Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 9


__ADS_3

Didalam rumah, Albaret dan juga istrinya tengah berbincang ringan bersama dengan Yuna sekaligus neneknya. Sudah satu jam lamanya mereka menunggu sang tokoh utama, prianya, yang akan dijodohkan dengan Yuna, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda kedatangannya.


Albaret dan juga Vina tentu saja merasa tak enak, karena Yuna dengan neneknya sudah datang jauh-jauh dikediamannya. Padahal biasanya yang datang untuk membahas perjodohan itu ialah mempelai prianya namun ini malah mempelai keluarga wanitanya, tentu saja hal itu membuat Albaret benar-benar merasa tak enak.


"Maafkan keterlambatan putra saya ya bu... Saya merasa tak enak jika membuat anda menunggu, bahkan sudah datang jauh-jauh kesini. Saya benar-benar merasa tak enak, seharusnya keluarga saya lah yang datang ke rumah ibu." ucap Albaret dengan raut yang benar-benar tak karuan, ia merasa malu bercampur kesal oleh tingkah putra sulungnya itu.


"Haha... Saya mah ndak papa nak... Saya datang kesini sebenarnya juga untuk menemui putra saya, sekaligus silahturahmi membahas perjodohan ini." jawab Santi dengan nada ramahnya, nenek Yuna ini tergolong orang yang sabar, ramah dan juga baik hati. Itu sebabnya Yuna sangat menghormati dan sangat menyayangi sang nenek.


Albert mendekatkan diri pada istrinya, "Kemana anak kamu itu? Kenapa jam segini belum juga pulang, kamu sudah memberitahunya kan? Kalau hari ini kita kedatangan tamu penting." bisik Albaret pada istrinya.


"Sudah sayang... Aku sudah mengigatkannya untuk cepat pulang, dia juga bilang iya.. Tapi entah kenapa anak itu belum juga pulang... Pulang...." jawab Vina yang juga berbisik.


"Dasar anak itu!" geram Albaret, menahan emosinya.


Bertepatan saat itu, suara mobil baru saja memasuki garansi. Mungkin saja orang yang ditunggu-tunggu sudah datang.


"Sepertinya dia sudah kembali." ucap Vina.


Yuna tiba-tiba berdiri dari duduknya. "Permisi, maaf jika saya tak sopan. Saya ingin izin sebentar ketoilet." ucap Yuna.


"Oh! Iya.. Toiletnya disebelah sana.." jawab Vina sambil menunjuk arah toilet itu. Yuna menganguk dan berjalan kearah toilet.


Bersamaan dengan itu, putra dari Albaret baru saja memasuki kediamannya dan berjalan kearah orangtuanya berada.


"Maaf pa.. Zeen telat pulangnya." ucap Zeen dengan raut yang dibuat semenyesal mungkin.

__ADS_1


Albert berusaha untuk menahan emosinya, ia tak mau memarahi anaknya didepan calon besannya itu. Bisa-bisa ia langsung menanggung malu tujuh turunan jika hal itu terjadi.


"Yasudah... Zeen, lain kali jangan diulangi lagi." tegur Albaret.


"Iya pah.." jawab Zeen.


"Beri salam pada beliau, dan minta maaflah padanya." ujar Albaret menyuruh putranya untuk meminta maaf pada nenek Yuna, yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum mengamati interaksi mereka.


Zeen mengalihkan pandangannya kearah Santi yang masih setia duduk disofa itu. Zeen mengangkat satu alisnya merasa bingung.


"Pah.. Papa mau jodohin Zeen sama nenek ini?" tanya Zeen tiba-tiba dan membuat Albaret ayahnya, melotot terkejut mendengar perkataan putranya itu. Sedangkan Santi hanya bisa tertawa tak merasa tersinggung sama sekali.


"Zeen! Jaga bicara mu! Kamu ini kenapa tak sopan sekali, papa tak pernah mengajarkan kamu seperti itu ya! Dasar anak ini." ucap Albaret dengan nada yang ditekan, sepertinya emosinya keluar begitu saja.


Zeen mengaruk tengkuknya yang tak gatal, "Kan Zeen cuman bertanya pah..." jawab Zeen merasa bingung dengan papanya yang tiba-tiba marah itu.


Vina menenangkan suaminya lebih dulu, dan barulah ia beralih menatap putranya. "Zeen.. Duduk dulu, jangan berdiri saja. Kamu sama saja tak sopan jika kamu berdiri ditengah-tengah orangtua." tutur Vina, Zeen yang disuruh duduk itu menurut.


"Begini Zeen, kamu jangan mengambil asumsi dulu. Mama mengatakan ini karena kamu sepertinya tak merasa malu atau bersalah sama sekali, setelah kamu datang terlambat dan membuat kami menunggu." tegur Vina dengan tegas.


"Papa kamu menyuruhmu untuk meminta maaf pada beliau, tapi kamu tak melakukannya. Dan kamu malah menganggap beliau adalah calon istri kamu... Kamu salah Zeen, beliau ini yang akan jadi besan kamu. Dan yang akan dijodohkan denganmu adalah cucunya." jelas Vina yang seketika membuat Zeen tertegun, paham dengan ucapan mamanya itu.


"Gimana? Sekarang kamu sudah paham kan Zeen? Jika kamu sudah paham, mama minta kamu untuk meminta maaf pada beliau." lanjut Vina.


Zeen sedikit menunduk, ia baru merasa malu atas ulahnya itu. Ia lalu beralih menatap Sinta yang masih tenang duduk disofa itu.

__ADS_1


Zeen berdiri dari duduknya dan langsung membungkukan badannya. "Maafkan atas kesalahan saya nyonya." ucap Zeen merasa bersalah dan bercampur malu.


Santi yang melihat itu, langsung berdiri dari duduknya. "Sudah-sudah jangan seperti itu, kamu hanya salah paham jadi tak apa-apa. Dan jangan panggil saya nyonya ya... Panggil saya nenek." tutur Santi dan mengangkat tubuh Zeen yang membungkuk itu.


"Baik nek... Terimakasih sudah memaafkan saya, sekali lagi saya  minta maaf atas ulah saya barusan." ujar Zeen.


Santi tersenyum, "Iya... Tidak apa-apa, ayo sekarang duduk lagi. Lebih enak jika mengobrol sambil duduk, dari pada berdiri kan?" tanya Santi, yang dianguki kepala oleh Zeen.


Mereka pun kembali duduk bersama. Dan mulai membicaran tentang perjodohan itu.


Tak berselang lama, tepat saat itu Yuna baru saja kembali dari toilet dan menuju ruang utama.


"Nahh... Ini calonnya yang akan kamu nikahi Zeen." ucap Albaret ketika melihat Yuna yang berjalan kearah mereka.


Zeen menengok kebelakang karena Yuna berjalan tepat dibelakangnya, hanya kursi sofa yang membatasi mereka.


Yuna yang mendengar namanya disebut oleh Albaret itu hanya bisa tersenyum, sebenarnya ia merasa malu jika dipanggil seperti itu.


Tiba-tiba Zeen mengernyit kala melihat seseorang yang begitu familiar dimatanya, Yuna yang belum mengetahui keberadaan Zeen terus berjalan menghampiri neneknya dan mendudukan diri disebelah Santi.


"Ini cucu nenek, namanya Yuna Saily. Dia yang akan nenek jodohkan kepadamu nak." jelas Santi, membuat kedua mata Zeen melotot.


"Yuna?" ulang Zeen.


Yuna langsung mengalihkan antensinya, saat mendengar suara yang begitu familiar dipendengarannya. "Dokter Zeen?" ucap Yuna terkejut.

__ADS_1


TBC.


Jangan lupa tanggapannya ya guys🧸biar author makin semangat...


__ADS_2