
"Dan memang benar aku hanya tahu bahwa nama lengkap kak Freya yaitu Freya Nur saja. Emang apa nama lengkap kak Freya?" lanjut Rezky bertanya.
Robi yang mendengarnya hanya bisa menepuk keningnya karena ternyata memang benar bahwa bosnya itu tidak tahu nama lengkap istri idolanya, "Ouh God. Kau mengaku mengidolakan tuan Alvino tapi ahh sudahlah. Aku tidak menyangka kau tidak mengetahuinya, pikir hanya dugaanku. Kau ingat dan dengar baik-baik nama lengkap nona Freya adalah Freya Nur Nabila Abraham dan dia adalah kakak dari gadis itu Friska Nur Sakila Abraham." tunjuk Robi ke dokumen yang menampilkan identitas Friska.
Rezky hanya menghela nafasnya dan berkata kenapa bisa kebetulan seperti ini. Robi yang bingung dengan tindakan aneh atasannya itu semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi hingga tuannya itu harus menyuruhnya mencari identitas semua bidan dan dokter kandungan di klinik Freya, "Ada apa sebenarnya denganmu? Sungguh aku bingung dengan apa yang kau lakukan? Kau yang tiba-tiba berkeliling di poli kandungan dan tiba-tiba berlari hingga berakhir di depan ruang bersalin lalu kau yang tiba-tiba menyuruhku menyelidiki bidan dan dokter kandungan di klinik itu. Lalu kau yang kaget membaca identitas nona Friska. Apakah kau mengenal nona Friska atau ada salah satu yang menarik perhatianmu di sana?" tanya Robi beruntun karena penasaran.
Rezky yang mendengar hal itu hanya memijat pelipisnya pusing karena dia sendiri pun tidak tahu apa sebenarnya yang dia lakukan. Dia hanya merasa akrab dengan suara yang dia dengar di klinik dan memancingnya untuk mencari tahu hingga kini dia rasanya tidak bisa menerima kenyataan ternyata suara yang dia dengar waktu itu adalah milik gadis itu. Yah dia mengingat pernah mendengar suara itu dimana dengan membaca identitas Friska karena dia memang sering mendengarnya pantas saja terasa akrab. Tapi satu hal yang dia takutkan sekarang yaitu hubungan Friska yang ternyata adik dari Freya. Kenapa bisa kebetulan seperti ini?
"Bos jawab dong jangan diam saja, aku ini sangat penasaran. Jangan sampai dugaanku tentangmu yang belok jadi kenyataan. Aku tidak bisa membayangkannya." Ujar Robi bergidik ngeri.
Rezky yang mendengar hal itu langsung melemparkan polpen di tangannya ke arah asistennya itu tapi syukurnya gak mengenai asistennya, "Aku itu masih normal yaa. Berani sekali dirimu mengatakan itu." ucap Rezky menatap tajam asistennya.
Robi terkekeh mendengar itu, "Tenang bos itu hanya dugaanku saja karena apa yang kau lakukan hari ini terasa aneh hingga aku menduga seperti itu. Aku yakin kau normal kok. Tenang!" ucap Robi.
"Aku memang normal. Awas saja kau." timpal Rezky.
"Yaya aku percaya. Tapi bisakah kau mengatakan padaku alasanmu memintaku menyelidiki para bidan itu?" Tanya Robi.
"Karena saat di klinik itu aku mendengar suara yang aku kenal." jawab Rezky.
"Apa karena itu juga kau sampai berlari meninggalkanku dan berakhir di ruang bersalin?" tanya Robi dan Rezky hanya mengangguk saja.
"Apa suara itu milik nona Friska? Apakah kau menyukainya?" tanya Robi tersenyum menggoda.
__ADS_1
Rezky yang melihat itu, "Sialan kau." ucap Rezky.
"Hahahahh, jadi benar kau menyukainya? Apakah akan menjadi seperti ftv dengan judul jodohku ternyata adik dari orang yang hampir dijodohkan denganku?" tanya Robi sambil tertawa.
"Robi, keluar kau dari ruanganku. Cepat!" usir Rezky kesal karena asistennya itu menertawakannya.
"Tenang kawan, tenang! Aku akan mendukungmu lagian usia kalian juga hanya terpaut lima tahun saja seperti tuan Alvino dan nyonya Freya. Aku juga mendukungmu mendapatkan nona Friska karena aku juga yakin mamimu itu pasti akan merestuinya. Pokoknya aku dukung seratus persen kau bersama nona Friska." ucap Robi.
"Dasar sok tahu. Aku tidak meminta pendapatmu. Sudah sana kau pulanglah ke ruanganmu." usir Rezky.
"Hey bos apa kau tidak sadar ini sudah waktu jam pulang." balas Robi.
Rezky tersenyum misterius, "Hari ini kita lembur. Sudah sana pergilah ke ruanganmu." ucap Rezky.
"Siapa yang bercanda denganmu? Saya tidak senang bercanda kakak senior. Ayo sana kerjakan tugasmu." timpal Rezky.
Robi yang mendengar itu pun hanya bisa cemberut lalu dengan langkah gontai pergi meninggalkan ruangan Rezky, "Dasar bos tidak ada rasa kemanusiaan sama sekali." gumam Robi.
"Saya bisa mendengar Robi. Jangan mengumpat di belakang saya." timpal Rezky menahan tawanya karena berhasil mengerjai asistennya balik. Siapa suruh berani menertawakan dan meledeknya tadi.
***
Sementara di klinik Frisya dan Fazar sudah tiba dan mereka segera memindahkan barang-barang ke dalam klinik.
__ADS_1
"Terima kasih yaa dek sudah membantu kakak." Ucap Freya kepada adiknya.
"Gak apa-apa kak, aku senang kok bisa bekerja membantumu hitung-hitung aku juga belajar." balas Frisya tersenyum.
Freya pun tersenyum lalu menatap asisten suaminya, "Terima kasih Fazar sudah menemani adik saya dan menuruti permintaan suami saya padahal ini di luar pekerjaanmu." ujar Freya.
"Gak apa-apa nyonya itu sudah tugas saya." jawab Fazar penuh hormat karena dia tahu bahwa wanita itu bukan hanyalah seorang istri bagi tuannya tapi adalah hidup laki-laki itu.
Freya tersenyum, "Lain kali jika kau di minta oleh suamiku untuk melakukan yang bukan pekerjaanmu tolaklah." ucap Freya lalu menatap suaminya yang cemberut mendengar perkataannya itu.
"Gak bisa begitu sayang. Aku yakin Fazar pasti tidak akan menolak perintahku jika terkait ini." timpal Alvino yang sedang duduk di kursi sang istri.
Frisya yang mendengar Alvino bicara seketika teringat sesuatu, "Kakak ipar aku ingin minta satu hal padamu. Bisa kan?" tanya Frisya menatap Alvino.
Freya segera menatap suaminya begitu mendengar perkataan adiknya yang langsung di balas gelengan oleh Alvino, "Hmm katakan apa yang ingin kau minta? Apa ingin meminta di belikan mobil?" Tanya Alvino.
Frisya segera menggeleng, "Iss bukan itu kakak ipar. Aku akan membeli mobil tapi nanti jika aku sudah punya uang sendiri. Aku ingin minta yang lain." Ujar Frisya.
"Yaa sudah apa? Cepat katakan!" ucap Alvino.
"Aku ingin kau mengizinkanku bekerja di perusahaanmu selama seminggu dan aku ingin jadi asisten kak Fazar. Bisa kan?" tanya Frisya.
Freya dan Alvino yang mendengar itu langsung kaget lalu keduanya langsung menatap kepada Fazar yang hanya diam menunduk karena takut akan di marahi karena di tuduh telah mempengaruhi Frisya. Frisya yang menyadari tatapan menyelidik dari Alvino dan Freya untuk Fazar pun segera bicara, "Iss kakak, kakak ipar jangan menatap kak Fazar seperti itu kalian membuatnya takut. Aku melakukan ini karena aku tidak ingin memiliki hutang budi kepada kak Fazar. Dia sudah menemaniku hari ini dan meninggalkan tumpukkan dokumen yang harus dia selesaikan maka aku selama seminggu itu ingin membantunya menyelesaikannya hitung-hitung aku dapat ilmu baru juga." ujar Frisya.
__ADS_1
"Bisa kan?" lanjutnya