
“Kau harus hati-hati Fazar!” lanjut Alvino kemudian.
“Apa maksud semua itu kakak ipar? Kenapa kak Fazar harus hati-hati?” tanya Frisya.
Alvino hanya mengangkat bahunya, “Aku gak tahu aku hanya memberi peringatan saja.” timpal Alvino.
“Sudah-sudah kita akhiri di sini saja pembicaraannya. Itu sudah larut malam. Friska, Frisya sana pergilah ke kamar kalian.” Ucap Freya.
Friska dan Frisya pun mengangguk lalu segera menuju kamar yang di maksud kakaknya, “Asisten Fazar kau juga bisa pulang. Terima kasih sudah mengajak adikku ke konser musik yang memang dia sukai. Terima kasih juga sudah mengantarnya pulang dengan selamat.” Ucap Freya lalu segera berlalu pergi meninggalkan Fazar dengan suaminya.
“Saya pamit pulang tuan.” Ucap Fazar.
Alvino pun mengangguk tersenyum, “Jangan tersinggung dengan perkataan istriku. Dia hanyalah seorang kakak yang berusaha untuk menjaga adik-adiknya. Kau mengerti kan maksudku. Selama kau bisa membuktikan diri bisa menjaga adiknya dan memastikan kebahagiaan adiknya maka aku yakin kau pasti akan mendapat restunya. Aku jamin hal itu, aku akan selalu mendukungmu selama kau pun tidak menyerah untuk meraih cintamu.” Ucap Alvino.
“Terima kasih atas dukungannya tuan. Saya akan berusaha untuk memantaskan diri untuknya.” Ucap Fazar yakin. Alvino pun tersenyum bangga. Lalu setelah itu Fazar segera pulang, Alvino mengantarnya ke depan.
“Hmm, begitu yaa kau pendukungnya?” sindir sang istri dari atas tangga.
Alvino yang mendengar sang istri bicara tersenyum, “Sayang, sebagai mak comblang yang baik tentu saja harus--” ucap Alvino terpotong.
“Terserah padamu saja suamiku.” Potong Freya lalu segera meninggalkan Alvino di belakang. Alvino pun tersenyum lalu segera berlari menyusul Freya menuju kamar.
***
__ADS_1
Keesokkan paginya kini Friska dan Frisya ikut sarapan bareng bersama Freya dan Alvino serta kelima keponakan mereka. Seperti yang sudah di katakana Freya kemarin bahwa hari ini Mama Najwa, Papa Khabir dan Nenek Ayesha akan datang. Tepat jam 08.00 mereka tiba.
Freya, Friska dan Frisya langsung menyambut mereka dan berlari menyalami orang tua mereka, “Kalian ini, kenapa gak pulang.” Ucap Nenek Ayesha.
“Heheh, maaf nek!” ucap Friska dan Frisya bersamaan.
Freya langsung membantu nenek Ayesha masuk ke rumah sementara Friska dan Frisya bergelayut manja di tangan mama Najwa. Begitu masuk ke rumah langsung saja di sambut oleh kelima anak Freya dan Alvino, “Nenek buyut!” ucap mereka semua lalu menyalami nenek Ayesha, Mama Najwa dan Papa Khabir.
“Kau sangat cantik nak.” puji Nenek Ayesha sambil menangkup dagu Azwa.
“Terima kasih nek, semua orang bilang begitu tapi tetap saja bagiku kak Anind-lah yang paling cantik. Jika dia tidak meminta adik perempuan maka aku tidak ada di sini.” Ucap Azwa selalu mengatakan hal yang sama setiap ada yang memujinya. Baginya Anind bukan hanya kakak tapi dewinya atau ibu keduanya.
Anind tersenyum mendengar ucapan adik kesayangannya itu, dia sebenarnya gak masalah jika ada yang memuji adiknya karena itu memang benar sang adik sangatlah cantik. Selain itu juga dia merasa jika sang adik di puji itu sama saja pujian untuknya, tidak ada rasa iri sedikit pun di hatinya untuk adik kecinya itu.
“Nenek buyut, apa hanya para wanita saja yang di puji. Apa kami gak?” ucap Azlan. Seketika suasana pun berubah menjadi tawa, memang anak Freya satu ini sangatlah berbeda, dia lebih mirip Frisya yang memiliki jiwa ceria dalam dirinya untuk orang-orang terdekatnya.
“Hahahhah, kalian juga sangat tampan nak.” ucap Nenek Ayesha.
“Nenek buyut benar tapi pasti kakek akan mengatakan bahwa Azlen yang lebih tampan di antara kami bertiga. Emang begitu yaa? Bukankah aku dan Azlen itu kembar identic?” Ucap Azlan menatap papa Khabir.
Papa Khabir yang di sindir pun mendekati cucunya itu lalu menggendongnya, “Kau juga tampan nak. Kau benar bagaimana mungkin kau dan Azlen kembar tapi kenapa kakek mengatakan Azlen lebih tampan? Mungkin mata kakek ini yang sudah rabun hingga tidak bisa menilai dengan baik.” ucap papa Khabir.
“Jika kakek rabun, gantilah kaca matamu itu kek.” Timpal Azwa.
__ADS_1
Friska dan Frisya pun tertawa, “Cucumu itu sangat pintar Pah. Jadi jangan coba mengatakan sesuatu.” ucap mama Najwa mendekati Azlen dan Anand yang duduk berdampingan. Kedua cucu es-nya itu seperti tidak mempedulikan apa yang terjadi tapi percayalah di balik itu merekalah yang paling peka. Kedua cucu es-nya itu mengambil kepekaan yang di miliki Freya, sama seperti Freya yang punya tingkat kepekaan yang tinggi begitu juga Azlen dan Anand.
Suasana di rumah Freya dan Alvino itu sangatlah ramai karena kedatangan keluarga Freya mana mami Sinta dan papi William juga ikut bergabung begitu mengetahui bahwa besan mereka datang.
***
Sementara di rumah orang tua Rezky yang terjadi sangat jauh berbeda karena di sana hanya ada kesunyian. Bagaimana tidak mami Jasmin dan papi Harry hanya sarapan berdua karena entah kenapa Rezky sejak pagi menghabiskan waktunya di ruang gym. Dia belum sarapan hanya meminta di antarkan segelas teh saja.
“Pih, sampai kapan anak itu di ruang gym? Kenapa dia belum juga turun.” Ucap mami Jasmin mondar mandir karena mengkhawatirkan putranya.
Papi Harry yang sibuk membaca majalah bisnis pun akhirnya pusing melihat istrinya yang mondar mandir, “Mih, lebih baik mami kesana. Periksa dia. Lagian juga di belum sarapan.” Ucap papi Harry.
“Iya karena itu mami khawatir pih. Anak itu kenapa yaa? Bukankah dia semalam mengatakan menerima perjodohan yang aku atur? Apa ada sesuatu yang terjadi semalam?” tanya mami Jasmin.
Papi Harry pun mencoba mencerna ucapan sang istri, “Mih, apa jangan-jangan dia sedang patah hati?” tebak papi Harry.
Mami Jasmin pun mencoba memikirkan perkataan suaminya, “Pih sepertinya begitu. Tapi siapa gadis yang sudah membuatnya patah hati?” tanya mami Jasmin.
“Itu yang harus kita cari tahu.” Timpal papi Harry. Mami Jasmin dan Papi Harry pun berdiri untuk menyusul Rezky ke ruang gym mencari tahu siapa gadis yang sudah membuat patah hati putra mereka itu hingga harus uring-uringan seperti ini.
Tapi langkah mereka terhenti karena melihat Rezky yang turun dari tangga. Rezky menatap orang tuanya bingung, “Mami sama papi mau kemana?” tanya Rezky.
“Eehh itu kami mau ahh sebenarnya mami sama papi mau menyusulmu ke ruang gym karena kau belum sarapan tapi sudah berolahraga dalam waktu yang lama.” Ucap mami Jasmin yang di angguki oleh papi Harry.
__ADS_1
Rezky pun mengangguk saja, “Tenang mih aku baik-baik saja kok. Ini juga sudah mau makan tadi itu aku masih kenyang saja hingga tidak ikut sarapan.” Ucap Rezky menuju meja makan. Mami Jasmin pun segera mengikuti sang putra ke meja makan.