Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
15


__ADS_3

Siang harinya, “Apa? Baik saya akan segera kesana.” Ucap Kiana begitu menerima panggilan dari tetangganya.


Dia segere menyambar tasnya lalu keluar ruangannya menuju ruangan Freya untuk meminta izin pergi. Freya juga yang sebenarnya ingin menemui adik sepupunya itu kaget melihat Kiana yang terburu-buru, “Dek, ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Freya mendekati adiknya itu.


Kiana segera berhambur dalam pelukan kakaknya itu, “Kak aku izin hari ini. Penyakit papa kambuh lagi tadi tante Diana menelponku mengatakan papa sudah di bawa ke rumah sakit. Maafkan aku hari ini tidak bisa sampai selesai menyelesaikan tugasku.” Ucapnya sudah meneteskan air matanya.


“Sudah gak apa-apa. Jangan menangis sayang. Kau pergilah nanti kakak akan menyusulmu. Biarkan supir kakak yang mengantarmu. Jangan menolak!” ucap Freya.


Kiana pun hanya mengangguk lalu Freya segera memanggil supirnya agar Kiana segera di antar ke rumah sakit melihat papanya. Freya hanya bisa menghela nafasnya melihat Kiana sudah pergi, “Selalu saja sok kuat. Kenapa coba tidak membagi masalah dengan yang lain.” Gumam Freya karena dia memang mengetahui bahwa ayah dari sepupunya itu sedang sakit dan dia sudah menawarkan pengobatan tapi Kiana dan papanya menolak karena papanya itu sudah tahu bahwa waktu yang dia punya tinggal sedikit. Jadi dia tidak ingin merugikan uang hanya untuk pengobatannya sementara anak-anaknya saat dia pergi harus hidup menderita.


Freya segera masuk kembali ke dalam klinik dan menuju ruangan adiknya, “Kak! Ada apa kau datang kesini? Apa ada sesuatu yang kau butuhkan?” tanya Frisya melihat ternyata yang masuk adalah Freya.


“Paman Vian masuk rumah sakit.” Ucap Freya.


Friska yang mendengar hal itu kaget, “Terus bagaimana dengan kak Kia?” tanya Friska.


“Dia sudah kesana di antar supir kakak. Huh, anak itu dan paman Vian sangatlah keras kepala. Entah kenapa paman Vian sudah menyerah dengan penyakitnya itu dan tidak ingin sembuh padahal Kiana dan Kenzo masih membutuhkannya.” Ucap Freya duduk di sofa ruangan itu.


“Kakak akan kesana jadi hari ini kakak serahkan segala urusan klinik padamu.” Lanjut Freya.


Friska mengangguk, “Tolong yaa kak segera beritahu padaku perkembangan paman Vian, mungkin malam aku akan kesana.” Ucap Friska.


Freya hanya mengangguk lalu dia segera keluar dari sana menuju ruangannya bersiap-siap untuk menyusul ke rumah sakit sambil menunggu supirnya juga balik.

__ADS_1


***


Kini seorang gadis baru saja tiba di sebuah perusahaan yang bertuliskan ‘Aryawiguna Group’. Dia sudah cantik dengan setelan kantornya walau hanya memakai pakaian semi formal tapi itu sangat cocok dengan style-nya, “Semangat Frisya hari ini kau akan mendapatkan ilmu baru.” Gumamnya merapikan hijabnya yang sedikit berantakan. Yah dia adalah Frisya setelah dari praktik dia segera kesini. Dia sudah mengganti pakaian praktiknya dengan pakaian kerja tadi saat sebelum pulang dari tempat praktiknya.


Frisya dengan langkah anggun dan percaya diri dia segera masuk ke dalam gedung bertingkat itu dan segera menuju meja recepsionis, “Apa saya bisa tahu dimana ruang presdir?” tanya Frisya basa basi karena dia sudah pernah kesini bersama sang kakak dan tentu saja dia tahu di lantai berapa ruangan kakak iparnya itu berada.


“Ini nona Frisya kan?” tanya recepsionis itu.


Frisya segera mengangguk, “Iya benar.” jawabnya.


“Silahkan saja nona naik ke lantai 15 di sana sudah menunggu tuan Alvino dan tuan Fazar. Di sana liftnya nona!” tunjuk recepsionis itu ramah.


Frisya pun tersenyum lalu dia segera menuju lift tapi tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada recepsionis itu.


“Cantik yaa! Sama seperti nyonya bos.” Ucapnya.


“Tentu saja. Bukan hanya cantik fisik tapi cantik akhlak seperti nyonya bos juga.” Timpal recepsionis yang bicara dengan Frisya tadi.


“Kau benar. Entah siapa pria beruntung yang akan memilikinya.” Ucap satunya lagi.


***


Kini Frisya sudah keluar dari lift dan sudah berada di lantai 15 di mana hanya ada tiga ruangan di sini yaitu ruangan Presdir, Asisten Presdir dan General Manajer. Frisya segera menuju ruangan kakak iparnya berada dan saat dia hendak mengetuk pintu ruangan kakak iparnya itu terbuka dan terlihatlah kakak iparnya itu keluar dari sana, “Kakak ipar! Kau mau kemana?” tanya Frisya.

__ADS_1


“Ehh kau sudah datang. Fazar hari ini aku serahkan perusahaan kepada kalian. Aku harus segera ke rumah sakit melihat paman Vian.” Ucap Alvino.


“Paman Vian?” beo Frisya.


“Iya, paman Vian masuk rumah sakit. Jadi kakak titip perusahaan ini kepada kalian hari ini. Kau bisa menanyakan apa yang bisa kau kerjakan kepada Fazar. Ruanganmu juga tanyakan saja pada Fazar. Fazar aku titip adikku jaga dia baik-baik. Aku pamit.” Ucap Alvino lalu segera berlalu meninggalkan dua orang itu.


Frisya yang tersadar Alvino sudah gak ada segera berlari mendekati Alvino, “Kakak ipar, tolong kabari jika ada perkembangan dari Paman Vian.” Ucap Frisya yang hanya di balas jempol oleh Alvino lalu dia segera masuk ke dalam lift.


Frisya segera kembali mendekati Fazar dan menundukkan kepalanya, “Selamat siang bos! Maaf jika aku terlambat datang.” Ucap Frisya.


Fazar yang di hormati seperti itu oleh adik ipar dari presdirnya merasa kurang pantas, “Jangan lakukan itu dek. Saya bukan bosmu.” Ucapnya canggung.


“Kata siapa? Kak Fazar itu bosku mulai hari ini. kau itu atasanku jadi sudah seharusnya aku menghormatimu. Aku tetap harus menjalankan aturan yang ada di sini walau aku hanya pekerja sementara di perusahaan ini selama seminggu ke depan tapi tetap saja harus mematuhi aturan yang ada. Jadi mulai hari sampai seminggu ke depan aku akan memanggilmu bos jika ada di kantor jika diluar pekerjaan maka aku akan memanggilmu seperti biasa lagi.” Ucap Frisya panjang lebar.


“Terserah padamu saja. Saya selalu salah jika berdebat denganmu.” Timpal Fazar menyembunyikan rasa senangnya akan kedatangan gadis itu dan segala tingkah ajaibnya yang membuatnya tertawa atau tersenyum. Frisya bisa menciptakan suasana yang ceria walau dalam suasana yang sedang sedih atau dengan orang-orang yang jarang bicara. Dia bagaikan matahari yang bisa mencairkan sebuah es hingga membuat Fazar nyaman akan hal itu tapi tetap saja dia sadar akan kedudukannya.


“Hahah,, sudahlah ayo kita bekerja. Di mana ruanganku? Emm,, tapi bukan ruangan di sini hanya ada tiga?” tanya Frisya.


“Memang benar ruangan di sini hanya ada tiga dan kau mulai hari ini akan bekerja dengan saya di ruangan saya. Tenanglah saya tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padamu.” Ucap Fazar menjelaskan karena takut gadis itu salah paham dengannya.


“Hahah,, tenang saja bos aku percaya kau bukan orang seperti itu. Lebih baik kita segera bekerja karena aku sedang bersemangat untuk belajar sesuatu yang baru dan maaf jika aku merepotkanmu nanti.” Ucap Frisya.


Fazar hanya mengangguk saja lalu mereka segera masuk ke ruangan Fazar dan di sana sudah ada meja yang di sediakan untuknya. Fazar dan Frisya pun mulai bekerja dan ternyata Frisya memiliki kemampuan di bidang itu hingga hanya dengan sekali belajar dia sudah paham seperti perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2