
Tiga hari berlalu dengan sangat cepat, kini Friska kembali bekerja di studio radio untuk mengisi program acara yang memang selalu dia bawa setelah seminggu yang lalu tidak kesana sebab insiden yang tidak di duga sama sekali di tambah Friska sakit dan juga lamaran serta pergi ke nikahan Kiana dan Zean.
Ting
Satu pesan masuk ke ponsel Friska yang sedang bersiap untuk berangkat ke studio. Friska pun membaca chat yang masuk itu lalu dia tersenyum begitu mengetahui siapa pengirim chat itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rezky sang calon suami.
“Aku sudah menunggu di bawah. Aku akan mengantarmu ke studio. Sekalian juga aku mau mengecek perkembangan studio.” Begitu isi pesan Rezky itu.
Friska tidak menjawabnya tapi dia segera mempercepat persiapannya agar Rezky tidak terlalu lama menunggu padahal bisa saja Rezky menunggu karena Friska saja tidak meminta untuk di antar. Namun Friska tidak ingin itu terjadi.
Friska pun segera keluar dan kaget melihat sang adik yang tidak siap-siap justru sedang makan camilan sambil menonton drama di ruang keluarga apartemen itu, “Dek, apa kau tidak akan ke resto?” tanya Friska.
Frisya pun menengok dan melihat kakak keduanya itu lalu kemudian dia menggeleng, “Aku sudah izin kak. Aku malas ke sana hari ini. Aku mau menghabiskan malam mingguku di apartemen saja sambil menonton drama kesukaanku.” Jawab Frisya.
“Kok gitu? Biasanya kau yang paling semangat jika weekend begini. Kau paling semangat menjadi penghibur para pengunjung di resto kakak. Ada apa? Apa ada masalah lagi dengan kak Fazar? Apa kau menghindarinya lagi?” tanya Friska mendekati adiknya itu.
Frisya yang mendengar itu tersenyum, “Kak, jangan terlalu berpikiran buruk padaku. Aku hanya ingin di apartemen saja. Aku sudah bosan menjadi penghibur mereka. Tenang saja. Hubunganku dengan kak Fazar baik-baik saja kok. Sudahlah jangan pikirkan aku. Lebih baik kakak sekarang segera ke bawah, aku yakin calon kakak ipar sudah menunggu di bawah kan.” Ujar Frisya tersenyum.
Friska pun tersenyum, “Kamu yakin gak apa-apa di tinggal sendiri. Kakak batalkan saja ke studio.”
“Ish gak usah kak Ris. Jangan khawatirkan aku. Kakak seperti meninggalkan anak kecil saja. Aku ini sudah besar. Sudah bisa menjaga diriku dengan baik. Tenang saja. Aku akan aman.” Ucap Frisya.
Friska pun mengangguk saja lalu mendekati adiknya itu dan mengecup keningnya, “Kakak pamit yaa.” Ucap Friska. Frisya pun mengangguk saja.
Friska segera keluar lalu menelpon Fazar. Panggilan pertama tidak di jawab, “Kemana sih kak Fazar?” ucap Friska.
__ADS_1
Friska segera menuju tempat parkir di mana di sana Rezky sudah menunggu sambil melambaikan tangannya. Friska pun mendekati calon suaminya itu, “Ada apa? Kenapa kamu terlihat khawatir begitu?” tanya Rezky begitu Friska sudah ada di dekatnya dan dia melihat ada kekhawatiran di sana.
Friska menggeleng, “Gak ada apa-apa kak. Hanya saja Frisya sendiri di apartemen. Entah kenapa dia gak ke resto kak Reya.” Ucap Friska.
“Kamu sudah tanya alasannya?” tanya Rezky.
Friska mengangguk, “Katanya dia hanya ingin menikmati waktunya di apartemen. Padahal biasanya dia itu paling semangat jika ke resto untuk menghibur pengunjung resto kakak. Namun hari ini dia agak aneh.” Jawab Friska.
Tiba-tiba ponsel Friska berdering dan di sana ada nama yang terpampang yaitu asisten Fazar. Friska pun segera menjawabnya, “Assalammu’alaikum nona Friska, apa ada yang bisa saya bantu? Maaf nona saya tidak sempat menjawab panggilan dari anda karena ternyata ponsel di silent.” ucap Fazar yang baru saja turun dari mobil di depan resto Freya.
“Wa’alaikumsalam. Gak apa-apa asisten Fazar. Saya tidak butuh apapun. Hanya saja saya ingin bertanya apa anda memiliki masalah dengan Frisya? Apa kalian ada salah paham lagi?” tanya Friska.
“Gak ada nona. Kami baik-baik saja kok. Memangnya ada apa nona?” tanya Fazar dari seberang.
“Ahh itu. Saya bingung saja. Jika kalian tidak memiliki masalah kenapa dia gak ke resto yaa?” ujar Friska.
“Ahh baiklah jika memang begitu. Saya tunggu di sini. Terima kasih.” Ucap Friska. Lalu setelah itu sambungan telepon itu pun terputus.
Friska menatap jam di tangannya, “Jangan khawatir. Aku sudah menelpon manajer. Program yang kau bawakan akan di majukan.” Ucap Rezky.
Friska yang mendengar itu pun tersenyum, “Kakak menggunakan kekuasaan yaa. Aku akan meminta kakak ipar untuk memecatmu jadi direkturnya. Kau menyalahgunakan kekuasaan.” Ucap Friska tertawa.
“Gak masalah aku di pecat jadi direktur yang terpenting jangan di pecat jadi calon suamimu.” Ujar Rezky tersenyum.
“Dasar gombal. Aku tidak menyangka bahwa kakak bisa menjadi tuan gombal.” Ucap Friska. Rezky pun tertawa.
__ADS_1
Sekitar 15 menit kemudian akhirnya Fazar tiba dan langsung turun begitu mobilnya sudah berhenti. Dia langsung mendekati Friska dan Rezky yang sedang bicara, “Tuan, nona.” Ucap Fazar.
“Jangan terlalu formal kepada kami Fazar. Aku bukan tuanmu. Kau tidak bekerja untukku. Apalagi kemungkinan besar kita akan menjadi keluarga nanti.” Ucap Rezky.
Fazar pun hanya tersenyum, “Tunggu sebentar. Aku akan menghubunginya adikku dulu.” Ucap Friska.
Tuut tuut tuut
“Halo, ada apa kak?” tanya Frisya dari seberang to the point.
“Dek, ada kak Fazar di bawah. Lima menit.” Ucap Friska lalu segera memutuskan sambungan telepon itu sambil tertawa.
Rezky pun tersenyum melihat tingkah calon istrinya itu karena ternyata Friska itu jahil, “Kita tunggu apa dia lima menit akan turun ke sini.” Ucap Friska.
Sementara di atas Frisya menatap ponselnya itu dengan tatapan kesal, “Apa-apa an ini. Aku yakin kakak pasti mengerjaiku. Mana mungkin dia masih di bawah padahal sudah sekitar 20 menit yang lalu pergi. Aku ini pasti di kerjai mana pakai membawa nama kak Fazar segala.” Ucap Frisya lalu segera duduk kembali di sofa berniat untuk melanjutkan menonton.
Ting
From : Kakak Keduaku
“Waktumu tinggal tiga menit lagi. Awas saja jika dalam tiga menit kau tidak turun ke bawah maka akan ada yang terjadi pada kak Fazar.” Begitu isi pesan Friska itu.
Frisya yang selesai membacanya segera berlari ke kamarnya untuk memakai rok dan mengganti hijabnya, “Awas saja jika kau mengerjaiku kak. Aku akan membunuhmu.” Ucap Frisya sambil mengoleskan bedak di wajahnya dengan gerakan cepat. Dia segera berlari mengambil ponselnya dan mematikan tv lalu berlari menuju pintu apartemen dengan memakai sandal seadanya saja. Frisya segera menuju lift dan menekan lantai satu.
Tidak lama Frisya sudah di lantai bawah dan dia segera berlari menuju parkiran lalu terhenti begitu melihat Friska yang melambaikan tangannya sambil di temani dua lelaki yang dikenalnya.
__ADS_1
“Kau terlambat dua menit.”