Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
64


__ADS_3

Tujuh hari berlalu dengan sangat cepat semua rangkaian berduka dan yasinan yang dilaksanakan sudah selesai. Kiana pun dia mulai bangkit walau kadang-kadang makan tetap harus dipaksa oleh Freya. Dia masih sedih tapi sudah bisa menerima papanya telah pergi.


Semua keluarga besar Freya semuanya tinggal di rumah Freya itu untuk suasana berduka atas meninggalnya papa Vian. Hubungan Kiana dan Zean pun tetap belum ada perkembangan, mereka bahkan tidur terpisah dan semua orang tahu itu. Mereka memakluminya karena Kiana masih sedih dan Zean serta keluarganya gak mempermasalahkannya karena mereka juga mengerti dengan keadaan Kiana.


Hari ini mommy Vania dan daddy Rafael akan kembali pulang ke Negara S. Mommy Vania sebelum pergi dia bicara dengan Kiana lebih dulu, “Nak, apa masih sedih?” tanya mommy Vania.


Kiana menggeleng, “Sedikit mom.” Ucap Kiana meneteskan air matanya.


Mommy Vania yang melihat itu segera menghapus air matanya menantunya, “Jangan sedih dong nak. Mommy sedih loh melihatmu sedih terus, ayo bangkit.” Ucap Mommy Kiana segera memeluk menantunya itu.


“Mom, maaf yaa Kia beberapa ini terlalu sedih hingga lupa bahwa Kia sudah memiliki keluarga baru. Maafkan Kia yang tidak memedulikan kalian. Maaf belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mommy sama daddy. Mom sama dad akan pulang kan hari ini?” ucap Kiana.


Mommy Vania yang mendengar ucapan menantunya segera melerai pelukannya dan menghapus air mata Kiana, “Iya sayang mom sama dad akan pulang hari ini tapi kamu jangan sedih setelah kamu siap maka kami akan datang menjemputmu ke Negara S. Kamu mau kan ikut tinggal bareng kami di sana? Jika kau belum siap kamu bisa tinggal di sini beberapa bulan sampai kau siap tinggal bareng kami.” Ucap mommy Vania lembut.


Kiana pun mengangguk, “Kia akan ikut ke sana mom tapi bisakah sebulan lagi Kia di sini mempersiapkan semuanya. Kia juga masih memiliki adik.” Ucap Kiana.


Mommy Vania tersenyum mengangguk lalu mengecup kening Kiana, “Terserah padamu nak. Kami mendukung semua keputusanmu.” Ucap mommy Vania.

__ADS_1


Kiana yang mendengar itu terharu dan dia kembali merasa di sayangi. Dia memeluk ibu mertuanya itu erat, “Pesawat mom akan berangkat jam berapa?” tanya Kiana.


“Jam sepuluan kayaknya.” Jawab mommy Vania.


“Kia mau ikut mengantar mommy sama daddy di bandara tapi Kia siap-siap dulu. Kia belum mandi. Heheh!” ucap Kiana.


Mommy Vania pun mengangguk senang karena tidak menyangka menantunya itu akan ikut mengantar ke bandara karena tadinya yang terpenting mereka sudah pamit dengan menantunya itu tanpa perlu di antar ke bandara tapi jika menantunya yang ingin mengantar ke bandara kenapa harus di tolak, “Baiklah sana Kia siap-siap dulu. Mommy sama daddy akan menunggu di depan.” Ucap mommy Vania lalu segera berlalu keluar.


Kiana pun segera menuju kamar mandi untuk mandi bersiap-siap ke bandara tapi sayang Kiana sedang sial dia mandi tidak sempat membawa handuk dan pakaiannya sudah terlanjut basah, “Apa ada orang di luar?” tanya Kiana sambil mengintip dari balik pintu kamar mandi.


Zean yang berhubung ada di kamar itu untuk mengganti pakaiannya karena harus mengantar orang tuanya ke bandara pun mendengar suara istrinya. Dia mendekat ke kamar mandi, “Iya dek. Apa ada yang bisa di bantu?” tanya Zean sebenarnya malu menanyakan perkataan itu.


Zean pun mengangguk dan segera mengambilkan handuk untuk istrinya lalu memberikannya melalui celah pintu yang di buka oleh istrinya. Setelah itu Zean kembali melanjutkan mengganti pakaiannya.


Tidak lama Kiana keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja karena dia pikir suaminya sudah keluar dari kamar itu setelah memberikan handuk kepadanya tapi tidak tahunya kini mereka saling memandang satu sama lain, “Kak, berbalik. Jangan melihat ke sini.” Ucap Kiana malu karena dia hanya memakai handuk saja bahkan hijab saja tidak karena dia memang keramas.


Zean pun segera berbalik sambil menelan ludah kasar karena melihat tubuh sang istri yang hanya tertutup handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Zean ingat dengan jelas kaki jenjang sang istri yang putih dan dada istrinya yang menggoda serta rambut panjang hitam cantik milik istrinya itu. Sungguh menurutnya sang istri sangat sempurna.

__ADS_1


Kiana segera mengambil pakaiannya dan berlari menuju kamar mandi sambil mengutuk kebodohannya. Dia mengganti pakaiannya di sana dan begitu keluar setelah selesai memakai pakaian Kiana membuka perlahan-lahan dan memastikan bahwa suaminya sudah gak ada barulah dia keluar. Kiana segera mengeringkan rambutnya sambil teringat bagaimana ekspresi suaminya itu saat melihatnya, “Ahh malunya.” Ucap Kiana sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kiana segera menyelesaikan persiapannya karena tidak ingin mertuanya menunggu terlalu lama.


Kiana segera keluar dan melihat mertuanya. Mommy Vania segera menggandeng sang menantu keluar menuju mobil tapi sebelum itu Kiana berpamitan dulu kepada kakaknya karena memang keluarga yang lain sudah pada pulang. Begitu tiba di mobil dia melihat sang suami seketika dia merasa malu mengingat kejadian tadi di kamar tapi dia mencoba bersikap biasa dan masuk ke dalam mobil bersama mommy Vania lagian juga sepertinya suaminya itu biasa aja. Tapi sejujurnya Zean juga merasakan hal yang sama dia canggung tapi berusaha menyembunyikannya. Tidak lama mobil itu segera melaju menuju bandara.


***


Di rumah Freya itu keluarga mulai pulang dari semalam dan tadi pagi terakhir mama Najwa dan papa Khabir serta nenek Ayesha kini tinggallah Friska dan Frisya yang masih membantu Freya mengatur rumahnya, “Kak, kami juga mau kembali ke apartemen aja deh. Kan semua urusan di sini juga sudah selesai.” Ucap Friska sambil menikmati jus jeruk yang baru saja dia buat setelah selesai bekerja.


“Iya kak kami pulang ke apartemen saja.” timpal Frisya yang sedang minum coklat dingin.


Freya pun mengangguk, “Terserah kalian saja. Ohiya terima kasih sudah membantu kakak yaa.” Ucap Freya.


“Kakak macam sama siapa aja pakai terima kasih segala. Kau itu kakak kami jadi sudah sepantasnya kami membantu membereskan.” Ucap Friska yang di angguki oleh Frisya.


“Riska sepertinya perjodohanmu dengan Rezky benar-benar sudah di rencanakan bahkan mama dan papa saja sudah tahu. Orang tua Rezky sedang gencar-gencarnya mendekati mama dan papa. Jadi kau siap-siap saja. Jika memang kau tidak bisa menerimanya maka tolak dengan halus jangan memberi harapan kepada keluarga itu. Kamu paham kan?” tanya Freya.


Friska mengangguk karena dia juga sudah mengetahuinya, mama Najwa dan pap Khabir sudah mengatakannya dan menyerahkan semua keputusan ada padanya. Sepertinya dia akan memikirkannya sebelum mengambil keputusan.

__ADS_1


“Risya kamu juga hati-hati. Jangan anggap semua biasa saja. Kakak tahu kau bukan orang bodoh yang tidak bisa mengartikan apa maksud perhatian Fazar selama ini kepadamu tapi untuk saat ini kau fokus dulu pada kelulusanmu.” Ucap Freya kepada adik bungsunya. Frisya pun mengangguk mengerti.


__ADS_2