Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
63


__ADS_3

Pemakaman papa Vian dilaksanakan setelah ba’da ashar, Kiana dan Kenzo ikut ke pemakaman. Kiana selalu di dampingi oleh Zean di belakangnya, Zean sama sekali tidak meninggalkan istrinya itu karena dia tahu Kiana sedang rapuh. Kiana seperti perjanjiannya dengan Freya dia tidak lagi menangis dan yang dia lakukan berzikir dan berzikir mengantarkan papanya itu ke tempat peristirahatan terakhir. Mommy Vania juga berdiri di samping Kiana yang mulai meneteskan air matanya begitu jasad Papa Vian mulai di masukan ke kuburnya dan tepat jasad papa Vian itu mulai di tambul dengan tanah Kiana ambruk. Dia pingsan lagi tapi untunglah ada mommy Vania yang menahannya. Zean yang melihat itu segera menggendong sang istri kembali ke rumah Freya dan mengantarnya ke kamar yang sudah disediakan dengan Freya yang ikut di belakang Zean dengan Kiana dalam gendongan Zean.


Freya kembali memeriksa adiknya itu, “Inilah yang tidak ku inginkan terjadi. Aku sudah was-was dia akan pingsan lagi tapi dasar keras kepala tetap saja mau ikut ke pemakaman padahal gak mampu. Zean tolong yaa jaga dia, saya akan membuatkan bubur untuknya. Jika dia sudah sadar paksa dia makan karena sepertinya tadi dia makan itu gak seberapa yang dia makan.” Ucap Freya.


Zean pun mengangguk dan menjaga istrinya itu yang masih saja pingsan. Freya segera keluar untuk meminta bi Wati membuatkan bubur untuk Kiana karena dia masih harus melakukan hal lain. Tidak lama mommy Vania masuk melihat menantunya itu, “Nak, apa dia baik-baik saja?” tanya mommy Vania khawatir menatap putranya.


Zean mengangguk, “Dia baik-baik saja mom hanya sedih saja belum sanggup menerima kepergiannya papanya.” Ucap Zean.


Mommy Vania pun mengangguk, “Nak, jaga dia dengan baik. Kau harus bisa mengerti hatinya yang sedang sedih. Jangan memaksanya.” Ucap mommy Vania mengingatkan putranya.


Zean yang langsung mengerti ke arah mana maksud ucapan mommy-nya itu sedikit memerah, “Mom, aku juga tidak akan melakukan itu di saat dia sedih begini. Aku ini masih punya hati mom. Aku tidak mungkin memaksanya.” Ucap Zean menahan malu.


Mommy Vania yang melihat putranya menahan malu pun tersenyum lalu menepuk bahu sang putra, “Mommy gak menyangka akan melihatmu seperti ini. Ternyata kau bisa malu juga. Hahahh,, mommy sangat senang karena bisa memiliki menantu dan melihatmu sepertinya bertekuk lutut kepadanya. Ahh senangnya mommy.” Ucap mommy Vania.


“Mom, kecilkan suaramu. Apa kau tidak berperasaan sedang senang di saat menantumu sedang sedih.” Sindir Zean karena malas mendengar mommy-nya yang menggodanya itu.


Mommy Vania yang mendengar ucapan putranya tersenyum lalu segera menutup mulutnya, “Maaf boy mommy senang karena sudah memiliki menantu. Akhirnya mommy bisa menyombongkan diri di hadapan teman-teman mommy karena memiliki menantu cantik dan sholehah lagi di tambah seorang perawat. Mommy akan mengajaknya jalan-jalan nanti jika dia sudah tidak sedih lagi. Sudahlah mommy akan diam karena menantu mommy sedang sedih.” Ucap mommy Vania lalu menggenggam tangan menantunya itu.


“Jangan sedih terlalu lama nak. Ikhlaskan papamu pergi. Kau sudah memiliki kami kau tidak sendiri.” Ucap mommy Vania lalu mengecup kening menantunya itu. Setelah itu dia keluar kamar meninggalkan Zean dan Kiana berdua di sana.

__ADS_1


Zean menatap istrinya itu dengan tatapan penuh cinta, “Kau dengar sayang. Mommy sangat menyayangimu dia ingin mengajakmu jalan-jalan nanti maka jangan sedih lagi kau sudah memiliki kami sebagai keluargamu. Aku janji akan menjagamu. Aku tidak akan memintamu melupakan papamu tapi jangan sedih terlalu lama.” Ucap Zean lalu mengecup tangan sang istri.


***


Sementara di luar pemakaman baru saja selesai, semua keluarga sudah kembali dari pemakaman dan berkumpul di halaman rumah Freya dan Alvino. Kenzo dia terlihat di gandeng oleh Alvino karena Alvino tahu Kenzo itu sedang sedih hanya saja dia tidak menampakkannya seperti Kiana memang khas kesedihan seorang lelaki.


“Kasihan yaa pak bos.” Ucap Irma yang juga hadir dalam pemakaman itu beserta Grey.


Di lain tempat Friska sedang bergelayut manja di lengan sang mama saat pulang dari pemakaman, “Mah, kasihan kak Kia.” Ucap Friska.


Mama Najwa pun hanya menghela nafasnya, “Dia sudah bersiap untuk keadaan ini tapi tetap saja dia sedih dia bahkan sampai pingsan dua kali. Mama harap suaminya bisa menjaganya.” Ucap mama Najwa sambil kepala putri keduanya itu.


Friska yang melihat itu pun melepas tangannya dari mamanya yang tersenyum, “Besan, kenalkan ini jeng Jasmin ibunya nak Rezky.” Ucap Mami Sinta mengenalkan mami Jasmin sambil menunjuk Rezky yang sedang bicara dengan Alvino dan para lelaki yang lain.


Mama Najwa pun tersenyum, “Najwa ibunya Freya, Friska dan Frisya.” Balas mama Najwa.


“Saya sudah tahu jeng Najwa. Senang berkenalan dengan anda.” Ucap Mami Jasmin.


“Mah, Mih, Mih. Riska pamit ke dalam dulu. Silahkan lanjutkan pembicaraannya.” Ucap Friska pamit kepada ketiga wanita dewasa yang seumuran itu. Dia menghindar untuk menjadi topic pembicaraan walau mungkin justru kepergiannya akan membuat topic pembicaraan makin banyak tapi setidaknya dia tidak mendengarnya secara langsung.

__ADS_1


Ketiga wanita itu segera duduk di kursi yang ada di dekat mereka, “Jeng, bisa gak putri kedua anda di jodohkan dengan putra saya.” ucap Mami Jasmin menatap Mama Najwa.


Mama Najwa yang mendengar itu melongo bingung, “Maksud anda nak Rezky mau di jodohkan dengan putri saya Riska?” tanya mama Najwa.


Mami Jasmin mengangguk, “Iya jeng. Saya sangat menyukai putri anda itu. Jadi bisakah merestui putra saya menjadi menantu anda.” Ucap mami Jasmin.


“Eehh maaf ini jeng. Saya sangat berterima kasih anda menyukai putri kedua saya tapi ini adalah hak anak-anak. Saya tidak ingin memaksa mereka tapi jika mereka memang saling mencintai maka saya pasti akan merestuinya. Bagi kami kebahagiaan putri kami adalah kebahagiaan kami.” Ucap mama Najwa.


Mami Jasmin pun mengangguk mengerti, “Jadi bisakah perkataan jeng ini saya simpulkan sebagai izin agar putra saya mendekati putri anda?” tanya mami Jasmin.


Mama Najwa pun mengangguk, “Saya akan merestui jika memang putri kami setuju.” Jawab mama Najwa.


“Wah, terima kasih jeng.” Ucap mami Jasmin.


Jika bersama ibu-ibu terjadi kesepakatan perjodohan ternyata tidak jauh berbeda juga yang terjadi dengan para bapak-bapak yang sudah pasti dipelopori oleh papi William. Entah kenapa mertua Freya itu menjadi mak comblang untuk Friska. Papi Harry di ajak berkenalan dengan papa Khabir dan mulailah candaan di sana, “Bagaimana menurut anda putra saya?” tanya papi Harry menunjuk Rezky.


“Nak Rezky saya baru dua kali kayaknya ketemu dia. Ini kedua kalinya dan itupun hanya saling melihat saja tidak bertegur sapa tapi sepertinya dia baik.” ucap papa Khabir memberikan pendapatnya.


“Wah, jadi di restuin gak nie?” tanya papi William.

__ADS_1


“Ah anda bisa aja besan. Jika putri kami menerimanya maka kami pasti akan merestui sebagai orang tua.” Ucap papa Khabir yang menganggap itu hanya candaan belaka tapi tidak untuk papi Harry yang menganggap itu adalah lampu hijau untuk putranya.


__ADS_2