
Sementara di rumah sakit, kini persiapan untuk akad pernikahan sudah selesai. Ruang rapat itu kini telah di sulap menjadi pelaminan dadakan dan persiapan yang singkat itu ternyata tidak mengecewakan sama sekali, “Terima kasih!” ucap Freya mengucapkan terima kasih kepada pihak WO yang sudah mau dia repotkan dan panggil dadakan seperti ini namun tetap hasil kerja mereka memuaskan. Memang kalau sudah jadi professional dalam satu bidang maka pasti dalam keadaan apapun pasti pekerjaannya tetap memuaskan.
Freya setelah memastikan semua persiapannya siap segera mendekati sang suami yang juga sibuk menghubungi pihak KUA yang ternyata sudah dalam perjalanan kemari, “Hubby, di mana Zean? Apa dia sudah siap?” tanya Freya karena memang sang suami yang membantu Zean untuk bersiap. Suaminya jugalah yang memilihkan setelan jas untuk calon adik iparnya itu.
Alvino segera menatap istrinya lalu mengangguk, “Dia sudah siap dan dia juga masih terus berusaha menghubungi orang tuanya.” Ucap Alvino.
Freya pun mengangguk saja, “Apa mereka sudah tiba?” tanya Freya.
Alvino pun kembali mengangguk, “Mereka sedang dalam perjalanan kesini. Bagaimana dengan Kiana?” tanya Alvino.
“Dia juga sedang dalam perjalanan kesini. Friska dan Frisya sudah menjemputnya. Kak Salwa dan kak Devano juga ikut bersama mereka.” jawab Freya.
“Berarti semuanya sudah siap. Pihak kantor agama juga sedang dalam perjalanan.” Ucap Alvino.
“By, apa kau yakin mereka akan merestui Kiana?” tanya Freya khawatir.
Alvino mengangguk, “Aku yakin mereka pasti akan merestui Kiana. Kita kan sudah mengatakan itu kepada mereka bahkan papa Vian sudah bicara dengan mereka. Jangan khawatir semua akan baik-baik saja.” ucap Alvino.
__ADS_1
Freya pun mengangguk, “Aku hanya khawatir.” Ucap Freya yang langsung di rangkul oleh Alvino. Dia tahu istrinya itu sangat mengkhawatirkan adik-adiknya dan pernikahan Kiana ini tidak ada dalam rencana hingga membuatnya semakin khawatir tapi Alvino akan memastikan bahwa apa yang di khawatirkan istrinya tidak akan terjadi. Selain itu juga dia yakin kepada Zean tidak akan membiarkan istrinya jika di perlakukan dengan tidak baik.
Tidak lama, kini Kiana dengan di pegangi oleh Friska dan Frisya gaunnya berjalan menuju Freya dan Alvino yang kini menyambut Kiana. Freya menatap adiknya itu dengan terharu hingga meneteskan air matanya, “Sangat cantik. Maaf yaa kakak hanya bisa mempersiapkan pernikahan seadanya seperti ini bahkan gaunnya juga--” ucap Freya terpotong.
Kiana langsung memeluk Freya, “Terima kasih kak. Ini sudah cukup dan gaun ini sangat cantik seperti gaun impianku. Terima kasih sudah membuatku tetap merasakan menikah dengan memakai gaun pengantin walau pernikahan ini dadakan. Terima kasih sekali lagi kak.” Ucap Kiana berbisik. Sungguh dia sangat terharu saat memakai gaun itu. Gaun yang di pilih Freya dadakan namun entah kenapa sangat sesuai dengan seleranya dan sangat sesuai dengan gaun impiannya seolah-olah Freya tahu apa keinginannya.
Freya tersenyum lalu melerai pelukan di antara mereka dan mengecup kening Kiana sekilas, “Jangan berterima kasih dek. Kakak menyayangiku dan apa yang kakak lakukan ini memang sudah sepantasnya di lakukan oleh seorang kakak kepada adiknya. Sekarang kamu masuk ke ruangan dulu nanti setelah akad kami akan membawamu ke pelaminan dadakan. Riska, Risya temani Kiana.” Ucap Freya menatap kedua adiknya. Friska dan Frisya pun mengangguk lalu segera membantu Kiana masuk ke ruangan yang memang sudah di sediakan.
Sementara Freya dan Alvino menunggu tamu yang memang sedang mereka tunggu bersama dengan papa Khabir dan Mama Najwa. Keluarga yang lain yang sudah ada di ruang rapat yang di sulap menjadi pelaminan dadakan itu, memang yang hadir di akad Kiana dan Zean ini hanyalah keluarga saja tidak mengundang orang luar. Selain karena ini pernikahan dadakan dan hanya akad saja juga mempertimbangkan keadaan papa Vian yang kurang stabil dan tempat pernikahannya hanya di rumah sakit yang notabene-nya adalah tempat orang sakit bukan tempat untuk membuat pesta pernikahan.
Zean yang berada diruangannya di temani oleh Erlan masih pusing dengan ponselnya yang juga tidak bisa terhubung dengan orang tuanya, “Mommy sama daddy kemana sih? Kenapa nomor mereka gak aktif sama sekali sampai sekarang. Apa yang mereka lakukan. Erlan apa kau sudah mencari tahu kenapa mommy dan daddy gak bisa di hubungi?“ tanya Zean menatap asistennya itu.
Zean pun hanya menghela nafasnya sambil berpikir apa jaringan di sana mati atau bermasalah hingga tidak bisa tersambung seperti ini. Zean masih menghubungi orang tuanya dan seketika terdengar bunyi tersambung.
Tuut tuut tuut
Tepat dibunyi yang ketiga di jawab oleh orang seberang, “Halo, iya nak?” tanya mommy Vania.
__ADS_1
Zean yang mendengar suara mommy-nya pun seketika mengucap hamdalah, “Mom, kau dimana? Kenapa nomor kalian gak ada satupun yang aktif. Kalian baik-baik saja kan?” tanya Zean khawatir walau sebenarnya dia ingin marah tapi dia menahannnya.
“Mommy baik-baik saja nak. Kami semua baik-baik saja. Maaf ya nak, mommy sama daddy masih ada urusan nanti mommy hubungi lagi.” Ucap mommy Vania langsung memutuskan sambungan telepon di antara mereka.
“Tapi mo--” Zean pun yang melihat ponselnya mati hanya bisa menghela nafas kasar.
“Mom kalian sibuk ngapain hingga bicara denganku saja tidak punya waktu. Ahh ini menyebalkan. Baiklah jangan salahkan aku jika menikah tanpa restu kalian. Salah kalian sendiri gak menjawab telepon dan saat sudah di jawab justru memutuskannya dengan cepat.” Ucap Zean kesal lalu dia segera keluar dari ruangan itu untuk menenangkan kekesalannya.
Tapi begitu dia keluar dia kaget dengan apa yang dia lihat dan kini dia melongo tidak percaya yang dia lihat, “Bagaimana bisa?” batin Zean tidak percaya dengan apa yang dia lihat dia bahkan sampai menggosok matanya.
“Kalian di sini? Apa aku tidak berhalusinasi? Bagaimana bisa?” tanya Zean akhirnya setelah sadar bahwa apa yang dia lihat itu nyata kini mommy dan daddynya ada di hadapannya. Kedua orang tua yang tadi membuatnya kesal karena tidak bisa di hubungi kini ada di hadapannya.
“Tentu saja bisa. Bagaimana mungkin putra kami menikah kami gak hadir. Dasar nakal!” ucap mommy Vania menjewer telinga putranya yang kini tampan dengan tuxedonya.
“Mom, kau membuat telinga putraku memerah. Bagaimana jika calon menantu kita melihat itu.” ucap daddy Rafael.
“Biarkan saja. Salah dia sendiri kenapa menikah dadakan begini.” Ucap mommy Vania lalu melepaskan jewerannya karena dia juga tidak ingin putranya itu menikah dengan keadaan telinga memerah.
__ADS_1
“Kalian sudah tahu?” tanya Zean masih tidak percaya orang tuanya ada di sini dan juga sudah mengetahui pernikahan dadakannya. Setelah Zean menyadari sesuatu kini dia melihat ke arah Alvino dan Freya yang datang menyambut orang tuanya. Kenapa dia bisa lupa bahwa Alvino memiliki kuasa itu, bukan hal yang sulit untuk dia lakukan menghubungi orang tuanya.