Tentu tuan Vino. Maafkan kesalahan istri dan ibu saya hari ini.” ucap Zio menunduk penuh hormat.
“Kita tidak memiliki masalah tuan Zio. Jadi tidak perlu ada yang di maafkan.” Ujar Alvino dingin penuh penekanan yang bisa di artikan oleh Zio bahwa Alvino itu sedang menahan kekesalannya. Zio pun mengangguk dan segera menarik istri dan maminya ke mobilnya.
Alvino segera mendekati Freya dan tersenyum lalu menyentuh hidung istrinya itu, “Senang banget ya cari masalah.” Ujar Alvino.
Freya tersenyum lalu segera memeluk suaminya itu, “Kau tahu suamiku siapa yang mencari masalah di sini. Aku ini istri yang baik tidak suka mencari masalah.” Ucap Freya manja.
Alvino yang mendengar itu pun terkekeh, “Mami aku bawa istri nakalku ini ya. Aku harus memberinya hukuman karena sudah mencari masalah.” Ucap Alvino segera membawa Freya menuju mobilnya.
“Friska aku harap mentalmu tetap baik-baik saja setelah kejadian ini.” ucap Alvino menatap adik iparnya sebelum masuk ke mobil.
Friska tersenyum, “Aku paham maksudmu kakak ipar. Tenang saja aku baik-baik saja karena aku memiliki guru yang hebat. Istrimu sudah mengajariku dengan baik.” ucap Friska.
Alvino pun mengangguk tersenyum, “Nyonya Jasmin. Saya titip adik ipar cantik saya itu.” ujar Alvino lalu segera masuk ke mobil dan melajukan mobil meninggalkan parkiran hotel itu.
Mami Jasmin pun segera mendekati Friska dan menggandeng Friska masuk ke mobil. Mami Sinta sendiri pun segera naik mobilnya begitu juga dengan Salwa dan mami Santi. Mobil mereka satu persatu segera melaju meninggalkan hotel. Begitu juga dengan orang-orang yang menjadi penonton atas kejadian tadi, mereka juga segera meninggalkan hotel.
__ADS_1