Perjuangan Cinta Si Gadis Desa

Perjuangan Cinta Si Gadis Desa
Bab. 17


__ADS_3

Acara repsesi telah selesai, kini Yuna baru saja masuk kedalam kamar tepatnya kamar milik Zeen yang akan menjadi kamar mereka berdua. Sebenarnya Yuna ingin membantu mertuanya berberes mengingat acaranya sudah selesai, namun sang mertua tak memperbolehkannya, karena hal itu bukanlah tugas Yuna melainkan tugas para pekerja dikediaman itu. Sang mertua memberitahu Yuna untuk membersihkan diri dan cepat istirahat agar badannya tak terlalu kecapean, Yuna menurut karena ia memang benar dirinya benar-benar kecapean.


Saat Yuna ingin melangkah menuju toilet, ia seperti mengingat sesuatu. Ya, dirinya lupa membawa kopernya yang ditaruh dikamar tamu. Yuna pun memutar langkahnya dan menuju keluar kamar itu.


Ceklek...


Belum juga ia membuka pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok Zeen yang tengah masuk dan berhenti melangkah ketika melihat Yuna didepannya.


Yuna sedikit gugup ketika berhadapan dengan Zeen, ia mengingat jika malam ini merupakan malam pertama setelah pernikahan.


"Maaf dokter Zeen, saya mau mengambil koper saya sebentar. Anda bisa memakai kamar mandi terlebih dahulu." ucap Yuna, dan ingin berjalan keluar. Namun tiba-tiba Zeen menghentikannya.


"Sombong sekali ya kau." Zeen berucap.


Yuna merasa bingung. "Maaf? Apa maksudnya.."


Zeen yang melihat Yuna tertawa meremeh, "Gak usah berlaga polos kamu! Mentang-mentang sudah menikah denganku, kamu mau mengambil alih kamarku sendiri." ucap Zeen menatap Yuna dengan tatapan sinis.


"Apa maksud anda? Saya mengambil alih?"


"Cih, aku sudah tau gadis desa seperti kamu ini, punya banyak akal busuk yang terselubung." Zeen mengeleng, "Setelah mengambil alih kamarku, mungkin kamu akan mengambil alih rumah ini, yakan?" lanjutnya, masih menatap mata Yuna dengan tatapan meremeh.

__ADS_1


Yuna mengeleng keras, "Saya tidak pernah memikirkan hal se- "


"Stop!" teriak Zeen mengangkat satu tangannya tepat didepan wajah Yuna.


Yuna yang mendapat teriakan seperti itu, tentu saja merasa kaget.


Zeen mentap Yuna dengan tatapan tajam, kemudian ia berjalan maju menghampiri Yuna, Yuna yang melihat Zeen berjalan mendekat itu refleks mundur dan berhenti tepat dipinggir kasur.


Zeen mendekatkan wajahnya, kemudian ia menubruk Yuna sehingga keduanya sama-sama ambruk dikasur itu, Zeen mengunci pergerakan Yuna dengan kedua tangannya.


Seketika Yuna menahan nafasnya ketika melihat wajah Zeen yang begitu dekat dengannya. Jika dilihat dari dekat wajah Zeen seratus kali lipat sangat tampan, namun sayang, Yuna masih belum bisa mendapatkan hati dari pria yang ada didepannya itu.


"Yuna Saily!" tekan Zeen ketika menyebut nama Yuna, "Kutegaskan padamu! Jika kau berulah dirumah ini. Maka jangan harap kau bisa lepas dari tanganku, jika kau memanfaatkan kepolosanmu untuk mengambil harta dirumah ini. Maka tak segan-segan, aku akan menendangmu dari rumah ini." jelas Zeen berucap dengan penuh penekanan.


Perasaan Yuna ketika mendengar perkataan itu, tentu saja sangat sakit. Apalagi ketika Zeen menuduh dirinya akan mengambil harta dari rumah ini.


"Anda salah dokter Zeen, saya tak akan pernah melakukan hal yang sehina itu." tekan Yuna membela diri.


Lagi-lagi Zeen terkekeh, kemudian ia berdiri yang tadinya terlentang menahan tubuh Yuna. Yuna pun sama, ia bangkit dari tidurnya dan duduk dipingir kasur.


"Haha... Yuna, Yuna, kau memang gadis desa yang sangat polos. Tentu saja kepolosanmu itu tak akan mempan bagiku."

__ADS_1


Zeen berjongkok dan menatap Yuna dengan tatapan dinginnya. "Ingat gadis kampungan! Kau memang istri sahku! Tapi jangan berharap kau mendapatkan cinta dariku, aku tak sudi menyentuhmu, dasar gadis desa kampungan!" ucap Zeen dengan nada ditinggikan ia hendak pergi, namun ia berbalik kembali.


Zeen membuka mulutnya kembali dan berucap, "Gadis kampungan! Aku tak pernah suka denganmu, aku sudah punya kekasih dan aku sangat mencintainya! Ingat baik-baik perkataanku, AKU SANGAT MENCINTAI KEKASIHKU! Dan kamu tidak pantas mendapatkan cintaku!" teriak Zeen dan hendak pergi dari kamar itu, namun ia urungkan dan berbalik menatap Yuna.


"Satu lagi, walau kau terus mengejarku aku tak akan pernah luluh denganmu, jadi jauh-jauhlah denganku jangan tunjukkan wajah menyedihkanmu itu." tekan Zeen, setelah itu ia benar-benar berlalu pergi, setelah ia berkata kasar dan mencemoh Yuna yang tak berdaya itu.


Zeen membanting keras pintu itu, sehingga menimbulkan debuman keras dari pintu kamar yang seharusnya menjadi saksi bisu atas malam pertama setelah mereka menikah.


Namun hal itu tak akan terjadi, penolakan keras itu membuat hati Yuna teriris. Yuna tak menyangka jika Zeen sangat membenci kehadirannya, apa salahnya sebenarnya? Mengapa sifat Zeen sangat berbeda, ketika ia pertama kali bertemu dengannya?


Baru saja Yuna menikah, namun mengapa cobaan terus saja menghampirinya.


Satu tetes air bening terjatuh mengenai gaun putihnya itu. "Ya.. Tuhan... Mengapa engkau terus mengujiku, apa salah Yuna." ucapnya, ia menangis dalam diam. Tak ada orang yang tau dan tak ada orang yang menemaninya ketika ia sedih, biasanya jika ia merasa gundah akan ada sosok lembut yang menasehatinya yaitu sang nenek tercinta. Namun beliau sudah pergi, tuhan lebih menyayangi neneknya dan mengambilnya dari Yuna.


"Nenek... Yuna rindu." gumamnya sambil menyeka air matanya.


Kata-kata Zeen begitu terngiang-ngiang ditelinganya, ia begitu jelas mendengar jika Zeen memiliki kekasih dan Zeen sangat mencintainya. Hati Yuna benar-benar sakit mendengar pengakuan itu, ia merasa seperti merebut Zeen dari kekasihnya.


"Siapa kekasih dokter Zeen? Apakah wanita itu?" gumam Yuna, yang mengingat jika Zeen begitu dekat dengan sosok wanita yang hadir pada acara pernikahannya itu.


TBC.

__ADS_1


Jangan lupa komennnnn....


__ADS_2