Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
104


__ADS_3

Kini taxi yang membawa Frisya sudah tiba di hotel lalu Frisya pun segera turun setelah membayar ongkos taxinya. Fazar juga tiba dengan cepat di hotel langsung menahan lengan Frisya. Frisya melihat siapa yang menahan tangannya lalu dia menghempaskannya tapi sayang Fazar memegangnya kuat, “Ikut kakak dulu dek. Kakak akan menjelaskan semuanya. Aku tidak suka ada kesalahpahaman antara kita. Please dek.” mohon Fazar sambil melonggarkan genggaman tangannya dari lengan Frisya.


“Jangan sekarang kak. Aku masih kesal padamu saat ini. Biarkan aku sendiri. Aku mohon.” Ucap Frisya dengan tatapan yang menahan air matanya agar tidak jatuh.


Fazar pun menghela nafas lalu dia melepaskan genggaman tangannya di lengan Frisya. Frisya pun segera berlari masuk ke dalam hotel dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. Fazar hanya bisa memandangi punggung gadis itu yang menghilang di balik lift, “Apa yang aku lakukan? Kenapa aku justru merusak suasananya. Akhh--” ucap Fazar frustasi sambil mengacak rambutnya.


Alvino dan Freya segera tiba dan melihat Fazar yang mengacak rambutnya frustasi. Freya dan Alvino segera mendekati Fazar, “Tuan, nyonya!” sapa Fazar kaget sambil mencoba memperbaiki rambutnya yang dia acak tadi.


Freya hanya mengangguk saja, “Di mana adikku?” tanya Freya datar.


“Nona Frisya sudah masuk nyonya. Dia ada di kamarnya.” Jawab Fazar tanpa menatap wajah nyonya nya itu karena dia merasa sangat bersalah dengan apa yang dia lakukan.


Feya yang mendapatkan jawaban dari asisten suaminya itu pun segera berjalan masuk ke dalam hotel di ikuti oleh ke lima anaknya dan meninggalkan Alvino dan Fazar di parkiran itu.


“Tuan, apa nyonya marah?” tanya Fazar memberanikan diri.

__ADS_1


“Menurutmu bagaimana? Apakah dia pantas marah?” tanya Alvino balik lalu mencari tempat duduk yang ada di sana.


Fazar menghela nafasnya, “Nyonya pantas marah tuan. Dia sangat menyayangi adiknya dan saya justru--” ucap Fazar frustasi kembali mengacak rambutnya itu.


“Sudah, jangan acak rambutmu lagi. Aku tidak ingin melihat asisten yang ku miliki berantakan penampilannya. Ayo duduk dan katakan apa permasalahannya? Kenapa dia sampai naik taxi?” tanya Alvino.


“Aku hanya ingin tahu kenapa dia mendiamiku tuan tapi pada akhirnya aku justru mengatakan sesuatu yang tidak dia sukai. Dia pun marah dan kesal padaku. Aku sudah minta maaf tapi dia justru mencari taxi dan kini mungkin dia sedang sedih dengan apa yang aku katakan. Tapi sungguh tuan aku tidak bermaksud sama sekali menuduhnya seperti itu. Aku hanya mencoba untuk menyadarkan diriku siapa hingga pantas bersanding dengannya. Aku--”


“Dasar bodoh.” Pukul Alvino sedikit keras ke lengan asistennya itu.


“Aku kan sudah mengatakan padamu. Tidak semua wanita itu sama dan istriku serta adik-adiknya bukanlah gadis yang suka melihat seseorang dari kekayaannya. Aku saja jika mendengar hal itu pasti akan melakukan hal yang sama dan mungkin lebih buruk dari apa yang Frisya lakukan padamu. Wanita itu mereka lebih menggunakan perasaan ketimbang logika. Mereka tidak sama seperti kita yang tidak akan terpengaruh dengan apapun tapi mereka selalu mengandalkan perasaan mereka dalam mengambil keputusan.” Ucap Alvino kemudian.


“Huh, aku pun gak tahu harus membantumu dengan apa lagi. Aku sudah mewanti-wantimu untuk tidak bertindak salah tapi kau melakukan kesalahan seperti ini. Aku yakin istriku akan melakukan evaluasi kembali kepadamu. Ahh aku pusing. Kalian yang terlibat hubungan kenapa aku yang pusing. Sudah ahh lebih baik aku masuk dulu. Aku akan mencoba memikirkan ide apa yang bisa membantumu tapi kau juga pikirkan sendiri bagaimana bisa mendapatkan maafnya.” Ucap Alvino lalu berdiri dan menepuk bahu Fazar sebelum dia masuk ke dalam hotel.


Fazar pun hanya bisa menghela nafas sedih sambil menatap nanar kepergian bosnya itu, “Dasar bodoh aku!” pukul Fazar pada dirinya.

__ADS_1


***


Sementara di kamar Frisya di sana sudah ada Freya yang duduk di ranjang, “Sekarang apa yang akan kau lakukan dek. Kau sudah melihatnya. Dia merasa bersalah telah mengatakan itu kepadamu. Semua keputusan ada padamu.” Ucap Freya. Yah, Frisya memang melihat Fazar dan kakak iparnya itu bicara dari jendela kamarnya.


Frisya berlari ke pelukan Freya lalu menangis, “Aku sedang sedih kak. Kenapa dia menganggapku begitu?” tanya Frisya menangis dalam pelukan kakaknya itu.


Freya pun hanya menghela nafas, “Kau sudah dewasa, kakak yakin kau tahu mana yang terbaik untukmu. Kakak yakin Fazar tidak bermaksud mengatakan itu kepadamu. Dia hanya merasa minder saja padahal kita bukan seperti itu. Jujur saja kakak juga kesal mengetahui ini tapi kakak tahu kau pun memiliki perasaan kepadanya. Dan jika sudah perasaan yang bicara logika pun akan kalah. Sudah lebih baik tenangkan dirimu dan jika kau sudah siap menemuinya maka bicarakan baik-baik. Kakak ingin melihat kalian semua bahagia. Kalian itu adalah adikku dan kakak ingin semuanya bahagia dengan pilihannya masing-masing. Kakak dapat melihat cinta yang besar dari Fazar untukmu begitu juga sebaliknya kau mencintainya kan. Jangan mencoba mengelaknya karena kakak mengetahuinya dengan pasti. Jika kau tidak mencintainya maka kau tidak akan sekesal sekarang ini. Cintamu kepadanya yang membuatmu merasa kesal, kau tidak ingin mendengarnya merendahkan dirinya di hadapanmu. Hal itulah yang memicu kemarahanmu tapi yang sebenarnya kau sangat mencintainya. Kakak tahu itu.” ucap Freya tersenyum lalu memeluk adiknya itu.


Frisya yang mendengar ucapan kakaknya yang bisa menebak seluruh perasaannya hanya bisa mencurahkan kesedihan dan kekesalannya dalam pelukan kakaknya itu. Freya mengangkat wajah adiknya lalu mengusap sisa air mata di pipi adiknya itu, “Jangan menangis sayang dan jangan kesal terlalu lama. Jangan menyiksa dirimu terlalu lama. Maafkan dia agar hatimu bisa segera lega. Kakak menyukai Fazar untuk jadi adik ipar kakak. Dia laki-laki yang bertanggung jawab. Di lihat dari tanggung jawabnya memikul pekerjaan kakak iparmu yang kau tahu sangatlah banyak. Tapi dia bisa mengimbangi pekerjaan cara bekerja kakak iparmu. Kakak menyayangimu dan ingin kebahagiaanmu. Sudah sana ayo bersihkan dirimu dan gantilah pakaiannya agar lebih segar lagi. Kakak tidak suka melihat wajah jelekmu ini.” ucap Freya tersenyum.


Frisya pun tersenyum lalu memeluk kakaknya itu lalu setelah itu dia melepaskannya dan segera menuju kamar mandi, “Terima kasih kak sudah membantuku.” Ucap Frisya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Freya pun mengangguk tersenyum.


Setelah itu dia beranjak dari kamar adiknya itu dan keluar, “Aku akan menemui Fazar.” Ucap Freya segara menuju kamarnya dan sang suami.


“Hubby, di mana asistenmu itu?” tanya Freya kepada sang suami yang duduk di sofa di dalam kamar itu.

__ADS_1


“Mau kau apakan dia sayang? Kita jangan ikut campur masalah mereka. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.” Ucap Alvino lembut.


“Jangan mencoba melindungi asistenmu itu suamiku. Aku ingin bicara padanya sesuatu yang penting.” ucap Freya menekan kata penting. Alvino pun akhirnya segera menurut saja dan menghubungi Fazar.


__ADS_2