
Sementara di sisi lain, Rezky sedang menerima telepon dari orang suruhannya, “Bagaimana kamu sudah mendapatkan infonya?” tanya Rezky.
“Maaf tuan, saya sudah berusaha dengan baik tapi sepertinya informasinya sangatlah terlindungi hingga tidak bisa di tembus.” Jawab orang dari seberang.
“Huh, sepertinya memang begitu. Baiklah kamu cobalah lagi nanti jika kamu sudah menemukan sedikit saja infonya kamu bisa menghubungiku.” Ucap Rezky lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
“Siapa yang kau hubungi? Apa dia? Siapa sebenarnya yang ingin kau ketahui identitasnya? Apa aku tidak tahu sesuatu?” tanya Robi yang baru masuk dan mendengar tuannya itu bicara.
“Aku hanya ingin memastikan kecurigaanku Rob.” Jawab Rezky.
Asistennya itu pun hanya mengangkat bahunya, “Terserah padamu semoga saja kau tidak akan kecewa nanti jika mengetahuinya. Ohiya ini berkas yang harus kau tandatangani.” Ucap Robi segera meletakkan dokumen di meja atasannya lalu dia segera berlalu kembali ke ruangannya.
Rezky pun hanya menatap dokumen yang diletakkan oleh asistennya lalu dia segera duduk, “Apa aku salah melakukan ini? Aku hanya ingin tahu siapa dia sebenarnya?” gumam Rezky.
***
Sementara di klinik, Friska kembali di sibukkan dengan memeriksa beberapa ibu hamil yang konsultasi untung saja dokter kandungan yang bekerja di sini sudah masuk hingga Friska hanya membantu saja dengan beberapa bidan lain.
Setelah hampir zuhur barulah para ibu hamil yang konsultasi sudah tidak ada. Friska pun segera keluar dari ruang pemeriksaan itu kembali ke ruangannya. Di tengah perjalanan dia ketemu dengan kakaknya yang sedang bicara dengan beberapa perawat lain, “Kak!” sapanya.
Freya segera menyelesaikan pembicaraannya dengan perawat lain dan menatap sang adik, “Ada apa? Apa lelah? Kakak melihat banyak yang berkunjung hari ini.” ucap Freya.
Friska hanya mengangguk, “Benar kak tapi untuk saja ada dokter Siska jadi tidak begitu terasa lelahnya.” Jawab Friska.
“Emm, dek setelah ini kamu mau makan siang kan?” tanya Friska.
Friska lagi-lagi menganguk, “Ada apa kak?” tanyanya.
“Kamu ikutlah ke ruangan kakak, makan siang di sana bersama kakak.” Ucap Freya lalu mulai berjalan menuju ruangannya. Friska pun hanya mengikuti saja dari belakang.
Kini mereka sudah di dalam ruangan Freya, “Duduklah dan ini makanan untukmu.” Ucap Freya menyerahkan kotak bekal untuk adiknya itu.
__ADS_1
Friska menerimanya, “Terima kasih kak.” Jawab Friska.
Kedua kakak beradik itu pun segera makan, “Emm,, Clemira akan lulus tahun ini kan? Sepertinya om Jauzan akan memintanya tinggal bersama kalian di apartemen. Apa kamu tidak keberatan?” tanya Freya setelah menyudahi makan siangnya.
Friska menggeleng, “Tentu saja gak masalah kak agar apartemen juga akan lebih ramai dan berpenghuni karena jika hanya kami berdua yang tinggal di sana sangat sunyi kak apalagi jika Frisya belum pulang.” Jawab Friska menyelesaikan makan siangnya juga.
“Baiklah jika kalian setuju, Clemira akan tinggal bersama kalian.” Ucap Freya.
“Ohiya, dek mami ingin ketemu denganmu.” Lanjut Freya.
“Mami? Maksud kakak mami Sinta?” tanya Friska heran.
Freya mengangguk, “Iya mami Sinta mertua kakak, dia ingin bertemu denganmu.” Jawab Freya.
“Untuk apa kak?” tanya Friska.
Freya menggeleng, “Kakak juga gak tahu karena mami tadi saat kakak akan berangkat kesini hanya mengatakan itu tanpa alasan apapun.” Jawab Freya.
Freya mengangkat bahunya tanda dia juga gak tahu karena dia sendiri juga bingung kenapa mertuanya itu ingin bertemu dengan adiknya, “Iss masa kakak gak tahu sih, kan mami Sinta mertua kakak jadi sedikit tidaknya kakak tahulah apa yang di inginkannya. Aku akan mati penasaran ini karena menebak apa yang akan di bicarakan mertuamu itu padaku.” Ucap Friska.
“Sudahlah. Jika kau penasaran temui saja mami. Kakak yakin ini bukan hal yang buruk karena mami itu juga menyayangi kalian.” Ujar Freya.
“Aku tahu itu kak, Mami Sinta dan Papi Willian bagaikan orang tua kedua bagi kami tapi tetap saja aku heran kenapa mami mengajak bertemu.” Timpal Friska.
“Jangan terlalu berpikiran jauh, semua akan baik-baik saja.” ucap Freya.
Friska hanya mengangguk dan meyakini apa perkataan kakaknya karena kakaknya itu layaknya lampu baginya dan Friska di kegelapan malam. Freya selalu datang saat mereka butuh kakaknya. Freya adalah panutan bagi mereka. Freya memang berhasil menjadi seorang kakak untuk kedua adik kandungnya dan para adik sepupunya.
***
Di rumah sakit, “Kia!” panggil papa Vian.
__ADS_1
“Iya pak?” jawab Kiana menatap sang papa.
“Kia, bisa gak sebelum papa pergi papa melihatmu menikah?” tanya papa Vian.
“Pa, kenapa selalu bicara mengenai kematian. Aku gak suka pa. Aku yakin papa pasti akan sembuh.” Ucap Kiana segera memeluk papanya itu.
“Kia, papa tahu nak kalian akan sedih nanti tapi benar papa sepertinya tidak akan bertahan lama. Jadi papa mohon sebelum papa pergi papa bisa menjadi wali nikah untukmu nak. Kau adalah anak perempuanku, aku ingin merasakan menjadi wali nikah untukmu. Jadi bisakah kau mewujudkan mimpi papamu ini nak sebelum dia meninggal.” Ujar papa Vian.
“Pa, aku menyayangimu. Aku pasti akan mengabulkan permintaanmu itu tapi siapa yang pria yang akan bersedia menikahiku. Papa kan tahu aku tidak memiliki kekasih satu pun. Selain itu juga aku masih berharap papa sembuh.” Jawab Kiana.
“Carilah nak, carilah kekasih untukmu. Papa janji tidak akan mati sebelum kau menemukan laki-laki untuk di jadikan suami. Papa akan mencoba bertahan agar bisa menjadi wali nikahmu. Kita sama-sama berjuang yaa. Kau carilah calon suami dan papa akan mencoba bertahan tapi jangan lama yaa nak.” ucap papa Vian.
“Papa!” ucap Kiana menangis.
Percayalah perasaan Kiana saat ini sangatlah hancur mendengar permintaan papanya itu. Ingin rasanya dia menolak kenyataan yang ada. Di mana dia harus mencari laki-laki yang bersedia menikahinya jika dia saja membenci bergaul dengan mereka. Tapi sepertinya dia harus mencobanya demi papanya.
***
Sementara di perusahaan Aryawiguna Group tepatnya di ruangan asisten presdir ada seorang gadis yang mengetuk.
Tok tok tok
“Masuk!” ucap orang dari dalam.
Frisya tersenyum lalu segera membuka pintu itu dan masuk, “Assalamu’alaikum bos, hari ini bawahanmu ini sudah tiba. Aku harap aku tidak terlambat yaa.” Ucap Frisya.
Fazar tersenyum begitu menyadari siapa yang datang, “Wa’alaikumsalam dek. Duduklah. Tenang saja hari ini kau tepat waktu datang.” Balas Fazar sambil melihat jam tangannya.
Frisya segera mengangguk dan duduk di meja kerjanya, “Hari ini aku akan belajar apa bos?” tanya Frisya.
Fazar segera mengambil dokumen di mejanya dan menyerahkan dokumen yang sudah dia periksa sebelumnya yang sekiranya mudah untuk dipelajari Frisya, “Kamu periksalah dokumen itu.” ucap Fazar lembut.
__ADS_1
Frisya pun dengan semangat menerimanya dan mulai memeriksanya. Fazar yang melihat itu hanya tersenyum dan dia juga kembali ke meja kerjanya untuk memeriksa dokumen lain sebelum di antarkan kepada Alvino.