
Luo Xian Lin di sambut dengan meriah di kediaman Keluarga Luo. Luo Qi Hai mengadakan pesta besar untuk menyambut kepulangannya namun ekspresi Luo Xian Lin sama sekali tidak pernah berubah apa pun yang terjadi.
Orang-orang yang dulu menghinanya, kini memasang senyum penuh persahabatan seolah hinaan yang mereka peruntukan pada Luo Xian Lin dulu sama sekali tidak pernah terjadi.
Jika dalam keadaan normal, Luo Xian Lin pasti akan menatap jijik pada mereka. Namun dengan kondisi mentalnya saat ini, Luo Xian Lin hanya memberikan beberapa kata yang di perlukan saja, selebihnya ia hanya diam, tidak memedulikan apa pun yang mereka katakan.
Setelah acara pesta penyambutan selesai, Luo Xian Lin di tuntun oleh beberapa pelayan untuk pergi ke kamarnya.
Di dalam kamar sudah di siapkan berbagai macam pil dan sumber daya lainnya. Ia pun melakukan kultivasi.
***
“Akhirnya kita tiba di pusat Galaksi!” Yang Yin tersenyum lebar saat kapal yang mereka gunakan mendarat di pelabuhan.
Xue Ning berada di samping Yang Yin namun dia sedikit menunduk, terlihat ada sesuatu yang mengganggunya.
“Ayo Ning’er, kita pergi mencari keluarga ku!” Yang Yin memegang tangan Xue Ning kemudian menariknya turun dari kapal.
“Aw.. kakak Yin, bisakah kau sedikit lebih lembut.”
Namun seolah tidak peduli dengan Xue Ning, Yang Yin terus menarik tangan Xue Ning dengan kasar.
__ADS_1
Inilah yang membuat Xue Ning merasa tidak berdaya. Semenjak kematian ayahnya dan ia di bawa menuju Pusat Galaksi, Yang Yin berubah, berbeda dari sebelumnya yang selalu lemah lembut dan memandangnya dengan penuh kasih sayang.
Kini Yang Yin sangat jarang memperhatikannya, ia seolah tidak hanya menjadi penghambat bagi Yang Yin, hanya dibutuhkan saat Yang Yin menginginkan kepuasan saja, selebihnya ia bahkan tidak pernah di sentuh.
Xue Ning pernah mengatakan keluhan ini pada Yang Yin, namun yang ia dapatkan justru tatapan dingin yang membuatnya gemetar.
“Jika kau merasa tidak nyaman maka kau bisa meninggalkan ku kapan saja!”
Begitulah yang di katakan Yang Yin pada dirinya.
Xue Ning merasa perubahan sikap Yang Yin ini bukan karena membenci dirinya, namun ia malah menyalahkan Xiang Shin.
Pasti karena Xiang Shin yang telah membunuh kakaknya, karena Xiang Shin yang telah mengalahkan Sekte Darah Kematian dalam perang sebelumnya, karena Xiang Shin yang telah membunuh ayahnya, Yang Yin jadi merasa tertekan hingga sikapnya berubah.
Jadi Xue Ning memutuskan untuk tetap bertahan, menemani Yang Yin sampai kapan pun itu.
“Yang Yin! Kau Yang Yin kan?”
Yang Yin berhenti saat mendengar suara menyebut namanya. Ia menoleh ke sumber suara, melihat seorang pria tua bersama beberapa orang lainnya.
“Kakek, lama tidak bertemu,” Yang Yin tersenyum lebar sambil menangkupkan tangannya.
__ADS_1
“Hahaha, kau sudah besar Yang Yin, kakek hampir tidak mengenali mu,” pria tua itu memeluk Yang Yin, “setelah kau mengatakan ingin kembali, kakek langsung bergegas ingin menjemput mu, bagaimana di dunia luar? Apa kau sudah merasakan betapa kerasnya dunia luar tanpa adanya dukungan keluarga?” pria tua itu melepaskan pelukannya, lalu menepuk-nepuk pundak Yang Yin.
Dia adalah Patriak Keluarga Yang, Yang Zhi juga merupakan kakek Yang Yin. Karena suatu insiden dulu, ayah dan ibu Yang Yin meninggal. Dia akhirnya di rawat oleh kakeknya yang memiliki watak keras.
Yang Zhi selalu mengawasi pertumbuhan Yang Yin dari kecil namun ia tidak mengetahui kalau cucunya adalah orang yang licik.
“Aku memiliki beberapa masalah kakek, tapi aku rasa nanti saja aku menceritakannya,” Yang Yin menghela nafas.
“Oh lalu siapa wanita ini?” Yang Zhi menoleh ke arah Xue Ning di belakangnya.
“Dia hanya pelayan ku,” Yang Yin tanpa ragu mengucapkan hal itu seolah Xue Ning benar-benar pelayannya.
Xue Ning diam mematung. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk membantah namun tatapan dingin Yang Yin membuatnya bungkam. Sekarang keyakinannya kalau suaminya ini akan berubah langsung sirna.
Xue Ning ingin menangis namun ia menahannya, entah kenapa ada rasa penyesalan yang muncul dalam hatinya.
Padahal dia sudah menyerahkan segalanya untuk Yang Yin, melakukan apapun yang dia inginkan namun sekarang pria yang sudah menjadi suaminya itu hanya menganggap dirinya sebagai pelayan semata.
“Kalau begitu ayo kita kembali ke Kediaman keluarga kita, Yin’er. Kakek sudah menyiapkan pesta penyambutan yang meriah untuk mu di sana.”
“Wah.. aku tidak sabar ingin melihat seperti apa penyambutan yang di siapkan oleh kakek.”
__ADS_1
“Haha, yang pasti kau tidak akan kecewa, ada banyak makanan, sumber daya, bahkan kakek sudah menyiapkan banyak gadis cantik seperti pelayan mu itu!”