Nyanyian Cinta

Nyanyian Cinta
28


__ADS_3

Friska sampai di apartemen bersama sang adik yang juga baru saja di antar oleh Fazar karena memang beberapa hari ini Fazar yang mengantar Frisya karena kaki adik kecilnya itu terluka. Setelah itu kedua kakak beradik itu masuk bersama ke dalam apartemen tapi sebelum itu Frisya berpamitan dulu dengan Fazar yang sudah mengantarnya.


Begitu mereka masuk, Friska segera menuju sofa dan duduk di sana lalu menghela nafasnya kasar, Frisya yang melihat itu menatap bingung kakak keduanya itu sambil bertanya apa yang terjadi, “Ada apa sih denganmu kak Ris? Kenapa wajahmu kusut begitu seperti banyak masalah saja?” ucap Frisya segera bergabung duduk di depan kakak keduanya.


“Kakak lagi pusing dek.” Jawab Friska.


Frisya yang mendengar itu semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada kakak keduanya itu, “Pusing kenapa kak? Apa ada pasienmu yang membuatmu pusing atau ada masalah yang lain?” tanya Friska.


“Kakak pusing dengan mami Sinta yang sepertinya berniat menjodohkan kakak. Apa mereka itu sudah pusing melihat kakak yang belum juga menikah hingga saat ini? Ahh,, menjengkelkan.” Ucap Friska mulai menceritakan masalahnya kepada adiknya karena dia percaya adiknya itu tidak akan membicarakannya dengan orang lain. Lagian dia juga butuh berbagi masalahnya dengan orang lain.


“Dijodohkan? Dengan siapa kak?” tanya Frisya lagi.


“Dengan mantan dosen kakak. Kamu tahu kan? Dosen yang selalu kakak ceritakan padamu yang menjengkelkan itu? Mereka ingin menjodohkanku dengannya padahal aku sangat membencinya karena kesal dengannya yang menyulitkanku saat itu. Ahh benar-benar menjengkelkan.” Ucap Friska.


Frisya yang mendengar itu sambil mengingat-ngingat dosen siapa yang di maksud kakaknya, “Apa maksud kakak dosen yang waktu kakak semester enam itu? Dosen yang juga pernah jadi guru di sekolah kita bukan?” tanya Frisya dan Friska hanya mengangguk membenarkan perkataan adiknya.

__ADS_1


“Wah, aku tidak menyangka kok bisa kebetulan seperti itu? Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu lagi?” tanya Frisya.


“Kau benar aku memang sudah lama tidak bertemu dengannya tapi ada kemarin saat aku menemani mami Sinta ke mall aku bertemu dengan maminya yang ternyata teman mami. Aku tahu pertemuan itu sudah di rencanakan oleh mereka, aku juga tahu mereka berniat mendekatkan kami karena mami Jasmin saat akan pulang di jemput oleh putranya yang tidak lain yaa dosen itu. Aku kaget saat itu karena tidak menyangka bahwa dunia ini sangat sempit. Aku sudah bersyukur setelah aku lulus tidak lagi bertemu dengannya tapi tidak tahunya bertemu lagi. Dan yang membuatku semakin pusing tadi mami Jasmin menelponku untuk mengundangku ke ulang tahunnya lusa lalu belum selesai pusingku karena itu apa aku harus datang atau tidak mami Sinta memintaku datang ke rumahnya. Kau tahu kenapa aku di minta kesana ya ternyata hanya untuk dia berikan pakaian yang akan aku gunakan untuk menghadiri ulang tahun itu padahal aku saja belum memutuskan apa ikut atau tidak. Ahh aku benar-benar pusing dengan perjodohan bodoh ini.” ujar Friska menjelaskan.


Frisya yang mendengar penjelasan kakak keduanya itu jadi ikut pusing juga, “Aku juga jadi ikut pusing kak Ris. Apa nanji mereka juga akan melakukan itu padaku jika tidak juga menikah? Ahh tidak-tidak aku tidak bisa membayangkannya.” Ucap Frisya sambil menggeleng. Dia hanya tidak tahu saja bahwa dia juga sedang di comblangkan dan bukan mami Sinta yang menjadi mak comblangnya tapi kakak iparnya.


“Lalu apa yang akan kak Ris lakukan? Aku yakin mami Sinta tidak akan menyerah. Mungkin hari ini kakak bisa menolaknya tapi aku yakin kali kau tidak akan bisa.” Ucap Frisya yang memang memahami bagaimana mertua kakaknya itu.


Friska hanya menghela nafasnya kasar karena dia sendiri juga memahami akan hal itu, “Aku juga gak tahu dek. Aku hanya berharao mami Sinta tidak akan meminta bantuan kakak. Kau tahu kan aku tidak bisa menolak permintaan kakak.” Ucap Friska.


“Kau benar, kak Reya adalah kakak terbaik untuk kita. Kita sangat beruntung memiliki dia dalam kehidupan ini.” balas Friska. Memang Friska dan Frisya sangatlah menghormati dan menyayangi Freya begitu juga Freya yang menyayangi mereka dan juga tidak pernah memaksakan apapun kepada mereka. Freya adalah kakak terbest untuk mereka.


Setelah cukup bicara, kedua kakak beradik itu segera bangkit dari sofa dan menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri karena sebentar lagi waktu magrib akan tiba.


***

__ADS_1


Sementara di rumah Freya, mami Sinta datang tapi sebelum bicara dengan menantunya itu yang memang sedang mandi dia menemui kelima cucunya di lab komputer. Dia mengamati kelima cucunya itu yang entahlah sedang mengerjakan apa.


Tiba-tiba Alvino masuk ke ruangan itu, “Mih, Reya sudah selesai mandi. Mami mau membicarakan apa dengannya?” tanya Alvino yang memang sudah tahu sang mami datang untuk bertemu sang istri.


Mami Sinta segera berdiri dan berlalu dari ruangan itu, “Ini urusan wanita, kamu gak boleh tahu.” Ucap Mami Sinta sebelum pergi. Alvino yang mendengarkan itu hanya bisa melongo karena terus saja seperti itu setiap maminya datang tidak pernah datang menemuinya selalu saja jika bukan menemui sang istri pasti datang untuk cucu-cucunya. Dia yang anak kandungnya jarang di datangi. Alvino hanya bisa menghela nafas meratapi nasibnya itu tapi untung saja dia memiliki istri yang sangat pengertian dan mencintainya.


Mami Sinta yang baru keluar dari lab segera menuju lantai dua di mana sang menantu berada, “Mih, apa yang ingin mami bicarakan denganku? Kenapa gak lewat telepon aja?” tanya Freya begitu melihat ibu mertuanya itu keluar dari lift. Freya segera mendekati mami Sinta lalu menyalaminya.


“Emm, mami ingin membicarakan sesuatu yang penting yang tidak bisa di bicarakan lewat telepon selain itu juga rumah kita berdekatan. Jadi sekalian saja mami datang untuk melihat cucu mami yang gila belajar teknologi itu. Mami heran kenapa mereka bisa begitu padahal Vino gak begitu masih kecil.” Ucap Mami Sinta.


Freya tersenyum mendengar hal itu karena dia sendiri pun bingung dengan anak-anaknya yang sangat menyukai teknologi tapi dia masih bersyukur walau kelima anaknya menyukai teknologi tapi kelimanya juga sang menyukai pelajaran agama hingga membuatnya tidak khawatir, “Reya juga bingung Mih.” Ucap Freya lalu segera meminta mami Sinta untuk duduk di sofa di ruang keluarga yang berada di lantai dua itu.


“Mami mau bicara apa?” tanya Freya begitu mereka duduk.


Mami Sinta pun menghela nafasnya lalu mulai menceritakan apa yang sedang dia rencanakan, Freya yang mendengar itu tentu saja kaget dan tidak percaya akan apa yang di rencakan ibu mertuanya itu yang ternyata sama dengan sang suami yang ingin menjadi mak comblang adik-adiknya.

__ADS_1


__ADS_2