
Setelah itu Azwa segera turun dari pangkuan Kiana begitu melihat kedatangan Frisya, “Mami!” panggil Azwa lalu berlari mendekati Frisya yang baru saja pulang.
Frisya yang mendengar itu segera berlutut dan menyambut keponakannya itu dan memeluknya, “Mami, apa bawa coklat?” tanya Azwa sambil melihat tangan Frisya.
Seketika Frisya teringat bahwa dia itu berjanji kepada keponakan kecilnya ini untuk di belikan coklat dan dia melupakannya, “Maaf sayang mami lupa.” Ucap Frisya merasa bersalah.
Azwa pun cemberut, “Begini deh nanti kita beli tapi mami mandi dulu yaa. Azwa bisa memilihnya sendiri nanti.” Ucap Frisya.
Mata Azwa pun seketika berbinar kembali lalu dia mengangguk dan segera menggandeng Frisya masuk, “Ayo. Kalau begitu mami mandi dulu. Azwa juga akan mengajak kakak dan abang.” Ucap Azwa segera berlari menuju lantai dua di mana kakak-kakaknya yang lain berada.
Frisya tersenyum menatap keponakannya itu lalu dia segera menuju ruang keluarga untuk menyalami kakak-kakaknya yang berada di sana. Setelah itu Frisya segera meminta izin untuk membersihkan diri sebelum nanti pergi dengan keponakannya.
***
Di ruang keluarga, setelah Frisya pergi kini mereka memulai pembicaraan, “Kedatangan kami ke sini untuk meminta izin sekaligus memberitahukan rencana kami.” Ucap Zean membuka pembicaraan.
“Meminta izin untuk apa?” tanya Freya.
“Kami akan melakukan resepsi pernikahan tapi itu akan di lakukan di Negara saya kakak ipar. Saya harap kalian tidak keberatan.” Ucap Zean.
Freya yang mendengar itu segera menatap sang suami lalu menatap Kiana, “Bagaimana pendapatmu Kiana?” tanya Freya.
Kiana segera menatap kakaknya itu, “Kami sudah membicarakannya kak dan aku setuju untuk acara resepsinya di adakan di Negara kak Zean. Lagian kan akadnya juga sudah di lakukan di sini. Jadi memang sudah cocok resepsi pernikahan di lakukan di sana.” Jawab Kiana.
__ADS_1
Freya pun menghela nafasnya, “Baiklah itu juga sepertinya baik. Kakak setuju dan bangga dengan keputusanmu. Karena kalian sudah memutuskan ini maka kami pasti akan mendukung keputusan kalian itu” ucap Freya.
“Kapan resepsinya akan di adakan?” tanya Alvino.
“Seminggu lagi kak.” Jawab Zean.
“Apa itu tidak terlalu cepat. Maksudnya apakah bisa dalam waktu segitu mempersiapkan semuanya?” tanya Freya.
“In Syaa Allah bisa kakak ipar. Mommy sama Daddy juga sudah mempersiapkannya sehingga waktu seminggu sudah cukup.” Ucap Zean.
Freya pun mengangguk, “Baiklah jika memang begitu. Kami setuju. Seminggu sepertinya waktu yang lumayan cukup untuk melaksanakan pesta resepsi pernikahan. Itu tidak aneh dan cukup masuk akal karena kami pernah melakukan persiapan lamaran hanya dalam waktu tiga hari saja.” ucap Freya menyindir sang suami.
Alvino yang merasa di sindir hanya tersenyum, “Itu aku yang di sindir Zean. Istriku sedang mengingatkan aku yang ingin segera mengadakan lamaran dengan cepat.” Ucap Alvino tertawa.
“Kalian akan berangkat kapan?” tanya Freya kemudian.
“Kami akan berangkat besok kakak ipar. Kami sudah memesan tiketnya. Maaf kami memesan tiket tanpa memberitahu kalian lebih dulu karena masalahnya Kiana harus melakukan fitting.” Ucap Zean menjelaskan karena dia takut Freya dan Alvino salah paham.
Freya dan Alvino tersenyum mendengar penjelasan Zean itu, “Tenang Zean kau tidak perlu menjelaskannya dengan sedetail itu karena kami bisa memahaminya. Kami bukanlah orang yang tidak berpikiran sempit sehingga akan salah paham dengan keputusan seperti ini. Kami senang kalian memutuskan masalah rumah tangga kalian sendiri. Kami akan pastikan datang sehari atau mungkin dua hari sebelum resepsi pernikahan kalian di adakan.” Ucap Alvino.
“Benar itu apa yang di katakan suamiku. Kami pasti akan datang secepatnya. Ohiya satu lagi yang harus kalian ingat, jika kalian butuh bantuan maka hubungi kami. Jangan sungkan. Kami siap membantu walau kami yakin mommy dan daddymu pasti akan melakukan yang terbaik untuk pesta resepsi pernikahan putra tunggal mereka namun tetap saja kami juga ingin ikut terlibat. Jadi jangan sungkan jika butuh bantuan.” Ucap Freya.
Zean dan Kiana pun tersenyum mendengar ucapan Alvino dan Freya yang mendukung keputusan mereka. Setelah itu pembicaraan itu berlanjut dengan membagi tips menjalani rumah tangga alaa Freya dan Alvino. Zean dan Kiana barulah pulang setelah makan malam bersama di rumah Alvino dan Freya. Karena Freya dan Alvino tidak mengizinkan Zean dan Kiana pulang sebelum makan malam.
__ADS_1
***
Sementara di kediaman keluarga Irma kini seorang gadis sedang memandangi sebuah foto. Yah foto seorang pria yang dia ambil diam-diam, foto seorang pria yang akhir-akhir ini entah kenapa berubah menjadi sangat dingin, “Hey, kau itu sudah dingin. Kenapa setelah meninggalnya ayahmu semakin dingin. Ahh Irma sadarlah. Apa yang terjadi padamu saat ini. Kenapa kau mengambil fotonya dengan diam-diam dan memandanginya seperti ini? Aku hanya kasihan padanya.” Ucap Irma sambil mengusap foto di ponselnya itu.
Tok tok tok
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya, Irma pun segera menyembunyikan ponselnya itu, “Masuk!” ucap Irma.
Mami Calista pun segera masuk dan mendekati sang putri dengan gelas susu di tangannya, “Kenapa belum tidur sayang?” tanya mami Calista setelah meletakkan nampan di meja samping ranjang putrinya itu.
“Belum mengantuk Mih.” Jawab Irma.
Mami Calista pun mengelus rambut putrinya yang terurai itu, “Jangan tidur telat sayang. Kamu besok masuk kerja kan?” tanya mami Calista.
Irma pun mengangguk lalu dia merebahkan kepalanya di paha sang mami, “Mih, bagaimana pendapatmu terhadap seseorang yang berubah menjadi sangat dingin dan tidak tersentuh? Apa sifat itu bisa terjadi hanya karena kehilangan seseorang?” tanya Irma memandang sang mami.
Mami Calista tersenyum menatap putrinya itu, “Kenapa kau menanyakan pertanyaan seperti itu sayang? Apakah ada seseorang yang mengganggu pikiranmu? Apa ada yang bersifat dingin seperti yang kau katakan itu?” tanya mami Calista balik.
“A-aku hanya bertanya Mih. Apa salahnya menjawab pertanyaanku mih? Apa mami tidak bisa menjawab pertanyaanku? Jika memang tidak bisa yaa gak masalah. Aku gak akan marah. Sudah ahh aku mau tidur.” Ucap Irma lalu dia segera bangun dari paha sang mami.
Mami Calista pun tersenyum, “Baiklah jika memang begitu nak. Kau tidurlah. Besok juga kau akan bekerja. Mami tidak akan mengganggu.” Ucap mami Calista segera berdiri segera menuju pintu.
“Emm sebelum keluar mami ingin mengatakan sesuatu padamu. Sifat dingin sepertinya memang bisa tumbuh karena kehilangan namun sifat dingin itu pasti akan menjadi hangat jika di pelihara dengan kasih sayang. Ohiya jangan lupa minum susunya nak. Selamat tidur.” Ucap mami Calista lalu segera keluar lalu dia tersenyum dan melangkah turun.
__ADS_1