Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
130


__ADS_3

Kini Irma dan Kenzo sudah tiba di kediaman orang tua Irma. Kenzo pun turun membukakan pintu mobil untuk Irma itu, “Apa kakak tidak mau mampir dulu?” tanya Irma.


Kenzo tersenyum lalu mengusap kepala Irma yang di tutupi hijab, “Lain kali aja. Ini sudah larut malam. Sampaikan salam kakak kepada mami dan papi. Kamu juga lekaslah istirahatlah. Itu sudah malam.” Ucap Kenzo lembut.


Irma pun mengangguk tersenyum, “Kalau begitu Irma masuk dulu. Kakak hati-hati pulangnya. Jika sudah tiba tolong kabarin.” Ucap Irma.


Kenzo pun mengangguk dan tersenyum, “Kalau begitu bisakah kau memberikan nomor ponselmu cantik.” Ujar Kenzo menyerahkan ponselnya.


Irma pun tertawa mengejek, “Mustahil kakak gak punya nomor ponselku. Sementara nomor papi saja tahu masa iya nomor ponselku gak ada. Aku tidak percaya.” ucap Irma.


Kenzo pun tertawa, “Baiklah. Aku akan mengabarimu.” Ucap Kenzo lalu kembali mengusap kepala Irma.


Irma pun mengangguk lalu dia segera masuk ke dalam rumahnya dan Kenzo pun segera naik mobil melajukannya meninggalkan kediaman Irma.


Irma pun masuk ke dalam rumahnya dengan senyum bahagia sambil menggenggam kotak perhiasan di tangannya. Saking senangnya Irma, dia tidak menyadari bahwa kedua orang tuanya berada di ruang keluarga menunggunya pulang.


“Ehm, papi apa putri kita gak menyadari kita ada di sini?” ucap mami Calista berdehem melihat putri mereka itu berjalan melewati ruang keluarga.


Irma yang mendengar itu pun segera berbalik dan tersenyum menatap kedua orang tuanya. Irma segera mendekati kedua orang tuanya dan memeluk keduanya bergantian dengan melabuhkan kecupan di pipi masing-masing.


Mami Calista dan papi Baskara pun tersenyum melihat kebahagiaan di wajah putri mereka itu, “Apa yang membuat putri papi dan mami ini tersenyum bahagia sehingga tidak menyadari kami ada di sini.” Ucap mami Calista.


“Maaf mih. Aku tidak fokus berjalan.” Ucap Irma memeluk lengan maminya itu.

__ADS_1


“Gak apa-apa sayang. Mami senang kamu bahagia. Tapi bisakah kamu berbagi dengan mami dan papi yang membuatmu bahagia?” tanya mami Calista.


“Mih, Pih kalian pasti tahu apa yang membuatku bahagia. Terima kasih sudah mengizinkan aku menikah di umurku ini dan di saat aku belum selesai kuliah.” Ucap Irma.


“Kenapa mengatakan itu nak. Kau itu putri kami satu-satunya. Jika memang jodohmu sudah datang mengapa kami harus menolaknya. Kami senang nak kau menemukan lelaki dan keluarga yang baik serta rukun seperti keluarga Kenzo itu. Kau akan beruntung berada di keluarga mereka. Kau tidak akan merasa kesepian lagi karena mereka memiliki ikatan persaudaraan yang kuat.” Ucap papi Baskara.


“Papi benar. Mereka sangat baik. Tidak ada satu pun dari mereka yang mempertanyakan penyakitku. Mereka menerimaku dengan baik. Kakak kandung kak Kenzo juga sangat baik begitu juga dengan saudara sepupu kak Kenzo terlebih kak Reya. Di balik sikap tegasnya dia menyimpan sisi yang lembut. Aku mengaguminya. Dia sangat hebat. Dia adalah contoh seorang kakak yang berhasil karena menyayangi adik-adiknya tanpa membedakan adik kandung atau adik sepupu. Dia juga sangat hebat dalam mendidik anak. Jika nanti aku bisa memiliki anak maka aku akan mengikuti cara mendidik kak Reya. Aku akan mengajari anak pertamaku untuk menjadi sosok kakak yang baik kepada adik-adiknya dan saudaranya yang lain.” Ujar Irma bercerita dengan raut wajah bahagia.


“Bisa kan mih, pih aku yang seorang gadis penyakitan berharap memiliki anak. Jika Allah maha baik setidaknya dia mengizinkan aku memiliki dua orang anak saja. Itu sudah cukup untukku.” Lanjut Irma.


“Kau pasti akan memiliki anak yang banyak nak.” ucap mami Calista memeluk putrinya itu.


Irma pun mengangguk dalam pelukan maminya, “Mih, apa benar kalian sudah tahu lamaranku akan di adakan lusa?” tanya Irma.


Mami Calista melepas pelukannya lalu tersenyum, “Kau benar nak. Freya dan Alvino mendatangi kami tadi setelah ashar dan mengatakan rencana lamaran itu sesuai dengan keinginanmu. Jadi apa kau dan Kenzo memutuskan untuk melakukan lamaran lusa?” tanya mami Calista.


“Apa kau sudah yakin nak akan membina rumah tangga?” tanya papi Baskara.


“Pih, aku sudah memilih kak Kenzo jadi suamiku. In Syaa Allah aku sudah siap membina rumah tangga. Aku akan belajar dari kak Reya nanti.” Ucap Irma.


Papi Baskara pun tersenyum lalu mengangguk, “Putri papi sudah dewasa. Sudah bisa memutuskan mana yang terbaik untuk dirinya. Papi bangga padamu nak. Kau memang berhak untuk memutuskan apa yang di inginkan olehmu.” Ucap papi Baskara.


Irma tersenyum, “Aku akan tetap jadi putri kecil kalian kan?” tanya Irma.

__ADS_1


“Tentu saja nak. Kau itu putri kami dan selamanya akan menjadi putri kami.” ujar papi Baskara di angguki oleh mami Calista.


Irma segera mendekati papinya dan memeluk papinya itu. Irma meletakkan kotak perhiasan di meja dan itu mengundang tanya dalam benak sang mami, “Nak, ini dari siapa? Apa ini dari Kenzo?” tanya mami Calista mengambil kotak itu.


Irma pun tersenyum lalu mengangguk, “Emm bisa di bilang begitu. Tapi sebenarnya itu dari nenek Ayesha neneknya kak Kenzo pihak ibu. Itu adalah kalung ibunya kak Kenzo. Nenek Ayesha memberikannya untukku karena aku adalah calon istri dari kak Kenzo. Ini adalah kalung yang di restui oleh calon ibu mertuaku mih. Walau dia sudah tiada tapi aku sudah berkenalan dengan mereka tadi.” Ujar Irma memeganggi kalung emas itu.


Mami Calista pun tersenyum, “Kau harus menjaganya dengan baik nak. Itu pasti adalah barang yang di sayangi oleh mamanya Kenzo dan itu juga pasti sangat berharga untuk keluarga mereka. Itu adalah restu mereka untukmu.” Ucap mami Calista.


“Tentu saja mih. Aku akan menyimpan dengan baik. Kalung ini sangat berharga untukku yang tidak bisa di beli oleh apapun.” Ucap Irma.


“Kau benar nak. Selain itu juga kalungnya sangat cantik.” Ucap Mami Calista.


Irma mengangguk, “Mami benar.” ucap Irma menatap kalung mendiang Arabella itu. Kalung yang memiliki liontin kecil namun sangat cantik itu.


“Jika begitu. Simpan dengan baik yaa nak. Ohiya besok apa yang akan kalian lakukan?” tanya papi Baskara.


“Emm, kak Kenzo mengatakan besok kami akan ke percetakan memesan undangan lamaran dadakan ini.” ucap Irma.


“Lalu bagaimana dengan pakaian kalian nak?” tanya mami Calista.


“Irma gak tahu mih. Mungkin nanti besok kami akan membicarakannya. Apa mami punya saran di mana aku bisa mendapatkan gaun lamaran dengan cepat?” tanya Irma.


“Mami--” ucap mami Calista.

__ADS_1


“Sudahlah, jangan khawatirkan pakaianmu. Papi yakin hal ini sudah Freya pikirkan. Papi dan mami saja tinggal terima beres. Mereka sudah memesan semuanya.” Ucap papi Baskara.


“Lalu papi dan mami menyetujuinya?”


__ADS_2