Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
32


__ADS_3

Lalu tanpa sengaja Frisya melihat undangan, “Ini?” tanya Friska mengambil undangan itu sambil menatap Friska.


Friska hanya menghela nafasnya lalu mengangguk, “Terus apa kak Ris akan datang? Kau sudah di undang dengan undangan formal kak. Kasihan jika tidak datang akan terkesan tidak menghormati.” Ucap Frisya kemudian.


“Jadi apa menurutmu aku harus datang kesana?” tanya Friska menatap adiknya dan Frisya hanya mengangguk.


“Tapi kan kau tahu apa alasan mereka mengundangku.” Ucap Friska.


Frisya meletakkan gaunnya di ranjang Friska lalu memegang kedua bahu kakak keduanya itu dan menatapnya dalam, “Aku tahu kenapa kau tidak ingin datang kesana karena tidak ingin ketemu dengan dosen itu lagi. Selain itu juga kau tahu ada rencana perjodohan di balik undangan itu tapi kita sebagai anak muda harus menghormati dan menghargai undangan dari orang tua. Dia bahkan sudah menelponmu sebelumnya dan kini bahkan memberikan undangan resminya. Jangan pikirkan alasan mereka kenapa kakak harus datang kesana tapi pikirkan bagaimana perasaan mereka jika kau yang diharapkan tidak datang kak. Datanglah kesana sebagai tamu undangan, jangan datang kesana sebagai bagian dari rencana mereka untuk menjadikanmu menantu.” Ucap Frisya lembut.


Friska tersenyum karena adiknya itu di saat di butuhkan bisa di andalkan, “Baiklah, kakak akan datang kesana sebagai tamu undangan yang menghargai undangan mereka. Terima kasih sudah membantuku yakin untuk datang kesana atau tidak. Emm,, apa kau tidak ingin datang bersamaku kesana? Please!” ucap Friska.


Frisya tersenyum, “Maaf kak Ris, aku tidak bisa menemanimu ke sana karena kau tahu kan aku ini sedang terluka. Selain itu juga aku harus membuat laporanku.” Ucap Frisya menolak.


“Yah, baiklah. Gak apa-apa aku akan datang kesana sendiri.” Ucap Friska yang sepertinya sedikit kecewa.


“Maaf kak, aku tidak bisa menemanimu.” Ucap Frisya merasa bersalah menolak.


Friska tersenyum, “Sudahlah gak apa-apa.” Timpal Friska.


***

__ADS_1


Sementara di kediaman Rezky, saat ini sedang di sibukkan dengan persiapan untuk acara ulang tahun mami Jasmin yang akan dilaksanakan besok sore sesudah ashar, “Apa semua sudah selesai mih?” tanya Rezky bergabung dengan kedua orang tuanya di ruang keluarga setelah mereka makan malam.


“Emm, semuanya sudah selesai tinggal pelaksanaannya besok bagaimana nanti.” Jawab mami Jasmin.


“Syukurlah jika begitu. Ohiya kenapa mami gak mau menerima bantuan dariku dan justru mengerjakannya sendiri. Aku tidak mau mami kelelahan yang nantinya akan berujung sakit.” Ucap Rezky.


“Kamu tenang saja mami akan baik-baik saja karena mami sedang bahagia menyambut ulang tahun mami kali ini. Selain itu juga mami sebenarnya tidak akan sakit jika kau segera menikah dan memiliki anak nanti.” Ujar mami Jasmin.


Rezky pun hanya menghela nafasnya, “Kebiasaan deh mih. Mami kalian tahu kenapa aku belum ingin menikah, jadi jangan memaksaku. Sudahlah lebih baik jangan bahas topic ini, lebih baik bahas ulang tahun mami. Apa semua undangannya sudah teredar semua atau belum.” Ucap Rezky mencoba mengalihkan pembicaraan karena sebenarnya dia sudah bosan dengan pembicaraan terkait pernikahannya itu yang sepertinya kedua orang tuanya tidak akan berhenti membahas itu jika dia belum juga menikah. Dia bukan tidak ingin menikah hanya saja entahlah apa yang dia tunggu. Dia saja bingung tapi satu hal yang pasti bahwa dia ingin memastikan satu hal dulu sebelum memutuskan akan menikah atau tidak.


“Tenang saja undangannya sudah teredar semua. Lagian juga mami hanya mengundang orang dekat saja jadi tentu saja semuanya sudah teredar.” Timpal mami Jasmin lalu berdiri meninggalkan suami dan putranya itu ke kamar.


“Jangan katakan kalian mengundangnya untuk hadir di ulang tahun mami besok?” tebak Rezky.


Papi Harry hanya mengangguk, “Mamimu sudah mengundangnya tapi keputusan dia akan datang atau tidak kami tidak mengetahuinya karena dia tidak menjanjikan apapun. Tapi semoga saja dia akan datang nanti, kita lihat saja.” ucap papi Harry.


Rezky yang mendengar penjelasan papinya hanya diam sambil membatin, “Apa dia yang gadis yang papi maksud? Apa dia akan datang ke sini?” batin Rezky.


***


Keesokkan harinya, Rezky tetap pergi ke perusahaan dan akan kembali nanti setelah siang untuk menghadiri ulang tahun maminya. Dia berangkat pagi-pagi sekali karena masih ingin ke tempat lain. Tidak lama dia sampai di tempat yang ingin dia tuju. Dia tidak turun dari mobilnya dan tetap di dalam sambil melihat mobil yang mungkin dia kenal tapi sayang gak ada di sana begitu juga dengan bangku yang kosong, “Apa dia tidak kesini?” batin Rezky sedih karena dia tadinya sudah berharap akan dapat melihat gadis itu di sini. Sepertinya hari ini dia sedang sial dan keberuntungannya hanya kemarin.

__ADS_1


Rezky menunggu sekitar setengah jam di sana tapi tetap saja yang dia tunggu tak kunjung datang hingga membuatnya pergi meninggalkan tempat itu dengan penuh kekecewaan, “Kenapa aku merasa begini? Kenapa aku sedih dia gak ada di sana? Apa yang terjadi padaku?” tanya Rezky pada dirinya sambil menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Tidak lama setelah mobil Rezky pergi mobil satunya datang dan turunlah seorang gadis dari mobil itu. Dia segera berjalan menuju bangku yang ada dalam tempat itu dan menghirup udara tempat itu sebanyak yang dia mau, “Ahh,, sepertinya aku akan membangun rumah di sini nanti.” Ucapnya. Sekitar 20 menit dia menghabiskan waktu di taman itu lalu segera pergi dari sana menuju tempat kerjanya.


***


Di kantor Alvino, kini Fazar sedang ada di ruangan bosnya itu, “Apa tadi kau mengantar adik iparku ke tempat praktiknya?” tanya Alvino menatap asistennya itu.


“Maaf tuan, saya tadi memang ke apartemen tapi dia sudah pergi menggunakan taxi.” Jawab Fazar yang memang tadi sudah datang ke apartemen untuk mengantar Frisya tapi ternyata gadis itu sudah pergi karena memang untuk hari ini mereka masuk lebih awal.


“Kata siapa dia sudah pergi? Apa kau sudah memastikannya?” tanya Alvino lagi.


“Sudah tuan. Tadi juga saya ketemu dengan nona Friska yang juga hendak berangkat dan nona Friska sendiri yang mengatakan bahwa nona Frisya sudah pergi menggunakan taxi.” Jawab Fazar.


“Ahh baiklah jika begitu. Aku pikir kau mengantarnya. Fazar, apa kau tidak bisa membaca isyarat yang aku berikan?” tanya Alvino.


“Isyarat apa tuan?” tanya Fazar.


“Dasar bodoh. Kau tahu kenapa aku dan istriku mengizinkan Frisya bekerja denganmu dan kau juga yang ditugaskan untu mengantar jemput dirinya beberapa hari ini. Itu semua demi kau. Aku tahu gadis yang kau maksud saat itu adalah adik iparku.” Ucap Alvino.


Fazar hanya bisa membelalakkan matanya tidak percaya bahwa ternyata Alvino menebak rahasianya dengan tepat

__ADS_1


__ADS_2