
Setalah berjalan sekian menit Akhirnya mereka sampai di depan Pavilliun Obat milik Sekte Naga Api. Qin Shao dan yang lainnya masuk ke dalam Pavilliun itu dan dari kejauhan terlihat seseorang yang sedang tidur lelap di atas kursi kasir obat yang tidak lain merupakan Hall Master Pavilliun obat. Qin Shao yang sedang menggendong muridnya pun langsung menghampiri Panatua itu dan membangunkannya.
"Maaf Senior..."Qin Shan yang membangunkan Panatua itu dengan sopan "Apa yang ingin kamu lakukan Nak?..." Jawab Panatua itu yang hanya berpura pura tidur.
"Tolong Lakukan sesuatu untuk menyembuhkan muridku Senior aku akan membayar berapapun untuk jumlah nya..." Qin Shao yang memohon kepada Panatua itu dengan tulus. "Kembalilah aku tidak ingin berurusan dengan Jiwa muridmu..."Panatua itu yang bangun dari tidurnya dan menatap dengan memperingati Qin Shao.
"Apa yang kamu maksud Senior?..." Ucap Qin Shao yang kebingungan "Di dalam Tubuh Murid mu itu terdapat dua jiwa yang tidak lain adalah Jiwa Raja Iblis yang belum terbangun..." Jawab Panatua itu dengan jujur dan agak khawatir.
"Apa?!..." Qin Shao yang terkejut dengan apa yang di katakan senior itu " Apa kamu yakin Senior?. Bukankah Raja Iblis Sudah di musnahkan oleh 5 Kelurga Besar waktu itu..." Qin Shao yang melanjutkan perkataannya tersebut.
Sekitar Tujuh puluh ribu tahun yang lalu di Alam Fana ada sosok yang sangat kuat dan kejam sosok itu di kenal sebagai Raja Iblis. Ia mendominasi di seluruh Alam Fana baik Atas menengah dan juga bawah. Dia Adalah Leluhur Keluarga Zong yang bernama
Zong Aotian, Zong Aotian di juluki Raja Iblis karena membunuh lebih dari Ribuan bahkan jutaan Kultivator yang berada di atas
Ranah Death Of Life di umur yang sangat muda yaitu Dua puluh tahun. Dia juga di kenal sebagai Legenda sepanjang sejarah yang mencapai Ranah setinggi itu di umur yang sangat amat muda.
Tapi Sayangnya Zong Aotian bersikap Sombong yang membuat dirinya hancur. Zong Aotian Di kepung Oleh 5 keluarga besar Dari Alam Fana Tingkat Atas dan terbunuh oleh Patriak Di kelurga Sana yaitu Long.
"Kembalilah anak muda, aku tidak ingin membuat Leluhur ku kecewa..." Tutur Panatua itu karena Meskipun keluarga Long mengalahkan Raja Iblis. tapi banyak sekali korban yang jatuh di tangannya bahkan setengah dari keluarga Long harus binasa di dalam pertempuran itu.
"Tapi Panatua..." Panatua itu melirik Qin Shao Dengan lirikan yang sangat tajam dan mencekam hingga membuatnya Tak bisa bernafas tapi segera dihentikan oleh Liu Yan.
"Panatua Tolong Jaga Sikap mu! Jika kamu tidak ingin menolongnya jangan mempersulit ..." Liu Yan yang tiba tiba datang dari pintu masuk Pavilliun itu dan memperingati Panatua Cheng.
Long Cheng yang tadinya enggan untuk menolong Zong Wu Di pun memutuskan untuk membantunya karena apa yang di katakan Tuan Muda mereka adalah hal yang mutlak dan tidak bisa di bantah "Baiklah Tuan muda, jika tuan muda bersikeras untuk menolongnya maka aku akan membantunya..."Ucap Panatua Cheng yang terpaksa melakukan hal tersebut.
"Tidak Perlu Khawatir Panatua Cheng, Aku yang akan menanggung akibatnya..." Sahut Liu Yan tanpa adanya ragu ragu ." Hah..."Long Cheng yang menghela nafas berat dan berkata "Bawa kesini Anak itu aku akan mengobatinya...." Long Cheng yang menoleh ke arah Qin Shao.
Qin Shao pun menghampiri Penatua Cheng dengan menggendong Zong Wu Di yang berada di punggungnya kemudian meletakkan nya di atas Meja Kasir itu Dan berterimakasih kepada Penatua Cheng.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan Nak, jika bukan karena tuan muda menyuruhku aku tidak akan membantumu jadi berterimakasih lah kepada nya..."
Qin Shao berjalan ke arah Liu Yan dan menangkupkan tangannya kemudian membungkukkan badannya dan berkata "Terimakasih Tuan muda, jika saja tidak ada tuan muda aku tidak harus berbuat apa..." Ucapnya dengan tulus.
"Tidak perlu seperti itu Tetua, Aku hanya membantu sesama Teman..."Liu Yan yang mengangkat badan Qin Shao kembali .
Qin Shao pun cukup senang dengan apa yang dikatakan Liu Yan karena menganggapnya sebagai teman. " Tetua Qin aku pergi dulu tetua tunggu disini saja nanti aku akan kemari lagi..."Ucap Liu Yan "Baiklah Tuan muda..." angguk Qin Shao dan kemudian Liu Yan menghilang dari hadapannya dan berpindah instan ke Kamar Zong QianQian.
Liu Yan membuka matanya dan melihat sekitarnya dan ia mengetahui ia berada di dalam kamar Zong QianQian dan melihat seseorang yang sedang ganti baju yang tidak lain merupakan Zong QianQian.
"Qin'er?..." Suara Liu Yan yang memanggil QianQian yang berada di belakang nya yang sedang ganti pakaian.
"Kyaaaaa, Dasar Mesum!..."Teriak QianQian yang berada di ruangan itu dan menampar Liu Yan dengan sangat kencang "Plakk..."
Lalu Liu Yan terjatuh karena tamparan seorang wanita. QianQian pun baru menyadarinya bahwa yang ia tampar adalah Liu Yan "Kakak Yan, kenapa kamu tidak mengetuk pintu dulu!..." Zong QianQian yang mengomeli Liu Yan layaknya pasangan suami istri.
"Iya Iya Aku minta maaf..."Wajah Liu Yan yang tampak sedih dan murung "Baiklah kali ini ku maafkan lain kali awas yah!..." Zong QianQian Yang memaafkan Liu Yan sambil senyum ceria"Sekarang Kakak Yan berbalik lah aku ingin mengganti pakaian ku...." Liu Yan membalikkan Badannya dan menunggu Nya selesai berganti pakaian.
Setalah beberapa menit kemudian Zong QianQian Sudah selesai dan menyuruh Liu Yan untuk membalikkan badannya "Kak Yan, ada perlu apa kakak kemari?..." Zong QianQian yang terheran karena tidak bias Liu Yan memiliki wajah gelisah seperti itu.
"Pfft....."Suara Tertawa Zong QianQian "Huh ku kira apa sampai membuat kak Yan begitu gelisah ternyata hanya kedatangan Kakakku..." Jawab Zong QianQian sambil tertawa ringan.
"Kakakmu?..."Tanya Liu Yan "Benar Kak Yan, Seseorang yang kakak sebutkan itu kakakku, seharusnya kamu tahu kan jika dia itu kakakku?..."Jawab QianQian sambil mengangguk dan tersenyum.
"Ngomong Ngomong kak kenapa kamu bertanya tentang kakakku?..."Tanya QianQian dengan wajah mencurigai Liu Yan "Sebenarnya begini Qin'er..."Jawab Liu Yan dan segera menceritakan semuanya kepadanya
"Apa?!..."QianQian Terkejut dengan apa yang ia dengar "Bagaimana mungkin kakakku kesini..."QianQian semakin bingung karena keberadaan kakaknya "Apa kakak Yan tidak sedang bercanda denganku kan?..."QianQian yang menganggap hal itu tidak benar dan mengira Liu Yan sedang bercanda.
"Apakah Kak pernah berbohong padamu?..." Ucap Liu Yan sambil menariknya kemudian mengusap rambutnya." Tidak , Aku selalu mempercayaimu tapi ini seharusnya tidak mungkin kak, karena Kakakku sedang berada di luar Negeri Lan jadi bagaimana mungkin ia berada di sini tanpa memberikan surat untukku?..." Jawab dengan memasang wajah sedih dan cemberut.
"Haha sini sini adikku yang paling baik!, meskipun kakakku tidak memberikan surat untukmu tapi kakakmu sangat memperdulikan mu bahkan ia sampai bertekad melawan Penjaga Long untuk bertemu dengan mu..." Liu Yan membujuk QianQian agar tidak salah paham pada kakaknya dan membuatnya tenang dalam peluknya.
__ADS_1
"Baiklah Kak Yan sepertinya aku sudah sedikit tenang..." Ucap Zong QianQian kemudian melepaskan pelukannya dengan Liu Yan dan melanjutkan perkataannya "Kak Yan di mana kakakku aku ingin melihatnya..." Tanya QianQian dengan wajah penuh kekhwatiran dan gelisah "Tidak perlu begitu gelisah Qin'er , kakakmu baik baik saja..."Jawab Liu Yan
Zong QianQian pun merasa dirinya sudah tenang ia pun pergi untuk menemui kakaknya dan di tuntun oleh Liu Yan . di tengah jalan Liu Yan dan Zong QianQian hanya mengobrol topik tentang kakaknya bahkan mereka bercanda dan tertawa ringan tak lama dari itu Liu Yan dan Zong QianQian berada di depan pintu masuk Pavilliun dan segera masuk ke dalam pintu dan ada yang menyambut mereka tidak lain merupakan resepsionis Pavilliun obat.
"Maaf Tuan muda, kalau boleh tau tuan muda sedang mencari apa?..."Tanya sopan resepsionis itu "Nona aku Disni ingin melihat keadaan Zong Wu Di, Bisakah nona mengantarkan kita untuk menemuinya?..."Jawab Liu Yan yang mengatakan maksud tujuan nya.
"Baiklah Tuan Muda, Mari ikuti saya..."Resepsionis itu yang menunjukkan jalan untuk Liu Yan dan Zong QianQian dan diikuti oleh keduanya dan beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di depan Ruangan Rawat Paviliun Obat. "Tuan muda, Disini tempat yang tuan muda maksud..."Resepsionis itu berhenti dan menunjuk pintu masuk itu "Baiklah Nona, terimakasih karena sudah membantu ku..."Liu Yan memberikan satu koin platinum dan masuk ke dalam ruangan itu.
Keduanya melihat dari kejauhan Zong Wu Di yang berbaring di sana dan di temani oleh Gurunya Qin Shao. "Tuan Muda..."Sala Qin Shao dengan ramah "Tetua Qin, bagaimana keadaannya?..."Tanya Liu Yan dengan wajah penuh kekhwatiran. "Murid ku baik baik saja Tuan muda karena bantuan tuan muda, mungkin butuh satu hari lagi untuk siuman dari pingsannya..."Jawab Qin Shao yang sudah merasa lebih tenang.
Di pintu masuk itu terlihat Zong QianQian yang masih berdiri di tengah tengah pintu dan menatap Zong Wu Di sambil mengeluarkan air mata kerinduan yang ia bendung selama bertahun-tahun. Zong QianQian dari dulu tidak pernah merasakan kebahagiaan di dalam keluarga nya tetapi dengan kehadiran Zong Wu Di hidupnya mulai berubah dan pada saat itu pula ia menganggap Zong Wu Di sebagai kakak sedarahnya meskipun tidak sedarah. "Kakak?..."Ucap QianQian yang masih menangis sedih.
Liu Yan menepuk bahunya dan berkata "Qin'er,jangan terlalu sedih kakakmu baik saja, buruan kesana dan Temanilah dia aku ingin pergi dulu untuk membahas hal penting..."Liu Yan yang mencoba untuk menenangkan dirinya. "Terima Kak Yan..." ucap dirinya dan mengusap air matanya kemudian menghampiri kakaknya.
"Tetua Qin, Ikut denganku kita akan membahas hal yang penting..."Perintah Liu Yan "Baik Tuan muda..."Qin Shao menjawabnya tanpa sedikitpun membantah.
Liu Yan dan yang lainnya pergi meninggalkan mereka berdua sendiri.
Zong QianQian yang duduk sambil memegang tangan kakaknya pun terlihat sangat sedih wajahnya di penuhi rasa kekhwatiran ia menunggu dan terus menunggu hingga malam pun tiba. karena merasa sedikit mengantuk QianQian memutuskan untuk tidur dalam duduknya dan menggunakan kasur sebagai tempat bantalnya dan memegang tangan kakaknya.
Disaat QianQian Setengah tertidur ia merasakan gerakan tangannya yang berasal dari kakaknya. Tak Lama dari Itu Zong Wu Di membukakan matanya dan melihat seseorang yang tertidur di sampingnya yang tidak lain merupakan Zong QianQian "Qin'er?..."tanya Zong Wu Di dengan suara yang lemas tapi membuat QianQian Yang setengah tertidur pun membukakan matanya begitu ia melihat kakaknya yang terbangun ia langsung memanggil nya "Kakak..."Ucap Zong QianQian dengan nada Khawatir dan segera memeluknya untuk melepaskan rasa rindu yang selama ini ia bendung. "Aduh Qin'er Kakak masih sakit jangan memeluk terlalu erat dong..."Keluh Zong Wu Di
"Huhuhu..."Suara Tangis ringan yang berasal dari QianQian "Kenapa kakak tidak pernah memberikan kabar untuk Qin'er, apa kakak sudah membenciku?Hiks...Hiks..."
"Tidak Qin'er , Tenanglah Kakak selama ini selalu mengirim surat di setiap Minggu tapi aku tidak tahu kenapa kamu mengatakan hal seperti itu.."Zong Wu Di yang mencoba menenangkan adiknya sambil mengusap Kepalanya dan tersenyum bahagia. Zong QianQian justru menjadi terheran heran karena apa yang kakaknya katakan "Tapi kak, aku tidak pernah menerima Sekalipun surat dari mu..."Ucap QianQian dengan jujur
Zong QianQian yang meragukan dengan apa yang dikatakan kakaknya pun bertanya "Kakak memberikan nya kepada siapa?. Kenapa aku tidak mengetahuinya..."
"Aku memberikan nya kepada ayah, emangnya ayah tidak memberikan nya kepada mu..." Jawab Zong Wu di dengan wajah yang polos. Zong QianQian Pun tidak heran lagi dengan apa yang barusan ia katakan karena bagaimanapun ayahnya sangat tidak bisa di percaya "Yang benar saja ..." Ucap Zong QianQian sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Apa ada yang salah dengan itu Qin'er?..." kenapa kamu Sepertinya tidak menyangkal hal itu, Apa mungkin Ayah tidak pernah memberikan surat ku kepadamu?..." Tanya Zong Wu Di yang terlihat seperti orang bodoh. QianQian tidak dapat berkata kata dengan sifat kakaknya dan hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
Zong Wu Di yang mendengarkan hal itu menjadi sangat kesal karena ia di permainkan orang yang sangat ia percayai, Tetapi QianQian menekan amarahnya dan menenangkannya, ia mendengarkan apa yang dikatakan adiknya dan tidak mempermasalahkan hal itu lebih jauh lagi. Setalah itu Mereka berbincang bincang hingga pagi hari.
Bersambung