Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
131


__ADS_3

“Lalu papi dan mami menyetujuinya?”


Mami Calista dan papi Baskara pun tersenyum lalu mengangguk, “Freya memang sudah meminta untuk persiapan lamaran ini mereka yang akan menyiapkannya karena memang dadakan. Tapi jika untuk pernikahan nanti maka itu di serahkan kepada mami dan papi untuk menyiapkannya. Kami pun akhirnya menyetujui itu.” ucap mami Calista menjelaskan.


Irma pun mengangguk mengerti, “Ahh ku pikir tidak ada kesepakatan yang terjadi.” Ucap Irma.


“Itu bukan kesepakatan nak. Tapi memang Kenzo dan keluarganya itu sangat toleran dan memahami bahwa ini dadakan sehingga mereka yang meminta lamaran ini di adakan secepatnya yang mengambil alih semuanya. Hal itu juga tentu saja kami harus mempercayakan kepada mereka. Akad pernikahan kakak Kenzo pun hanya dalam hitungan jam bisa mereka buat. Tempatnya juga di rumah sakit tapi tidak ada kesan rumah sakit sama sekali. Jadi kami mempercayai mereka untuk lamaran putri kami ini. Kamu tidak keberatan kan nak? Kamu tidak merasa kami tidak menyayangimu kan?” tanya mami Calista.


Irma menggeleng, “Untuk apa aku harus keberatan. Jika memang itu yang terbaik untuk semuanya. Aku tahu kak Reya pasti sudah memikirkan semuanya. Aku mempercayai kak Reya. Lagian juga aku sudah mengatakan konsep lamaran seperti apa yang aku inginkan kepada kak Kenzo.” ucap Irma tersenyum.


Papi Baskara dan mami Calista yang melihat senyuman putri mereka itu pun bahagia, “Apa kau bahagia nak?” tanya papi Baskara.


Irma yang mendengar itu pun tersenyum lalu mengangguk yakin, “Aku bahagia pih.” Ucap Irma melihat ponselnya yang berdering.


“Jawab nak!” ucap mami Calista tersenyum.


“Mami! Itu bukan kak Kenzo.” ucap Irma.


“Hee’eeh mami juga tidak mengatakan itu Kenzo nak. Mami hanya mengatakan jawab panggilannya.” Ucap mami Calista.


Irma pun tersenyum malu, “Ahh sudah ah. Irma mau ke kamar dulu. Daa mami, papi.” Ucap Irma segera berdiri lalu memberikan kecupan di pipi untuk mami dan papinya itu. Setelah itu Irma pun segera berlari ke kamar dengan semua barang-barangnya. Irma juga segera menjawab panggilan itu yang memang dari Kenzo.


Papi Baskara dan mami Calista tersenyum melihat tingkah putri mereka itu, “Dia sedang bahagia pih. Mami senang melihat dia tersenyum lepas seperti itu. Akhirnya kita bisa melihat senyum lepasnya lagi.” Ucap mami Calista.


Papi Baskara mengangguk, “Mami benar. Kita pikir apa yang kita lakukan selama ini menjaganya. Memang benar dia secara fisik terjaga tapi batinnya menderita. Senyumnya hilang dan senyum yang dia tampilkan kepada kita adalah palsu. Kenzo memang membawa pengaruh dalam kehidupannya. Papi lihat sejak dia magang dia bahagia. Kita akan menyayangi menantu kita dengan baik mih. Kasihan Kenzo dia tidak memperoleh kasih sayang orang tua sejak dia kecil.” Ucap papi Baskara.


“Kita akan memberikan itu kepadanya pih. Kita akan menyayanginya dengan baik.” ujar mami Calista.

__ADS_1


***


Keesokkan harinya, di Negara S selepas sholat subuh telepon Kiana berdering dan tersenyum melihat panggilan dari adiknya.


Kiana pun segera menjawabnya, “Assalamu’alaikum kak!” salam Kenzo.


“Wa’alaikumsalam. Dasar adik nakal. Kenapa jarang sekali menghubungi kakak?” tanya Kiana pura-pura kesal.


Kenzo yang mendengar itu pun terkekeh, “Jangan marah ya kakak cantikku. Aku sangat sibuk sehingga tidak sempat menghubungi tapi percayalah aku selalu mendoakanmu dengan kakak ipar agar kalian segera memiliki anak dan aku akan memiliki keponakan. Selain itu juga aku tidak ingin mengganggumu yang senang menikmati waktu pernikahan kalian kak.” Ujar Kenzo.


“Tetap saja kau harus menghubungi kakak. Hanya pesan saja yang di kirim.” Ucap Kiana.


“Maaf kak. Aku janji akan sering menghubungimu deh.” Ucap Kenzo.


“Kamu janji begitu juga saat di bandara dan pesta pernikahan kakak tapi nyatanya kau tidak menepatinya. Ahh sudahlah, apa yang ingin kau katakan? Apa Friska akan segera menikah?” tanya Kiana.


“Yah, kak Ris akan menikah tiga minggu lagi tepat tanggal 10 bulan depan.” Jawab Kenzo.


Kenzo yang mendengar ucapan kakaknya itu kini tersenyum ternyata Freya memang belum mengatakan apapun kepada kakaknya ini, “Kak, sepertinya kau harus mempercepat kedatanganmu.” Ucap Kenzo.


“Kenapa begitu?” tanya Kiana heran. Zean yang melihat istrinya bicara dengan nada heran itu pun menjadi penasaran.


“Karena besok adalah acara lamaranku.” Ujar Kenzo sambil siap-siap untuk mendengar teriakan kakaknya itu.


“Apa? Lamaran? Lamaran siapa? Ahh Kenzo!” teriak Kiana langsung mengubah panggilan menjadi video call.


“Katakan sekali lagi. Siapa yang akan lamaran?” tanya Kiana dengan nada suara yang lebih kecil dari yang tadi.

__ADS_1


“Kak, kau tidak salah dengar. Aku akan lamaran besok.” Ucap Kenzo serius.


Kiana yang melihat wajah adiknya yang serius itu pun menghela nafasnya, “Huh, baiklah siapa gadis itu? Apa gadis yang kau ajak kesini waktu pernikahan kakak?” tanya Kiana.


Kenzo mengangguk, “Iya kak.” Jawab Kenzo.


“Kenapa dadakan? Ini dadakan atau memang kamu memberitahu kakak belakangan?” selidik Kiana.


“Dadakan kak. Baru kemarin aku membicarakannya dengan kak Reya dan ternyata ada kejadian yang harus membuatku mempercepat lamaran ini.” ucap Kenzo.


“Baiklah jika memang begitu. Kak Reya dan keluarga lain sudah tahu kan?” tanya Kiana.


Kenzo kembali mengangguk, “Ya sudah. Kakak akan usahakan datang.” ucap Kiana menatap suaminya.


Zean tersenyum, “Kami akan datang adik ipar. Bagaimana mungkin lamaranmu kami gak datang.” ucap Zean.


Kenzo pun tersenyum mendengar suara Zean itu, “Terima kasih kakak ipar. Aku menunggu kedatangan kalian.” ujar Kenzo. Tidak lama setelah itu sambungan video call itu pun terputus karena Kenzo sibuk dengan persiapan lamarannya.


Kiana segera meletakkan ponselnya di ranjang dan menatap suaminya, “Kak, yakin kita akan datang?” tanya Kiana.


Zean tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh istrinya, “Yakin sayang. Ada apa? Apa yang kau khawatirkan?” tanya Zean.


Kiana menggeleng, “Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Kiana balik.


Zean kembali tersenyum, “Pekerjaan bisa menunggu sayang tapi lamaran adikmu itu tidak bisa kita lewatkan. Dia akan sedih jika kakak kandungnya gak datang di hari special dalam hidupnya. Memang benar kak Reya dan keluarga yang lain ada menemaninya tapi tetap saja dia pasti ingin kau datang.” ucap Zean.


Kiana pun tersenyum, “Terima kasih kak. Kau mengerti aku.” Ucap Kiana.

__ADS_1


Zean tersenyum lalu menarik istrinya itu ke dalam pelukannya, “Kau itu adalah istriku. Kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku. Aku juga tahu walaupun tanpa kau ucapkan tapi sudut hatimu ingin bertemu dengan keluargamu. Jadi anggap saja ini pertemuan dengan keluarga.” ucap Zean.


“Lalu rapat hari ini bagaimana?”


__ADS_2