
...***...
Zeen bersiul-siul saat berjalan menuju taman, dirinya telah memikirkan sebuah cara yang akan menjerat Yuna kembali dekat dengannya. Ia akan membuat Yuna jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, tentunya dengan pesonanya itu.
“Untuk yang kedua kalinya aku mencari gadis itu disebuah taman, dan pasti akan susah seperti waktu itu,” gumamnya tersenyum, dan melangkahkan kakinya dengan riang.
Namun agaknya, tebakan Zeen salah. Saat Zeen tengah melangkah, ia langsung menemukan sosok Yuna yang tengah duduk dikursi taman. Zeen pun merasa senang melihatnya.
Tak ingin berlama-lama, ia melangkahkan kakinya sedikit cepat. Namun saat sosok Yuna terlihat jelas dimatanya. Tiba-tiba ia langsung menghentikan langkahnya, dirinya agak terkejut ketika melihat punggung seorang pria yang tak lain adalah Yudas yang saat ini tengah duduk tepat disamping Yuna.
“Ya Tuhan ... hambamu ini tadi sempat berdoa, jika jangan sampai si jin itu alias Yudas tak mengganggu rencanaku untuk berdekatan dengan Yuna ... tapi ini? Astaga, aku tak habis pikir. Pria itu apa tak keluar rumah sampai seharian ini? Apa dia akan mengawasiku seperti malaikat?” tampak Zeen yang sangat frustrasi dan lesu.
“Apa karena aku tak taat pada agama sehingga doaku tak dikabulkan?” gumamnya, “Jika memang begitu. mulai hari ini. Aku akan taat kepadamu, tapi ... berilah hambamu sebuah kekuatan agar bisa menyikirkan jin yang sedang menempel pada istriku.” Ucapnya mengebu-gebu.
Zeen terdiam sejenak, lantas mengamati mereka dari balik punggung. “Lagi ngomongin apa mereka?”
Zeen yang penasaran, mulai mengendap-endap menuju mereka, ingin mendengar apa yang mereka bicarakan.
Tapi sepertinya Zeen tak memperhatikan jalan sehingga kakinya tanpa sadar menginjak sebuah ranting.
Krekk!!
Zeen mendelik kesal, lantas dengan gesitnya langsung bersembunyi dibalik semak, yang kebetulan ada didepannya.
“Siapa itu?”
Tampak Yudas berdiri dari duduknya dan mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang tengah mengganggu perbincangannya.
“Siapa disana?!!” teriaknya lagi.
“Miau ....”
Zeen yang sadar dengan suara yang ia keluarkan, langsung saja menepuk mulutnya. 'Alasan apa itu? Pake acara bersuara kucing segala, kayak difilem-filem aja. Gimana kalau dia gak percaya?' gumam Zeen mengerutu.
“Oh kucing ternyata, kirain apa,” ucap Yudas yang langsung kembali duduk disamping Yuna.
__ADS_1
Zeen melongo dan sedikit mengintip pada cela-cela, semak bunga itu.
“Hah? Percaya gitu aja? Kukira dia akan curiga trus langsung menyelidiki seperti dektetif?” gumamnya tak percaya. “Tapi ya syukur banget, aku gak jadi ketahuan,” gumamnya lagi, cekikikan merasa kesenangan.
“Kita lanjutkan pembicaraan kita,”
Zeen langsung menajamkan telinganya ketika mendengar suara Yudas.
“Aku, yang sudah kamu anggap kakak ini, hanya bisa memberikan nasihat sedikit padamu. Jika kamu memang ingin menerima Zeen lagi. Yasudah itu terserah kamu ....” tuturnya.
“Tapi aku hanya memperingatkan Yuna, jika kamu kembali lagi kepadanya kita tak tahu apa lagi yang akan dilakukan dirinya untuk menyakitimu. Aku hanya takut jika dia menyakitimu berulang kali, Yuna ....” tampak Yudas menghela nafasnya.
“Apa maksudnya itu?” gumam Zeen mengepalkan kedua tangannya merasa tak terima dengan ucapan Yudas.
Zeen dengan sedikit emosi berdiri dari jongkoknya, dan berjalan menuju kedua insan itu.
“Tapi Yuna–”
“Itu tak akan terjadi kakak ipar!” ucap Zeen dengan tegasnya, dan langsung berdiri tegap didepan mereka.
Yuna dan juga Yudas langsung terkejut ketika melihat Zeen yang tiba-tiba datang, muncul didepan mereka.
Zeen menatap Yuna, lalu menarik tangan gadis yang seketika membuat Yuna refleks berdiri.
“Itu tak akan terjadi lagi kakak ipar! Aku akan bersumpah demi hidupku sendiri, aku tak akan kembali menyakiti Yuna. Aku akan menjaganya, mencintainya, menyayanginya dan menjadi suami yang selalu ada untuknya!” jelas dengan bersungguh-sungguh.
Yudas berdiri dari duduknya, lalu melipat kedua tangannya didada.
“Apa kau bersungguh-sungguh? Bagaimana bila kau mengingkari ucapanmu itu?” tanyanya dengan mengangkat satu alisnya.
“Jika memang itu akan terjadi, maka saat itu, bunuhlah aku. Hukum aku seberat-beratnya.” Jawabannya dengan sorot mata yang tak main-main.
“Mas ... jangan seperti itu! Jangan hanya saya mas jadi mengorbankan hidup mas,” ucap Yuna mengeleng.
Zeen berbalik dan menghadap pada Yuna, “Aku rela melakukan semua ini, aku bertaruh nyawaku hanya demi kamu Yuna ... aku hanya ingin menebus semua kesalahanku padamu Yuna ... aku tau jika kesalahanku itu tak pantas untuk dimaafkan. Tapi aku hanya seorang manusia, aku seseorang yang egois yang tak ingin istriku pergi dariku.” Jelasnya sambil menatap Yuna dengan tatapan sayu.
__ADS_1
Setelah itu menangkup wajah Yuna, mengelusnya dengan lembut, sambil menatap bola mata gadis itu dengan tatapan dalam.
Entah kenapa saat Zeen menatapnya seperti itu, Yuna seperti melihat kesungguhan yang ada pada pria itu. Tak ada kebohongan seolah pria itu benar-benar yakin dengan ucapannya. Hati Yuna yang bimbang sedikit menghilang.
Yudas, pria itu sejak tadi masih mengamati tingkah Zeen. Ia pun sejenak menghela nafas panjang.
“Baiklah jika ucapanmu seperti itu, aku akan menagih ucapanmu itu dan aku tak main-main ketika menghajarmu nanti. Jika kau benar-benar berani lagi menyakiti hati Yuna!” tegasnya dengan penuh wibawa.
“Iya, aku bersungguh-sungguh! Dan tak akan main-main.” jawab Zeen.
Yudas melepas lipatan tangannya dan meletakkan kedua tangannya disaku celana, “Yasudah kalau begitu, aku sudah tak ada hak lagi menghalangimu. Semua keputusan! Yuna yang akan menentukan. Kalau begitu aku masuk dulu ....”
Setelah selesai dengan ucapannya, Yudas benar-benar berlalu pergi dari sana dan menyisakan Zeen dan Yuna yang masih terdiam ditempatnya. Ia yang sudah jauh dari jangkauan dari dua insan itu membalikkan tubuhnya.
“Semoga kau bahagia dengan pilihanmu Yuna ... kau layak untuk bahagia,” gumam Yudas tersenyum sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“Yuna ... tatap mataku!” ucap Zeen pada Yuna yang semula menundukkan kepala, kini mendongak menatap mata Zeen.
Zeen meraih tangan kanan dan kiri Yuna, ia membawa tangan itu dalam genggamannya. “Apa kamu masih membutuhkan waktu untuk menjawab Yuna?” tanyanya.
“Maaf jika aku bertanya seperti itu, karena aku memang orang yang seperti ini, tak sabaran!” Zeen terkekeh dengan ucapannya. “Jadi ... aku akan mendengar jawabanmu sekarang. Yuna Saily ....”
Yuna memandang Zeen, lekat, “Apa tak ada lagi waktu saya untuk berfikir?” tanyanya.
Zeen mencolek pelan hidung Yuna, karena ia merasa gemas dengan ucapan polos dari gadis itu.
Yuna yang mendapati itu, tentu saja tersentak.
“Sepertinya waktu berfikirmu telah usai Yuna Saily ... Zeen Albaret ini sudah tak sabar mendengar jawabanmu, maaf jika aku memaksa.” Ucapnya sambil tersenyum manis, yang lagi-lagi menimbulkan lesung imut dipipinya.
Yuna menggigit bibir bawahnya, ia sejenak merasa terpukau dengan senyuman itu. Bahkan senyuman itu sangat tulus diberikan padanya.
“Apa kamu masih ragu dengan ucapan ku tadi? Jika memang iya ... aku akan meminta kakak ipar untuk memukuli ku sekarang juga–”
“Tidak! Saya tak pernah meminta seperti itu! Itu tak akan terjadi.” Tegas Yuna.
__ADS_1
Zeen tersenyum mendengarnya, lalu mengecupi kedua telapak tangan Yuna.
TBC.